Terancam Gagal, Target Pertumbuhan Ekonomi 2006
Jakarta (Bali Post) -
Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah
mengingatkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2006
terancam gagal, jika penyaluran kredit selama 2006 tak
mencapai sasaran 18 persen. ''Kalau tidak bisa mencapai
itu (target pertumbuhan kredit) barangkali agak susah
mencapai target,'' katanya di Jakarta, Senin (24/7)
kemarin.
Target pertumbuhan ekonomi menurut BI adalah sebesar 5,7
persen dan pemerintah mencanangkan 5,9 persen dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan
2006. Menurut Burhanuddin, angka pertumbuhan kredit 18
persen sudah dianggap mampu untuk mencapai tingka
pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. Itu pun, katanya,
bisa dicapai jika semua proses upaya peningkatan
pertumbuhan kredit bisa berjalan.
Ia mengakui, realisasi kredit sampai Mei 2006
sangat rendah yakni hanya mencapai 2,4 persen atau
sekitar Rp 14,2 trilyun. Untuk itu, BI akan
melakukan sejumlah upaya agar sisa waktu pada semester
II bisa lebih banyak digunakan bank untuk aktif
menyalurkan kredit.
Dalam waktu dekat, tegas Burhanuddin, BI akan meminta
bank-bank untuk mengkaji ulang kebijakan dan menyusun
kembali business plan perusahaan. ''Dan, kita akan
mengumpulkan itu. Nanti satu per satu akan kita lihat.
Kita tanyakan hambatan dan lain sebagainya,'' jelasnya.
Sehingga, sambungnya, pada akhir bulan ini diharapkan
akan ada review dan hasil business plan bank yang baru
untuk tahun 2006.
Ditanya apakah sasaran 18 persen itu akan direvisi,
Burhanuddin tidak menyebutkan. ''Saya masih berharap
semester kedua ini masih cepat agar bisa menopang
pertumbuhan ekonomi,'' katanya.
Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono
menjelaskan, salah satu faktor yang mempengaruhi
penyaluran kredit adalah kondisi perekonomian itu
sendiri apakah bisa menyerap ekspansi kredit yang lebih
besar atau tidak. BI memperkirakan pada triwulan III dan
IV perekonomian akan terus meningkat sehingga
pertumbuhan kredit bisa seperti yang ditargetkan.
Sementara Deputi Gubernur BI Maman Somantri mengatakan,
pertumbuhan kredit yang sempat melambat pada triwulan I,
mulai memperlihatkan pertumbuhan kredit yang membaik
yakni sampai Mei 2006 telah mencapai Rp 14,2
trilyun atau 2,4 persen. Sehingga posisi kredit pada
akhir Mei 2006 menjadi Rp 747,6 trilyun.
Dikatakannya, untuk mencapai sasaran pertumbuhan kredit
sebesar 18 persen tiap bulan harus ada kredit baru
sebesar Rp 19 trilyun. Menurut Maman, peningkatan kredit
juga ditandai dengan pulihnya fungsi intermediasi
bank-bank BUMN, yang sebelumnya macet akibat tingginya
angka kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).
(kmb2)