Listrik
Bisa
Andal
SISTEM
kelistrikan
Jawa-Bali
akan
aman
apabila pemerintah
dapat
memenuhi usulan
penambahan
subsidi
listrik tahun 2006
ini.
Menurut Plt
Dirut PT PLN (Persero)
Djuanda
Nugraha Ibrahim,
kuota BBM PLN 9,2
juta kiloliter
dipastikan
tak
akan mampu
memenuhi
peningkatan
konsdumsi
listrik,
baik
industri maupun
masyarakat.
Berikut
penuturannya
di
Jakarta, Senin (24/7)
kemarin.
Seberara
jauh
gangguan yang dialami
PLN ?
Sebagai
informasi,
sistem
kelistrikan Jawa Bali
mengalami
gangguan.
Khusus
dari
Jabotabek, di
beberapa
daerah
mengalami pemadaman
bergilir.
Ini
akibat
habisnya BBM di PLTU
Muara
Tawar karena
kesulitan
transportir.
Akibatnya,
mengalami
defisit
hingga 400 megawatt (MW).
Berapa
konsumsi BBM PLTGU
Muara
Tawar
?
Konsumsi
BBM PLTGU Muara
Tawar
meningkat 30 persen
dari
kuota yang ditetapkan.
Akibatnya
pembangkit
tersebut
kehabisan BBM
sebelum
waktunya, sehingga
sebagian
pelanggan
di
sistem Jawa-Bali
mengalami
pemadaman
bergilir
kemarin.
Jadi,
habisnya BBM
di
Muara Tawar
bukan
karena keterlambatan
pasokan
dari Pertamina,
namun
kebutuhannya meningkat,
sehingga
habis
sebelum waktunya.
Mengapa
peningkatannya
begitu
pesat
?
Peningkatan
konsumsi BBM PLTGU
Muara
Tawar karena
makin
banyaknya industri
yang beralih
ke PLN
dan mulai
masuknya
musim
kemarau.
Akibatnya,
Muara
Tawar yang didesain
hanya
buat masa
beban
puncak, sekarang
terpaksa
beroperasi
siang
hari, sehingga
konsumsi BBM
juga
meningkat.
Perbandingan
biaya
produksi dan
harga
jual
listrik
?
Saat
ini,
perbedaan biaya
produksi
pembangkit BBM
dengan
harga jual
listrik
sangat besar.
Biaya
produksi
pembangkit BBM
mencapai
Rp 1.900 per kWh,
sedangkan
harga
jual hanya
sekitar
Rp 600 per kWh.
Solusinya,
PLN harus
diberikan
tambahan
subsidi agar
perusahaan
tetap
berjalan dan
berkembang.
Bentuk
subsidi yang
diajukan
PLN ?
Opsi
subsidi yang
diusulkan PLN
dengan
asumsi harga BBM
Rp 6.322 per liter
maka
nilai subsidi
Rp 42,896
trilyun
dengan margin tujuh
persen
Rp 39,2 trilyun
dengan margin 3,5
persen,
dan Rp 35,51
trilyun
dengan margin nol
persen.
Skenario kedua,
dengan
asumsi harga BBM
Rp 5.217 per liter,
kebutuhan
subsidi
dengan marjin
tujuh
persen Rp 39,3
trilyun, 3,5
persen
Rp 35,7 trilyun,
dan nol
persen
Rp 32,2 trilyun.
Terakhir,
jika
harga BBM Rp 4.896
per liter, margin tujuh
persen
Rp 38.3 trilyun, 3,5
persen
Rp 34,7 trilyun,
dan nol
persen
Rp 31,2 trilyun.
PLN
perlu margin
buat
mengganti peralatan
yang rusak.
Besaran
subsidi yang
telah
disepakati
?
Skenario
tersebut
telah
dibahas Menteri ESDM
Purnomo
Yusgiantoro dan
Komisi VII DPR.
Dan, disepakati
subsidi
dalam APBN -P Rp 32,2
trilyun.
Atau
mengalami
kenaikan
ketimbang APBN 2006 yang
ditetapkan
Rp 27
trilyun. Kesepakatan
itu
akan
dibawa
rapat paripurna DPR
dalam
waktu dekat
guna
mendapat pengesahan.
(kmb1)