kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 25 Juli 2006

 Ekonomi


Pertumbuhan
Semu 

BERDASARKAN data Bank Indonesia Denpasar, perekonomian Bali pada triwulan 11-2006 mengalami pertumbuhan 6,53 persen  (quarter to quarter -- QTQ), lebih tinggi dibandingkan triwulan 1-2006 yang mengalami kontraksi minus 4,03 persen. Itu kalau diterjemahkan merupakan indikator bahwa perekonomian Bali mulai bergairah. Benarkah? 

=======================

Padahal dilihat secara kasat mata, perekonomian secara umum baik nasional maupun regional Bali, belum menunjukkan perkembangan yang benar-benar menggembirakan. Terbukti sektor riil hingga kini seakan-akan masih jalan di tempat. Bahkan, kalangan pengusaha juga mengeluh karena usahanya belum mengalami perubahan (baca: membaik - red).

Logikanya pertumbuhan yang terjadi akan diikuti dengan peningkatan di berbagai sektor seperti penyerapan tenaga kerja dan naiknya pendapatan masyarakat dan sudah tentu menurunnya angka kemiskinan. Namun, kenyataannya hal itu belum nampak secara signifikan. Bahkan, ancaman PHK masih sering terdengar. Kita khawatir pertumbuhan yang terjadi hanya di sejumlah sektor yang sangat terbatas dampaknya.

Kalaupun ada perubahanperubahan tersebut belum dirasakan secara signifikan. Bahkan, kondisi itu juga sangat dirasakan masyarakat dengan kemampuan daya beli mereka yang makin menurun. Kendati demikian, barangkali yang patut disyukuri adalah  inflasi yang rendah.

Secara triwulanan pada akhir triwulan II-2006 tercatat 0,56 persen (QTQ), lebih rendah dibandingkan akhir triwulan I-2006 yang mencapai 2,44 persen (QRQ). Ini tentunya akan berimbas positif terhadap tingkat suku bunga perbankan. Dengan bunga yang wajar (rendah - red) kredit perbankan akan terserap oleh dunia usaha yang pada akhirnya akan menggerakkan sektor riil yang kini benar-benar sedang lesu darah.

Arah membaiknya ekonomi Bali itu juga tercermin dari kinerja perbankan, khususnya bank umum pada triwulan II-2006 meningkat 12,34 persen dibandingkan posisi Mei 2005 menjadi Rp 20.561 milyar. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun bank umum mengalami peningkatan 12,66 persen dari posisi Mei 2005 menjadi Rp 17.660 milyar pada Mei 2006.

Jumlah kredit yang disalurkan pun mencapai Rp 9.747 milyar. Bahkan, kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang disalurkan oleh bank umum pada posisi Mei 2006 tercatat Rp 8.516 milyar, meningkat Rp 1.137 milyar atau 15,41 persen dibandingkan posisi Mei 2005. Oleh karena itu, tak berlebihan kiranya kalau kita optimis bahwa perekonomian di daerah ini berangsur-angsur akan bergairah kembali.

Bahkan, pada triwulan selanjutnya diperkirakan akan tumbuh positif, asalkan kondisi yang kondusif akan terus terjaga. Pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh sektor PHR (pajak hotel dan restoran) seiring dengan masa liburan sekolah. Sehingga banyak wisatawan domestik yang mengunjungi Bali. Dan, PHR ini menyumbangkan pertumbuhan ekonomi terbesar yakni 11,55 persen pada triwukan II.

Pertumbuhan yang cukup tinggi pada sektor PHR menunjukkan, bahwa industri pariwisata pada triwulan ini mulai menunjukkan kinerja yang cukup baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi hingga minus 7,24 persen. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung langsung ke Bali (direct foreign tourist arrivals) pada triwulan ini dibandingkan triwulan sebelumnya.

Jumlah kunjungan wisman pada triwulan II-2006 diperkirakan mencapai 315.313 orang atau meningkat 33,42 persen dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya 236,322 orang. Meski secara umum perekonomian Bali menunjukkan arah perbaikan, kita mesti tetap waspada. Pasalnya, secara tahunan (year on year -- YOY), perekonomian masih mengalami kontraksi minus 0,76 persen (YOY).

Ini artinya para pelaku ekonomi masih harus tetap berjuang untuk mempertahankan kinerjanya. Dan, dari pengambil kebijakan pun diharapkan mampu berperan lebih aktif lagi, terutama dalam upaya merangsang pertumbuhan ekonomi. Peran serta masyarakat untuk ikut menciptakan situasi yang kondusif pun sangat diperlukan.

Dengan terjaganya keamanan khususnua, sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Bali pun akan makin mampu berkiprah. Dan, pada akhirnya hal itu akan mendongkrak kegiatan ekonomi, baik itu sektor penunjang pariwisata maupun sektor lainnya. Semoga

* sri hartini  

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)