Pascakekalahan
pada
Pilkada...
Musdalub
Mengancam
Golkar
Jembrana
Partai
Golkar yang
selama
ini dikenal
sebagai
partai yang solid ternyata
tak
mampu menahan
predikatnya
itu.
Riak-riak
di akar
rumput
mulai muncul
pascakekalahan
kadernya
pada
Pilkada Jembrana.
Hal ini
membuahkan
kekecewaan
di
kalangan kader
pimpinan
kecamatan
dan
pimpinan desa.
Kekecewaan
itu
dilontarkan para
ketua
pimpinan kecamatan
(PK).
Mereka
berkeinginan
Kketua DPD II
Partai
Golkar Jembrana Drs.
I Dewa Made Dana
Wiguna
dilengserkan.
Apakah
motif di
balik
usulan musdalub
untuk ''menumbangkan''
Dana Wiguna?
Tiga
pucuk
pimpinan PK se-Jembrana
berkumpul
di
Renon, Jumat (20/1)
lalu.
Mereka
adalah
Ketua PK Melaya
Komang
Kardiawan, Ketua PK
Negara Gede
Suaba
dan Ketua PK
Mendoyo
Gede Kutara.
Hanya
Ketua PK
Pekutatan yang
tak
hadir pada
pertemuan
tersebut.
Dalam
pertemuan
tersebut,
unek-unek pun
dikeluarkan.
Intinya,
Dana Wiguna
diminta
segera mengundurkan
diri.
Para
ketua PK
ini
mengklaim hampir 90
persen
pimpinan desa (PD)
dan
pimpinan kecamatan
(PK) se-Jembrana
meminta
segera diadakan
musyawarah
daerah
luar biasa (musdalub).
Agenda
musdalub
adalah
mengganti Dana Wiguna.
Sebelumnya,
Kardiawan
dan
kawan-kawannya telah
menemui Tim
Sembilan DPD
Partai
Golkar Bali.
Mereka
diterima
Ketua Tim
Sembilan
Dewa
Rai Budiasa.
Saat
itu
mayoritas ketua PK
menyampaikan
tuntutan agar
di
Jembrana digelar
musdalub
bagi
struktur partai yang
memiliki
masalah
di semua
tingkatan.
Gede
Suaba
menegaskan pihaknya
tak
ingin memberikan
toleransi
lebih lama
lagi
terhadap struktur
kepengurusan
Golkar
Jembrana di
bawah Dana
Wiguna
saat ini.
Mereka
hanya ingin
musdalub
dengan
mengganti Dana Wiguna
atau
bubar
sama sekali.
Ancaman
lainnya, jika
musdalub
tak
segera digelar,
mereka
siap mengerahkan
massa
untuk
menduduki DPD II Partai
Golkar
Jembrana.
Suaba
menambahkan,
kondisi
Partai Golkar
Jembrana
pascapilkada
sudah
sangat memprihatinkan.
Kondisi
ini tak
terlepas
dari
gaya
kepemimpinan Dana
Wiguna yang
dinilainya
otoriter.
Selain
itu
diindikasikan pula kualitas
kepemimpinannya
tak
mencerminkan kualitas
kader
sesungguhnya.
Tak
pelak
kondisi itu
dipandang
sebagai
salah satu
penyebab
merosotnya
suara
Partai Golkar
pada
Pilkada Jembrana
beberapa
waktu
lalu.
Terpilihnya
paket I
Nyoman Naya
Sujana-Dewa
Ayu
Putu Sri Wigunawati
sebagai
pemenang konvensi pun
menuai
kritikan.
Paket
ini
dinilai sarat
kepentingan
pribadi Dana
Wiguna.
Pasalnya,
Sri Wigunawati
adalah
anak kandung Dana
Wiguna.
Kardiawan
dan
kawan-kawan merasa
masuknya Sri
Wigunawati
sangat
dipaksakan.
Hasilnya
memang
sangat mengecewakan.
Paket
ini
hanya bisa
meraup 8.974
suara.
Jauh
dibandingkan
paket PDI
Perjuangan I
Gede
Winasa-I Putu
Artha yang
meraih 133.479
suara.
Paket
Naya
Sujana-Sri Wigunawati
hanya
unggul tipis
dari
paket I Komang
Dekritasa-Erfan Effendi yang
diusung
Forpapp.
Paket
ini
mendapat 8.272 suara.
Jika
dipersentasekan,
perolehan
suara
paket Partai
Golkar
saat pilkada
itu
hanya sekitar 5%.
Hasil
ini
dinilai sangat
jauh
merosot dibandingkan
saat
Pemilu 2004.
Ketika
itu,
partai berlambang
beringin
ini
mampu meraup 15%.
Beras
Politik
Ternyata
merosotnya
suara
partai berlambang
beringin
di bumi
makepung
ada
kaitannya dengan
masalah
beras.
Lho
kenapa
begitu?
Ternyata
setelah
ditelisik masalah
beras
ternyata inilah yang
memicu
kekecewaan kader-kader
tersebut.
Mereka
menengarai
beras 1 ton yang
harusnya
diberikan
kepada
warga miskin
malah
diberikan beberapa
pengurus
partai.
''Beras
itu
dimanfaatkan untuk
mencari
dukungan pengurus.
Padahal
yang lebih
berhak
mendapatkannya adalah
warga
miskin.
Walaupun
mereka
bukan kader.
Ini
kan
salah
satu cara
mencari
simpati warga.
Kami
punya
catatan siapa
saja yang
mendapatkan
beras
msikin tersebut,''
tandas
Suaba yang dibenarkan
Kardiawan.
Intrik
Politik
Sementara
itu, Dana
Wiguna
menanggapi biasa-biasa
saja
tuntutan para
ketua PK
itu.
Mantan
anggota DPRD
Jembrana
ini
balik mengatakan
ada
intrik politik
pribadi
dalam masalah
ini.
Dia
menegaskan target musdalub
ini
adalah dirinya
pribadi.
Teror
pun kerap
dia
terima agar bersedia
mengundurkan
diri.
Dia
juga mengaku
sudah
mengantongi
nama
aktor yang
ada di
balik
tuntutan musdalub
itu.
Untuk
menyikapi
tuntutan
tersebut, DPD II
Partai
Golkar Jembrana
mengadakan
rapat
pleno Senin (23/1)
lalu.
Dari rapat
tersebut,
terkuak
adanya tiga
hal yang
menyebabkan PK
ingin
musdalub.
Pertama,
masalah
musda yang dianggap
tidak
sah.
Kedua,
konvensi yang
juga
dianggap tidak
sah,
dan ketiga,
hasil
pilkada yang mengecewakan.
Semua
persoalan
ini pun
sudah diserahkan
ke DPD I
untuk
ditindaklanjuti.
Sekarang Dana
Wiguna
dan kroninya
tinggal
menunggu hasil
dari
Ketua DPD Golkar Bali
karena
apa yang
dia
lakukan sudah
sesuai
ketentuan dan
diketahui DPD I.
Konsumsi
Publik
Menanggapi
desakan
musdalub dari
pimpinan
kecamatan
dan
desa itu,
mantan
Kepala Desa
Yeh
Embang menegaskan,
semua
harus mengacu
pada AD/ART.
Dia
juga
mengklaim tugasnya
sebagai
ketua DPD II merupakan
amanat
partai.
Satu
hal yang
sangat
dia sayangkan
adalah
mencuatnya masalah
di
tubuh partai
berlambang
beringin
ini ke
permukaan.
Sedari
awal
pihaknya sudah
mewanti-wanti agar
masalah
ini jangan
sampai
menjadi konsumsi
publik.
Lebih
baik
ini diselesaikan
di
dalam saja.
Namun
kenyataannya,
kasus
ini malah
diekspos
di
Denpasar.
Dana Wiguna
juga
membantah dirinya
dikatakan
otoriter
dalam
memimpin Partai
Golkar
Jembrana.
Dia
mengatakan
selalu
melakukan rapat
pleno
dalam pengambilan
keputusan.
Bahkan,
dia
balik menyerang
pimpinan
kecamatan yang
mendesak agar
digelar
musdalub.
Menurutnya,
PK juga
tidak melaksanakan
tugasnya
untuk
membentuk pengurus
desa (PD).
Karena DPD I
ingin
mendapat struktur PD,
maka DPD II
akan
membentuk
tim
konsolidasi untuk
membentuk PD.
Di
sisi
lain, pengurus DPD
Partai
Golkar Bali langsung
bergerak
untuk
mengatasi permasalahan
yang terjadi
di
tubuh Golkar
Jembrana.
Semua
PK dikumpulkan
untuk
dimintai klarifikasi.
Tjok
Budi
Suryawan selaku
Ketua DPD
Partai
Golkar Bali langsung
turun
tangan menangani
kekisruhan
ini.
Aspirasi
yang disampaikan
pengurus PK
dan PD
ditampung untuk
dibahas
lagi oleh DPD I.
Bahkan,
kader-kader di
akar
rumput ini
juga
dimintai konfirmasi
apakah
mendukung atau
menolak
musdalub.
Soal
beras yang
dipermasalahkan
kader,
Budi Suryawan yang
didampingi
sejumlah
pengurus DPD Bali
mengatakan
akan
melakukan
pengecekan.
Beras
tersebut
memang
bantuan dari DPD
untuk
warga miskin.
Setiap
kabupaten
mendapat
jatah
beras untuk
diberikan
kepada 100 KK
miskin.
Data penerima
beras
harus jelas
dan
jangan sampai
ada yang
disalahgunakan.
(wah)