kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

SURAT PEMBACA


Antara Peribahasa dengan Perilaku

Seperti dimaklumi, peribahasa merupakan bagian dari bidang studi kesusasteraan Indonesia. Wujudnya, merupakan kelompok kata atau bagian kalimat ataupun kalimat pendek, yang bentuk dan susunan katanya tetap serta mengandung arti kiasan di samping arti sebenarnya. Isinya berupa nasihat, tuntunan, perumpamaan yang terkait dengan perilaku seseorang. Karena berisikan nasihat atau pun tuntunan hidup, peribahasa ini disebut pula kata-kata arif, kata-kata bijakana dan terdapat pada setiap bahasa daerah yang ada di seluruh Indonesia, yang umumnya disebut kearifan-lokal (local-genius).

Jumlah peribahasa ini (termasuk kearifan-lokal) sangat banyak dan tidak terhitung. Dari peribahasa ini tercermin pula rasa kasih sayang serta keluhuran budi para leluhur bangsa Indonesia. Sebuah contoh, "Pikir itu, pelita hati". Peribahasa ini menasihatkan kepada kita, agar kita tidak berbuat ceroboh, terburu-buru dalam berbuat sesuatu, dan hati-hati sebelum bertindak. Terlebih dahulu harus dikaji, akibat positif dan negatifnya, baik dari segi tujuan maupun caranya, baik untuk masa kini maupun untuk masa mendatang. Apabila positif (baik, benar, menguntungkan), sepatutnyalah dilaksanakan. Apabila akibatnya negatif (buruk, salah, merugikan), janganlah dilaksanakan agar kita terhindar dari penyesalahan ataupun derita yang berkepanjangan.

Coba renungkan peribahasa tersebut, betapa merdunya didengar, betapa luhurnya dihayati, betapa sayangnya untuk disadari. Begitu pun setiap-peri-bahasa lainnya. Semua peribahasa yang ada berfungsi sebagai "kendali" pada diri kita pada diri manusia yang mengarahkan kita agar selalu waspada, hati-hati, mawas diri, mulat sarira kata orang Bali. Peribahasa ini dapat diibaratkan sebagai "rem" pada kendaraan bermotor. Kiranya, tidak sulit membayangkan, apa yang akan terjadi, jika sebuah kendaraan remnya blong alias tidak berfungsi. Apa yang akan terjadi jika seseorang tak mampu mengendalikan diri.

Memperhatikan gerak-gerik di sementara kalangan masyarakat Indonesia dewasa ini, tua maupun muda, jumlahnya kiranya cukup besar yang terkesan kekeringan atau miskin akan peribahasa ini, sehingga dengan mudahnya terjerumus ke jurang perilaku yang negatif. Dengan demikian, kita akan menyadari betapa perlu serta mendesaknya peribahasa ini ditanamkan, sedalam dan sebanyaknya mungkin ke dalam hati sanubari agar kita tergugah untuk mulat sarira, mawas diri, mengendalikan diri sendiri, menuju terciptanya masyarakat Indonesia yang damai, sejahtera dan bahagia.

Untuk anak didik kita selaku generasi penerus, peribahasa ini bisa ditumbuhkembangkan liwat bidang studi yang relevan lewat mata pelajaran Kesusastraan Indonesia, disertai evaluasi khusus dan bila memungkinkan diadakan lomba cerdas-cermat khusus barang satu kali dalam satu tahun. Sedangkan bagi masyarakat generasi sekarang, diingatkan termasuk menanamkan, melalui media massa seperti radio, TV, surat kabar, dll. Imbau mereka agar sesering dan sebanyak mungkin menyiarkan, menanyakan, memuat materi peribahasa ini.

Dengan maraknya peribahasa ini di hati sanubari setiap warga Indonesia, dengan tergugahnya kita untuk selalu mulat sarira, waspada, mawas diri, dapat kita harapkan sinar kedamaian, kesejahteraan, kebahagiaan, akan mulai menyingsing.

 

Nyoman Alit
Jl. Gadung No. 77
Denpasar Timur

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com