Rupiah
Kembali
Tertekan
Jakarta (Bali Post) -
Pada
awal
pekan, rupiah
kembali
tertekan.
Nilai
tukar rupiah
di
pasar spot antarbank
Jakarta pada
perdagangan,
Senin (24/7)
kemarin,
ditutup
melemah 35 poin
di level 9.175 per
dolar AS
jika
dibandingkan penutupan
Jumat (21/7)
di level 9.140 per
dolar AS.
Ketika
dibukan
pada sesi
pagi,
rupiah langsung
bergerak
melemah
antara 9.165/9.170 per dolar
AS dari
akhir pekan
lalu.
Pelemahan
itu
diperkirakan
akan
terus
terjadi selama
sepekan
ini karena
permintaan
dolar AS
menjelang
akhir
bulan yang relatif
tinggi
untuk memenuhi
kewajiban
impor
dan mendorong
kurs
rupiah bergerak
melemah
ke level 9.100/9.200 per
dolar AS.
Sementara
itu,
Deputi Gubernur BI
Aslim
Tadjudin mengatakan,
nilai
tukar rupiah paling
pas jika
berada
di level 9.000/9.500 per
dolar AS.
Pada
level itu,
rupiah
menguntungkan baik
untuk
eksportir maupun
importir.
Ia
juga
meyakini jika
indikator
makro
dan inflasi
terjaga,
kurs
rupiah bisa
menembus level 9.000 per
dolar AS.
Di
lantai bursa,
Indeks
Harga Saham
Gabungan (IHSG)
di Bursa
Efek Jakarta (BEJ)
pada
perdagangan saham
kemarin,
ditutup
melemah 11,427 poin
(0,869 persen)
ke level 1.303,150,
sementara
Indeks LQ45
turun 2,639
poin (0,907
persen)
ke level 288,284 dan
Jakarta Islamic Index ditutup
melemah 1,011
poin (0,433
persen)
ke level 232,599.
Investor asing
di BEJ
membeli saham
hanya
sebanyak 147,244 juta
unit senilai
Rp 275,169
milyar.
Sedangkan
transaksi
jual 99,269
juta
lembar saham
senilai
Rp 274,524 milyar.
Sehingga,
terjadi
pembelian bersih
Rp 0,645
milyar,
atau turun
signifikan
jika
dibandingkan perdagangan
sebelumnya yang
mencapai
Rp 104,470
milyar.
Sedangkan
total volume perdagangan
hanya
sebesar 565,605 juta
lembar
saham senilai
Rp 926,510
milyar
dengan frekuensi
perdagangan
sebanyak 10.689 kali.
Terdapat 161
jenis
saham yang aktif
diperdagangkan
dengan
rincian hanya 27
saham
naik, 68 saham
tetap (stagnan)
dan 66
saham melemah.
(kmb2)