kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 13 Desember 2007

 Artikel


Bumi
Memanggil Manusia
Oleh
Dira Arsana 

Epilog bahwa dunia di ambang serbuan air bah dan sengatan sinar matahari, menjadi topik hangat di Nusa Dua, Bali. Konferensi Perubahan Iklim (UNCCC) bisa diterjemahkan sebagai ekspresi ketakutan manusia atas pergolakan bumi sebagai tempat hidup dan sumber kehidupan manusia. Bumi tak lagi ramah dan menyerah menghadapi eksploitasi manusia.

============= 

MERATAPI nasib bumi, kini tak hanya menjadi urusan petingi negara, menteri dan politisi. Musisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), bahkan rakyat miskin merasa iba dengan nasib bumi. Ketika airnya tak lagi ramah menyapa tubuh manusia, dan ketika pohonnya meranggas diterjang sengatan matahari, manusia tetap asyik mengejar mimpi. Isyarat panggilan bumi diabaikan seiring makin mengglobalnya isu perdagangan bebas dan gegap-gempitanya dunia politik.

Bola bumi yang kini sedang meradang akibat keserakahan manusia membutuhkan uluran tangan. Sadar betapa menderitanya bumi, syair lagu musisi Nugie dkk. di hadapan sepuluh ribu delegasi patut direnungi. Lewat syair-syair lagunya, Nugie dkk. meminta manusia segera berbagi dan membuka pintu hatinya untuk menyelamatkan bumi. Manusia sebagai penikmat bumi harus segera melakukan moratorium dan merenungi mengapa bumi tak kuasa menahan amukan air yang mulai masuk ke sudut-sudut kota dan menyapu pumukiman. Bumi telah memanggil manusia untuk menjaganya.

Kini, dilema atas meradangnya bumi mungkin tak hanya akan tuntas lewat perdebatan dari meja ke meja. Bumi membutuhkan aksi nyata manusia. Sayangnya, ketika bumi makin menderita, populasi penduduk dunia terus meningkat. Kondisi ini akan membuat persaingan merebut nafkah dari bumi akan berlangsung ketat dan licik. Tanpa konsep pengendalian yang jelas dan melakukan moratotium, derita bumi akan makin sulit disembuhkan.

Salah satu strategi proteksi untuk memberi ruang bernapas bagi bumi adalah Nyepi. Tradisi hening d Bali ini bahkan telah mulai mendunia. Konsep sederhana Nyepi dalam menjaga bumi adalah memberikan keheningan bagi alam semesta setelah berhari-hari menjadi penyangga sekaligus sumber penghidupan bagi manusia. Untuk itu, ketika bumi membutuhkan uluran tangan manusia untuk berbagi, manusia juga harus ikhlas dan memberikannya sentuhan kasih.

 

Dilema Penyelamatan

Terbangunnya kesadaran manusia untuk menjaga bumi lewat konferensi Perubahan Iklim (UNCCC) tampaknya masih membutuhkan waktu panjang untuk sampai pada kesepakatan dunia. Konferensi Nua Dua barulah sebatas menyusun rencana aksi atau menata jalan untuk menuju ratifikasi Protokol Kyoto tahun 2012 mendatang. Dalam rentang waktu ini masih ada sekitar empat tahun waktu jeda tanpa ada kepastian yang jelas bagaimana bumi akan diselamatkan. Di lain pihak, bumi telah memberi isyarat bahwa bumi tak lagi ramah bagi manusia.

Untuk itu, kesetaraan peran dalam penyelamatan bumi antara negara-negara berkembang dan maju mutlak harus disusun. Negara-negara maju yang disudutkan sebagai penakluk bumi, harus dipaksa ikut meratifikasi Protokol Kyoto. Beda sikap atas rencana ratifikasi Protokol Kyoto harus dilihat sebagai masalah yang harus dinetralkan, mengingat peyelamatan bumi tak bisa dlakukan secara parsial. Semua aksi dunia haruslah mengarah pada upaya-upaya yang terarah dan jelas menjaga bumi. Negara-negara maju harus mengeleminasi kepentingan politis ekonomisnya dan berhenti memegang tongkat komando dalam menjaga hutan-hutan tropis di belahan bumi. Pimpinan negara industri harus peka terhadap situasi dunia, bukan malah berkutat menyelamatkan perekonomian negaranya dengan segala cara.

Suara negara-negara miskin agar ratifikasi program-program penyelamatan lingkungan patut diakomodasi dalam merumuskan kesepakatan baru dalam menjaga dunia. Masalahnya korban dari reaksi bumi adalah kaum miskin dan negara yang gagap teknologi. Presentasi dari kemiskinan dan gagap teknologi umumnya menjadi identitas negara-negara berkembang dan berpenduduk padat. Makanya sangatlah wajar pada momen penyelamatan bumi lewat konferensi ini teriakan delegasi negara-negara miskin terdengar lantang.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Delegasi Indonesia bahkan sejak awal telah menegaskan posisinya sebagai negara yang akan menentang sistem pendiktean negara-negara maju dalam urusan penyelamatan hutan, laut dan sanitasi udara. Sebagai negara berkembang dan memiliki kekayaan hayati yang melimpah, Indonesia sudah sepantasnya menunjukkan daya tawar kepada dunia. Bahkan, delegasi Indonesia sudah menyiapkan sejumlah tuntutan, di antaranya kompensasi dana dan alih teknologi.

Dalam urusan penyelamatan bumi, Indonesia harus bisa menjadi panglima, bukan prajurit yang selalu diatur oleh negara-negara maju. Indonesia yang selama ini banyak menjadi korban aturan negara-negara maju harus menjadikan potensi alamnya sebagai kekuatan politis. Walaupun sudah banyak hutan yang digunduli untuk memenuhi pesanan negara maju, namun luas tutupan hijau di Indonesia masih bisa dijadikan jaminan menjaga dunia.

Maka menjadi sangat wajar ketika Ketua Delegasi Indonesia Prof. Emil Salim memastikan Indonesia tak akan mau lagi menjadi negara yang dikendalikan pihak Barat dalam mengelola alamnya. Indonesia harus punya komitmen yang jelas dalam menjaga bumi. Dan, penduduk Indonesia yang padat haruslah diarahkan untuk menjadi pengawal bumi yang setia. 

Penulis, wartawan Bali Post

----

''Dalam urusan penyelamatan bumi, Indonesia harus bisa menjadi panglima, bukan prajurit yang selalu diatur oleh Uni Eropa. Indonesia yang selama ini banyak menjadi korban aturan negara-negara maju harus menjadikan potensi alamnya sebagai kekuatan politis.''

--------------

 

* Menjaga bumi harus menjadi tanggung jawab semua komponen,

  bukan hanya urusan pemimpin dan politisi.

* Manusia sebagai penikmat bumi harus segera melakukan

  moratorium dan mulat sarira (pengendalian diri).

* Ketika bumi membutuhkan uluran tangan manusia untuk

  berbagi, manusia juga harus ikhlas dan memberikannya

  sentuhan kasih.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)