Pura
Merajan
Kanginan
Resi
yadnya
ngarania kapujan ring
sang pandita,
muang
sang wruh ring
kalingganing
dari
wwang
(Dikutip
dari
Agastia Parwa).
Maksudnya:
Resi
yadnya
namanya berbakti
pada
beliau Sang Pandita
dan
mereka yang paham
akan
hakikat hidup
sebagai
manusia.
HAKIKAT
mengabdi
pada
kehidupan di
dunia
ini membutuhkan
bimbingan guru yang
sudah
mencapai tingkatan
hidup
Pandita Acarya.
Berguru
pada Pandita
Acarya
itu bukan
semata-mata
untuk
mendalami sastra
kerohanian
semata.
Demikian juga
tujuan
belajar bukan
semata-mata
mencari
keterampilan untuk
mencari
nafkah.
Tujuan
berguru
adalah agar memiliki
kemampuan
untuk
menjalani hidup yang
baik
dan benar
sesuai
dengan norma yang
ditetapkan
dalam
kitab suci.
Termasuk
di
dalamnya berbakti
pada guru yang
berjasa
memberikan kita
ilmu
dengan sejujur-jujurnya
dan
juga memberi
penerangan
jiwa
sesuai dengan
pertumbuhan
diri
kita masing-masing.
Demikian
jugalah Ida
Manik
Angkeran, putra
Mpu
Siddhi Mantra dari
Jawa
Timur, memiliki
tempat
pemujaan keluarga
di
kompleks Pura
Besakih yang
disebut
Merajan Kanginan. Ida
Manik
Angkeran adalah
seorang
pengabdi yang tulus
untuk
ikut serta
dalam
mengeksistensikan dinamika
Pura
Besakih sebagai
tempat
pemujaan umat Hindu
di
seluruh Bali.
Sebagai
pengabdi yang
tulus, Ida
Manik
Angkeran tentunya
mendapat
bimbingan
dari
para rohaniwan yang
sudah
sekaliber Pandita
Acarya.
Karena itulah
di
Merajan tempat
pemujaan
keluarga
beliau
dibangun juga
Pelinggih
Gedong yang
khusus
untuk memuja
Mpu
Beradah, salah
satu guru spiritual Ida
Manik
Angkeran yang telah
mencapai status
Pandita
Acarya. Merajan
ini
kemungkinan tidak
diberikan
sebutan
khusus. Umatlah yang
kemudian
menyebutnya
Merajan
Kanginan.
Umumnya
umat
melihat Merajan Ida
Manik
Angkeran ini
terletak
di
sebelah timur
Pura
Banua tempat
memuja
Batara Sri dan
juga
pusat Jineng
atau
lumbung umat Hindu
di Bali.
Sesungguhnya
letak
Merajan Kanginan
ini
adalah agak
di
selatan Pura
Banua
kalau dilihat
dengan
alat kompas.
Di
Merajan
Kanginan ini
ada
sepuluh pelinggih
utama
dan pelinggih
pelengkap. Lima
pelinggih
terletak
di
areal dalam
atau
jeroan pura
dan lima
lagi
terletak di
areal
tengah atau
jaba
tengah. Pelinggih
di
jeroan pura
itu ada
Pelinggih
Balai
Pengaruman dan yang
di
sebelahnya ada
pelinggih yang
disebut
Gedong Busana
di
sudut uranus
atau
keluwan pura.
Di
Pelinggih
ini
ditempatkan berbagai
perlengkapan
sakral
dari semua
Pelinggih
Pura
Merajan Kanginan
seperti
busana dan
perlengkapan
lainnya.
Di
sebelah kiri
dari
Gedong Busana
ini
terletak pelinggih
yang disebut
Balai
Tegeh. Pelinggih
Balai
Tegeh ini
bertiang
empat
dan beratap
ijuk.
Fungsi
utama
Pelinggih Balai
Tegeh
ini adalah
sebagai
Pelinggih Batara
Tirtha.
Umat Hindu di Bali
pada
zaman dahulu
kalau yang
daerahnya
diserang
hama
semut umumnya
mohon
kekuatan spiritual dengan
mohon
Tirtha di
Pura
Merajan Kanginan
ini
sebagai sarana
sakral
untuk menghilangkan
hama
semut tersebut.
Di
areal
dalam atau
jeroan
pura terdapat
Pelinggih
Gedong
Simpen yaitu
pelinggih
dengan
tiang empat
beratap
ijuk sebagai
Pelinggih
untuk
Mpu Beradah.
Mpu
Beradah inilah
sebagai
salah satu
Pandita
Acarya dari yang
memiliki
jasa
besar bersama-sama
pandita yang
lainnya
dalam menanamkan
kehidupan
beragama Hindu
di Bali.
Di
areal jeroan
juga
terdapat pelinggih
yang disebut
Balai
Pengaruman sebagai
tempat
menata berbagai
keperluan
upacara yang
bertujuan
untuk
menjaga kesucian
Pura
Merajan Kanginan
tersebut.
Di
jaba
tengah Pura
Merajan
Kanginan ini
terdapat
Pelinggih
Pelengkap
yaitu
ada Balai
Paebatan,
dapur,
Bebaturan, Balai Gong
dan
Balai Kulkul.
Meskipun
semuanya
itu
sebagai bangunan
pelengkap,
tetapi
semuanya memiliki
nilai yang
tinggi
sebagai media untuk
mengembangan
kehidupan yang
berkualitas.
Misalnya
ada
balai paebatan
dan agar
dalam
menyiapkan berbagai
sarana yang
berupa
makanan dilakukan
dengan
sebaik-baiknya. Salah
satu
syarat yadnya yang
disebut
Satvika Yadnya
menurut
Bhagawad Gita XVII.13
adalah
adanya suguhan
makanan yang
disebut
srsta annam,
artinya
makanan yang Satvika.
Dalam
tradisi Hindu
di India
adanya
suguhan makanan
dalam
setiap ada
upacara
yadnya disebut
anna
seva. Karena
dalam Manawa
Dharmasastra
ada
dinyatakan bahwa
betapa pun
besar
dan mahalnya
suatu
upacara yadnya
kalau
ada orang yang
kelaparan
di
sekitar upacara
yadnya
tersebut maka
yadnya
tersebut tidak
akan
berhasil meraih
karunia
Tuhan. Hal inilah
yang menyebabkan
umat Hindu
setiap
melangsungkan upacara
yadnya
selalu disertai
dengan
jamuan makanan
kepada
para atithi
yadnya
atau tamu yang
hadir
diundang dalam
upacara
yadnya tersebut.
Adanya
dapur
dan balai
paebatan
di pura
tersebut
untuk
menyiapkan berbagai
keperluan
upacara
yadnya baik
sebagai
sarana kelengkapan
upacara
maupun untuk
menjamu
para tamu
upacara.
Tujuan
adanya dapur
dan
balai paebatan
itu
untuk menyiapkan agar
makanan
tersebut makanan
suci
atau Satvika
Ahara.
Melalui
simbol
dapur suci
dan
balai paebatan
itu
diharapkan umat agar
dalam
mencari makanan
dan
juga menyiapkan
makanan
menggunakan cara-cara
yang dibenarkan
oleh dharma
dalam
kehidupan sehari-hari.
Bukan
hanya saat
ada
upacara saja
umat
menyiapkan makanan
dengan
cara-cara yang suci,
tetapi
justru upacara
itu
sebagai proses
memotivasi
umat agar
dalam
kehidupannya sehari-hari
justru
selalu mencari
dan
juga memilih
dan
menyiapkan makanan
dengan
cara-cara yang suci.
Demikian
juga
adanya Balai
Kulkul
dan Balai Gong
di pura
tersebut
memiliki
makna yang
dalam
juga. Balai
Kulkul
itu sebagai
simbol
untuk mengupayakan
terpeliharanya
keamanan
atau
santiraksa. Salah
satu
tujuan berbakti
pada
Tuhan adalah
untuk
mengembangkan upaya
bersama
untuk bisa
menciptakan
rasa
aman dan
damai
dalam kehidupan
bersama
itu.
Dalam
Manawa Dharmasastra pun
pada
Ksatria diwajibkan
oleh
Hyang Widhi agar
berusaha
untuk
memberikan rasa
aman (Raksanam)
dan
sejahtera (Dhanam)
kepada
masyarakat (Praja).
Rasa aman
dan
sejahtera dalam
masyarakat
merupakan
kebutuhan
hidup yang paling
utama
dalam kehidupan
di
dunia ini.
Demikian
juga
adanya Balai Gong
di Jaba
Tengah
Pura Merajan
Kanginan
ini
sebagai simbol
adanya
keindahan dari
seni
dalam mewujudkan
ajaran agama.
Umat Hindu
mengenai
ajaran
Satyam, Siwam
dan
Sundaram. Maksudnya
agar umat
menggunakan
kesenian yang
indah
itu (Sundaram)
untuk
mewujudkan kebenaran
(Satyam)
dan
kesucian (Siwam).
Keindahan
seni
akan mubazir
kalau
bukan untuk
Satyam
dan Siwam.
·
I
Ketut
Gobyah