kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 19 Desember 2006

 Olahraga


Catatan
dari Kejurnas Tenis Meja--
Harus
Rutin Ikuti Kejuaraan 

KEJURNAS Tenis Meja 2006 digelar di GOR Merpati, Denpasar,  11-16 Desember lalu. Tuan rumah Bali hanya kecipratan satu medali perunggu dari ganda putri Luh Ria Damayanti/Wayan Sardi Astini. Meskipun sebatas perunggu, bagi Bali sudah merupakan kejutan, karena selama ini prestasi atletnya tenggelam di ajang nasional.

Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengprop PTMSI Bali Yung Mertayasa mengatakan perlunya diberikan cara bermain tenis meja yang benar kepada atlet Bali. Jumlah bibit petenis meja di Bali cukup membludak. Hal itu bisa dihitung dari jumlah meja pingpong di tiap balai banjar. Namun, sayang mereka hanya belajar sendiri tanpa sentuhan tangan pelatih. ''Akibatnya, skill dasar bermain tenis yang benar belum mereka kuasai,'' jelas pelatih Bali Agustinus Lamatokan.

Ditambah atlet Bali selama ini hanya bertarung di tingkat lokal. Praktis lawan yang diladeni juga monoton dan itu-itu saja. Padahal bermain tenis meja perlu variasi bola-bola sulit yang jarang dikenal. ''Anak-anak terkadang kelabakan menghadapi bola servis lawan yang belum dikenalnya,'' tuturnya.

Para atlet Bali perlu menambah jam terbang dengan rutin terjun pada even minimal berskala nasional. Sementara jika ingin sukses pada PON XVII/2008, lanjut Agustinus, mereka harus di-TC mulai Januari 2007.

Tengoklah keberhasilan model pembinaan di PTM Surya milik Gudang Garam Kediri yang menyumbangkan sepuluh atletnya untuk tim Jatim. Pola pembinaan berjalan berjenjang dan berkelanjutan. Para atlet direkrut mulai usia dini (9 tahun ke bawah) dan di bawah 12 tahun. Mereka yang dibina diberi uang saku, makan dan tidur di mes serta sekolahnya dibiayai. ''Jika tenaganya diperlukan, mereka bisa membela pengcabnya masing-masing,'' ucap Ketua Harian PTM Surya, Diana Wuisan.

Model pembinaan lainnya diberi nama Nusantara. Para atlet daerah lain seperti Kalteng, Kalsel, Maluku Utara, Sumsel, Sumbar, NTB, dikirim ke Kediri untuk berguru. Mereka hanya dikenakan biaya makan Rp 30.000/hari tiap pemain. ''Konsumsi Rp 30.000/hari itu apalah artinya. Ini kami lakukan demi menjaga hubungan kerja sama dengan pengprop PTMSI asal atlet,'' ujar Diana.

Grafik prestasi pemain dipantau terus, termasuk kelakuan, potensi, dan umurnya. Tiap bulan diberikan nilai, sehingga terdapat atlet yang degradasi dan promosi. ''Kalau potensi dan prestasinya mentok, kami terpaksa pulangkan,'' tegasnya.

Sukses PTM Surya menggulirkan pembinaan diakui pelatih Kaltim asal Cina, Chen Xin. ''Di Indonesia PTM Surya paling sukses membina atlet,'' ujar pria yang melatih di PKT sejak delapan tahun silam ini. Hanya, dia menyesalkan tidak adanya klub profesional, sehingga tidak ada kompetisi seperti Silatama dulu. (nel)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)