kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 13 Desember 2007

 Pariwisata


Telewisata
:
Delegasi
UNCCC Bukan Tamu Leisure 

SEMPAT muncul keluhan, kedatangan sekitar 12.000 delegasi Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim atau United Nations Climate Change Conference (UNCCC) di Nusa Dua, kurang memberi pengaruh signifikan bagi pariwisata Bali. Pasar-pasar, artshop dan objek-objek wisata terlihat hanya dikunjungi tamu-tamu reguler. Lantas muncul simpulan seperti yang diungkapkan di atas. Penilaian seperti itu tidak salah tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Agar penilaiannya lebih fair seyogianya dilihat dari berbagai aspek.

Hal ini disebabkan karakter delegasi UNCCC sebagai tamu VIP. Itulah sebabnya kalau ingin ke mana-mana, mereka akan dikawal dan tak bisa sembarangan berbelanja. Demikian pula hotel tempat para delegasi menginap, betul-betul hotel berbintang yang telah direkomendasi. Paling tidak memenuhi sejumlah kriteria seperti keamanan dan kenyamanan, memiliki fasilitas IT yang memadai serta dekat dengan Nusa Dua, tempat penyelenggaraan UNCCC. Dengan demikian, tak bisa disalahkan kalau panitia merekomendasikan sejumlah hotel tertentu saja.

Demikian pula aktivitas sehari-hari para delegasi UNCCC. Mereka yang termasuk delegasi dan para jurnalis sudah memiliki jadwal aktivitas yang cukup padat. Kalaupun ada waktu sedikit pada malam hari, umumnya mereka mempersiapkan diri untuk meeting hari berikutnya. Jadi waktu mereka untuk berbelanja atau berwisata sangat sedikit, tergantung jadwal yang disiapkan oleh panitia. Jadi, tamu jenis MICE ini tentu berbeda dengan wisatawan yang khusus datang untuk leisure.

Kendati demikian, Menbudpar Jero Wacik telah menegaskan bahwa ada sekitar Rp 500 milyar dana yang beredar di Bali selama Konferensi Perubahan Iklim berlangsung. Baik untuk akomodasi, pemenuhan Food and Bavarage (F&B), transportasi dan cenderamata. CPO yang meng-handle tamu MICE umumnya telah menyiapkan cenderamata bagi para tamunya yang biasanya diletakkan di kamar hotel, tempat para tamu menginap. Kalau bujetnya sesuai, suvenir malah bisa diberikan tiap hari. Jadi tamu tak perlu belanja langsung ke pasar atau artshop.

Di sisi lain, kegiatan UNCCC di Bali telah menyerap tenaga kerja. Untuk melayani berbagai kegiatan selama konferensi telah dikontrak tenaga lepas (freelance) yang jumlahnya ratusan orang. Umumnya mereka berasal dari kampus dan kaum muda yang lolos seleksi. Mereka juga tidak bekerja gratis, tetapi diberi insentif sesuai dengan tingkat pekerjaannya. Ada yang kerjanya membagi naskah, menangani komputer di tempat meeting atau media centre. Ada pula yang melayani pendaftaran peserta UNFCC atau wartawan yang datang kemudian.

Melihat kompleksnya elemen yang terlibat dalam Konferensi Perubahan Iklim di Nusa Dua ini, sulit untuk menyimpulkan bahwa kegiatan ini tidak memberi dampak langsung untuk Bali. Bagaimana pun sebagaimana prediksi Menbudpar Jero Wacik bahwa uang yang beredar selama konferensi mencapai Rp 500 milyar bisa menjadi jaminan bahwa KTT Perubahan Iklim berdampak positif bagi Bali, baik secara langsung maupun tak langsung, seperti terdongkraknya percintraan di dunia internasional.

Perlu juga dicatat, semua ini tak diraih secara gratis. Banyak pengorbanan yang dialami oleh masyarakat dan Pemda Bali, TNI/Polri serta semua pihak terkait. Sepanjang dilaksanakannya UNCCC 2007 di Nusa Dua, lalu lintas di jalan-jalan utama di Nusa Dua  agak macet. Terutama di lampu lalu lintas (traffic light) kedua dari Nusa Dua, saban hari macet pada jalur masuk. Demikian pula aparat keamanan (TNI/Polri) yang stand-by di titik-titik krusial sepanjang berlangsungnya UNCCC. Kita berharap, pengorbanan ini setimpal dengan benefit yang akan diraih Bali di masa depan. (gre)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)