kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 25 Juli 2006

 Ekonomi


Konsumsi
, Selamatkan Ekonomi Bali 

Data yang dilaporkan KBI Denpasar terkait pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 6,53 persen memang cukup mengejutkan. Mengingat saat ini kondisi ekonomi Bali justru masih lesu. Namun, apa yang dilansir Bank Indonesia (BI) Denpasar ini pun tidak bisa disangkal karena berdasarkan angka-angka yang berhasil dihimpun selama tiga bulan terakhir. Ada baiknya jika kita melihat faktor apa saja yang menyebabkan roda perekonomian Bali bergerak

Agaknya membaiknya pertumbuhan ekonomi Bali bisa dibilang dipicu pertumbuhan pada sektor PHR (Pajak Hotel dan Restoran). Industri pariwisata pada triwulan ini mulai menunjukkan kinerja yang cukup baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi hingga minus 7,24 persen.

Tanda-tanda membaiknya kinerja industri andalan Bali ini bisa dilihat dari meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung langsung ke Bali (direct foreign tourist arrivals) pada triwulan ini dibandingkan triwulan sebelumnya.

Jumlah kunjungan wisman pada triwulan II 2006 diperkirakan mencapai 315.313 orang atau meningkat 33,42 persen dibandingkan triwulan sebelumnya sebanyak 236,322 orang. Meningkatnya jumlah kunjungan tersebut diikuti pula dengan meningkatnya rata-rata tingkat hunian kamar/TPK (occupancy rate) hotel-hotel di Bali. Pada triwulan ini TPK mencapai 36,15 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 27,15 persen.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2006 terutama didorong ekspor neto dan konsumsi swasta. Ekspor neto mengalami pertumbuhan sebesar 12,44 persen (QTQ), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2006 yang mengalami kontraksi minus 8,15 persen. Angka yang berhasil dicapai pada triwulan II juga lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2005 sebesar 1,95 persen.

Ekspor neto pada triwulan ini tercatat sebesar Rp 1.198 milyar, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp 1.065 milyar. Sementara konsumsi swasta, terdiri atas konsumsi rumah tangga (RT) dan konsumsi lembaga swasta, menyumbangkan 55,24 persen dan 0,81 persen pada PDRB. Konsumsi RT tumbuh sebesar 5,72 persen (QTQ), lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2006 sebesar 0,05 persen.

Pertumbuhan konsumsi RT tersebut diperkirakan karena meningkatnya kebutuhan masyarakat khususnya untuk memenuhi kebutuhan perayaan keagamaan (seperti hari raya Galungan). Sedangkan konsumsi lembaga swasta mengalami pertumbuhan 5,18 persen (QTQ), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi minus 5,19 persen.

Hal tersebut diperkirakan karena meningkatnya aktivitas yayasan-yayasan maupun perkumpulan-perkumpulan sosial. Di sisi lain konsumsi pemerintah pun tumbuh sebesar 4,45 persen (QTQ), lebih tinggi dibandingkan kontraksi minus 7,73 persen pada triwulan sebelumnya. Tingginya pengeluaran konsumsi pemerintah diperkirakan karena sebagian proyek-proyek pemerintah yang dibiayai oleh APBN/APBD mulai direalisasikan.

Kinerja bank umum di Bali juga berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Pada triwulan ini secara umum bank mengalami perkembangan yang cukup baik dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2005. Total aset pada posisi Mei 2006 meningkat 12,34 persen dibandingkan posisi Mei 2005 menjadi Rp 20,561 milyar.

Jika dilihat dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) yang dapat dihimpun bank umum mengalami peningkatan sebesar 12.66 persen dari posisi Mei 2005 menjadi Rp 17.660 milyar pada Mei 2006. Dilihat dari sisi kredit, jumlah kredit yang disalurkan mengalami peningkatan Rp 1.251 milyar atau 14,72 persen.

Peningkatan penyaluran kredit tersebut mengindikasikan adanya peningkatan fungsi intermediasi bank umum, yang tercermin pula dari peningkatan loan to deposit ratio (LDR) dari 54,20 persen menjadi 55,19 persen. Seiring dengan pertumbuhan LDR, kredit macet (NPL - non performing loan) bank juga meningkat yaitu dari 2,50 persen pada posisi Mei 2005 menjadi 4,57 persen pada Mei 2006.

Dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun pada posisi Mei 2006 tercatat mencapai sebesar Rp 17.660 milyar. Jumlah DPK ini naik sebesar Rp 1.985 milyar atau 12,66 persen dibandingkan dengan posisi Mei 2005. Ditinjau dari komposisinya, deposito merupakan bentuk simpanan terbesar, yaitu mencapai 38,67 persen dari total DPK, disusul oleh tabungan dan giro masing-masing sebesar 38,73 persen dan 23,10 persen.

Dibandingkan dengan posisi Mei 2005, pertumbuhan DPK tertinggi dialami oleh kelompok bank asing yang tumbuh sebesar 22,12 persen disusul oleh kelomopk bank pemerintah dan swasta nasional yang tumbuh masing-masing sebesar 14,20 persen dan 6,42 persen. (iah)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)