kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 25 Juli 2006

 Tajuk


Menyoroti Siaran Pendidikan

SEMINGGU sudah, pemerintah menayangkan kembali siaran pendidikan lewat layar kaca. Terlalu singkat waktunya, jika sekarang dipertanyakan seberapa jauh efektivitas siaran tersebut sebagai salah satu upaya untuk menunjang peningkatan kualitas proses pendidikan jangka panjang. Namun, sebelum jauh melangkah, tidak tertutup kesempatan kita memberi masukan dengan harapan program tersebut tersentuh dan terserap sasaran lebih optimal. Hal ini juga untuk mencegah siaran yang konon menyedot anggaran Rp 213,69 milyar itu menjadi mubazir.     

Sasaran siaran pendidikan lewat televisi pemerintah yang dimulai sejak Senin (17/7) itu adalah pelajar kelas III 28.376 SMP negeri dan swasta, di 353 kabupaten/kota. Tampaknya jam siarannya sudah diperhitungkan dengan keberadaan sasaran, yang sebagian masuk pagi dan sebagian lagi masuk siang. Siaran pagi hari ditayangkan pukul 08.15 - 10.30 wita, kemudian ditayangkan ulang sore harinya. Namun, sudah seberapa banyak pelajar SMP yang duduk manis di depan televisi menjadikan siaran itu bagian dari proses belajarnya? 

Hal itu tergantung banyak faktor, antara lain terkait kegiatan sosialisasi mengawali pelaksanaan program tersebut. Sempurnakan kegiatan sosialisasinya, jika ternyata banyak pelajar SMP tidak menontonnya hanya karena memang belum tahu adanya siaran itu dan belum menyadari makna pentingnya.

     Selama ini dikesankan, kalangan remaja, termasuk yang seusia SMP, gandrung menonton tayangan layar kaca. Namun, jenis mata tayangan apa yang digemari? Cukup besarkah minat mereka menonton tayangan yang sebenarnya dapat menjadi ajang memperluas wawasan dan menambah pengetahuannya?

Sistem pengajaran yang efektif adalah yang dialogis. Ada dialog antara guru dan murid. Akan lebih efektif jika nantinya siaran pendidikan itu tidak mengabaikan makna penting dialog ini dengan membuka kesempatan kontak interaktif antara pengelola dan penonton. Kuis yang telah mengisi siaran pendidikan selama seminggu ini tentu juga dimaksudkan agar terjalin kontak timbal-balik antara pengelola dan para pelajar SMP yang menontonnya. Sudah cukupkah hanya dengan kuis pekerjaan rumah? Demi terwujudnya kontak yang dialogis, masih harus ada langkah tindak lanjut lain. Tujuannya, agar tumbuh keterikatan terhadap siaran pendidikan itu di kalangan pelajar SMP karena mereka merasa memerlukannya, suatu keterikatan yang minimal bisa membuat mereka bertambah cerdas.

Di balik kelebihannya, media pandang-dengar memiliki kekurangan. Tayangan televisi tidak bisa diulang sebagaimana keinginan penonton, sedangkan sajian media cetak bisa dibaca ulang kapan pun dan di mana pun. Dalam upaya menetapkan langkah tindak lanjut itu terjalinnya kerja sama sinergis antara media televisi dan media cetak serta sekolah dan forum lainnya, dapat turut berperan. 

Timbul kesan dengan adanya siaran pendidikan ini pemerintah berupaya untuk tetap melanggengkan eksistensi ujian negara (UN) yang kontroversial itu. Hal itu mengingat, digariskan tujuan penyelenggaraan siaran itu untuk menaikkan nilai kelulusan UN. Jangan sampai tujuan sesaat ini mengabaikan tujuan strategis jangka panjang. Yang kita dambakan sekarang ini adalah tumbuhnya minat, motivasi, dan etos belajar anak-anak kita. Minat, motivasi dan etos inilah yang menjadi kunci penentu naik-tidaknya kelulusan UN. Namun, minat, motivasi dan etos itu bukan diperlukan hanya untuk menghadapi UN, tetapi juga untuk belajar mata pelajaran non-UN, seperti budi pekerti, kewarganegaraan, estetika, olah raga, yang kualitas out-put-nya akhir-akhir ini sangat memprihatinkan.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)