Catatan
dari
Kejurnas Tenis
Meja--
Harus
Rutin
Ikuti Kejuaraan
KEJURNAS
Tenis
Meja 2006 digelar
di GOR
Merpati, Denpasar,
11-16 Desember
lalu. Tuan
rumah Bali
hanya
kecipratan satu
medali
perunggu dari
ganda
putri Luh
Ria
Damayanti/Wayan Sardi
Astini.
Meskipun sebatas
perunggu,
bagi Bali
sudah
merupakan kejutan,
karena
selama ini
prestasi
atletnya
tenggelam
di
ajang nasional.
Bidang
Pembinaan
dan
Prestasi Pengprop
PTMSI Bali Yung Mertayasa
mengatakan
perlunya
diberikan
cara
bermain tenis
meja yang
benar
kepada atlet Bali.
Jumlah
bibit petenis
meja di
Bali cukup
membludak. Hal
itu
bisa dihitung
dari
jumlah meja
pingpong
di tiap
balai
banjar. Namun,
sayang
mereka hanya
belajar
sendiri tanpa
sentuhan
tangan
pelatih. ''Akibatnya,
skill dasar
bermain
tenis yang benar
belum
mereka kuasai,''
jelas
pelatih Bali Agustinus
Lamatokan.
Ditambah
atlet Bali
selama
ini hanya
bertarung
di
tingkat lokal.
Praktis
lawan yang diladeni
juga
monoton dan
itu-itu
saja. Padahal
bermain
tenis meja
perlu
variasi bola-bola sulit
yang jarang
dikenal. ''Anak-anak
terkadang
kelabakan
menghadapi bola
servis
lawan yang belum
dikenalnya,''
tuturnya.
Para atlet Bali
perlu
menambah jam terbang
dengan
rutin terjun
pada even minimal
berskala
nasional.
Sementara
jika
ingin sukses
pada PON XVII/2008,
lanjut
Agustinus, mereka
harus
di-TC mulai
Januari 2007.
Tengoklah
keberhasilan model
pembinaan
di PTM
Surya milik
Gudang
Garam Kediri yang
menyumbangkan
sepuluh
atletnya untuk
tim
Jatim. Pola
pembinaan
berjalan
berjenjang
dan
berkelanjutan. Para atlet
direkrut
mulai
usia dini (9
tahun
ke bawah)
dan di
bawah 12
tahun.
Mereka yang dibina
diberi
uang saku,
makan
dan tidur
di mes
serta
sekolahnya dibiayai.
''Jika
tenaganya diperlukan,
mereka
bisa membela
pengcabnya
masing-masing,''
ucap
Ketua Harian PTM
Surya, Diana
Wuisan.
Model pembinaan
lainnya
diberi nama
Nusantara. Para
atlet
daerah lain seperti
Kalteng,
Kalsel,
Maluku Utara,
Sumsel,
Sumbar, NTB, dikirim
ke
Kediri untuk
berguru.
Mereka
hanya dikenakan
biaya
makan Rp 30.000/hari
tiap
pemain. ''Konsumsi
Rp 30.000/hari
itu
apalah artinya.
Ini
kami lakukan
demi
menjaga hubungan
kerja
sama dengan
pengprop PTMSI
asal
atlet,'' ujar Diana.
Grafik
prestasi
pemain
dipantau terus,
termasuk
kelakuan,
potensi,
dan
umurnya. Tiap
bulan
diberikan nilai,
sehingga
terdapat
atlet yang
degradasi
dan
promosi. ''Kalau
potensi
dan prestasinya
mentok,
kami terpaksa
pulangkan,''
tegasnya.
Sukses
PTM Surya
menggulirkan
pembinaan
diakui
pelatih Kaltim
asal
Cina, Chen Xin. ''Di
Indonesia PTM Surya paling
sukses
membina atlet,''
ujar
pria yang melatih
di PKT
sejak delapan
tahun
silam ini.
Hanya,
dia menyesalkan
tidak
adanya klub
profesional,
sehingga
tidak
ada kompetisi
seperti
Silatama dulu.
(nel)