kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Umanis, 10 Nopember 2007

 Pariwisata

Catatan Pariwisata Sepekan
Membaca ''Trend'' Kepariwisataan Dunia 

SEBAGAI salah satu penyumbang devisa terbesar, posisi pariwisata di Indonesia makin strategis. Sekadar ilustrasi, pada tahun 2001 ketika tak kurang dari 5,1 juta turis berkunjung ke Indonesia mampu memberi kontribusi 5,3 milyar dolar AS. Stimulus perekonomian nasional yang diciptakan pariwisata tahun 2000 mencapai Rp 150 trilyun, yakni diperoleh dari wisman Rp 55 trilyun, wisatawan domestik Rp 77 trilyun.

---------------- 

Sementara itu investasi sektor pariwisata oleh pemerintah dan swasta Rp 16,5 trilyun dan pengeluaran anggaran pemerintah pusat dan daerah mencapai Rp 1,1 trilyun. Pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Perkembangan pariwisata di Tanah Air tak lepas dari pesatnya kepariwisataan global. Terutama, dilihat dari jumlah wisatawan internasional maupun dari penyerapan tenaga kerja.

Pada tahun 1950 jumlah wisatawan mancanegara di seluruh dunia baru sekitar sekitar 25 juta orang, namun pada tahun 2000 angka ini meningkat mencapai 698,8 juta orang. Jumlah penerimaan pariwisata di seluruh dunia tahun 1950 diperkirakan hanya 2,1 milyar dolar AS, sedangkan pada tahun 2000 mencapai angka 475,8 milyar dolar AS. Bisa dipastikan, saat ini jauh lebih meningkat kendati belum diketahui angka pastinya.

Pada tahun 2001, industri pariwisata menciptakan GDP sebesar 3,3 trilyun dolar AS. Angka ini, menurut perhitungan UNEP, mewakili hampir 11% dari total GDP dunia. Dari segi penyerapan tenaga kerja, Badan Pariwisata Dunia (World Tourism Organization/WTO) melukiskan bahwa satu dari delapan pekerja di dunia ini kehidupannya tergantung langsung ataupun tidak langsung dari pariwisata.

Pada tahun 2001, pariwisata telah menciptakan kesempatan kerja bagi 207 juta orang atau lebih dari 8% kesempatan kerja di seluruh dunia. Dengan melihat trend ini, dapat dikatakan bahwa kalau mesin penggerak dalam penciptaan tenaga kerja pada abad ke-19 adalah pertanian dan pada abad ke-20 mesin penggeraknya adalah industri manufaktur, maka pada abad ke-21 ini mesin penggerak tersebut adalah pariwisata.

Bagi Indonesia, peranan pariwisata makin terasa, terutama setelah melemahnya peranan minyak dan gas. Kunjungan wisatawan mancanegara menunjukkan trend naik dalam beberapa dasawarsa. Tahun 1969, Indonesia hanya dikunjungi oleh 86.067 wisman, kemudian meningkat menjadi 5.064.217 tahun 2000 dan sedikit berfluktuasi pascabom Bali I dan II. Kedatangan wisman tersebut telah memberikan penerimaan devisa yang sangat besar kepada Indonesia. Devisa yang diterima pada tahun 2000 mencapai 5,748 milyar dolar AS.

Berbagai lembaga internasional meramalkan bahwa pada tahun-tahun mendatang, peranan pariwisata dalam perekonomian dunia akan makin meningkat. Lebih-lebih bagi kawasan Asia-Pasifik, yang akan mengalami pertumbuhan pesat, melebihi pertumbuhan kawasan Amerika dan Eropa yang selama ini mendominasi pariwisata dunia. Pemerintah pusat, khususnya Depbudpar sebagai "Mabes Pariwisata" seyogianya mampu membaca trend ini. Tidak hanya untuk diketahui, tetapi melahirkan berbagai kebijakan pariwisata yang bersifat antisipatif dan inspiratif. * gregorius

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)