kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Umanis, 3 Februari 2006

 Ekonomi


Ekspor Tuna Bali Turun 50 Persen

Denpasar (Bali Post) -
Realisasi ekspor tuna dari Bali mengalami penurunan sekitar 50 persen pada Januari 2006 dari bulan sebelumnya. Penurunan ini diakibatkan banyaknya kapal ikan yang tidak bisa melaut karena tingginya biaya operasional pascakenaikan solar untuk industri. Demikian dikemukakan Ketua II Asosiasi Tuna Long Line Indonesia (ATLI) Hendrik Kosasih, Jumat (2/2) kemarin.

Diterangkan Hendrik, dengan durasi melaut yang mencapai sekitar 3 sampai 5 bulan, imbas kenaikan solar industri yang terjadi pada Oktober lalu baru dirasakan Januari ini. Pada Januari lalu terjadi penurunan volume dan nilai ekspor tuna yang cukup signifikan. ''Memang kenaikan solar industri sudah terjadi sejak Oktober lalu, tapi anjloknya ekspor tuna baru terlihat pada Januari dengan angka yang cukup signifikan. Di ATLI penurunannya mencapai sekitar 50 persen,'' katanya. 

Baru terlihatnya penurunan realisasi ekspor ini, jelasnya, disebabkan sebelumnya kapal-kapal ikan masih beroperasi menggunakan harga solar yang lama. Ketika kapal-kapal ikan ini pulang, banyak yang memutuskan tidak melaut kembali karena tingginya biaya operasional yang mesti dikeluarkan. Otomatis banyak dari kapal-kapal yang menganggur tersebut tidak lagi menghasilkan tangkapan yang akumulasinya baru terlihat pada Januari lalu.

Hendrik mengatakan situasi ini tidak menguntungkan bagi pengusaha kapal ikan. Secara langsung, kondisi ini cukup membahayakan produksi tuna Bali. Sebab, selain Jakarta, Bali merupakan eksportir tuna yang cukup besar. Bahkan, tuna menduduki peringkat ketiga terbesar setelah kerajinan dan TPT. Hampir sebagian besar tuna yang diekspor ini dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan Jepang.

Terkait diberlakukannya harga solar industri yang baru sejak 1 Februari, Hendrik mengatakan situasi industri tuna akan semakin parah. Saat ini hampir sebagian besar kapal ikan memilih tidak berangkat melaut karena semakin tingginya biaya operasional. Memang harga solar sempat mengalami penurunan menjadi Rp 5.180/liter setelah sebelumnya naik Rp 6.170/liter. Hanya kini ada kebijakan baru dari Pertamina yang menaikkan harga solar menjadi Rp 5.440/liter sejak 1 Februari. ''Kami sudah menerima edaran dari Pertamina. Kami masih bingung karena kenaikan ini akan menambah tinggi biaya operasional kapal-kapal penangkap ikan,'' ujar Hendrik. (kmb18)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)