kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Pon, 16 Mei 2007

 Ajeg Bali


Pentingnya
Berbakti pada Pandita 

Di Pura Merajan Kanginan tempat pemujaan Ida Manik Angkeran dan keluarga di kompleks Pura Besakih ada Pelinggih Gedong. Pelinggih tersebut sebagai media pemujaan Mpu Beradah. Mengapa ada Pelinggih Mpu Beradah di Merajan tersebut? Hal ini sebagai wujud bakti Ida Manik Angkeran kepada Mpu Beradah sebagai salah satu orang suci yang berjasa meletakkan dasar sistem hidup kerohanian Hindu di Bali, termasuk di Pura Besakih.

========================================================= 

Ida Manik Angkeran, putra Mpu Siddhi Mantra, baik langsung maupun tidak langsung merasakan jasa-jasa para orang-orang. Dengan semakin eksisnya Pura Besakih sebagai hulunya Pulau Bali maka kehidupan keagamaan Hindu di Bali semakin terarah untuk menguatkan alam Bali dan manusia Bali menjadi dua unsur ciptaan Tuhan untuk saling memperkuat dengan manusia Bali sebagai unsur sentralnya.  

Sayang konsep-konsep keagamaan Hindu yang terbungkus dalam kemasan kebudayaan Hindu di Bali masih banyak yang belum dipahami oleh umatnya sendiri secara benar sesuai dengan teksnya yang terdapat dalam berbagai pustaka lontar. Karena itu ke depan dalam rangka membangun Bali yang jagathita amat diperlukan untuk memahami isi teks pustaka lontar itu secara benar, utuh dan terpadu

Dengan demikian berbagai kesalahpahaman tentang berbagai budaya Hindu di Bali akan dapat diatasi tahap demi tahap. Dengan demikian, Bali yang ajeg atau Bali yang jagadhita akan semakin terwujud

Ida Manik Angkeran sebagai salah satu penyelenggara berbagai kegiatan keagamaan Hindu di Pura Besakih tentunya memiliki kepekaan spiritual untuk menghargai dan berbakti pada orang-orang suci yang pernah berjasa di bidang kerohanian Hindu di Bali. Ida Manik Angkeran memang pernah tergoda terjun ke dunia judian sampai memotong ujung ekor Naga Basuki yang bertatah emas.  

Akibat kesalahan beliau itu Ida Manik Angkeran pernah dihukum oleh Naga Basuki. Ida Manik Angkeran dibakar dengan lidah api Naga Basuki hingga menjadi abu. Berkat permohonan ampun Mpu Siddhi Mantra, ayah Ida Manik Angkeran, kepada Naga Basuki akhirnya Ida Manik Angkeran dihidupkan kembali oleh Naga Basuki. Mitologi ini mungkin simbol saja untuk menggambarkan bahwa Ida Manik Angkeran telah mendapatkan penyucian dari Naga Basuki. Naga Basuki itu adalah sebutan Tuhan sebagai Dewanya air yang memberikan keselamatan semua makhluk hidup. Kata ''basuki'' artinya rahayu atau selamat

Air sebagai sarana penyucian disebut Tirtha. Karena itu di Pura Merajan Kanginan ada pelinggih yang disebut Balai Tegeh untuk stana Batara Tirtha. Tirtha inilah yang mungkin sebagai simbol yang telah menyucikan Ida Manik Angkeran dari kebiasaan buruknya main judi. Setelah kebiasaan buruknya itu dapat dihilangkan maka Ida Manik Angkeran menjadi orang yang sangat sungguh-sungguh mengabdi pada umat yang datang ke Besakih mohon peningkatan rohani

Adanya gedong sebagai Pelinggih Mpu Beradah itu untuk mengingatkan kita bahwa bentuk Resi Yadnya itu secara garis besarnya ada dua yaitu dengan memuja beliau sebagai pandita dengan sosok pribadi yang suci. Dengan pemujaan itu umat akan mendapatkan vibrasi suci dari seorang pandita apa lagi yang benar-benar Sista atau ahli Weda. Bentuk yang kedua dari Resi Yadnya itu adalah dengan wruh ring kalingganing dadi wwang

Demikian dinyatakan dalam kitab Agastia Parwa. Makna dari teks Agastia Parwa ini adalah dengan setiap hari teratur mendalami kitab suci dengan kitab-kitab sastranya. Kalau setiap hari kita luangkan waktu beberapa saat saja untuk membaca serta merenungkan teks-teks kitab suci atau kitab-kitab sastranya pasti tahap demi tahap kita akan paham akan hakikat hidup sebagai manusia di dunia ini.  

Tujuan dari para resi atau pandita menjabarkan mantra-mantra Weda Sruti sabda Tuhan itu menjadi kitab-kitab sastra agar umat pada umumnya dapat lebih mudah memahami isi kitab suci tersebut. Kalau kita dalami ajaran-ajaran kitab sastra Weda yang disusun oleh para resi, itulah sesungguhnya bentuk bakti kita yang lebih utama pada resi. Apalagi setelah secara teratur kita dalami ajaran kitab-kitab sastra itu kita semakin paham akan hakikat hidup ini, itu berarti kita telah wujudkan tujuan para resi menyusun kitab-kitab sastra yang dijabarkan dari mantra-mantra Weda sabda Tuhan tersebut

Dalam Sarasamuscaya 40 dinyatakan bahwa ada tiga wujud Dharma yaitu segala apa yang diajarkan dalam kitab Sruti sabha Tuhan itu adalah Dharma. Semua yang diajarkan dalam kiab-kitab Smrti juga disebut Dharma. Demikian juga kebiasaan yang dilakukan oleh Sang Sista atau Pandita ahli dalam menjalankan swadharmanya sebagai Pandita yang Sista juga disebut Dharma.  

Tradisi Pandita Sista itu ada empat yaitu Sang Satyawadi, artinya orang yang selalu berbicara tentang kebenaran (Satya). Sang Apta adalah orang selalu dapat dipercaya karena tidak pernah bohong, tidak pernah jahat, tidak pernah kasar dan juga tidak pernah memfitnah orang lain. Sang Patirthan, artinya orang yang telah dijadikan tempat memohon penyucian diri oleh umat.  

Selanjutnya adalah Sang Panadahan Upadesa, artinya orang yang senantiasa mengembangkan pendidikan kerohanian. Istilah Upadesa menurut Dr. Rajendra Misra artinya pendidikan kerohanian. Demikianlah seyogianya tradisi orang suci atau Sistacara itu. Kalau empat perilaku suci itu sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari orang yang disebut Sang Pandita, maka beliaulah yang dapat disebut Sang Sista dan itu juga dapat disebut perwujudan Dharma.  

Ini artinya Dharma itu dapat dilihat dalam tiga wujud yaitu dalam kitab Sruti sabda Tuhan, dalam kitab Smrti hasil renungan para resi dalam menjabarkan ajaran dalam kitab Sruti. Dan yang ketiga adalah Sistacara atau tradisi orang-orang suci dalam empat kebiasaan suci tersebut

Nampaknya para resi zaman dahulu di Bali seperti kebiasaan beliau Sang Panca Tirtha telah memberikan suri tauladan yang baik dalam melakukan swadharmanya sebagai orang-orang suci. Meskipun beliau berbeda-beda paksa atau sekte atau sampradaya-nya beliau tetap dapat bersatu membangun Bali yang berbudaya dengan sistem religi Weda atau Hindu. 

Meskipun ada di antaranya yang agak dekat dengan kekuasaan, tetapi tidak menggunakan kedekatannya dengan kekuasaan itu sebagai media untuk menekan yang lain. Justru letak harga dirinya kalau dapat menghargai pihak lain yang berbeda dengan dirinya. Kita tidak punya harga diri kalau tidak bisa menghargai orang lain. Manusia memang tercipta berbeda dan sama. Ada aspek yang berbeda tetapi ada aspek yang sama. Marilah kita bina hidup bersama di bumi ini dengan paradigma sama dan beda tersebut. * wiana

 

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)