Telewisata
:
Delegasi
UNCCC Bukan
Tamu Leisure
SEMPAT
muncul
keluhan, kedatangan
sekitar 12.000
delegasi
Konferensi PBB
tentang
Perubahan Iklim
atau United Nations Climate
Change Conference (UNCCC) di
Nusa
Dua, kurang
memberi
pengaruh signifikan
bagi
pariwisata Bali. Pasar-pasar,
artshop
dan objek-objek
wisata
terlihat hanya
dikunjungi
tamu-tamu
reguler.
Lantas
muncul simpulan
seperti yang
diungkapkan
di atas.
Penilaian
seperti
itu tidak
salah
tetapi juga
tidak
sepenuhnya benar.
Agar penilaiannya
lebih fair
seyogianya
dilihat
dari berbagai
aspek.
Hal ini
disebabkan karakter
delegasi UNCCC
sebagai
tamu VIP. Itulah
sebabnya
kalau
ingin ke
mana-mana,
mereka
akan dikawal
dan tak
bisa
sembarangan berbelanja.
Demikian pula hotel
tempat
para delegasi
menginap,
betul-betul hotel
berbintang yang
telah
direkomendasi. Paling tidak
memenuhi
sejumlah
kriteria
seperti
keamanan dan
kenyamanan,
memiliki
fasilitas IT yang
memadai
serta dekat
dengan
Nusa Dua,
tempat
penyelenggaraan UNCCC.
Dengan demikian,
tak
bisa disalahkan
kalau
panitia merekomendasikan
sejumlah hotel
tertentu
saja.
Demikian
pula aktivitas
sehari-hari
para
delegasi UNCCC. Mereka
yang termasuk
delegasi
dan
para jurnalis
sudah
memiliki jadwal
aktivitas yang
cukup
padat. Kalaupun
ada
waktu sedikit
pada
malam hari,
umumnya
mereka mempersiapkan
diri
untuk meeting hari
berikutnya.
Jadi
waktu mereka
untuk
berbelanja atau
berwisata
sangat
sedikit, tergantung
jadwal yang
disiapkan
oleh
panitia. Jadi,
tamu
jenis MICE ini
tentu
berbeda dengan
wisatawan yang
khusus
datang untuk leisure.
Kendati
demikian,
Menbudpar
Jero
Wacik telah
menegaskan
bahwa
ada sekitar
Rp 500
milyar dana yang
beredar
di Bali selama
Konferensi
Perubahan
Iklim
berlangsung. Baik
untuk
akomodasi, pemenuhan
Food and Bavarage (F&B),
transportasi
dan
cenderamata. CPO yang meng-handle
tamu MICE
umumnya
telah menyiapkan
cenderamata
bagi
para tamunya yang
biasanya
diletakkan
di
kamar hotel, tempat
para
tamu menginap.
Kalau
bujetnya sesuai,
suvenir
malah bisa
diberikan
tiap
hari. Jadi
tamu
tak perlu
belanja
langsung ke
pasar
atau artshop.
Di
sisi lain,
kegiatan UNCCC
di Bali
telah menyerap
tenaga
kerja. Untuk
melayani
berbagai
kegiatan
selama
konferensi telah
dikontrak
tenaga
lepas (freelance) yang
jumlahnya ratusan
orang.
Umumnya mereka
berasal
dari kampus
dan
kaum muda yang
lolos
seleksi. Mereka
juga
tidak bekerja gratis,
tetapi
diberi insentif
sesuai
dengan tingkat
pekerjaannya.
Ada
yang kerjanya
membagi
naskah, menangani
komputer
di
tempat meeting atau
media centre.
Ada
pula yang melayani
pendaftaran
peserta UNFCC
atau
wartawan yang datang
kemudian.
Melihat
kompleksnya
elemen yang
terlibat
dalam
Konferensi Perubahan
Iklim
di Nusa
Dua ini,
sulit
untuk menyimpulkan
bahwa
kegiatan ini
tidak
memberi dampak
langsung
untuk Bali.
Bagaimana pun
sebagaimana
prediksi
Menbudpar
Jero
Wacik bahwa
uang yang
beredar
selama konferensi
mencapai
Rp 500
milyar bisa
menjadi
jaminan bahwa KTT
Perubahan
Iklim
berdampak positif
bagi Bali,
baik
secara langsung
maupun
tak langsung,
seperti
terdongkraknya percintraan
di
dunia internasional.
Perlu
juga
dicatat, semua
ini tak
diraih
secara gratis. Banyak
pengorbanan yang
dialami
oleh masyarakat
dan
Pemda Bali, TNI/Polri
serta
semua pihak
terkait.
Sepanjang
dilaksanakannya UNCCC 2007
di Nusa
Dua,
lalu lintas
di
jalan-jalan utama
di Nusa
Dua
agak
macet. Terutama
di
lampu lalu
lintas (traffic light)
kedua
dari Nusa
Dua,
saban hari
macet
pada jalur
masuk.
Demikian pula aparat
keamanan (TNI/Polri)
yang stand-by di
titik-titik
krusial
sepanjang berlangsungnya
UNCCC. Kita berharap,
pengorbanan
ini
setimpal dengan
benefit yang akan
diraih Bali
di masa
depan.
(gre)