AURA MISTIS TANGGAHAN PEKEN BANGLI...
BERADA di batas selatan Banjar Tanggahan
Peken, di Kecamatan Susut, Bangli, manakala matahari
memancarkan sinar paginya dalam posisi uttarayana (posisi
matahari di belahan utara garis katulistiwa), suasana mistis
selalu menjalari ruang batin saya yang paling dalam. Dari
kelapangan sawah-sawah yang datar membentang di kiri kanan
jalan, tatkala pandangan diarahkan ke timur, agak ke timur
laut, akan tampak Gunung Agung tegak bak duplikat Mandara
Giri, dengan sebelah sisinya yang terang dan sisi lainnya
masih gelap kebiru-biruan. Kabut yang menyelitmutinya di
bagian pinggang gunung terlihat ibarat putihnya ''samudera
susu'', Ksirarnawa, dalam kisah pemutaran Gunung Mandara oleh
para Dewa dan Raksasa untuk menemukan tirta amrtha, air suci
kehidupan.
Jika mata diarahkan ke selatan, akan terlihat
rimbunnya pohon-pohon menghijau yang memuncaki Bukit Demulih.
Titik-titik embun yang masih tersisa di ujung-ujung
dedaunannya memancarkan sinar putih perak berkelap-kelip
tertimpa cahaya matahari pagi. Betapa menakjubkan. Lalu,
balikkanlah mata kembali ke arah timur, namun sedikit agak ke
tenggara, maka akan tampak Bukit Bangli dengan Pura Pucak-nya
yang membawa imajinasi ke alam kehidupan para Rsi dalam puja
Surya Sewana-nya di puncak lingga acala menyongsong merekahnya
pagi. Posisi dan keindahan kedua bukit ini, yang di tengahnya
dibelah oleh Tukad Sangsang, selalu mengingatkan saya pada
legenda yang kerap diceritakan sebagai dongeng pengantar tidur
oleh nenek asuh saya. Konon, tatkala tokoh legendaris Bali, Ki
Kebo Iwa (Kebo Taruna), berkehendak memindahkan kedua bukit
itu dengan cara memikulnya menggunakan sanan (batang pemikul)
pohon ubi kayu, patahlah sanan-nya di tempat itu sehingga
upaya memindahkan kedua bukit itu pun gagal. Maka, marahlah Ki
Kebo Iwa, pohon ubi kayu itu lantas dikutuk agar selamanya tak
pernah pantas dijadikan bahan bangunan apa pun. Bukit Bangli
dan Bukit Demulih pun akhirnya ditinggalkan di tempat itu.
AKHIRNYA, jika mata diarahkan lurus ke barat,
terpandanglah jejeran pepohonan yang dari kejauhan masih
tampak rapat bagaikan belantara yang dipagari oleh pohon-pohon
kelapa dengan liukan daun-daunnya diterpa angin sepoi-sepoi.
Di latar belakang tampak barisan bukit-bukit ''milik'' kawasan
Bali Barat yang tampak bagaikan lukisan kelambu biru. Kami
menyebutnya Bukit Terompong -- mungkin karena jejerannya yang
menyerupai terompong, perangkat gamelan Bali yang dalam
barungan gong gede berperan sebagai penuntun gending. Di
antara rimbunan pohon yang tampak merata itu, menyembul secara
dominan sebatang pohon besar. Itulah pohon pule Pura Puseh
Agung, yang berlokasi di banjar kelahiran saya, Banjar
Selatnyuhan. Puluhan tahun yang lalu, ketika jalan kaki
masih menjadi alternatif tunggal orang-orang dari kampung kami
untuk mencapai kota Bangli, kami sering berhenti di situ,
membicarakan topik yang selalu sama yaitu perihal keajaiban
pohon pule itu yang selalu menjadi penunjuk arah paling sahih
jika para pengalu (pedagang keliling) kebingungan arah
menemukan desa kami. Dan, sembari menunjuk ke pohon itu,
cerita biasanya akan berlanjut pada aneka kegaiban yang
melingkupi pohon tadi, yang tepat di bawahnya, di area utama
mandala Pura Puseh Agung Selatnyuhan, terdapat palinggih
Betara Sakti Murwaning Jagat. Beragam rupa arca tua yang
berada di pura itu, sepengetahuan saya, hingga saat ini belum
dapat diprediksi secara pasti usia maupun kreatornya.
Kini, lebih dari tiga puluh tahun kemudian,
jika melewati tempat itu bersama keluarga, saya masih suka
berhenti, mendongengkan legenda yang sama untuk anak-anak
saya, legenda yang diceriterakan oleh almarhum nenek asuh saya
dan keajaiban-keajaiban yang selalu menjadi topik
''keributan'' dengan kawan-kawan masa kecil saya. Saya
lakukan itu dengan sadar dan sengaja karena khawatir
kehilangan kesempatan. Sebab, dalam zaman di dunia
serba-materi dan serba-uang ini, tak ada satu pun bisa memberi
jaminan yang dapat diandalkan bahwa tempat itu tak akan
tersulap menjadi sarana pemenuhan hasrat hedonistik, terutama
tatkala aura estetis-mistis keindahan tempat itu tak terserap
oleh kedalaman rasa estetik manusia-manusia yang seharusnya
bertanggung jawab memeliharanya. Kita sudah terlalu
sering baru merasa memiliki sesuatu justru ketika sesuatu itu
telah hilang.
IDG Palguna
Jakarta, 9 Mei 2008