kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Umanis, 3 Juni 2007 tarukan valas
 

BUDAYA


Semarapura sebagai Ikon Pariwisata Budaya
Suatu Terobosan Mengajegkan Bali

Oleh Nyoman Gunarsa

ORANG Bali mungkin banyak yang tak tahu kalau nama besar Semarapura merupakan ibukota Kerajaan Bali. Tapi ada orang yang sinis menganggap Klungkung cuma "Kota Serombotan". Sedihnya lagi, hingga sekarang Klungkung dengan ibu kotanya Semarapura malah tak pernah berbenah. Turis hanya numpang lewat ke Klungkung dari Denpasar, Ubud, Gianyar, menuju Karangasem. Apanya yang kurang?

-------

 

Betul-betul memprihatinkan kasus ini dan merupakan tantangan bagaimana caranya agar Semarapura mampu bangkit dan punya arti dalam kehidupan. Bukankah secara historis, seni budaya Bali lahir dan pusatnya di Semarapura?

Pada abad XV pernah ada masa keemasan di Swecapura Gelgel sewaktu pemerintahan Dalem Watorenggong, lalu pindah ke Semarapura, Klungkung yang sekarang. Boleh dibilang semua seni budaya Bali yang kini berkembang di berbagai kabupaten di Bali, dulu berpusat di Swecapura dan Semarapura. Baik itu seni karawitan, tari, lukisan, patung, wayang, sastra, arsitektur, termasuk tata upacara keagamaan.

Di lain pihak, semua warga Bali merasa ada hubungan emosional dengan Semarapura dan Swecapura karena merupakan pusat kawitan leluhur. Untuk itulah pemerintah mesti mencari suatu terobosan untuk mengajegkan Bali. Semua pretisentana keluarga masyarakat Bali sadar bahwa suatu bangsa, penting memiliki bukti sejarah pusat pemerintahan masa lalu sebagai monumen tempat berkaca atau mulat sarira siapa sebenarnya diri kita.

Tulisan ini sekaligus mengajak seluruh masyarakat Bali supaya kembali merenovasi Puri Semarapura yang telah hancur untuk dijadikan ikon pariwisata budaya di Bali. Yakinlah, para pejabat teras Bali mendatang, baik gubernur, DPR, para camat, bupati, sampai ke akar rumput pada umumnya, pasti mampu membenahi kembali puri yang agung itu sebagai monumen ikon pariwisata budaya Bali.

Kita memiliki tanggung jawab dan jengah karena sudah dibebaskan dari dunia penjajahan yang membelenggu Nusantara selama 3,5 abad, untuk merenovasi Puri Semarapura yang pernah dijadikan medan peperangan. Hina dan malu rasanya bila orang tak peduli dengan apa yang telah dirintis oleh para pejuang kita. Puri hancur berantakan, tetapi kita cuma ongkang-ongkang menikmati kemerdekaan sambil berdemokrasi macongkrah.

Marilah jadikan Semarapura sebagai api perjuangan dan aura energi sebagai motivator jalan keluar agar situs bangunan bersejarah itu bisa berdiri kembali sebagai monumen bangsa. Kita beruntung karena bagian-bagian Puri Semarapura masih tegak berdiri seperti Medal Agung, Kerta Gosa dan Taman Gili. Ini bisa dijadikan rujukan narasumber.

 

Aturan Kepurbakalaan

Dalam merenovasi peninggalan-peninggalan sejarah maupun tempat suci, supaya jajaran Pemda Bali mengikuti aturan-aturan kepurbakalaan, terutama bangunan yang berusia 100 tahun atau lebih. Hal itu untuk menjaga kelestarian seni budaya Bali yang adiluhung dan melegenda di dunia.

Kalau tak mengikuti aturan-aturan kepurbakalaan, maka kita akan kehilangan fakta sejarah dan tak menghargai ciptaan nenek moyang. Akibatnya, Bali akan selalu baru dan tidak ada yang antik lagi. Kita betul-betul sedih dan merasa kehilangan kalau pelaku pemugaran bangunan kuno itu tak mau mendengarkan saran-saran para sesepuh atau ahli antropolgi maupun pengamat seni. Bangunan tiba-tiba dibolduser tanpa dibuatkan dokumentasi pemetaan bangunan lama.

Di sisi lain, orang cenderung mengikuti mode-mode yang sedang ngetrend dan tidak memperhatikan kekhasan suatu daerah, misalnya memakai batu lahar hitam. Di situ, capaian teknis seni ukirnya sangat rendah dibandingkan dengan kemampuan seniman Bali mengukir berbahan padas (paras) yang betul-betul maksimal.

Kualitas tempat-tempat suci yang dipugar sekarang, di mata para pengamat, dikatakan estetis seni ukirnya menurun, tapi tampak glamor karena penataan ruang tambahan tempat pesandekan dan areal parkir luas ditambah fasilitas-fasilitas lainnya seperti rest room. Pemugaran besar-besaran itu juga tak dilengkapi dengan penanaman pohon langka di Bali yang termasuk dalam "Taru Pariyogan" seperti pohon tigaron, kesturi, nagasari, cempaka, jepun, dan sandat. Padahal, semua itu sangat memberikan aroma spiritual. Sekarang kesannya kering.

 

Tak Bisa Dibeli

Bali dikenal karena seni budayanya, tapi kita tak menghargai seni budaya yang telah memberikan kita kehidupan tumpah ruah bergelimang materi dunia pariwisata. Buktinya, sekarang hanya meminjam keris dan tombak bekas pusaka Puri Semarapura untuk merayakan 100 tahun Puputan Klungkung saja, kita harus merogoh kocek Rp 3,5 milyar sebagai konpensasi. Apa artinya ini?

Itulah perlunya melestarikan nilai-nilai luhur bangsa. Karya seni ciptaan leluhur kita, apalagi mengandung sejarah heroik dan punya umur 100 tahun, nilainya tak bisa dibeli seberapa pun. Apa bedanya dengan bangunan-bangunan suci yang dibolduser itu?

Semarapura punya reputasi yang luar biasa dalam konstelasi perjuangan nasional dalam perjuangan kemerdekaan. Reputasi yang tak main-main yakni dengan mengorbankan jiwa raga mati di medan perang dengan puputan merupakan suatu perjuangan yang luar biasa. Perjuangan itu sudah cukup menyadarkan kita untuk merenovasi kembali Keraton Semarapura yang berantakan itu, dan menjadikan momentum perayaan 100 tahun Puputan Klungkung sebagai kebangkitan untuk berdiri kembali.

Yakinlah kalau kita benar-benar manusia berbudaya, tempat yang bersejarah itu bisa dibangun dan ditata kembali sebagai monumen kehormatan bagi para pejuang yang gugur memperjuangkan harga diri bangsa demi kemerdekaan yang kita rasakan sekarang. (*)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com