Optimalkan
APBD, Perlu
Insentif
dan
Denda
Jakarta (Bali Post)-
Mantan
Menko
Perekonomian Dorodjatun
Kunjtoro -Jakti
mengusulkan
kepada
pemerintah agar menerapkan
sistem
insentif dan
denda
terhadap pelaksanaan
desentralisasi
fiskal.
Dengan
begitu,
optimalisasi pemanfaatan
APBD dapat
dilakukan
guna
mendorong akselerasi
perekonomian
di
daerah.
''Hampir
sepertiga
dari APBN
kita
dikirim ke
daerah
lewat perimbangan
keuangan
pusat
dan daerah
dan itu
sudah
kita lihat,
banyak
uang itu
kembali
ke Jakarta untuk
beli SBI (Sertifikat
Bank Indonesia),'' kata
mantan
Menko Perekonomian
Dorodjatun
Kuntjoro-Jakti
di
sela-sela seminar otomotif
di Jakarta,
Senin (24/7)
kemarin.
Akibatnya
pergerakan
ekonomi
di daerah
berjalan
lamban yang
berimbas
pada
pertumbuhan ekonomi.
Padahal,
menurut
Djatun begitu
biasa
disapa, saat
ini
Indonesia
memasuki era
dimana
penggerak perekonomian
bukan
hanya pusat,
tapi
juga daerah,
karena
sepertiga anggaran
ada di
daerah.
''Saya
rasa
memang harus
ada
sistem insentif
dan `finalty`
(denda).Sampai
sekarang
tidak
ada (sistem
itu),
kita serahkan
saja,''
ujar Guru Besar FE UI
ini.
Ia
optimis
apabila pemda
sadar,
belanja daerah
harus
cepat dioptimalkan
pemakaiannya
sama
dengan yang dilakukan
pemerintah
pusat,
sehingga pertumbuhan
ekonomi
bisa didongkrak. ''Kalau
disadarkan
saja
bahwa belanja
daerah
harus cepat,
ya
sama
dengan
pusat, barangkali
laju
pertumbuhan (ekonomi)
kita
bisa kembali,''
terangnya.
Menurut
Djatun,
pertumbuhan ekonomi
Indonesia masih
di
bawah potensi yang
sesungguhnya
dan
bisa digerakkan
lebih
besar lagi
dengan
pengeluaran (budget)
pemerintah, terutama
untuk
pemeliharaan dan
perbaikan
jalan
negara, propinsi,
kabupaten,
maupun
desa.
Ia
mencontohkan
pada
saat memimpin
menteri-menteri
ekonomi
masa
Presiden
Megawati,
ia
bersama
mantan Menkeu
Boediono yang
kini
menjadi Menko
Perekonomian
Kabinet Indonesia
Bersatu,
mengeluarkan
dana
sekitar Rp 500
milyar per
tahun
untuk pemeliharaan
maupun
perbaikan jalan yang
rusak
akibat banjir,
sehingga
bisa
menggerakkan ekonomi
rakyat.
''Kalau
mau cepat
perekonomian
berkembang
harus
dengan APBN, kalau
dengan (penurunan)
bunga (BI rate)
dicerna
oleh bank itu
ada cost of intermediation,
biaya
intermediasi bank kita
mahal.
Jadi
saya
yakin dari
teori yang
saya
pelajari waktu
mahasiswa,
menurunkan
bunga
untuk menggerakkan
ekonomi
agak lama,'' tambahnya.
Mengenai
kinerja
industri ototomif,
Djatun
berharap dibentuknya
konsorsium
penjamin
kredit
otomotif.
Selama
ini,
kalangan perbankan
merasa
keberatan apabila
menjadi
penanggungjawab tunggal
kredit
macet mobil
dan motor.
Perbankan
biasanya
menuntut
jaminan
terhadap kredit motor
maupun
mobil. Sementara
kalangan
pengusaha
menilai,
jika
memakai agunan
terus
menerus, maka
industri
tidak
akan jalan.Konsorsium
ini
diharapkan
menjadi
penjamin
kredit
otomotif di
tengah
lesunya sektor
otomotif yang
kini
lesu. ''Gaikindo
menganjurkan agar
ada
perhatian dari bank
untuk corporate
kredit.
Tapi
persoalannya yang saya
dengar
adalah bank-bank keberatan
sekali
kalau hanya
menjadi
penanggung satu-satunya
kredit
macet, baik
sepeda motor
maupun
mobil,'' ungkapnya.(kmb1)