Konsumsi,
Selamatkan
Ekonomi Bali
Data yang dilaporkan KBI
Denpasar
terkait
pertumbuhan ekonomi
Bali yang mencapai 6,53
persen
memang cukup
mengejutkan.
Mengingat
saat
ini kondisi
ekonomi
Bali
justru
masih lesu.
Namun,
apa yang dilansir
Bank Indonesia (BI) Denpasar
ini pun
tidak bisa
disangkal
karena
berdasarkan angka-angka
yang berhasil
dihimpun
selama
tiga bulan
terakhir.
Ada
baiknya
jika kita
melihat
faktor
apa saja yang
menyebabkan
roda
perekonomian Bali bergerak.
Agaknya
membaiknya
pertumbuhan
ekonomi Bali
bisa
dibilang dipicu
pertumbuhan
pada
sektor PHR (Pajak
Hotel dan
Restoran).
Industri
pariwisata
pada
triwulan ini
mulai
menunjukkan kinerja
yang cukup
baik
dibandingkan dengan
triwulan
sebelumnya yang
mengalami
kontraksi
hingga minus 7,24
persen.
Tanda-tanda
membaiknya
kinerja
industri andalan Bali
ini
bisa dilihat
dari
meningkatnya jumlah
wisatawan
mancanegara (wisman)
yang berkunjung
langsung
ke Bali (direct foreign
tourist arrivals) pada
triwulan
ini
dibandingkan triwulan
sebelumnya.
Jumlah
kunjungan
wisman
pada triwulan II 2006
diperkirakan
mencapai 315.313
orang
atau meningkat 33,42
persen
dibandingkan triwulan
sebelumnya
sebanyak 236,322
orang.
Meningkatnya
jumlah
kunjungan tersebut
diikuti pula
dengan
meningkatnya rata-rata
tingkat hunian
kamar/TPK (occupancy rate)
hotel-hotel di Bali.
Pada
triwulan ini TPK
mencapai 36,15
persen,
lebih tinggi
dibandingkan
triwulan
sebelumnya
sebesar 27,15
persen.
Dari sisi
permintaan,
pertumbuhan
ekonomi
pada triwulan II 2006
terutama
didorong
ekspor
neto dan
konsumsi
swasta.
Ekspor
neto mengalami
pertumbuhan
sebesar 12,44
persen (QTQ),
lebih
tinggi dibandingkan
dengan
triwulan I 2006 yang
mengalami kontraksi
minus 8,15 persen.
Angka yang
berhasil
dicapai
pada triwulan II
juga
lebih tinggi
dibandingkan
triwulan II 2005
sebesar 1,95
persen.
Ekspor
neto
pada triwulan
ini
tercatat sebesar
Rp 1.198
milyar,
lebih tinggi
dibandingkan
triwulan
sebelumnya
sebesar
Rp 1.065 milyar.
Sementara
konsumsi
swasta,
terdiri atas
konsumsi
rumah
tangga (RT) dan
konsumsi
lembaga
swasta, menyumbangkan
55,24
persen dan 0,81
persen
pada PDRB. Konsumsi
RT tumbuh
sebesar 5,72
persen (QTQ),
lebih
tinggi dibandingkan
triwulan I 2006
sebesar 0,05
persen.
Pertumbuhan
konsumsi RT
tersebut
diperkirakan
karena
meningkatnya kebutuhan
masyarakat
khususnya
untuk
memenuhi kebutuhan
perayaan
keagamaan (seperti
hari
raya Galungan).
Sedangkan
konsumsi
lembaga
swasta mengalami
pertumbuhan 5,18
persen (QTQ),
lebih
tinggi dibandingkan
triwulan
sebelumnya yang
mengalami
kontraksi minus 5,19
persen.
Hal tersebut
diperkirakan
karena
meningkatnya aktivitas
yayasan-yayasan
maupun
perkumpulan-perkumpulan
sosial.
Di sisi
lain konsumsi
pemerintah pun
tumbuh
sebesar 4,45
persen (QTQ),
lebih
tinggi dibandingkan
kontraksi minus 7,73
persen
pada triwulan
sebelumnya.
Tingginya
pengeluaran
konsumsi
pemerintah
diperkirakan
karena
sebagian proyek-proyek
pemerintah yang
dibiayai
oleh APBN/APBD
mulai
direalisasikan.
Kinerja
bank umum
di Bali
juga berperan
penting
dalam meningkatkan
pertumbuhan
ekonominya.
Pada
triwulan ini
secara
umum bank mengalami
perkembangan yang
cukup
baik dibandingkan
dengan
triwulan yang
sama
tahun 2005. Total
aset
pada posisi
Mei 2006
meningkat 12,34
persen
dibandingkan posisi
Mei 2005
menjadi
Rp 20,561 milyar.
Jika
dilihat
dari sisi
penghimpunan
dana,
dana pihak
ketiga (DPK) yang
dapat
dihimpun bank umum
mengalami
peningkatan
sebesar 12.66
persen
dari posisi
Mei 2005
menjadi
Rp 17.660 milyar
pada
Mei 2006. Dilihat
dari
sisi kredit,
jumlah
kredit yang disalurkan
mengalami
peningkatan
Rp 1.251
milyar
atau 14,72
persen.
Peningkatan
penyaluran
kredit
tersebut mengindikasikan
adanya
peningkatan fungsi
intermediasi bank
umum, yang
tercermin pula
dari
peningkatan loan to deposit ratio (LDR)
dari 54,20
persen
menjadi 55,19 persen.
Seiring
dengan pertumbuhan
LDR, kredit
macet (NPL - non performing
loan) bank juga
meningkat
yaitu
dari 2,50 persen
pada
posisi Mei 2005
menjadi 4,57
persen
pada Mei 2006.
Dana pihak
ketiga (DPK) yang
berhasil
dihimpun
pada
posisi Mei 2006
tercatat
mencapai
sebesar
Rp 17.660 milyar.
Jumlah DPK
ini
naik sebesar
Rp 1.985
milyar
atau 12,66
persen
dibandingkan dengan
posisi
Mei 2005. Ditinjau
dari
komposisinya, deposito
merupakan
bentuk
simpanan terbesar,
yaitu
mencapai 38,67
persen
dari total DPK, disusul
oleh
tabungan dan
giro
masing-masing sebesar
38,73 persen
dan 23,10
persen.
Dibandingkan
dengan
posisi Mei 2005,
pertumbuhan DPK
tertinggi
dialami
oleh kelompok bank
asing yang
tumbuh
sebesar 22,12 persen
disusul
oleh kelomopk bank
pemerintah
dan
swasta nasional yang
tumbuh
masing-masing sebesar
14,20 persen
dan 6,42
persen.
(iah)