Nelayan UMKM Berpeluang
Peroleh Kredit Modal Kerja
Jakarta (Bali Post) -
Nelayan usaha mikro dan kecil menengah (UMKM) berpeluang
memperoleh kredit modal kerja Rp 5 -25 juta dengan
menggadaikan kapalnya. Kemudahan tersebut diperoleh
setelah kapal yang dijadikan agunan itu memperoleh
sertifikasi dari PT Sucofindo. Demikian terungkap usai
penandatangan kesepatakan bersama antara Departemen
Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan Perum Pengadaian di
Jakarta, Kamis (2/1) kemarin.
Menteri Kelautan dan Perikanan (DKP) Freddy Numberi
menyatakan, pihaknya akan memfasilitasi bantuan kredit
modal kerja bagi nelayan UMKM. Pasalnya, pemanfaatan
sumberdaya ikan masih didominasi nelayan skala kecil
yang berjumlah 3 juta. "12,5 juta jiwa penduduk
Indonesia menggantungkan mata pencahariannya pada usaha
penangkapan ikan maupun usaha pendukungnya," ujar
Freddy.
Menurut Menteri, posisi nelayan kerap kali kurang
diuntungkan dalam tataran kebijakan makro pemerintah,
khususnya di bidang permodalan. Sulitnya akses nelayan
di bidang permodalan disebabkan tidak adanya agunan yang
dimiliki. "Akibatnya produktivitas mereka sulit
berkembang," jelasnya.
Seiring dengan hal tersebut, menurut Freddy, DKP akan
meminta PT Sucofindo untuk melakukan sertifikasi bagi
nelayan atau kelompok nelayan. Langkah sertifikasi
dimaksudkan untuk mengukur kelayakan kredit bagi
perbankan terhadap debitur. Pada Mei mendatang,
diharapkan konsep ini sudah dapat dioperasionalkan.
Dirut Perum Pengadaian Deddy Kusnaedi menyatakan, pada
tahap pertama pihaknya akan menyiapkan plafon kredit Rp
25 milyar. Kredit modal kerja dapat ditujukkan bagi para
kelompok nelayan atau nelayan sebagai individu. Bunga
yang diberikan pun bersaing dengan komersial, yakni 12
persen. "Artinya setiap bulan hanya 1 persen. Coba
bandingkan dengan bunga bank Komersial dengan tingkat
hingga 25 persen. Setiap pagu per kreditnya bervariasi
dari Rp 5 juta hingga Rp 25 juta," ujarnya.
Menteri Freddy Numberi kembali menerangkan,
fasilitas bantuan modal kerja hanya diberikan kepada
kelompok nelayan dengan kapal berat 5-15 Gross Ton (GT).
Selain itu, DKP akan memberikan bantuan berupa kantor
kepada Perum Pengadaian di tempat pusat pelelangan ikan
atau pelabuhan perikanan. Untuk tahap pertama akan
dibangun di lima titik seperti Tuban, Banyuwangi,
Kendari, Ternate dan Tanjung Padang.
Husni menambahkan, apabila dalam uji coba
mendatang dinilai efektif, maka dapat diterapkan pada
daerah lainnya. Pihaknya telah mengidentifkasi 786 titik
yang dinilai potensial bagi pengembangan program
kerjasama macam ini. "Kalau ada usulan di Bali ingin
membuat program ini, akan kita kaji. Apalagi
pengembalian kredit di Bali kita nilai bagus karena
nasabahnya sangat taat," terangnya.
(kmb1)