kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Kamis Wage, 13 Desember 2007

 Bali


Sang Nyoman Suwisma--

Tanam
Bibit Terumbu Karang

KETEGUHAN tekad Sang Nyoman Suwisma di bidang lingkungan kian dikenal masyarakat luas. Melalui Yayasan Citra Dewata Sentosa yang dipimpinnya, ia bersama timnya secara berkelanjutan melakukan gerakan penghijauan di seluruh Bali yang ia canangkan sebagai Gerakan Penanaman Sejuta Pohon. ''Mengatasi permasalahan lingkungan, penanaman pohon merupakan langkah paling real yang perlu dilakukan,'' ungkap bakal calon gubernur Bali asal Tamanbali, Bangli ini.  

Selain melakukan penanaman pohon kemiri, menyumbang bibit padi Longping dan pupuk Nasa di suluruh Bali, Suwisma juga merambah lingkungan laut dan nekat nyemplung ke dasar laut untuk melakukan penanaman bibit terumbu karang di Sanur, Rabu (28/11) lalu. Selain itu juga menanam bibit mangrove di Serangan, Minggu (9/12). ''Yang menggembirakan dari semua ini adalah tanggapan masyarakat di tempat kami melakukan gerakan penghijauan,'' tutur Suwisma dengan wajah berseri-seri. ''Mereka turut terlibat secara aktif dan tulus.''

Terhadap konsistensi Suwisma pada permasalahan lingkungan, Panitia Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCC) yang tengah berlangsung di Nusa Dua mengundangnya sebagai pembicara dalam konferensi tersebut, Jumat (7/12) lalu. Dalam kertas kerjanya, Suwisma memaparkan tentang program penghijauan yang ia lakukan selama ini di seluruh Bali. Ia juga memaparkan permasalahan yang terjadi dan upaya-upaya untuk mengatasinya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Begitu kompleksnya permasalahan pelestarian lingkungan yang diangkat, ia akhirnya menyadari betapa permasalahan lingkungan adalah permasalahan global yang penanganannya tidak bisa berdiri sendiri. Semua aspek kehidupan memiliki keterkaitan dengan lingkungan. ''Apa yang kami lakukan ternyata belum seberapa,'' kata Suwisma di hadapan beberapa peserta konferensi. Karena itu, ia bersama timnya bertekad akan lebih meningkatkan kinerjanya untuk  berikhtiar mengatasi persoalan-persoalan lingkungan di Bali.

Dalam berbagai kunjungannya ke sejumlah daerah di Bali, Suwisma berupaya lebih banyak melibatkan masyarakat untuk secara tulus membantunya dalam menyelamatkan lingkungan Bali sambil tak henti-henti menyerukan agar apa pun yang dibuat masyarakat Bali selalu berpijak kepada prinsip ramah lingkungan. ''Secara tradisional kita telah memiliki kearifan lokal untuk lingkungan,'' ungkap Suwisma.

Ia mencontohkan Desa Tenganan, di mana dalam pengelolaan hutan, mereka telah memiliki awig-awig kehutanan dan beberapa peraturan lainnya. ''Dalam kenyataan sehari-hari, kearifan lokal bisa dijadikan pijakan untuk melakukan sesuatu, misalnya mengubah sampah menjadi pupuk atau didaur ulang, membangun rumah yang lebih banyak ventilasi dan pencahayaan, pengunaan kendaraan bermotor yang lebih efektif,'' jelas Suwisma.

Bagi Suwisma, pilihan satu-satunya untuk menjaga keutuhan Bali, baik alamnya, masyarakatnya maupun nilai-nilai budayanya, ialah dengan selalu berada di tengah-tengah mereka. ''Karena berada di antara mereka kita akan  mengetahui apa yang menjadi persoalan mereka, dan kita juga bisa belajar banyak dari mereka,'' katanya. (r/*)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)