kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Pon, 23 September 2006

 Desa Pakraman


Anggabaya
Tangkal Alih Fungsi Lahan Pertanian dengan "Pararem"

DESA Pakraman Anggabaya merupakan tipikal sebuah desa pakraman di Kota Denpasar yang masih teguh menjaga dan melestarikan budaya agraris warisan nenek moyangnya. Gerak aktivitas keseharian krama Desa Pakraman Anggabaya memang disarati dengan kegiatan bercocok tanam. Ratusan hektar lahan persawahan subur menghampar luas dengan sistem pengairan subak yang terorganisasi dengan baik. Makanya, tidak berlebihan jika predikat lumbung beras Kota Denpasar disandangkan kepada desa pakraman yang secara administratif berada di wilayah Kelurahan Penatih, Denpasar Timur ini. Menelusuri lekuk-liku wawengkon Desa Pakraman Anggabaya, kita merasa seolah-olah tidak sedang berada di Kota Denpasar yang sesak dengan bangunan-bangunan beton. 

Saat ini, luas lahan persawahan di wawengkon Desa Pakraman Anggabaya tercatat 66,44 hektar. Selama bertahun-tahun, puluhan hektar lahan pertanian yang tersebar di tiga wilayah subak itu - Subak Anggabaya (29,59 hektar), Subak Umalayu (26,85 hektar) dan Subak Umadesa (10 hektar) - masih bisa menghindar dari aktivitas alih fungsi lahan. Ketiga subak itu belum "terjamah" program land consolidation (LC) yang rakus mencaplok lahan pertanian untuk kepentingan pembangunan kompleks pemukiman, perkonomian, perkantoran dan sebagainya. Keberhasilan komunitas petani Anggabaya mempertahankan eksistensi budaya agraris di wilayahnya, tidak terlepas dari keberadaan pararem (peraturan-red) yang membatasi aktivitas penjualan tanah pertanian untuk kepentingan di luar pertanian. "Kami memang sudah memiliki pararem untuk memproteksi lahan pertanian di Anggabaya. Sedapat mungkin, krama di sini ingin mempertahankan lahan persawahan yang masih tersisa," kata I Wayan Subrata, Pekaseh yang membawahi Subak Anggabaya, Subak Umalayu dan Subak Umadesa saat ditemui Bali Post, Jumat (22/9) kemarin.

Menurut Subrata, krama memang masih memegang teguh pararem yang membatasi aktivitas pelepasan lahan pertanian pada ketiga subak itu. Pemilik lahan memang tidak dilarang menjual sawahnya kepada pihak lain. Namun, pemanfaatnya tetap harus difungsikan sebagai lahan pertanian alias tidak boleh sampai terjadi alih fungsi lahan. Misalnya, untuk kepentingan pembangunan perumahan dan sejenisnya.

Persyaratan lain yang wajib ditaati, pihak yang membeli tanah pertanian wajib ikut ngempon pura subak dan otomatis tunduk pada ketentuan organisasi subak. "Itu salah satu upaya kami untuk menjaga dan melestarikan lahan pertanian yang ada di wilayah kami. Jika peraturan itu dilonggarkan, kami khawatir lahan pertanian itu akan beralih fungsi dengan cepat. Kalau itu sampai terjadi, itu artinya Subak Anggabaya, Subak Umalayu dan Umadesa akan tinggal nama," katanya lagi.

 

Kerajinan Patung Petani

 

Ditemui di tempat terpisah, Bendesa Pakraman Anggabaya I Wayan Oka mengatakan bahwa pertanian merupakan sektor andalan dalam mensejahterakan krama di wilayahnya. Saat ini, jumlah KK di Desa Pakraman Anggabaya tercatat 157 KK meliputi sekitar 800 jiwa. Sekitar 75% dari angkatan kerja menggantungkan sumber penghidupnya dari sektor pertanian, 20% berprofesi sebagai perajin dan sisanya berprofesi sebagai PNS, pedagang dan profesi lainnya. "Mayoritas krama Anggabaya memang berstatus sebagai petani. Tidak ada istilah pengangguran di sini. Ketika gagal mendapatkan pekerjaan di kota, misalnya, pemuda di sini umumnya tidak gengsi menekuni pekerjaan tani. Banyak angkatan kerja muda yang memilih jadi petani," paparnya.

Selain pertanian, kata dia, industri kerajinan juga berkembang cukup baik di Anggabaya. Umumnya, krama yang tidak punya keterampilan bertani memilih jadi perajin patung kayu, tedung dan perak. Produk kerajinan dari Anggabaya yang khas dan diakui kualitasnya adalah kerajinan patung petani dan patung orang tua yang sedang asyik ngecel kurungan (ayam jago-red) lengkap dengan sangkarnya. "Patung kayu produk Anggabaya cukup khas. Setiap generasi, pasti ada saja krama yang menekuni seni patung. Itu sudah berlangsung dari generasi ke generasi," katanya dan menambahkan, guna mendukung pemasaran produk pertanian dan kerajinan serta permodalan, pihaknya sudah memiliki Pasar Adat dan Lembaga Perkreditan Desa (LPD).

* w. sumatika

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)