Menggali Pesan Strategis dalam Konflik
KONFLIK,
kalau tidak di-manage dengan baik dapat menampilkan
wajah yang mengerikan. Konflik dapat membawa manusia
hidup dendam turun-temurun. Konflik dapat menimbulkan
perang yang menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan dan
kebudayaan. Tetapi ada juga konflik yang membersihkan
debu-debu hitam angkara murka yang menimbun mutiara
Dharma. Karena itu konflik dapat menegakkan nilai-nilai
kebenaran yang sempat terkubur oleh berbagai langkah
yang menyimpang dari kebenaran. Tentunya konflik itu
sudah merupakan kelanjutan dari proses merintis dan
mencoba. Karena dua proses itu tidak berhasil
menyadarkan pihak-pihak yang mengubur Dharma memang
konflik sangat sulit dihindari. Jadi konflik itu
sesungguhnya keadaan yang terpaksa. Karena Dharma atau
kebenaran lebih tinggi nilainya dari pada rukun dan
damai.
Karena alasan untuk menegakkan Dharma kadang-kadang
sikap-sikap yang keras bahkan kadang-kadang kasarpun
akan tampil diluar kontrol. Itu pun karena keadaan yang
terpaksa. Tidak ada manusia normal yang merasa enak
kalau bersikap keras dan kadang-kadang terpaksa kasar.
Hal itu dilakukan karena terpaksa, karena jalan yang
halus lembut, sabar dan etis estetis tidak banyak
menampakan hasil berupa perobahan menuju jalan yang
benar. Sesungguhnya yang ideal, kita tidak boleh
kehabisan kesabaran dalam mengatasi konflik. Upaya yang
dilakukan dengan penuh kesabaran memang lebih lambat
mencapai hasil. Namun, dampaknya jauh lebih ringan
daripada ditempuh dengan cara-cara konflik apa lagi yang
menjurus pada adu fisik yang menimbulkan dendam kesumat.
Kalau konflik telanjur terjadi yang harus dilakukan
mengambil hikmah dari konflik itu. Galilah pesan-pesan
strategis dari konflik tersebut. Pesan-pesan strategis
itu akan kita dapatkan dari kedua belah pihak. Hendaknya
diupayakan mencari hal yang paling substansial yang
menjadi sumber konflik itu. Dari kedua belah pihak pasti
ada pesan-pesan strategis yang dapat kita ketemukan
dalam proses konflik itu. Semua pesan itu akan menjadi
guru yang sangat berharga untuk menata hidup ke depan.
Ada pesan strategis yang patut dilakukan untuk hari-hari
berikutnya dalam rangka menegakkan kebenaran. Ada pesan
strategis yang patut diperhatikan untuk tidak dilakukan
di masa yang akan datang agar jangan memicu konflik dan
semakin menjauhi kebenaran. Karena itu konflik yang
sudah telanjur menjadi kenyataan tidak perlulah
dihujat-hujat. Kalau kita hujat akan memperbanyak orang
yang terlibat dalam konflik itu. Karena yang dihujat pun
pasti punya argumentasi-argumentasi yang mendasar
mengapa sampai terlibat dalam konflik. Karena itu
sebaiknya kita tidak ikut memperkeruh konflik tersebut.
Dengan demikian berbagai kesalahan yang memicu konflik
dapat dihindari di masa-masa yang akan datang.
Setiap orang sebaiknya tidak mudah putus asa dalam
menghadapi berbagai hal yang masih potensial menjadi
sumber konflik. Sabar dan berhati-hati dalam hal ini
tidak berarti lamban, apalagi sampai tidak berbuat
apa-apa. Kita harus cepat tetapi tidak tergesa-gesa.
Hati-hati tetapi tidak jelimet dan bertele-tele.
Lebih-lebih menyangkut masalah agama dan harga diri
seseorang atau kelompok. Banyak ilmu yang harus
disinergikan di sini. Dengan melangkah rasional seperti
itu dan tidak pernah lupa berdoa pada Tuhan kita yakin
Tuhan akan menunjukkan jalan terbaik kepada umat-Nya
yang berusaha dan berdoa.