kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 11 Mei 2008 tarukan valas
 

APRESIASI


AURA MISTIS TANGGAHAN PEKEN BANGLI...

BERADA di batas selatan Banjar Tanggahan Peken, di Kecamatan Susut, Bangli,  manakala matahari memancarkan sinar paginya dalam posisi uttarayana (posisi matahari di belahan utara garis katulistiwa), suasana mistis selalu menjalari ruang batin saya yang paling dalam. Dari kelapangan sawah-sawah yang datar membentang di kiri kanan jalan, tatkala pandangan diarahkan ke timur, agak ke timur laut, akan tampak Gunung Agung tegak bak duplikat Mandara Giri, dengan sebelah sisinya yang terang dan sisi lainnya masih gelap kebiru-biruan. Kabut yang menyelitmutinya di bagian pinggang gunung terlihat ibarat putihnya ''samudera susu'', Ksirarnawa, dalam kisah pemutaran Gunung Mandara oleh para Dewa dan Raksasa untuk menemukan tirta amrtha, air suci kehidupan.

Jika mata diarahkan ke selatan, akan terlihat rimbunnya pohon-pohon menghijau yang memuncaki Bukit Demulih. Titik-titik embun yang masih tersisa di ujung-ujung dedaunannya memancarkan sinar putih perak berkelap-kelip tertimpa cahaya matahari pagi. Betapa menakjubkan. Lalu, balikkanlah mata kembali ke arah timur, namun sedikit agak ke tenggara, maka akan tampak Bukit Bangli dengan Pura Pucak-nya yang membawa imajinasi ke alam kehidupan para Rsi dalam puja Surya Sewana-nya di puncak lingga acala menyongsong merekahnya pagi. Posisi dan keindahan kedua bukit ini, yang di tengahnya dibelah oleh Tukad Sangsang, selalu mengingatkan saya pada legenda yang kerap diceritakan sebagai dongeng pengantar tidur oleh nenek asuh saya. Konon, tatkala tokoh legendaris Bali, Ki Kebo Iwa (Kebo Taruna), berkehendak memindahkan kedua bukit itu dengan cara memikulnya menggunakan sanan (batang pemikul) pohon ubi kayu, patahlah sanan-nya di tempat itu sehingga upaya memindahkan kedua bukit itu pun gagal. Maka, marahlah Ki Kebo Iwa, pohon ubi kayu itu lantas dikutuk agar selamanya tak pernah pantas dijadikan bahan bangunan apa pun. Bukit Bangli dan Bukit Demulih pun akhirnya ditinggalkan di tempat itu.

AKHIRNYA, jika mata diarahkan lurus ke barat, terpandanglah jejeran pepohonan yang dari kejauhan masih tampak rapat bagaikan belantara yang dipagari oleh pohon-pohon kelapa dengan liukan daun-daunnya diterpa angin sepoi-sepoi. Di latar belakang tampak barisan bukit-bukit ''milik'' kawasan Bali Barat yang tampak bagaikan lukisan kelambu biru. Kami menyebutnya Bukit Terompong -- mungkin karena jejerannya yang menyerupai terompong, perangkat gamelan Bali yang dalam barungan gong gede berperan sebagai penuntun gending. Di antara rimbunan pohon yang tampak merata itu, menyembul secara dominan sebatang pohon besar. Itulah pohon pule Pura Puseh Agung, yang berlokasi di banjar kelahiran saya, Banjar Selatnyuhan.  Puluhan tahun yang lalu, ketika jalan kaki masih menjadi alternatif tunggal orang-orang dari kampung kami untuk mencapai kota Bangli, kami sering berhenti di situ, membicarakan topik yang selalu sama yaitu perihal keajaiban pohon pule itu yang selalu menjadi penunjuk arah paling sahih jika para pengalu (pedagang keliling) kebingungan arah menemukan desa kami. Dan, sembari menunjuk ke pohon itu, cerita biasanya akan berlanjut pada aneka kegaiban yang melingkupi pohon tadi, yang tepat di bawahnya, di area utama mandala Pura Puseh Agung Selatnyuhan, terdapat palinggih Betara Sakti Murwaning Jagat. Beragam rupa arca tua yang berada di pura itu, sepengetahuan saya, hingga saat ini belum dapat diprediksi secara pasti usia maupun kreatornya.

Kini, lebih dari tiga puluh tahun kemudian, jika melewati tempat itu bersama keluarga, saya masih suka berhenti, mendongengkan legenda yang sama untuk anak-anak saya, legenda yang diceriterakan oleh almarhum nenek asuh saya dan keajaiban-keajaiban yang selalu menjadi topik ''keributan'' dengan kawan-kawan masa kecil saya.  Saya lakukan itu dengan sadar dan sengaja karena khawatir kehilangan kesempatan.  Sebab, dalam zaman di dunia serba-materi dan serba-uang ini, tak ada satu pun bisa memberi jaminan yang dapat diandalkan bahwa tempat itu tak akan tersulap menjadi sarana pemenuhan hasrat hedonistik, terutama tatkala aura estetis-mistis keindahan tempat itu tak terserap oleh kedalaman rasa estetik manusia-manusia yang seharusnya bertanggung jawab memeliharanya.  Kita sudah terlalu sering baru merasa memiliki sesuatu justru ketika sesuatu itu telah hilang.

IDG Palguna
Jakarta, 9 Mei 2008

 

 

 

 
 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com