Sang Nyoman
Suwisma--
Tanam
Bibit
Terumbu Karang
KETEGUHAN
tekad Sang
Nyoman
Suwisma di
bidang
lingkungan kian
dikenal
masyarakat luas.
Melalui
Yayasan Citra Dewata
Sentosa yang
dipimpinnya,
ia
bersama timnya
secara
berkelanjutan melakukan
gerakan
penghijauan di
seluruh
Bali yang ia
canangkan
sebagai
Gerakan Penanaman
Sejuta
Pohon. ''Mengatasi
permasalahan
lingkungan,
penanaman
pohon
merupakan langkah
paling real yang perlu
dilakukan,''
ungkap
bakal calon
gubernur Bali
asal
Tamanbali, Bangli
ini.
Selain
melakukan
penanaman
pohon
kemiri, menyumbang
bibit
padi Longping
dan
pupuk Nasa
di
suluruh Bali, Suwisma
juga
merambah lingkungan
laut
dan nekat
nyemplung
ke
dasar laut
untuk
melakukan penanaman
bibit
terumbu karang
di
Sanur, Rabu (28/11)
lalu.
Selain itu
juga
menanam bibit
mangrove di
Serangan,
Minggu (9/12). ''Yang
menggembirakan
dari
semua ini
adalah
tanggapan masyarakat
di
tempat kami
melakukan
gerakan
penghijauan,'' tutur
Suwisma
dengan wajah
berseri-seri. ''Mereka
turut
terlibat secara
aktif
dan tulus.''
Terhadap
konsistensi
Suwisma
pada permasalahan
lingkungan,
Panitia
Konferensi PBB tentang
Perubahan
Iklim (UNFCC) yang
tengah
berlangsung di
Nusa
Dua mengundangnya
sebagai
pembicara dalam
konferensi
tersebut,
Jumat (7/12)
lalu.
Dalam kertas
kerjanya,
Suwisma
memaparkan tentang
program penghijauan yang
ia
lakukan selama
ini di
seluruh Bali.
Ia juga
memaparkan
permasalahan yang
terjadi
dan upaya-upaya
untuk
mengatasinya, baik
dalam
jangka pendek
maupun
jangka panjang.
Begitu
kompleksnya
permasalahan
pelestarian
lingkungan yang
diangkat,
ia
akhirnya menyadari
betapa
permasalahan lingkungan
adalah
permasalahan global yang
penanganannya tidak
bisa
berdiri sendiri.
Semua
aspek kehidupan
memiliki
keterkaitan
dengan
lingkungan. ''Apa
yang kami
lakukan
ternyata belum
seberapa,''
kata
Suwisma di
hadapan
beberapa peserta
konferensi.
Karena
itu, ia
bersama
timnya bertekad
akan
lebih meningkatkan
kinerjanya
untuk
berikhtiar
mengatasi
persoalan-persoalan
lingkungan
di Bali.
Dalam
berbagai
kunjungannya
ke
sejumlah daerah
di Bali,
Suwisma
berupaya lebih
banyak
melibatkan masyarakat
untuk
secara tulus
membantunya
dalam
menyelamatkan lingkungan
Bali sambil
tak
henti-henti menyerukan
agar apa pun yang
dibuat
masyarakat Bali selalu
berpijak
kepada
prinsip ramah
lingkungan. ''Secara
tradisional
kita
telah memiliki
kearifan
lokal
untuk lingkungan,''
ungkap
Suwisma.
Ia
mencontohkan
Desa
Tenganan, di
mana
dalam pengelolaan
hutan,
mereka telah
memiliki
awig-awig
kehutanan
dan
beberapa peraturan
lainnya. ''Dalam
kenyataan
sehari-hari,
kearifan
lokal
bisa dijadikan
pijakan
untuk melakukan
sesuatu,
misalnya
mengubah
sampah
menjadi pupuk
atau
didaur ulang,
membangun
rumah yang
lebih
banyak ventilasi
dan
pencahayaan, pengunaan
kendaraan
bermotor yang
lebih
efektif,'' jelas
Suwisma.
Bagi
Suwisma,
pilihan
satu-satunya untuk
menjaga
keutuhan Bali, baik
alamnya,
masyarakatnya
maupun
nilai-nilai budayanya,
ialah
dengan selalu
berada
di tengah-tengah
mereka. ''Karena
berada
di antara
mereka
kita akan
mengetahui
apa yang
menjadi
persoalan mereka,
dan
kita juga
bisa
belajar banyak
dari
mereka,'' katanya.
(r/*)