Dewan
Pendidikan
Mengadu
ke DPRD ---
Sikapi
Mutasi
Semena-mena
Tabanan
(Bali Post) -
Dewan
Pendidikan
Tabanan
rupanya tidak
setengah-setengah
memperjuangkan
pendidikan
di bumi
lumbung
beras ini.
Kamis (2/2)
kemarin,
sejumlah
pengurus
Dewan
Pendidikan menghadap
Bupati
dan DPRD untuk
menyampaikan
aspirasinya.
Adanya
nota dinas yang
dinilai
tak senonoh,
penerimaan
siswa
baru (PSB) yang melanggar
ketentuan
serta
mutasi yang sering
dilakukan
dengan
semena-mena menjadi
pembicaraan
utama
pada kedua
pertemuan
tersebut.
Aspirasi
yang dinilai
sangat
penting yang diperjuangkan
yakni agar
dilakukan fit and proper
test terhadap
calon
Kepala Dinas
Pendidikan,
ternyata
ditolak
tegas oleh
Bupati
Tabanan N. Adi
Wiryatama.
Bupati
Tabanan N.
Adi
Wiryatama menyatakan
ditolaknya
usulan fit and proper test
karena
tidak ada
undang-undang yang
mengharuskan
seorang
Kadis mengikuti
tes
kelayakan seperti
itu. ''Jika
dilaksanakan
nanti
kades juga
dites
seperti itu,
lantas
siapa yang layak
melakukan
tes?,''
ujarnya balik
bertanya.
Disinggung
mengenai
isu
santer dikeluarkannya
SK perpanjangan
Kadisdik IB
Manuaba yang
telah
memasuki masa
pensiun,
Wiryatama
menegaskan
pihaknya
telah
memerintahkan BKD agar tidak
ada
perpanjangan lagi. ''Tidak
ada
perpanjangan, harus
ada
regenerasi,'' terangnya.
Apakah
sudah disiapkan
pengganti
Kadisdik?
Terhadap
pertanyaan
ini,
Wiryatama menyatakan
pengganti
sedang
digodok oleh
Baperjakat,
pengganti
sedang
disiapkan oleh
Baperjakat
dan
mutasi sedang
menunggu
hari
baik.
Rombongan
pengurus
Dewan
Pendidikan yang dipimpin
oleh I
Wayan Madra
Suartana
menyampaikan
aspirasi yang
hampir
sama kepada DPRD.
Setelah
menghadap Bupati,
Dewan
Pendidikan diterima
oleh
Ketua Komisi D
Ketut
Suwardiana di
ruang
komisi setempat.
Ada
beberapa
hal yang
disampaikan
oleh
rombongan ini,
di
antaranya mengusulkan
agar pelaksanaan PSB
disertai
dengan SK
Bupati agar
sanksinya
jelas
ketika terjadi
pelanggaran.
Selain
itu seringnya
turun
nota dinas
tentang
pemindahan kepala
sekolah
atau guru yang dinilai
tidak
senonoh, yang berakibat
telah
menurunkan kewibawaan
pemerintah.
Juga
tentang amburadulnya
pendidikan
luar
sekolah (PLS) menjadi
topik yang
menarik.
Pada
kesempatan
itu
juga dipaparkan
sering
terjadi hambatan
kenaikan
pangkat
terutama bagi guru
PNS yang mengajar
di
sekolah swasta.
Rombongan
juga
menyampaikan berkali-kali
kasus
mutasi selalu
diwarnai
sentimen
atau like and dislike.
Terhadap
berbagai
masukan
tersebut, Suwardiana
membenarkan
hal
tersebut benar
adanya.
Ia juga
mengakui
banyak
menemukan ketimpangan
di
lapangan. Bahkan,
ia
mengaku telah
berupaya
berulang kali
membicarakan
hal
tersebut kepada
pihak
Disdik dan
instansi
terkait
tetapi belum
juga
menampakkan hasil. ''Lebih
dari
sepuluh kali saya
mengusulkan
perbaikan,
tetapi
rupanya situasi
pendidikan
semakin
memburuk,'' keluhnya.
Menurut
politisi
dari
Kediri ini,
selain yang
disampaikan
oleh
Dewan Pendidikan
masih
banyak keburukan yang
ia
temui sendiri.
Ia
mencontohkan guru membludak
di kota
sedangkan
di
pedesaan jumlah guru
langka. ''Kami
sangat
sedih, suara
kami
tidak ada
manfaatnya,''
keluhnya.
Namun,
ia berjanji
akan
memperjuangkan aspirasi
dari
Dewan Pendidikan
tersebut. ''Kami
berharap
untuk
periode ke
depan
ada kemajuan yang
signifikan
di
bidang pendidikan,''
terangnya.
(upi)