Ekspor Tuna Bali Turun 50
Persen
Denpasar (Bali Post) -
Realisasi ekspor tuna dari Bali mengalami penurunan
sekitar 50 persen pada Januari 2006 dari bulan
sebelumnya. Penurunan ini diakibatkan banyaknya kapal
ikan yang tidak bisa melaut karena tingginya biaya
operasional pascakenaikan solar untuk industri. Demikian
dikemukakan Ketua II Asosiasi Tuna Long Line Indonesia
(ATLI) Hendrik Kosasih, Jumat (2/2) kemarin.
Diterangkan Hendrik, dengan durasi melaut yang mencapai
sekitar 3 sampai 5 bulan, imbas kenaikan solar industri
yang terjadi pada Oktober lalu baru dirasakan Januari
ini. Pada Januari lalu terjadi penurunan volume dan
nilai ekspor tuna yang cukup signifikan. ''Memang
kenaikan solar industri sudah terjadi sejak Oktober
lalu, tapi anjloknya ekspor tuna baru terlihat pada
Januari dengan angka yang cukup signifikan. Di ATLI
penurunannya mencapai sekitar 50 persen,'' katanya.
Baru terlihatnya penurunan realisasi ekspor ini,
jelasnya, disebabkan sebelumnya kapal-kapal ikan masih
beroperasi menggunakan harga solar yang lama. Ketika
kapal-kapal ikan ini pulang, banyak yang memutuskan
tidak melaut kembali karena tingginya biaya operasional
yang mesti dikeluarkan. Otomatis banyak dari kapal-kapal
yang menganggur tersebut tidak lagi menghasilkan
tangkapan yang akumulasinya baru terlihat pada Januari
lalu.
Hendrik mengatakan situasi ini tidak menguntungkan bagi
pengusaha kapal ikan. Secara langsung, kondisi ini cukup
membahayakan produksi tuna Bali. Sebab, selain Jakarta,
Bali merupakan eksportir tuna yang cukup besar. Bahkan,
tuna menduduki peringkat ketiga terbesar setelah
kerajinan dan TPT. Hampir sebagian besar tuna yang
diekspor ini dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan
Jepang.
Terkait diberlakukannya harga solar industri yang baru
sejak 1 Februari, Hendrik mengatakan situasi industri
tuna akan semakin parah. Saat ini hampir sebagian besar
kapal ikan memilih tidak berangkat melaut karena semakin
tingginya biaya operasional. Memang harga solar sempat
mengalami penurunan menjadi Rp 5.180/liter setelah
sebelumnya naik Rp 6.170/liter. Hanya kini ada kebijakan
baru dari Pertamina yang menaikkan harga solar menjadi
Rp 5.440/liter sejak 1 Februari. ''Kami sudah menerima
edaran dari Pertamina. Kami masih bingung karena
kenaikan ini akan menambah tinggi biaya operasional
kapal-kapal penangkap ikan,'' ujar Hendrik.
(kmb18)