|
Catatan Pariwisata
Sepekan
Membaca ''Trend'' Kepariwisataan Dunia
SEBAGAI
salah satu penyumbang devisa terbesar, posisi pariwisata
di Indonesia makin strategis. Sekadar ilustrasi, pada
tahun 2001 ketika tak kurang dari 5,1 juta turis
berkunjung ke Indonesia mampu memberi kontribusi 5,3
milyar dolar AS. Stimulus perekonomian nasional yang
diciptakan pariwisata tahun 2000 mencapai Rp 150 trilyun,
yakni diperoleh dari wisman Rp 55 trilyun, wisatawan
domestik Rp 77 trilyun.
----------------
Sementara itu investasi sektor pariwisata oleh pemerintah
dan swasta Rp 16,5 trilyun dan pengeluaran anggaran
pemerintah pusat dan daerah mencapai Rp 1,1 trilyun.
Pertumbuhan ini tidak berdiri sendiri. Perkembangan
pariwisata di Tanah Air tak lepas dari pesatnya
kepariwisataan global. Terutama, dilihat dari jumlah
wisatawan internasional maupun dari penyerapan tenaga
kerja.
Pada tahun 1950 jumlah wisatawan mancanegara di seluruh
dunia baru sekitar sekitar 25 juta orang, namun pada tahun
2000 angka ini meningkat mencapai 698,8 juta orang. Jumlah
penerimaan pariwisata di seluruh dunia tahun 1950
diperkirakan hanya 2,1 milyar dolar AS, sedangkan pada
tahun 2000 mencapai angka 475,8 milyar dolar AS. Bisa
dipastikan, saat ini jauh lebih meningkat kendati belum
diketahui angka pastinya.
Pada tahun 2001, industri pariwisata menciptakan GDP
sebesar 3,3 trilyun dolar AS. Angka ini, menurut
perhitungan UNEP, mewakili hampir 11% dari total GDP
dunia. Dari segi penyerapan tenaga kerja, Badan Pariwisata
Dunia (World Tourism Organization/WTO) melukiskan bahwa
satu dari delapan pekerja di dunia ini kehidupannya
tergantung langsung ataupun tidak langsung dari
pariwisata.
Pada tahun 2001, pariwisata telah menciptakan kesempatan
kerja bagi 207 juta orang atau lebih dari 8% kesempatan
kerja di seluruh dunia. Dengan melihat trend ini, dapat
dikatakan bahwa kalau mesin penggerak dalam penciptaan
tenaga kerja pada abad ke-19 adalah pertanian dan pada
abad ke-20 mesin penggeraknya adalah industri manufaktur,
maka pada abad ke-21 ini mesin penggerak tersebut adalah
pariwisata.
Bagi Indonesia, peranan pariwisata makin terasa, terutama
setelah melemahnya peranan minyak dan gas. Kunjungan
wisatawan mancanegara menunjukkan trend naik dalam
beberapa dasawarsa. Tahun 1969, Indonesia hanya dikunjungi
oleh 86.067 wisman, kemudian meningkat menjadi 5.064.217
tahun 2000 dan sedikit berfluktuasi pascabom Bali I dan
II. Kedatangan wisman tersebut telah memberikan penerimaan
devisa yang sangat besar kepada Indonesia. Devisa yang
diterima pada tahun 2000 mencapai 5,748 milyar dolar AS.
Berbagai lembaga internasional meramalkan bahwa pada
tahun-tahun mendatang, peranan pariwisata dalam
perekonomian dunia akan makin meningkat. Lebih-lebih bagi
kawasan Asia-Pasifik, yang akan mengalami pertumbuhan
pesat, melebihi pertumbuhan kawasan Amerika dan Eropa yang
selama ini mendominasi pariwisata dunia. Pemerintah pusat,
khususnya Depbudpar sebagai "Mabes Pariwisata" seyogianya
mampu membaca trend ini. Tidak hanya untuk diketahui,
tetapi melahirkan berbagai kebijakan pariwisata yang
bersifat antisipatif dan inspiratif.
* gregorius
|