Semarapura sebagai Ikon Pariwisata Budaya
Suatu Terobosan Mengajegkan Bali
Oleh Nyoman
Gunarsa
ORANG
Bali mungkin banyak yang tak tahu kalau nama besar Semarapura
merupakan ibukota Kerajaan Bali. Tapi ada orang yang sinis
menganggap Klungkung cuma "Kota Serombotan". Sedihnya lagi, hingga
sekarang Klungkung dengan ibu kotanya Semarapura malah tak pernah
berbenah. Turis hanya numpang lewat ke Klungkung dari Denpasar,
Ubud, Gianyar, menuju Karangasem. Apanya yang kurang?
-------
Betul-betul memprihatinkan kasus ini dan merupakan
tantangan bagaimana caranya agar Semarapura mampu bangkit dan
punya arti dalam kehidupan. Bukankah secara historis, seni budaya
Bali lahir dan pusatnya di Semarapura?
Pada abad XV pernah ada masa keemasan di Swecapura
Gelgel sewaktu pemerintahan Dalem Watorenggong, lalu pindah ke
Semarapura, Klungkung yang sekarang. Boleh dibilang semua seni
budaya Bali yang kini berkembang di berbagai kabupaten di Bali,
dulu berpusat di Swecapura dan Semarapura. Baik itu seni
karawitan, tari, lukisan, patung, wayang, sastra, arsitektur,
termasuk tata upacara keagamaan.
Di lain pihak, semua warga Bali merasa ada hubungan
emosional dengan Semarapura dan Swecapura karena merupakan pusat
kawitan leluhur. Untuk itulah pemerintah mesti mencari suatu
terobosan untuk mengajegkan Bali. Semua pretisentana keluarga
masyarakat Bali sadar bahwa suatu bangsa, penting memiliki bukti
sejarah pusat pemerintahan masa lalu sebagai monumen tempat
berkaca atau mulat sarira siapa sebenarnya diri kita.
Tulisan ini sekaligus mengajak seluruh masyarakat
Bali supaya kembali merenovasi Puri Semarapura yang telah hancur
untuk dijadikan ikon pariwisata budaya di Bali. Yakinlah, para
pejabat teras Bali mendatang, baik gubernur, DPR, para camat,
bupati, sampai ke akar rumput pada umumnya, pasti mampu membenahi
kembali puri yang agung itu sebagai monumen ikon pariwisata budaya
Bali.
Kita memiliki tanggung jawab dan jengah karena
sudah dibebaskan dari dunia penjajahan yang membelenggu Nusantara
selama 3,5 abad, untuk merenovasi Puri Semarapura yang pernah
dijadikan medan peperangan. Hina dan malu rasanya bila orang tak
peduli dengan apa yang telah dirintis oleh para pejuang kita. Puri
hancur berantakan, tetapi kita cuma ongkang-ongkang menikmati
kemerdekaan sambil berdemokrasi macongkrah.
Marilah jadikan Semarapura sebagai api perjuangan
dan aura energi sebagai motivator jalan keluar agar situs bangunan
bersejarah itu bisa berdiri kembali sebagai monumen bangsa. Kita
beruntung karena bagian-bagian Puri Semarapura masih tegak berdiri
seperti Medal Agung, Kerta Gosa dan Taman Gili. Ini bisa dijadikan
rujukan narasumber.
Aturan Kepurbakalaan
Dalam merenovasi peninggalan-peninggalan sejarah
maupun tempat suci, supaya jajaran Pemda Bali mengikuti
aturan-aturan kepurbakalaan, terutama bangunan yang berusia 100
tahun atau lebih. Hal itu untuk menjaga kelestarian seni budaya
Bali yang adiluhung dan melegenda di dunia.
Kalau tak mengikuti aturan-aturan kepurbakalaan,
maka kita akan kehilangan fakta sejarah dan tak menghargai ciptaan
nenek moyang. Akibatnya, Bali akan selalu baru dan tidak ada yang
antik lagi. Kita betul-betul sedih dan merasa kehilangan kalau
pelaku pemugaran bangunan kuno itu tak mau mendengarkan
saran-saran para sesepuh atau ahli antropolgi maupun pengamat
seni. Bangunan tiba-tiba dibolduser tanpa dibuatkan dokumentasi
pemetaan bangunan lama.
Di sisi lain, orang cenderung mengikuti mode-mode
yang sedang ngetrend dan tidak memperhatikan kekhasan suatu
daerah, misalnya memakai batu lahar hitam. Di situ, capaian teknis
seni ukirnya sangat rendah dibandingkan dengan kemampuan seniman
Bali mengukir berbahan padas (paras) yang betul-betul maksimal.
Kualitas tempat-tempat suci yang dipugar sekarang,
di mata para pengamat, dikatakan estetis seni ukirnya menurun,
tapi tampak glamor karena penataan ruang tambahan tempat
pesandekan dan areal parkir luas ditambah fasilitas-fasilitas
lainnya seperti rest room. Pemugaran besar-besaran itu juga tak
dilengkapi dengan penanaman pohon langka di Bali yang termasuk
dalam "Taru Pariyogan" seperti pohon tigaron, kesturi, nagasari,
cempaka, jepun, dan sandat. Padahal, semua itu sangat memberikan
aroma spiritual. Sekarang kesannya kering.
Tak Bisa Dibeli
Bali dikenal karena seni budayanya, tapi kita tak
menghargai seni budaya yang telah memberikan kita kehidupan tumpah
ruah bergelimang materi dunia pariwisata. Buktinya, sekarang hanya
meminjam keris dan tombak bekas pusaka Puri Semarapura untuk
merayakan 100 tahun Puputan Klungkung saja, kita harus merogoh
kocek Rp 3,5 milyar sebagai konpensasi. Apa artinya ini?
Itulah perlunya melestarikan nilai-nilai luhur
bangsa. Karya seni ciptaan leluhur kita, apalagi mengandung
sejarah heroik dan punya umur 100 tahun, nilainya tak bisa dibeli
seberapa pun. Apa bedanya dengan bangunan-bangunan suci yang
dibolduser itu?
Semarapura punya reputasi yang luar biasa dalam
konstelasi perjuangan nasional dalam perjuangan kemerdekaan.
Reputasi yang tak main-main yakni dengan mengorbankan jiwa raga
mati di medan perang dengan puputan merupakan suatu perjuangan
yang luar biasa. Perjuangan itu sudah cukup menyadarkan kita untuk
merenovasi kembali Keraton Semarapura yang berantakan itu, dan
menjadikan momentum perayaan 100 tahun Puputan Klungkung sebagai
kebangkitan untuk berdiri kembali.
Yakinlah kalau kita benar-benar manusia berbudaya,
tempat yang bersejarah itu bisa dibangun dan ditata kembali
sebagai monumen kehormatan bagi para pejuang yang gugur
memperjuangkan harga diri bangsa demi kemerdekaan yang kita
rasakan sekarang. (*)