Prof. Winasa
Ciptakan Mapping KK
Miskin
Elektronik
KIPRAH
Posdayandu
di
tengah-tengah masyarakat
Jembrana yang
terbukti
sukses
untuk mengentaskan
kemiskinan,
rupa-rupanya
memancing
ide
baru dari
seorang Prof.
Winasa. Kali
ini
kandidat cagub Bali
2008 ini
berupaya
memaksimalkan
Posdayandu
dengan
memberi peran
mengadakan mapping
keluarga
miskin,
penduduk buta
huruf,
rawan gizi,
ibu
hamil, pengangguran
dan
tingkat pendidikan
penduduk.
"Dengan
demikian program
kegiatan
bisa
terstruktur, jelas
dan
terarah," kata Prof.
Winasa.
Hal tersebut
dikatakannya
ketika
menerima Tim Penggerak
PKK, Dinas
Kesehatan,
Dinas
Pendidikan dan Tim
Pembina Gardu
Sehati Kota
Kediri
serta Peserta
Observasi
Lapangan
Diklatpim
Pemkot
Tanjung Pinang
dan
Pemkot Banjarbaru
di
Jembrana, Selasa
(11/12).
Winasa
menambahkan,
ide ini
terbersit
ketika
saya mempelajari
pola mapping yang
dilakukan
oleh BKKBN
dulu.
Dulu,
Penyuluh
Lapangan KB
tahu di
mana
ada orang
hamil
dan masuk
bulan
keberapa. "Saya
modifikasi
pola
tersebut dengan
menambahkan
beberapa item yang
perlu
untuk menunjang
program," jelas
Winasa.
Mapping dilakukan
untuk
menyusun database sehingga
program kegiatan
bisa
terarah.
"Karena
Jembrana
tidak
punya uang
banyak,
maka sasaran
tembaknya
harus
tepat dan
jelas,
satu peluru
harus
mampu menembak
satu
orang," kata
Winasa
mengistilahkan pengelolaan
anggaran
harus
dimanfaatkan dengan
benar
dan tepat.
"Ini
prinsip
orang miskin yang
selalu
berpikir bagaimana
memanfaatkan
uang.
Beda
dengan
orang kaya yang
berpikir
bagaimana
caranya
menghabiskan uang,"
kata
Winasa.
Lebih
lanjut
Winasa menjelaskan,
pada mapping
tersebut
akan
diberikan
indikator
warna yang
menunjukkan
tingkat
permasalahan tersebut.
"Kalau
warna
merah merupakan
indikator
persoalan
tersebut
harus
segera diselesaikan,
kuning
dan terakhir
hijau,"
kata Winasa.
Mapping ini
dibuat
elektronik yang mampu
menunjukkan
identitas
seseorang
secara detail.
"Ini
murni
dikerjakan oleh
penduduk
Jembrana.
Ini
yang membanggakan
saya
selaku penduduk
Jembrana,"
ujar
Winasa.
Sebentar
lagi mapping
ini
akan
diintegrasikan
ke
dalam Simda (Sistem
Informasi
Manajemen
Daerah)
sehingga bisa
diakses
sampai ke
Bupati
selaku pemegang
kebijakan.
"Dengan
demikian
saya
selaku pemegang
kebijakan
tahu
berapa warna
merah,
kuning dan
hijau.
Nah, kalau
ini
sudah diketahui,
sangat
mudah bagi
saya
untuk mengambil
kebijakan
guna
mengentaskan persoalan
di
masyarakat.
Dengan
demikian target
MDGs
Jembrana tahun 2010,
saya
yakin bisa
dicapai,"
pungkas
Winasa. (r/*)