kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Sabtu Umanis, 30 Desember 2006

 Desa Pekraman


Membangun Mental Sosial Bisnis Warga

SELAIN berjuang mengembalikan roh pertanian, Desa Pekraman Kemoning juga tengah berbenah untuk membangun mental sosial bisnis dan mental spiritual warga. Mental sosial bisnis dalam artian, warga masyarakat diharapkan mampu meng-creat diri sendiri untuk menekuni bisnis namun tetap bertumpu pada nilai-nilai sosial. ''Kami sedang mengarahkan warga untuk menjalani sosial binis,'' ujar Bendesa Adat Kemoning, Wayan Mustika.

Desa Pakraman Kemoning, sejak beberapa waktu lalu telah membentuk kelompok-kelompok serati (pembuat banten-red) yang diambil sekitar 12 anggota dari masing-masing banjar adat di Desa Adat Kemoning. Kelompok serati itu nantinya diharapkan mampu membuat berbagai banten yang bisa dijual untuk warga masyarakat Kemoning yang memiliki kesibukan yang sangat padat. Karena terbukti, saat ini sudah banyak masyarakat yang memiliki kesibukan padat, untuk sekadar canang saja sudah membeli. ''Intinya, untuk langkah awal, masyarakat kami bisa berbuat untuk masyarakat setempat lain yang membutuhkan. Bahkan, suatu saat nanti bukan hal yang tak mungkin mampu membangun kepercayaan warga desa lain,'' katanya.

Sementara itu, terkait membangun mental spiritual warga, Desa Pekraman sudah membentuk paguyuban pemangku se-Desa Adat Kemoning. Ada 44 pemangku (lanang-istri) yang tergabung dalam paguyuban tersebut. Pemangku khayangan tiga, dang khayangan dan pemangku paibon. Selain itu, setiap piodalan (Purnama kapat dan Manis Galungan), desa pakraman bersimbol segi lima dengan berbagai ornamen didalamnya, seperti padi dan kapas, tiga bidang bungan teratai, lima lembar daun bunga teratai, padmasana, candi bentar yang melambangkan Desa Pakraman Kemoning yang didasari Pancasila, lima banjar adat menyatukan pikiran, tidak lepas dari filsafat Tri Hita Karana dan rwa bhineda menuju Ida Sanghyang Widhi Wasa guna mencapai kebaikan diri dan kesucian pikiran, akan menggelar pewintenan sari. Hal itu dilakukan untuk membersihkan warga sehingga bisa melaksanakan kewajibannya setiap kali digelar piodalan. terutama yang berkaitan dengan tempat-tempat suci atau upakar suci di pura.''Kalau sekarang kan masih gugon tuwon, di mana pewintenan identik dengan pemangku. Padahal warga biasa juga bisa,'' tambah Mustika.

Koordinator Serati, Ni Nengah Sanek, mengungkapkan keinginan untuk mengasah kemampuan dan keterampilan ke-serati-annya sehingga mampu berkembang dan menjadi sekaa yang dibutuhkan warga untuk kepentingan bebantenan. ''Kami sangat berharap perhatian pemerintah agar bersedia membantu dalam hal pembinaan dan pelatihan keterampilan,'' harapnya. Karena bagaimanapun, kata serati asal Banjar Atu itu, keberadaan serati sangat penting. Namun saat ini, masing-masing serati punya kemampuan yang berbeda-beda yang tak jarang menimbulkan perbedaan. ''Nah, dengan pembinaan dan pelatihan dari mereka yang benar-benar memiliki kemampuan falsafah bebantenan yang tinggi, diharapkan mampu mengurangi perbedaan pandangan antarserati itu,'' tambahnya.(bal)

 

 

CUACA


ACARA TAPE & RADIO


Radio Global FM 299,15 (LIVE)