kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 26 Februari 2006 tarukan valas
 

OPINI


Ideologi Koran

"Semua koran di Bali tidak punya ideologi! Makanya saya tidak berlangganan koran terbitan Bali dan memilih koran terbitan luar Bali, yang jelas-jelas memiliki ideologi," ujar seorang penelepon dalam acara sarasehan dan dialog interaktif yang diselenggarakan sebuah stasiun radio di Denpasar, Selasa (21/2) lalu.

-----

 

RUBAG terperanjat mendengar pernyataan penelepon dalam sarasehan bertema "Pers dalam Dinamika Perkembangan Budaya dan Pariwisata" itu. Pendapat dalam era yang diwarnai demam demokrasi ini memang dianggap sah-sah saja, namun kedengaran lucu bila sasarannya kurang tepat.

"Ideologi" sebagai terminologi yang cenderung bersifat partisan, sebenarnya suatu keharusan bagi partai politik (parpol) untuk menganutnya. Sebaliknya akan seperti menggali lubang kubur sendiri bila ada media cetak maupun elektronik yang mencantumkan ideologinya secara terang-terangan atau terselubung. Sebab, media massa bukan lembaga doktrinal yang mengemban misi politik tertentu, namun lembaga ekonomi yang berkewajiban menyebarkan informasi ke masyarakat luas, yang juga jadi domain pasarnya.

Istilah ideologie dilontarkan pertama kali oleh Antoine Destutt de Tracy (1754 - 1836), saat Revolusi Prancis bergejolak. Sebagai seorang bangsawan yang bersimpati pada revolusi tahun 1789 itu, De Tracy pernah dipenjara kelompok Jacobin yang berkuasa dalam Pemerintahan Teror, pascarevolusi. Karena pengalamannya, ideologi lalu didefinisikannya sebagai ilmu tentang pikiran manusia, yang mampu menunjukkan arah yang benar menuju masa depan.

Sayang, pikiran yang baik itu didistorsi maknanya oleh Napoleon Bonaparte (1769-1821), yang sebelum berkuasa sangat menghormati De Tracy, namun setelah jadi kaisar justru memojokkannya. Preseden awal ini menyebabkan ideologi sebagai konsep abstrak tidak lagi memiliki definisi tunggal setelah dianut generasi berikutnya. Pikiran yang mengandung kepercayaan dan nilai-nilai  dalam ideologi dimanipulasi hasrat, lalu digunakan untuk merebut kekuasaan. Selanjutnya, ideologi menjadi doktrin-doktrin yang menginspirasi terjadinya gerakan massa, bahkan kudeta berdarah. Liberalisme, demokrasi, marxisme, komunisme, facisme, sosialisme, nasionalisme, nazisme dan anarkhisme adalah paham-paham yang mewarnai Pasca De Tracy sampai Perang Dingin (1945 - 1989).

Daniel Bell memandang perkembangan ideologi pada tahun 1950-an sebagai bentuk tertinggi dari frustrasi akibat aspirasi rakyat akan kebebasan serta standar hidup yang layak sebagai tujuan yang tidak kunjung diperoleh sepenuhnya. Dia lalu membandingkan antara kondisi kehidupan masyarakat Barat yang kapitalis dan masyarakat Timur terdiri dari bangsa dan negara berkembang yang baru merdeka.

Di Barat, diterapkannya ekonomi pasar bebas berbasis kapitalisme Keynesian dengan kebijakan welfare state, berhasil menghapuskan kemiskinan dan menjamin kebebasan, kemakmuran dan kesempatan bagi semua orang. Ini terjadi karena semua parpol di Barat sepakat mengutamakan kebijakan berkerangka lebih luas daripada kepentingan ideologi partai masing-masing. Konsensus itu secara otomatis menghapus nilai penting sebuah ideologi dan mereduksi politik sekadar sebagai sebuah proses untuk mencari cara terbaik untuk menerapkan kebijakan. Pandangan Bell ini dituangkannya dalam buku "The End of Ideology" pada 1960 dengan harapan bagian dunia lain akan mengikutinya.

***

 

PRAKTIK politik selama 32 tahun rezim Orde Baru di Indonesia, bagi Rubag, bisa jadi dipengaruhi buku Daniel Bell itu. Sebab, para teknobirokrat yang dipercaya menyusun kebijakan-kebijakan strategis merupakan intelektual tamatan luar negeri, yang di antaranya dikenal dengan sebutan "Empat Mafia Berkeley". Jumlah parpol diciutkan menjadi dua ditambah satu golongan yang dikenal dengan konsep "mayoritas tunggal"-nya, yang bahkan menolak disebut parpol.

Sekolah dan perguruan tinggi disteril dari pengaruh politik, sehingga mereka yang lahir saat Orde Baru mulai berkuasa hingga tamat universitas nyaris buta terhadap masalah-masalah politik, kecuali belajar secara otodidak. Dua parpol yang diperkenankan hidup sekadar untuk menunjukkan bahwa negeri ini masih mengenal demokrasi, sesungguhnya hanya berfungsi sebagai asesoris Pemilu dan "Rumah Rakyat". Jangankan melaksanakan kaderisasi, memasang papan-papan nama parpol di tingkat cabang dan ranting pun dilarang. Depolitisasi semacam ini tidak lain adalah pembunuhan ideologi secara halus, sehingga terjadi phobia politik di kalangan rakyat, terlebih-lebih "hantu komunis" sering dibangkitkan dari kubur untuk menakut-nakuti mereka yang berpolitik di luar doktrin pemerintah.

"Di negara yang terdiri dari ribuan pulau, dimana pulsa telepon sedemikian mahal, pesan-pesan elektronik lewat internet mampu menjangkau organisator-organisator kunci.  Ini adalah revolusi pertama yang menggunakan internet!" tutur W. Scott Thompson, profesor bidang politik internasional di Universitas Tufts, AS, mengomentari peristiwa demi peristiwa penyebab tumbangnya kekuasaan Soeharto 21 Mei 1998, yang dimonitornya lewat internet, termasuk serbuan para mahasiswa ke gedung DPR-MPR RI beberapa hari sebelumnya.

Penuturan Thompson itu merupakan indikasi bahwa suksesnya gerakan reformasi di Indonesia tahun 1998 bukan akibat munculnya ideologi baru dalam menentang ideologi main stream, tapi semata-mata keinginan rakyat yang dimotori para mahasiswa untuk mendobrak kekuasaan yang korup dan otoriter.  Sedangkan parpol yang ada bersikap oportunis dan baru bereaksi ketika didesak para demonstran yang "menyandera" wakil-wakil mereka yang ada di DPR-MPR RI.

Ironisnya, setelah Orde Baru tumbang, muncullah politisi-politisi instan yang selanjutnya meneriakkan slogan-slogan demokrasi sembari menuntut sistem multipartai. Maka, euforia Era Reformasi disemarakkan lahirnya ratusan parpol, meski dalam Pemilu 1999 hanya 48 parpol yang berhasil lolos sebagai kontestan. Lucunya, kebanyakan dari mereka yang terjun ke legislatif bahkan mengisi jabatan politik di eksekutif tanpa dibekali pengetahuan politik memadai. Akibatnya, etika politik jarang menjadi referensi dalam perebutan kekuasaan.

"Persoalan hukum, jangan dipolitisasi!" demikian sering terdengar ucapan traumatik terhadap politik dalam acara debat atau diskusi, sebagai cermin dari warisan sikap anti-ideologi yang diindoktrinasi selama tiga dasa warsa. Padahal, wacana politik tak bisa dipisahkan dengan wacana hukum secara total. Bila dalam hukum saja politik atau ideologi ditabukan, Rubag justru menganggap keharusan agar koran atau media massa punya ideologi adalah absurditas.  Andaikata punya, itu pasti pseudo-ideologi yang lebih cocok disebut keinginan, agar korannya dibaca sebanyak mungkin konsumen tanpa memandang ideologi yang dianutnya.

Memang ada adagium mengatakan bahwa "seseorang adalah apa yang dibacanya," namun itu tidak berlaku untuk semua orang. Sebab, kemampuan otak menyimak teks yang polisemi juga menentukan.

 * aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com