Menyoroti Siaran Pendidikan
SEMINGGU
sudah, pemerintah menayangkan kembali siaran pendidikan
lewat layar kaca. Terlalu singkat waktunya, jika
sekarang dipertanyakan seberapa jauh efektivitas siaran
tersebut sebagai salah satu upaya untuk menunjang
peningkatan kualitas proses pendidikan jangka panjang.
Namun, sebelum jauh melangkah, tidak tertutup kesempatan
kita memberi masukan dengan harapan program tersebut
tersentuh dan terserap sasaran lebih optimal. Hal ini
juga untuk mencegah siaran yang konon menyedot anggaran
Rp 213,69 milyar itu menjadi mubazir.
Sasaran siaran pendidikan lewat televisi pemerintah yang
dimulai sejak Senin (17/7) itu adalah pelajar kelas III
28.376 SMP negeri dan swasta, di 353 kabupaten/kota.
Tampaknya jam siarannya sudah diperhitungkan dengan
keberadaan sasaran, yang sebagian masuk pagi dan
sebagian lagi masuk siang. Siaran pagi hari ditayangkan
pukul 08.15 - 10.30 wita, kemudian ditayangkan ulang
sore harinya. Namun, sudah seberapa banyak pelajar SMP
yang duduk manis di depan televisi menjadikan siaran itu
bagian dari proses belajarnya?
Hal itu tergantung banyak faktor, antara lain terkait
kegiatan sosialisasi mengawali pelaksanaan program
tersebut. Sempurnakan kegiatan sosialisasinya, jika
ternyata banyak pelajar SMP tidak menontonnya hanya
karena memang belum tahu adanya siaran itu dan belum
menyadari makna pentingnya.
Selama ini dikesankan, kalangan remaja, termasuk yang
seusia SMP, gandrung menonton tayangan layar kaca. Namun,
jenis mata tayangan apa yang digemari? Cukup besarkah
minat mereka menonton tayangan yang sebenarnya dapat
menjadi ajang memperluas wawasan dan menambah
pengetahuannya?
Sistem pengajaran yang efektif adalah yang dialogis. Ada
dialog antara guru dan murid. Akan lebih efektif jika
nantinya siaran pendidikan itu tidak mengabaikan makna
penting dialog ini dengan membuka kesempatan kontak
interaktif antara pengelola dan penonton. Kuis yang
telah mengisi siaran pendidikan selama seminggu ini
tentu juga dimaksudkan agar terjalin kontak timbal-balik
antara pengelola dan para pelajar SMP yang menontonnya.
Sudah cukupkah hanya dengan kuis pekerjaan rumah? Demi
terwujudnya kontak yang dialogis, masih harus ada
langkah tindak lanjut lain. Tujuannya, agar tumbuh
keterikatan terhadap siaran pendidikan itu di kalangan
pelajar SMP karena mereka merasa memerlukannya, suatu
keterikatan yang minimal bisa membuat mereka bertambah
cerdas.
Di balik kelebihannya, media pandang-dengar memiliki
kekurangan. Tayangan televisi tidak bisa diulang
sebagaimana keinginan penonton, sedangkan sajian media
cetak bisa dibaca ulang kapan pun dan di mana pun. Dalam
upaya menetapkan langkah tindak lanjut itu terjalinnya
kerja sama sinergis antara media televisi dan media
cetak serta sekolah dan forum lainnya, dapat turut
berperan.
Timbul kesan dengan adanya siaran pendidikan ini
pemerintah berupaya untuk tetap melanggengkan eksistensi
ujian negara (UN) yang kontroversial itu. Hal itu
mengingat, digariskan tujuan penyelenggaraan siaran itu
untuk menaikkan nilai kelulusan UN. Jangan sampai tujuan
sesaat ini mengabaikan tujuan strategis jangka panjang.
Yang kita dambakan sekarang ini adalah tumbuhnya minat,
motivasi, dan etos belajar anak-anak kita. Minat,
motivasi dan etos inilah yang menjadi kunci penentu
naik-tidaknya kelulusan UN. Namun, minat, motivasi dan
etos itu bukan diperlukan hanya untuk menghadapi UN,
tetapi juga untuk belajar mata pelajaran non-UN, seperti
budi pekerti, kewarganegaraan, estetika, olah raga, yang
kualitas out-put-nya akhir-akhir ini sangat
memprihatinkan.