Perayaan Saraswati
Momentum ''Nyelisik Bulu'', Menabur Pencerahan Jiwa
Saniscara
Umanis Wuku Watugunung atau Sabtu (10/11) hari ini,
segenap umat Hindu di seantero Bali kembali larut dalam
kekhusyukan persembahyangan Saraswati. Sebuah momen
penting dalam gerak kehidupan manusia Hindu yang
diyakini sebagai hari turunnya segala jenis ilmu
pengetahuan yang akan mencerahkan dunia. Yang terpenting
dilakukan oleh umat, pada perayaan Saraswati itu mereka
juga diwajibkan melakukan moratorium. Diam sejenak untuk
nyelisik bulu (instropeksi-red) apakah ilmu pengetahuan
yang dimilikinya sudah diamalkan untuk kebaikan dan
kemuliaan umat atau sebaliknya. Aktivitas moratorium
juga wajib dilakukan oleh para pejabat pembuat kebijakan,
apakah kebijakan yang telah mereka ambil sudah berpihak
kepada kepentingan rakyat banyak. Dengan kata lain,
momen perayaan Saraswati tidak cukup dimaknai dengan
melaksanakan persembahyangan maupun pantangan membaca
dan menulis yang sudah dilakoni umat Hindu dari generasi
ke generasi.
===========================
Dihubungi Jumat (9/11) kemarin, Ketua Sabha Walaka PHDI
Pusat Drs. I Ketut Wiana, M.Ag. dan Dekan Fakultas Ilmu
Agama Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Drs. I Wayan
Suka Yasa, M.Si. membenarkan bahwa perayaan Saraswati
dimanfaatkan oleh umat Hindu untuk nyeliksik bulu,
instrospeksi, dan bersiap diri untuk menata kehidupan
yang lebih baik. Merenungi dan mengevaluasi kembali
apakah ilmu pengetahuan itu sudah benar-benar diamalkan
sesuai fungsinya. ''Kenapa kita diminta diam sejenak dan
pantang membaca serta menulis saat hari raya Saraswati,
tujuannya jelas agar kita punya ruang yang lapang untuk
mengevaluasi diri,'' kata Wiana dan dibenarkan oleh Suka
Yasa.
Pada hari raya Saraswati, kata Wiana dan Suka Yasa, umat
Hindu memuja Dewi Saraswati yang diyakini sebagai
manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai
Dewi Ilmu Pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali,
Dewi Saraswati disebut sebagai ''Hyang Hyangning
Pangewruh''. Hari raya untuk memuja Saraswati
dilaksanakan setiap 210 hari yaitu pada hari Saniscara
Umanis Watugunung. Kesokkan harinya atau Redite Paing
Wuku Sinta dilaksanakan Banyu Pinaruh yang merupakan
kelanjutan dari perayaan Saraswati. Ini berarti,
perayaan Saraswati mengambil dua wuku yakni Wuku
Watugunung (wuku yang terakhir) dan Wuku Sinta (wuku
yang pertama) atau disebut juga sebagai wuku nemugelang
(pergantian dari wuku puncak menuju wuku baru-red).
''Wuku nemugelang ini diyakini sebagai momen yang sangat
sakral dan mencuatkan aura spiritual yang sangat kuat.
Momen yang sangat ideal untuk melakukan yoga samadhi
maupun introspeksi diri. Makanya, puncak perayaan
Saraswati biasanya dimanfaatkan oleh umat Hindu
untuk melakukan samadhi,'' kata Suka Yasa.
Pada Saniscara Wuku Watugunung itu, kata Wiana dan Suka
Yasa, semua pustaka terutama Weda dan sastra-sastra
agama dikumpulkan sebagai lambang stana pemujaan Dewi
Saraswati. Di tempat pustaka yang telah ditata rapi itu
diaturkan upacara Saraswati. Upacara Saraswati yang
paling inti adalah banten (sesajen) Saraswati, daksina,
beras wangi dan dilengkapi dengan air kumkuman (air yang
diisi kembang dan wangi-wangian). Banten yang lebih
besar lagi dapat pula ditambah dengan banten sesayut
Saraswati dan banten tumpeng dan sodaan putih-kuning. ''Upacara
ini dilangsungkan pagi hari dan tidak boleh lewat tengah
hari,'' kata Wiana mengingatkan.
Menurut keterangan lontar Sundarigama tentang Brata
Saraswati, kata Wiana dan Suka Yasa, pemujaan Dewi
Saraswati harus dilakukan pada pagi hari atau tengah
hari. Dari pagi sampai tengah hari, umat tidak
diperkenankan membaca dan menulis terutama yang
menyangkut ajaran Weda dan sastranya. Namun, ada juga
umat yang melaksanakan Brata Saraswati dengan penuh
alias ''puasa'' membaca dan menulis itu dilakukan selama
24 jam penuh. Sedangkan bagi yang melaksanakan dengan
biasa, lewat tengah hari mereka sudah dapat membaca dan
menulis. Bahkan, di malam hari mereka dianjurkan
melakukan malam sastra dan sambang samadhi.
''Pada intinya, ada tiga tingkatan pelaksanaan upacara
Saraswati. Tingkatan kanista di mana umat hanya
melaksanakan persembahyangan Saraswati tanpa disertai
pantangan membaca dan menulis. Tingkat madya di mana
umat melakukan persembahyangan Saraswati dan pantang
membaca dan menulis hingga tengah hari. Sedangkan
tingkat utama, umat melakukan Brata Saraswati selama 24
jam penuh dan selama rentang waktu itu sama sekali tidak
melakoni aktivitas membaca dan menulis,'' papar Wiana
panjang lebar.
Tiga Tingkatan
Wiana
dan Suka Yasa menambahkan, mayoritas umat Hindu di Bali
umumnya merayakan Saraswati tingkat madya. Ini berarti,
mereka hanya pantang membaca dan menulis selama setengah
hari di mana malam harinya mereka melakukan malam sastra
dan sambang samadhi. Pada malam sastra itu, umumnya
diselipi dengan kegiatan dharma wacana yang bertujuan
memberikan pencerahan jiwa kepada umat. Keesokan harinya
atau bertepatan dengan hari pertama Wuku Sinta, mereka
melangsungkan upacara Banyu Pinaruh.
Bentuk prosesi upacara berupa mengaturkan laban nasi
pradnyan air kumkuman dan loloh sad rasa (jamu
mengandung enam rasa-red). Pada puncak upacara, semua
sarana upacara itu diminum dan dimakan. Rangkaian
upacara lalu ditutup dengan matirta. Upacara ini penuh
makna yakni sebagai lambang meminum air suci ilmu
pengetahuan. ''Upacara Banyu Pinaruh ini juga
dirangkaikan dengan mandi di laut yang bertujuan untuk
membersihkan diri, pikiran dan jiwa dari segala jenis
mala (kekotoran-red),'' kata Suka Yasa dan Wiana kompak.
Upacara dan upakara dalam agama Hindu, kata Wiana, pada
hakikatnya mengandung makna filosofis sebagai penjabaran
dari ajaran agama Hindu. Secara etimologi, Saraswati
berarti sesuatu yang mengalir atau makna dari ucapan.
Ilmu pengetahuan itu sifatnya mengalir terus-menerus
tiada henti-hentinya ibarat sumur yang airnya tiada
pernah habis meskipun tiap hari ditimba untuk memberikan
hidup pada umat manusia.
Saraswati juga berarti makna ucapan atau kata yang
bermakna. Kata atau ucapan akan memberikan makna apabila
didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan
itulah yang akan menjadi dasar orang untuk menjadi
manusia yang bijaksana. ''Kebijaksanaan merupakan dasar
untuk mendapatkan kebahagiaan atau ananda. Kehidupan
yang bahagia itulah yang akan mengantarkan atma kembali
luluh dengan Brahman,'' katanya seraya memaparkan makna
perayaan Saraswati secara panjang lebar.
* w. sumatika