kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Pon, 25 Juli 2006

 Ekonomi


Pertumbuhan Ekonomi Belum Mampu Atasi Kemiskinan

Baru-baru ini, Kantor Bank Indonesia (KBI) Denpasar melansir data perekonomian Bali pada triwulan II 2006. Dilihat dari data yang berhasil dihimpun BI tersebut, terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,53 persen. Benarkah kondisi di lapangan seperti itu? Pasalnya, angka kemiskinan di Bali justru belum menyurut. Bahkan, kesulitan lapangan kerja menjadi ancaman.

JIKA secara angka, KBI Denpasar menyimpulkan pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan II tahun ini cukup menggembirakan, namun di lapangan kondisinya berbeda. Menurut Ketua Forda UKM Bali Budi Wiradnyana, kondisi UMKM saat ini masih sangat lesu. Dia mengakui memang ada pergerakan transaksi yang terjadi di lapangan, tetapi jumlahnya masih relatif kecil. ''Spread keuntungan yang diperoleh para perajin maupun pengusaha saat ini masih belum kelihatan,'' katanya.

Dia juga mengetengahkan kondisi yang terjadi di Kuta dan Nusa Dua yang masih sepi aktivitas pariwisata. Terkait adanya angka pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi pada tiga bulan terakhir ini, dia melihat sifatnya masih lokal saja, pada sektor-sektor tertentu. Belum ada pergerakan yang besar terjadi pada perekonomian Bali pascabom Bali II dan kenaikan BBM bulan Oktober lalu. ''Kita bisa lihat, NPL bank umum di Bali kini juga meningkat. Itu artinya cukup banyak pengusaha yang kesulitan membayar kreditnya,'' ujar Budi.

Tidak hanya pengusaha kecil dan menengah yang masih tersendat-sendat kemajuan usahanya. Berdasarkan pantauan Bali Post, selama tiga bulan terakhir ini juga muncul berbagai polemik pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal yang dipicu lesunya perekonomian. Kasus-kasus PHK di hotel memang belum banyak terjadi, tetapi ada beberapa hotel yang sudah bernegosiasi dengan karyawannya karena kesulitan membayar gaji karyawan.

Bahkan, PHK di Hotel Bali Sani kini sedang menunggu putusan pengadilan karena manajemen hotel melakukan PHK seiring memburuknya kinerja hotel tersebut pascabom Bali II. Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Bali Drs. A.A. Gde Alit, M.M. pun menyatakan kondisi sosial masyarakat belakangan ini makin terpuruk.

Berdasarkan data yag ada, angka kemiskinan semula tercatat sekitar 118 ribu kini membengkak hampir 150 ribu setelah dilakukan pencatatan ulang. Permasalahan sosial yang ada di Bali melibatkan 235.302 KK, dan terbanyak terkait masalah kemiskinan. Munculnya masalah kemiskinan disinyalir karena krisis ekonomi akibat dampak merosotnya pariwisata juga pengaruh kenaikan BBM.

Sementara itu, perekonomian Bali menurut laporan BI Denpasar pada triwulan II 2006 dilaporkan mengalami pertumbuhan 6,53 persen (quarter to quarter -- QTQ), lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2006 yang mengalami kontraksi minus 4,03 persen. Masih dari data BI Denpasar, tercatat inflasi triwulanan pun mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi secara triwulanan pada akhir triwulan II-2006 tercatat sebesar 0,56 persen (QTQ), lebih rendah dibandingkan akhir triwulan I-2006 sebesar 2,44 persen (QTQ).

Menurut Pimpinan KBI Denpasar Ketut Sanjaya, indikator pertumbuhan ekonomi Bali ini bisa dilihat dari berbagai sektor. Pertumbuhan terbesar dicapai oleh sektor PHR sebesar 11,55 persen, dan diikuti oleh sektor industri pengolahan (10,38%), sektor pengangkatan (7,77%), sektor jasa-jasa (5,17%), sektor pertambangan (5,07%), sektor bangunan (4,83%), sektor keuangan (2,84%), sektor LGA (242%), dan sektor pertanian (0,88%).

Kinerja bank umum di Bali pun dikatakannya mengalami peningkatan. Selama triwulan II kinerja bank umum meningkat 12,34 persen dibandingkan posisi Mei 2005 menjadi Rp 20.561 milyar. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun bank umum mengalami peningkatan sebesar 12,66 persen dari posisi Mei 2005 menjadi Rp 17.660 milyar pada Mei 2006.

Dari performa penyaluran kredit pun, Sanjaya berulangkali mengungkapkan jumlah kredit yang disalurkan juga mengalami peningkatan dibandingkan periode triwulan sebelumnya. Jumlah kredit yang dikucurkan pada posisi Mei 2006 sebesar Rp 9.747 milyar atau dengan rasio LDR bank umum sebesar 55,19 persen. Kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) oleh bank umum di Bali pada posisi Mei 2006 tercatat sebesar Rp 8.516 milyar, meningkat Rp 1.137 milyar atau 15,41% dibandingkan posisi Mei 2005.

Sayangnya seiring pertumbuhan LDR, kredit non performing (NPLS) juga mengalami peningkatan, menjadi 4,57% pada Mei 2006. Meski demikian, Sanjaya melihat perekonomian Bali pada triwulan III 2006 akan tumbuh positif. Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi diperkirakan didorong oleh sektor PHR, sektor pertanian, dan sektor jasa-jasa. Pertumbuhan sektor PHR didorong oleh masuknya masa liburan sekolah dan sekaligus dimulainya tahun ajaran baru di bulan Juli.

Meski pertumbuhannya cukup besar dalam tiga bulan kedua di tahun 2006 ini, secara tahunan (year on year -- YOY), perekonomian masih mengalami kontraksi sebesar minus 0,76 persen (YOY). Kontraksi ini lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar minus 7,05 persen. Dari sisi penggunaan atau permintaan, kontraksi perekonomian secara tahunan berasal dari kontraksi pada net ekspor dan konsumsi pemerintah, masing-masing minus 18,66 persen dan minus 1,91 persen.

Di sisi lain, pertumbuhan secara komulatif (year to date) pada triwulan II 2006 mengalami kontraksi sebesar minus 3,91 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2006 minus 7,05 persen. Sejatinya kinerja perekonomian Bali pada triwulan II 2006 menunjukkan gambaran yang positif. Namun karena pada triwulan I 2006 perekonomian mengalami kontraksi yang cukup dalam akibat lesunya industri pariwisata pascatragedi bom 1 Oktober 2005, maka pertumbuhan acara komulatif masih terjadi kontraksi. (iah)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)