Bondres
Memuja Dewi Cantik
Hari ini, umat Hindu merayakan Hari Saraswati. Mari kita
ucapkan doa pendek: Om Saraswati dipataya namah swaha.
Oh, Dewi Saraswati, hamba memuja-Mu.
Memuja
dewi yang cantik di pagi ini, umat Hindu hakikatnya
memuja dewi yang menurunkan ilmu pengetahuan. Semua
pustaka yang kita miliki -- dari buku pelajaran di
sekolah, buku agama, sampai pada lontar -- diberi
sesajen. Dan sesajen itu sendiri khusus karena ada yang
disebut sesayut saraswati.
Dulu, para orangtua menganjurkan di Hari Saraswati tidak
boleh membaca, dari pagi sampai malam. Bahkan saya ingat,
di sekolah semua pelajaran yang tertempel di dinding
kelas harus dibalik supaya tak ada yang bisa membacanya,
baik disengaja maupun tidak. Ini tentu saja tergolong
brata yang kebablasan.
Memang betul, pada saat pustaka (apakah itu buku atau
lontar) diberi sesajen dan kita memuja Dewi Saraswati
kita tak bisa membaca dan menulis. Ini dimaksudkan agar
doa kita berlangsung khusyuk. Namun, karena ritual
upacara itu umumnya dilakukan dari pagi sampai siang, di
sore hari kita sudah bisa membaca. Justru dianjurkan
untuk membaca, inilah hari yang baik untuk menimba ilmu
pengetahuan dengan membuka-buka pustaka suci. Kita
mencari ilmu pengetahuan tatkala Dewi Saraswati turun
memberkati apa yang kita pelajari. Inilah hari yang
penuh berkah bagi pemburu ilmu pengetahuan.
Di banyak tempat, pada hari ini terutama di malam hari,
dilangsungkan malam sastra. Di Jakarta, malam sastra itu
dipusatkan di Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur
sampai pagi. Kebetulan pula, piodalan di pura ini
mengambil hari raya Saraswati.
Di Pura Jagatnatha Denpasar, juga biasanya ada malam
sastra pada malam ini. Selain dibaca sastra-sastra suci,
ada pula diskusi tentang berbagai aspek ilmu pengetahuan.
Di pedesaan malam sastra itu didominasi oleh pesantian.
Perayaan Hari Saraswati belakangan ini memang semarak di
mana-mana. Sejak pagi hari anak-anak sekolah sudah
berpakaian seperti umumnya melakukan persembahyangan. Di
pasar, banten Saraswati sudah ramai dijual. Masalahnya
adalah, bagaimana kita menyikapi perayaan Hari Saraswati
agar tidak terjebak pada ritual melulu. Inilah tantangan
di Bali, di mana kemeriahan upacara keagamaan lebih
menonjol pada ritual dan bukan pada maknanya.
Masyarakat yang tinggal di kota sudah merasa puas hanya
membeli banten Saraswati di pasar, mungkin pula tak
melakukan cek lagi apa unsur-unsur banten itu sudah
lengkap dan benar. Lalu banten disuguhkan di depan
tumpukan buku-buku keluarga. Kalau cuma ini yang kita
lakukan dan kita tidak mencari makna lebih dalam dari
Hari Saraswati, kalau cuma terpaku pada sesayut
saraswati, daksina, ajuman dan sebagainya, kita selalu
''berjalan di tempat'' tak akan bisa maju. Kita harus
meresapi, apa semangat dari turunnya sang dewi yang
cantik jelita ini.
Dewi Saraswati turun memegang kitab suci (cakepan,
lontar dan sebagainya tergantung sang pelukis) jelas
karena Beliau membawa misi menyebarkan ilmu pengetahuan.
Namun, tangan Sang Dewi juga membawa genitri, sebagai
lambang bahwa ilmu pengetahuan itu berkembang tiada
henti dan tidak ada habisnya. Genitri juga alat untuk
melakukan japa, aktivitas spiritual menyebut nama Tuhan
berulang-ulang. Kalau Dewi Saraswati kita puja
berulang-ulang berarti ilmu pengetahun kita perlukan
setiap saat.
Genitri
menyiratkan bahwa ilmu itu harus dicari dan dipelajari
tiada henti. Malam sastra tak hanya pada malam ini saja,
tetapi hendaknya berkesinambungan. Jangan berhenti untuk
belajar dan jangan pernah merasa tua untuk belajar.
Belajar seumur hidup. Inilah semangat yang disimbolkan
dari genitri di tangan dewi cantik itu.
Kalau saja umat Hindu memaknai Hari Saraswati dengan
baik dan tekun melaksanakan apa yang tersurat dari
sastra agama, maka tak ada alasan sumber daya manusia (SDM)
Hindu terpuruk seperti sekarang ini. Kalau konsep
belajar seumur hidup diterapkan di kalangan umat Hindu,
tak ada ceritanya umat Hindu banyak yang buta aksara.
Tragis, berdasarkan data Biro Pusat Statistik, SDM Hindu
paling rendah, padahal umat Hindu punya hari raya
Saraswati. Jelas sekali kita hanya sibuk melaksanakan
ritual saja, tanpa peduli dengan konsep ajaran dan tatwa
agamanya.
Di Hari Saraswati kita hanya ingat membuat sesayut
sasraswati atau bahkan cuma ingat membelinya, tetapi
kita lupa membaca pustaka-pustaka yang kita miliki. Atau
bahkan kita lupa memperbanyak pustaka sehingga ilmu kita
''tak bersambung'' seperti genitri.
Tangan Sang Dewi membawa wina, di Bali disebut rebab.
Ini adalah simbol ilmu pengetahuan itu sesuatu yang
indah dan orang yang berilmu hidupnya akan indah. Dewi
Saraswati turun disertai unggas angsa, binatang cerdik
yang bisa menemukan makanan di dalam lumpur. Makanan
masuk ke perut, sedangkan lumpur tidak. Ilmu pengetahun
juga begitu, harus disaring. Kalau ilmu dipakai untuk
merusak, membuat bom dan diledakkan untuk membunuh orang,
untuk korupsi dan menipu rakyat, maka ilmu itu tidak ada
gunanya. Ilmu disaring untuk kebaikan umat. Kalau orang
bisa melakukan hal ini, maka sempurnalah mereka sebagai
pemuja Saraswati, orang itu menjadi berwibawa
sebagaimana Dewi Saraswati turun membawa bulu merak,
lambang kewibawaan.
Jadilah pemuja Sang Dewi yang punya harkat, berilmu dan
berwibawa. Om Saraswati namas tubhyam warade kana rupini.
Ya Tuhan dalam wujud-Mu sebagai Dewi Saraswati pemberi
berkah, hamba memuja-Mu. * Putu
Setia