Pertumbuhan
Semu
BERDASARKAN
data Bank Indonesia Denpasar,
perekonomian Bali
pada
triwulan 11-2006 mengalami
pertumbuhan 6,53
persen (quarter to
quarter -- QTQ), lebih
tinggi
dibandingkan triwulan
1-2006 yang mengalami
kontraksi minus 4,03
persen.
Itu
kalau
diterjemahkan merupakan
indikator
bahwa
perekonomian
Bali
mulai
bergairah.
Benarkah?
=======================
Padahal
dilihat
secara kasat
mata,
perekonomian secara
umum
baik nasional
maupun regional Bali,
belum
menunjukkan perkembangan
yang benar-benar
menggembirakan.
Terbukti
sektor
riil hingga
kini
seakan-akan masih
jalan
di tempat.
Bahkan,
kalangan pengusaha
juga
mengeluh karena
usahanya
belum
mengalami perubahan (baca:
membaik - red).
Logikanya
pertumbuhan yang
terjadi
akan
diikuti
dengan peningkatan
di
berbagai sektor
seperti
penyerapan tenaga
kerja
dan naiknya
pendapatan
masyarakat
dan
sudah tentu
menurunnya
angka
kemiskinan.
Namun,
kenyataannya
hal itu
belum
nampak secara
signifikan.
Bahkan,
ancaman PHK
masih
sering terdengar.
Kita khawatir
pertumbuhan yang
terjadi
hanya di
sejumlah
sektor yang
sangat
terbatas dampaknya.
Kalaupun
ada
perubahan,
perubahan
tersebut
belum
dirasakan secara
signifikan.
Bahkan,
kondisi
itu juga
sangat
dirasakan masyarakat
dengan
kemampuan daya
beli
mereka yang makin
menurun.
Kendati
demikian, barangkali
yang patut
disyukuri
adalah
inflasi yang
rendah.
Secara
triwulanan
pada
akhir triwulan
II-2006 tercatat 0,56
persen (QTQ),
lebih
rendah dibandingkan
akhir
triwulan I-2006 yang
mencapai 2,44 persen
(QRQ). Ini
tentunya
akan
berimbas
positif
terhadap tingkat
suku
bunga perbankan.
Dengan
bunga yang wajar (rendah
- red) kredit
perbankan
akan
terserap
oleh
dunia usaha yang
pada
akhirnya akan
menggerakkan
sektor
riil yang kini
benar-benar
sedang
lesu darah.
Arah
membaiknya
ekonomi Bali
itu
juga tercermin
dari
kinerja perbankan,
khususnya bank
umum
pada triwulan II-2006
meningkat 12,34
persen
dibandingkan posisi
Mei 2005
menjadi
Rp 20.561 milyar.
Sementara
itu,
dana pihak
ketiga (DPK) yang
berhasil
dihimpun bank
umum
mengalami peningkatan
12,66
persen dari
posisi
Mei 2005 menjadi
Rp 17.660
milyar
pada Mei 2006.
Jumlah
kredit yang
disalurkan pun
mencapai
Rp 9.747
milyar.
Bahkan,
kredit usaha
mikro,
kecil dan
menengah (UMKM) yang
disalurkan
oleh bank
umum
pada posisi
Mei 2006
tercatat
Rp 8.516
milyar,
meningkat Rp 1.137
milyar
atau 15,41 persen
dibandingkan
posisi
Mei 2005. Oleh
karena
itu, tak
berlebihan
kiranya
kalau kita
optimis
bahwa perekonomian
di
daerah ini
berangsur-angsur
akan
bergairah
kembali.
Bahkan,
pada
triwulan selanjutnya
diperkirakan
akan
tumbuh
positif, asalkan
kondisi yang
kondusif
akan
terus terjaga.
Pertumbuhan
ekonomi
tersebut terutama
didorong
oleh
sektor PHR (pajak
hotel dan
restoran)
seiring
dengan masa
liburan
sekolah.
Sehingga
banyak
wisatawan domestik
yang mengunjungi
Bali.
Dan, PHR ini
menyumbangkan
pertumbuhan
ekonomi
terbesar yakni 11,55
persen
pada triwukan II.
Pertumbuhan
yang cukup
tinggi
pada sektor PHR
menunjukkan,
bahwa
industri pariwisata
pada
triwulan ini
mulai
menunjukkan kinerja
yang cukup
baik
dibandingkan dengan
triwulan
sebelumnya yang
mengalami
kontraksi
hingga minus 7,24
persen.
Hal itu
ditandai dengan
meningkatnya
jumlah
wisatawan mancanegara
(wisman) yang
berkunjung
langsung
ke
Bali (direct
foreign tourist arrivals) pada
triwulan
ini
dibandingkan triwulan
sebelumnya.
Jumlah
kunjungan
wisman
pada triwulan II-2006
diperkirakan
mencapai 315.313
orang
atau meningkat 33,42
persen
dibandingkan triwulan
sebelumnya yang
hanya 236,322
orang.
Meski
secara
umum perekonomian
Bali
menunjukkan
arah
perbaikan, kita
mesti
tetap waspada.
Pasalnya,
secara
tahunan (year on year -- YOY),
perekonomian
masih
mengalami kontraksi
minus 0,76
persen (YOY).
Ini
artinya
para pelaku
ekonomi
masih harus
tetap
berjuang untuk
mempertahankan
kinerjanya.
Dan, dari
pengambil
kebijakan pun
diharapkan
mampu
berperan lebih
aktif
lagi, terutama
dalam
upaya merangsang
pertumbuhan
ekonomi.
Peran
serta
masyarakat untuk
ikut
menciptakan situasi
yang kondusif pun
sangat
diperlukan.
Dengan
terjaganya
keamanan
khususnua,
sektor
pariwisata yang selama
ini
menjadi salah
satu
tulang punggung
perekonomian
Bali
pun akan
makin
mampu berkiprah. Dan,
pada
akhirnya hal
itu
akan
mendongkrak
kegiatan
ekonomi,
baik
itu sektor
penunjang
pariwisata
maupun
sektor lainnya.
Semoga!
*
sri
hartini