Membangun
Mental Sosial
Bisnis
Warga
SELAIN
berjuang
mengembalikan
roh
pertanian, Desa
Pekraman
Kemoning
juga
tengah berbenah
untuk
membangun mental sosial
bisnis
dan mental spiritual warga.
Mental sosial
bisnis
dalam artian,
warga
masyarakat diharapkan
mampu
meng-creat diri
sendiri
untuk menekuni
bisnis
namun tetap
bertumpu
pada
nilai-nilai sosial.
''Kami
sedang
mengarahkan warga
untuk
menjalani sosial
binis,''
ujar
Bendesa Adat
Kemoning,
Wayan
Mustika.
Desa
Pakraman
Kemoning,
sejak
beberapa waktu
lalu
telah membentuk
kelompok-kelompok
serati (pembuat
banten-red) yang
diambil
sekitar 12 anggota
dari
masing-masing banjar
adat di
Desa
Adat Kemoning.
Kelompok
serati
itu nantinya
diharapkan
mampu
membuat berbagai
banten yang
bisa
dijual untuk
warga
masyarakat Kemoning
yang memiliki
kesibukan yang
sangat
padat.
Karena
terbukti,
saat
ini sudah
banyak
masyarakat yang memiliki
kesibukan
padat,
untuk sekadar
canang
saja sudah
membeli. ''Intinya,
untuk
langkah awal,
masyarakat
kami
bisa berbuat
untuk
masyarakat setempat
lain yang membutuhkan.
Bahkan,
suatu saat
nanti
bukan hal yang
tak
mungkin mampu
membangun
kepercayaan
warga
desa lain,'' katanya.
Sementara
itu,
terkait membangun
mental spiritual warga,
Desa
Pekraman sudah
membentuk
paguyuban
pemangku se-Desa
Adat
Kemoning.
Ada
44 pemangku (lanang-istri)
yang tergabung
dalam
paguyuban tersebut.
Pemangku
khayangan
tiga, dang
khayangan
dan
pemangku paibon.
Selain
itu, setiap
piodalan (Purnama
kapat
dan Manis
Galungan),
desa
pakraman bersimbol
segi lima
dengan
berbagai ornamen
didalamnya,
seperti
padi dan
kapas,
tiga bidang
bungan
teratai, lima lembar
daun
bunga teratai,
padmasana,
candi
bentar yang melambangkan
Desa
Pakraman Kemoning
yang didasari
Pancasila, lima
banjar
adat menyatukan
pikiran,
tidak
lepas dari
filsafat Tri
Hita
Karana dan
rwa
bhineda menuju Ida
Sanghyang
Widhi
Wasa guna
mencapai
kebaikan
diri
dan kesucian
pikiran,
akan
menggelar pewintenan
sari. Hal itu
dilakukan
untuk
membersihkan warga
sehingga
bisa
melaksanakan kewajibannya
setiap kali
digelar
piodalan.
terutama yang
berkaitan
dengan
tempat-tempat suci
atau
upakar suci
di
pura.''Kalau sekarang
kan
masih
gugon tuwon,
di mana
pewintenan
identik
dengan pemangku.
Padahal
warga
biasa juga
bisa,''
tambah Mustika.
Koordinator
Serati, Ni
Nengah
Sanek, mengungkapkan
keinginan
untuk
mengasah kemampuan
dan
keterampilan ke-serati-annya
sehingga
mampu
berkembang dan
menjadi
sekaa yang dibutuhkan
warga
untuk kepentingan
bebantenan.
''Kami
sangat
berharap perhatian
pemerintah agar
bersedia
membantu
dalam
hal pembinaan
dan
pelatihan keterampilan,''
harapnya.
Karena
bagaimanapun,
kata
serati asal
Banjar
Atu itu,
keberadaan
serati
sangat penting.
Namun
saat
ini, masing-masing
serati
punya kemampuan yang
berbeda-beda yang
tak
jarang menimbulkan
perbedaan. ''Nah,
dengan
pembinaan dan
pelatihan
dari
mereka yang benar-benar
memiliki
kemampuan
falsafah
bebantenan yang
tinggi,
diharapkan mampu
mengurangi
perbedaan
pandangan
antarserati
itu,''
tambahnya.(bal)