Pentingnya
Berbakti
pada
Pandita
Di
Pura
Merajan Kanginan
tempat
pemujaan Ida Manik
Angkeran
dan
keluarga di
kompleks
Pura
Besakih ada
Pelinggih
Gedong.
Pelinggih tersebut
sebagai media
pemujaan
Mpu
Beradah. Mengapa
ada
Pelinggih Mpu
Beradah
di Merajan
tersebut? Hal
ini
sebagai wujud
bakti Ida
Manik
Angkeran kepada
Mpu
Beradah sebagai
salah
satu orang
suci yang
berjasa
meletakkan dasar
sistem
hidup kerohanian
Hindu di Bali,
termasuk
di Pura
Besakih.
=========================================================
Ida Manik
Angkeran,
putra
Mpu Siddhi Mantra,
baik
langsung maupun
tidak
langsung merasakan
jasa-jasa
para
orang-orang. Dengan
semakin
eksisnya Pura
Besakih
sebagai hulunya
Pulau Bali
maka
kehidupan keagamaan
Hindu di Bali
semakin
terarah untuk
menguatkan
alam Bali
dan
manusia Bali menjadi
dua
unsur ciptaan
Tuhan
untuk saling
memperkuat
dengan
manusia Bali sebagai
unsur
sentralnya.
Sayang
konsep-konsep
keagamaan Hindu yang
terbungkus
dalam
kemasan kebudayaan
Hindu di Bali
masih
banyak yang belum
dipahami
oleh
umatnya sendiri
secara
benar sesuai
dengan
teksnya yang terdapat
dalam
berbagai pustaka
lontar.
Karena itu
ke
depan dalam
rangka
membangun Bali yang
jagathita amat
diperlukan
untuk
memahami isi
teks
pustaka lontar
itu
secara benar,
utuh
dan terpadu.
Dengan
demikian
berbagai
kesalahpahaman
tentang
berbagai budaya Hindu
di Bali
akan dapat
diatasi
tahap demi
tahap.
Dengan demikian, Bali
yang ajeg
atau Bali yang
jagadhita
akan
semakin terwujud.
Ida Manik
Angkeran
sebagai
salah satu
penyelenggara
berbagai
kegiatan
keagamaan Hindu
di Pura
Besakih
tentunya memiliki
kepekaan spiritual
untuk
menghargai dan
berbakti
pada
orang-orang suci yang
pernah
berjasa di
bidang
kerohanian Hindu di
Bali. Ida Manik
Angkeran
memang
pernah tergoda
terjun
ke dunia
judian
sampai memotong
ujung
ekor Naga
Basuki yang
bertatah
emas.
Akibat
kesalahan
beliau
itu Ida Manik
Angkeran
pernah
dihukum oleh
Naga
Basuki. Ida Manik
Angkeran
dibakar
dengan lidah
api
Naga Basuki
hingga
menjadi abu.
Berkat
permohonan ampun
Mpu
Siddhi Mantra, ayah Ida
Manik Angkeran,
kepada
Naga Basuki
akhirnya Ida
Manik
Angkeran dihidupkan
kembali
oleh Naga
Basuki.
Mitologi ini
mungkin
simbol saja
untuk
menggambarkan bahwa
Ida Manik
Angkeran
telah
mendapatkan penyucian
dari
Naga Basuki.
Naga
Basuki itu
adalah
sebutan Tuhan
sebagai
Dewanya air yang memberikan
keselamatan
semua
makhluk hidup.
Kata ''basuki''
artinya
rahayu atau
selamat.
Air sebagai
sarana
penyucian disebut
Tirtha.
Karena itu
di Pura
Merajan
Kanginan ada
pelinggih yang
disebut
Balai Tegeh
untuk
stana Batara
Tirtha.
Tirtha inilah yang
mungkin
sebagai simbol yang
telah
menyucikan Ida Manik
Angkeran
dari
kebiasaan buruknya
main judi.
Setelah
kebiasaan buruknya
itu
dapat dihilangkan
maka Ida
Manik
Angkeran menjadi
orang yang
sangat
sungguh-sungguh mengabdi
pada
umat yang datang
ke
Besakih mohon
peningkatan
rohani.
Adanya
gedong
sebagai Pelinggih
Mpu
Beradah itu
untuk
mengingatkan kita
bahwa
bentuk Resi
Yadnya
itu secara
garis
besarnya ada
dua
yaitu dengan
memuja
beliau sebagai
pandita
dengan sosok
pribadi yang
suci.
Dengan pemujaan
itu
umat akan
mendapatkan
vibrasi
suci dari
seorang
pandita apa
lagi yang
benar-benar
Sista
atau ahli
Weda.
Bentuk yang kedua
dari
Resi Yadnya
itu
adalah dengan
wruh ring
kalingganing
dadi
wwang.
Demikian
dinyatakan
dalam
kitab Agastia
Parwa.
Makna dari
teks
Agastia Parwa
ini
adalah dengan
setiap
hari teratur
mendalami
kitab
suci dengan
kitab-kitab
sastranya.
Kalau
setiap hari
kita
luangkan waktu
beberapa
saat
saja untuk
membaca
serta merenungkan
teks-teks
kitab
suci atau
kitab-kitab
sastranya
pasti
tahap demi
tahap
kita akan
paham
akan hakikat
hidup
sebagai manusia
di
dunia ini.
Tujuan
dari
para resi
atau
pandita menjabarkan
mantra-mantra Weda
Sruti
sabda Tuhan
itu
menjadi kitab-kitab
sastra agar
umat
pada umumnya
dapat
lebih mudah
memahami
isi
kitab suci
tersebut.
Kalau
kita dalami
ajaran-ajaran
kitab
sastra Weda yang
disusun
oleh para
resi,
itulah sesungguhnya
bentuk
bakti kita yang
lebih
utama pada
resi.
Apalagi setelah
secara
teratur kita
dalami
ajaran kitab-kitab
sastra
itu kita
semakin
paham akan
hakikat
hidup ini,
itu
berarti kita
telah
wujudkan tujuan
para
resi menyusun
kitab-kitab
sastra yang
dijabarkan
dari mantra-mantra
Weda
sabda Tuhan
tersebut.
Dalam
Sarasamuscaya 40
dinyatakan
bahwa
ada tiga
wujud Dharma
yaitu
segala apa yang
diajarkan
dalam
kitab Sruti
sabha
Tuhan itu
adalah Dharma.
Semua yang
diajarkan
dalam
kiab-kitab Smrti
juga
disebut Dharma. Demikian
juga
kebiasaan yang dilakukan
oleh Sang
Sista
atau Pandita
ahli
dalam menjalankan
swadharmanya
sebagai
Pandita yang Sista
juga
disebut Dharma.
Tradisi
Pandita
Sista itu
ada
empat yaitu Sang
Satyawadi,
artinya
orang yang selalu
berbicara
tentang
kebenaran (Satya).
Sang Apta
adalah
orang selalu
dapat
dipercaya karena
tidak
pernah bohong,
tidak
pernah jahat,
tidak
pernah kasar
dan
juga tidak
pernah
memfitnah orang lain.
Sang Patirthan,
artinya
orang yang telah
dijadikan
tempat
memohon penyucian
diri
oleh umat.
Selanjutnya
adalah Sang
Panadahan
Upadesa,
artinya
orang yang senantiasa
mengembangkan
pendidikan
kerohanian.
Istilah
Upadesa menurut Dr.
Rajendra
Misra
artinya pendidikan
kerohanian.
Demikianlah
seyogianya
tradisi
orang suci
atau
Sistacara itu.
Kalau
empat perilaku
suci
itu sudah
menjadi
kebiasaan dalam
kehidupan
sehari-hari
orang yang
disebut Sang
Pandita,
maka
beliaulah yang dapat
disebut Sang
Sista
dan itu
juga
dapat disebut
perwujudan Dharma.
Ini
artinya Dharma
itu
dapat dilihat
dalam
tiga wujud
yaitu
dalam kitab
Sruti
sabda Tuhan,
dalam
kitab Smrti
hasil
renungan para
resi
dalam menjabarkan
ajaran
dalam kitab
Sruti. Dan yang
ketiga
adalah Sistacara
atau
tradisi orang-orang
suci
dalam empat
kebiasaan
suci
tersebut.
Nampaknya
para
resi zaman
dahulu
di Bali seperti
kebiasaan
beliau Sang
Panca
Tirtha telah
memberikan
suri
tauladan yang baik
dalam
melakukan swadharmanya
sebagai
orang-orang suci.
Meskipun
beliau
berbeda-beda paksa
atau
sekte atau
sampradaya-nya
beliau
tetap dapat
bersatu
membangun
Bali
yang berbudaya
dengan
sistem religi
Weda
atau Hindu.
Meskipun
ada di
antaranya yang
agak
dekat dengan
kekuasaan,
tetapi
tidak menggunakan
kedekatannya
dengan
kekuasaan itu
sebagai media
untuk
menekan yang lain. Justru
letak
harga dirinya
kalau
dapat menghargai
pihak lain yang
berbeda
dengan dirinya. Kita
tidak
punya harga
diri
kalau tidak
bisa
menghargai orang
lain. Manusia
memang
tercipta berbeda
dan
sama.
Ada
aspek yang
berbeda
tetapi ada
aspek yang
sama.
Marilah kita
bina
hidup bersama
di bumi
ini
dengan paradigma
sama
dan beda
tersebut.
*
wiana