Pertumbuhan Ekonomi Belum Mampu Atasi Kemiskinan
Baru-baru ini, Kantor Bank Indonesia (KBI) Denpasar
melansir data perekonomian Bali pada triwulan II 2006.
Dilihat dari data yang berhasil dihimpun BI tersebut,
terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar 6,53 persen.
Benarkah kondisi di lapangan seperti itu? Pasalnya,
angka kemiskinan di Bali justru belum menyurut. Bahkan,
kesulitan lapangan kerja menjadi ancaman.
JIKA
secara angka, KBI Denpasar menyimpulkan pertumbuhan
ekonomi Bali pada triwulan II tahun ini cukup
menggembirakan, namun di lapangan kondisinya berbeda.
Menurut Ketua Forda UKM Bali Budi Wiradnyana, kondisi
UMKM saat ini masih sangat lesu. Dia mengakui memang ada
pergerakan transaksi yang terjadi di lapangan, tetapi
jumlahnya masih relatif kecil. ''Spread keuntungan yang
diperoleh para perajin maupun pengusaha saat ini masih
belum kelihatan,'' katanya.
Dia juga mengetengahkan kondisi yang terjadi di Kuta dan
Nusa Dua yang masih sepi aktivitas pariwisata. Terkait
adanya angka pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi pada
tiga bulan terakhir ini, dia melihat sifatnya masih
lokal saja, pada sektor-sektor tertentu. Belum ada
pergerakan yang besar terjadi pada perekonomian Bali
pascabom Bali II dan kenaikan BBM bulan Oktober lalu.
''Kita bisa lihat, NPL bank umum di Bali kini juga
meningkat. Itu artinya cukup banyak pengusaha yang
kesulitan membayar kreditnya,'' ujar Budi.
Tidak hanya pengusaha kecil dan menengah yang masih
tersendat-sendat kemajuan usahanya. Berdasarkan pantauan
Bali Post, selama tiga bulan terakhir ini juga muncul
berbagai polemik pemutusan hubungan kerja (PHK) secara
massal yang dipicu lesunya perekonomian. Kasus-kasus PHK
di hotel memang belum banyak terjadi, tetapi ada
beberapa hotel yang sudah bernegosiasi dengan
karyawannya karena kesulitan membayar gaji karyawan.
Bahkan, PHK di Hotel Bali Sani kini sedang menunggu
putusan pengadilan karena manajemen hotel melakukan PHK
seiring memburuknya kinerja hotel tersebut pascabom Bali
II. Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial Bali Drs. A.A. Gde
Alit, M.M. pun menyatakan kondisi sosial masyarakat
belakangan ini makin terpuruk.
Berdasarkan data yag ada, angka kemiskinan semula
tercatat sekitar 118 ribu kini membengkak hampir 150
ribu setelah dilakukan pencatatan ulang. Permasalahan
sosial yang ada di Bali melibatkan 235.302 KK, dan
terbanyak terkait masalah kemiskinan. Munculnya masalah
kemiskinan disinyalir karena krisis ekonomi akibat
dampak merosotnya pariwisata juga pengaruh kenaikan BBM.
Sementara itu, perekonomian Bali menurut laporan BI
Denpasar pada triwulan II 2006 dilaporkan mengalami
pertumbuhan 6,53 persen (quarter to quarter -- QTQ),
lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2006 yang mengalami
kontraksi minus 4,03 persen. Masih dari data BI Denpasar,
tercatat inflasi triwulanan pun mengalami penurunan
dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi secara
triwulanan pada akhir triwulan II-2006 tercatat sebesar
0,56 persen (QTQ), lebih rendah dibandingkan akhir
triwulan I-2006 sebesar 2,44 persen (QTQ).
Menurut Pimpinan KBI Denpasar Ketut Sanjaya, indikator
pertumbuhan ekonomi Bali ini bisa dilihat dari berbagai
sektor. Pertumbuhan terbesar dicapai oleh sektor PHR
sebesar 11,55 persen, dan diikuti oleh sektor industri
pengolahan (10,38%), sektor pengangkatan (7,77%), sektor
jasa-jasa (5,17%), sektor pertambangan (5,07%), sektor
bangunan (4,83%), sektor keuangan (2,84%), sektor LGA
(242%), dan sektor pertanian (0,88%).
Kinerja bank umum di Bali pun dikatakannya mengalami
peningkatan. Selama triwulan II kinerja bank umum
meningkat 12,34 persen dibandingkan posisi Mei 2005
menjadi Rp 20.561 milyar. Sementara itu, dana pihak
ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun bank umum mengalami
peningkatan sebesar 12,66 persen dari posisi Mei 2005
menjadi Rp 17.660 milyar pada Mei 2006.
Dari performa penyaluran kredit pun, Sanjaya
berulangkali mengungkapkan jumlah kredit yang disalurkan
juga mengalami peningkatan dibandingkan periode triwulan
sebelumnya. Jumlah kredit yang dikucurkan pada posisi
Mei 2006 sebesar Rp 9.747 milyar atau dengan rasio LDR
bank umum sebesar 55,19 persen. Kredit usaha mikro,
kecil dan menengah (UMKM) oleh bank umum di Bali pada
posisi Mei 2006 tercatat sebesar Rp 8.516 milyar,
meningkat Rp 1.137 milyar atau 15,41% dibandingkan
posisi Mei 2005.
Sayangnya seiring pertumbuhan LDR, kredit non performing
(NPLS) juga mengalami peningkatan, menjadi 4,57% pada
Mei 2006. Meski demikian, Sanjaya melihat perekonomian
Bali pada triwulan III 2006 akan tumbuh positif. Secara
sektoral, pertumbuhan ekonomi diperkirakan didorong oleh
sektor PHR, sektor pertanian, dan sektor jasa-jasa.
Pertumbuhan sektor PHR didorong oleh masuknya masa
liburan sekolah dan sekaligus dimulainya tahun ajaran
baru di bulan Juli.
Meski pertumbuhannya cukup besar dalam tiga bulan kedua
di tahun 2006 ini, secara tahunan (year on year -- YOY),
perekonomian masih mengalami kontraksi sebesar minus
0,76 persen (YOY). Kontraksi ini lebih rendah
dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami
kontraksi sebesar minus 7,05 persen. Dari sisi
penggunaan atau permintaan, kontraksi perekonomian
secara tahunan berasal dari kontraksi pada net ekspor
dan konsumsi pemerintah, masing-masing minus 18,66
persen dan minus 1,91 persen.
Di sisi lain, pertumbuhan secara komulatif (year to
date) pada triwulan II 2006 mengalami kontraksi sebesar
minus 3,91 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan
I-2006 minus 7,05 persen. Sejatinya kinerja perekonomian
Bali pada triwulan II 2006 menunjukkan gambaran yang
positif. Namun karena pada triwulan I 2006 perekonomian
mengalami kontraksi yang cukup dalam akibat lesunya
industri pariwisata pascatragedi bom 1 Oktober 2005,
maka pertumbuhan acara komulatif masih terjadi kontraksi.
(iah)