kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 25 Juli 2006

 Ekonomi


Listrik
Bisa Andal 

SISTEM kelistrikan Jawa-Bali akan aman apabila pemerintah dapat memenuhi usulan penambahan subsidi listrik tahun 2006 ini. Menurut Plt Dirut PT PLN (Persero) Djuanda Nugraha Ibrahim, kuota BBM PLN 9,2 juta kiloliter dipastikan tak akan mampu memenuhi peningkatan konsdumsi listrik, baik industri maupun masyarakat. Berikut penuturannya di Jakarta, Senin (24/7) kemarin. 

Seberara jauh gangguan yang dialami PLN ?

Sebagai informasi, sistem kelistrikan Jawa Bali mengalami gangguan. Khusus dari Jabotabek, di beberapa daerah mengalami pemadaman bergilir. Ini akibat habisnya BBM di PLTU Muara Tawar karena kesulitan transportir. Akibatnya, mengalami defisit hingga 400 megawatt (MW).

 

Berapa konsumsi BBM PLTGU Muara Tawar ?

Konsumsi BBM PLTGU Muara Tawar meningkat 30 persen dari kuota yang ditetapkan. Akibatnya pembangkit tersebut kehabisan BBM sebelum waktunya, sehingga sebagian pelanggan di sistem Jawa-Bali mengalami pemadaman bergilir kemarin. Jadi, habisnya BBM di Muara Tawar bukan karena keterlambatan pasokan dari Pertamina, namun kebutuhannya meningkat, sehingga habis sebelum waktunya.

 

Mengapa peningkatannya begitu pesat ?

Peningkatan konsumsi BBM PLTGU Muara Tawar karena makin banyaknya industri yang beralih ke PLN dan mulai masuknya musim kemarau. Akibatnya, Muara Tawar yang didesain hanya buat masa beban puncak, sekarang terpaksa beroperasi siang hari, sehingga konsumsi BBM juga meningkat.

 

Perbandingan biaya produksi dan harga jual listrik ?

Saat ini, perbedaan biaya produksi pembangkit BBM dengan harga jual listrik sangat besar. Biaya produksi pembangkit BBM mencapai Rp 1.900 per kWh, sedangkan harga jual hanya sekitar Rp 600 per kWh. Solusinya, PLN harus diberikan tambahan subsidi agar perusahaan tetap berjalan dan berkembang.

 

Bentuk subsidi yang diajukan PLN ?

Opsi subsidi yang diusulkan PLN dengan asumsi harga BBM Rp 6.322 per liter maka nilai subsidi Rp 42,896 trilyun dengan margin tujuh persen Rp 39,2 trilyun dengan margin 3,5 persen, dan Rp 35,51 trilyun dengan margin nol persen. Skenario kedua, dengan asumsi harga BBM Rp 5.217 per liter, kebutuhan subsidi dengan marjin tujuh persen Rp 39,3 trilyun, 3,5 persen Rp 35,7 trilyun, dan nol persen Rp 32,2 trilyun. Terakhir, jika harga BBM Rp 4.896 per liter, margin tujuh persen Rp 38.3 trilyun, 3,5 persen Rp 34,7 trilyun, dan nol persen Rp 31,2 trilyun. PLN perlu margin buat mengganti peralatan yang rusak.

 

Besaran subsidi yang telah disepakati ?

Skenario tersebut telah dibahas Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan Komisi VII DPR. Dan, disepakati subsidi dalam APBN -P Rp 32,2 trilyun. Atau mengalami kenaikan ketimbang APBN 2006 yang ditetapkan Rp 27 trilyun. Kesepakatan itu akan dibawa rapat paripurna DPR dalam waktu dekat guna mendapat pengesahan. (kmb1)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)