Bumi
Memanggil
Manusia
Oleh
Dira
Arsana
Epilog bahwa
dunia
di ambang
serbuan air bah
dan
sengatan sinar
matahari,
menjadi
topik hangat
di Nusa
Dua, Bali.
Konferensi
Perubahan
Iklim (UNCCC)
bisa
diterjemahkan sebagai
ekspresi
ketakutan
manusia
atas pergolakan
bumi
sebagai tempat
hidup
dan sumber
kehidupan
manusia.
Bumi
tak
lagi ramah
dan
menyerah menghadapi
eksploitasi
manusia.
=============
MERATAPI
nasib
bumi, kini
tak
hanya menjadi
urusan
petingi negara,
menteri
dan politisi.
Musisi,
lembaga
swadaya masyarakat (LSM),
bahkan
rakyat miskin
merasa
iba dengan
nasib
bumi.
Ketika
airnya
tak lagi
ramah
menyapa tubuh
manusia,
dan
ketika pohonnya
meranggas
diterjang
sengatan
matahari,
manusia
tetap asyik
mengejar
mimpi.
Isyarat
panggilan
bumi
diabaikan seiring
makin
mengglobalnya isu
perdagangan
bebas
dan gegap-gempitanya
dunia
politik.
Bola bumi yang
kini
sedang meradang
akibat
keserakahan manusia
membutuhkan
uluran
tangan.
Sadar
betapa
menderitanya bumi,
syair
lagu musisi
Nugie
dkk.
di
hadapan
sepuluh ribu
delegasi
patut
direnungi.
Lewat
syair-syair
lagunya,
Nugie
dkk.
meminta
manusia
segera berbagi
dan
membuka pintu
hatinya
untuk menyelamatkan
bumi.
Manusia sebagai
penikmat
bumi
harus segera
melakukan moratorium
dan
merenungi mengapa
bumi
tak kuasa
menahan
amukan air yang mulai
masuk
ke sudut-sudut
kota
dan
menyapu pumukiman.
Bumi
telah
memanggil manusia
untuk
menjaganya.
Kini,
dilema
atas meradangnya
bumi
mungkin tak
hanya
akan
tuntas
lewat perdebatan
dari
meja ke
meja.
Bumi
membutuhkan
aksi
nyata manusia.
Sayangnya,
ketika
bumi makin
menderita,
populasi
penduduk
dunia
terus meningkat.
Kondisi
ini akan
membuat
persaingan merebut
nafkah
dari bumi
akan
berlangsung ketat
dan
licik. Tanpa
konsep
pengendalian yang jelas
dan
melakukan moratotium,
derita
bumi
akan makin
sulit
disembuhkan.
Salah
satu
strategi proteksi
untuk
memberi ruang
bernapas
bagi
bumi adalah
Nyepi.
Tradisi
hening d
Bali
ini
bahkan telah
mulai
mendunia.
Konsep
sederhana
Nyepi
dalam menjaga
bumi
adalah memberikan
keheningan
bagi
alam semesta
setelah
berhari-hari menjadi
penyangga
sekaligus
sumber
penghidupan bagi
manusia.
Untuk
itu,
ketika bumi
membutuhkan
uluran
tangan manusia
untuk
berbagi, manusia
juga
harus ikhlas
dan
memberikannya sentuhan
kasih.
Dilema
Penyelamatan
Terbangunnya
kesadaran
manusia
untuk menjaga
bumi
lewat konferensi
Perubahan
Iklim (UNCCC)
tampaknya
masih
membutuhkan waktu
panjang
untuk sampai
pada
kesepakatan dunia.
Konferensi
Nua Dua
barulah
sebatas menyusun
rencana
aksi atau
menata
jalan untuk
menuju
ratifikasi Protokol
Kyoto tahun 2012
mendatang.
Dalam
rentang waktu
ini
masih ada
sekitar
empat tahun
waktu
jeda tanpa
ada
kepastian yang jelas
bagaimana
bumi
akan
diselamatkan.
Di lain
pihak,
bumi telah
memberi
isyarat bahwa
bumi
tak lagi
ramah
bagi manusia.
Untuk
itu,
kesetaraan peran
dalam
penyelamatan bumi
antara
negara-negara berkembang
dan
maju mutlak
harus
disusun.
Negara-negara
maju yang
disudutkan
sebagai
penakluk bumi,
harus
dipaksa ikut
meratifikasi
Protokol Kyoto.
Beda
sikap
atas rencana
ratifikasi
Protokol Kyoto
harus
dilihat sebagai
masalah yang
harus
dinetralkan, mengingat
peyelamatan
bumi
tak bisa
dlakukan
secara
parsial.
Semua
aksi
dunia haruslah
mengarah
pada
upaya-upaya yang terarah
dan
jelas menjaga
bumi.
Negara-negara
maju
harus mengeleminasi
kepentingan
politis
ekonomisnya dan
berhenti
memegang
tongkat
komando dalam
menjaga
hutan-hutan tropis
di
belahan bumi.
Pimpinan
negara
industri harus
peka
terhadap situasi
dunia,
bukan malah
berkutat
menyelamatkan
perekonomian
negaranya
dengan
segala
cara.
Suara
negara-negara
miskin agar
ratifikasi program-program
penyelamatan
lingkungan
patut
diakomodasi dalam
merumuskan
kesepakatan
baru
dalam menjaga
dunia.
Masalahnya
korban
dari reaksi
bumi
adalah kaum
miskin
dan negara yang
gagap
teknologi.
Presentasi
dari
kemiskinan dan
gagap
teknologi umumnya
menjadi
identitas negara-negara
berkembang
dan
berpenduduk padat.
Makanya
sangatlah
wajar
pada momen
penyelamatan
bumi
lewat konferensi
ini
teriakan delegasi
negara-negara
miskin
terdengar lantang.
Lantas
bagaimana
dengan Indonesia?
Delegasi Indonesia
bahkan
sejak awal
telah
menegaskan posisinya
sebagai
negara yang
akan
menentang
sistem
pendiktean negara-negara
maju
dalam urusan
penyelamatan
hutan,
laut dan
sanitasi
udara.
Sebagai
negara
berkembang dan
memiliki
kekayaan
hayati yang
melimpah,
Indonesia
sudah
sepantasnya menunjukkan
daya
tawar kepada
dunia.
Bahkan,
delegasi Indonesia sudah
menyiapkan
sejumlah
tuntutan,
di
antaranya kompensasi
dana
dan
alih teknologi.
Dalam
urusan
penyelamatan bumi,
Indonesia harus
bisa
menjadi panglima,
bukan
prajurit yang selalu
diatur
oleh negara-negara
maju.
Indonesia
yang selama
ini
banyak menjadi
korban
aturan negara-negara
maju
harus menjadikan
potensi
alamnya sebagai
kekuatan
politis.
Walaupun
sudah
banyak hutan yang
digunduli
untuk
memenuhi pesanan
negara
maju, namun
luas
tutupan hijau
di
Indonesia
masih
bisa dijadikan
jaminan
menjaga dunia.
Maka
menjadi
sangat wajar
ketika
Ketua Delegasi
Indonesia Prof. Emil Salim
memastikan Indonesia
tak
akan
mau
lagi menjadi
negara yang
dikendalikan
pihak
Barat dalam
mengelola
alamnya.
Indonesia
harus
punya komitmen yang
jelas
dalam menjaga
bumi.
Dan, penduduk
Indonesia yang
padat
haruslah diarahkan
untuk
menjadi pengawal
bumi yang
setia.
Penulis,
wartawan Bali Post
----
''Dalam
urusan penyelamatan
bumi, Indonesia
harus
bisa menjadi
panglima,
bukan
prajurit yang selalu
diatur
oleh Uni
Eropa.
Indonesia
yang selama
ini
banyak menjadi
korban
aturan negara-negara
maju
harus menjadikan
potensi
alamnya sebagai
kekuatan
politis.''
--------------
*
Menjaga
bumi harus
menjadi
tanggung jawab
semua
komponen,
bukan
hanya
urusan pemimpin
dan
politisi.
*
Manusia
sebagai penikmat
bumi
harus segera
melakukan
moratorium
dan
mulat sarira (pengendalian
diri).
*
Ketika
bumi membutuhkan
uluran
tangan manusia
untuk
berbagi,
manusia
juga harus
ikhlas
dan
memberikannya
sentuhan
kasih.