Pebasket yang Mimpi Jadi Guru
TIDAK
bisa dipungkiri Prof. Dr. Nyoman Dantes adalah tokoh pendidikan
yang berjasa mengemban kehidupan IKIP Negeri Singaraja sejak masih
menjadi FKIP Unud, lalu menjadi STKIP dan kini dari IKIP akan
berubah status menjadi universitas. Dantes memang memiliki
cita-cita tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan
hanya di Bali tapi juga secara nasional. Cita-cita itu bukan hanya
muncul ketika ia menjadi rektor, tapi jauh sebelum ia memutuskan
untuk sekolah di SGA Denpasar.
Masa kecil Dantes adalah masa kecil yang sangat
takjub kepada guru. Apalagi, keluarganya memiliki apresiasi yang
sangat tinggi pada pendidikan. "Kakak saya guru dan saya angkat
topi pada orangtua saya yang juga punya apresiasi yang tinggi
terhadap pendidikan," ujarnya.
Mimpi menjadi guru muncul ketika ia melihat
kakaknya mengajar Dantes di rumah. Ketika itu ia sudah masuk di
SMA 1 Denpasar. Makanya, ketika baru setahun masuk SMA ia ingin
pindah ke SGA biar suatu saat nanti bisa diangkat menjadi guru.
Jalan pun terbuka, Dantes yang dikenal pintar main basket dan bola
voli ini ketemu guru olah raganya yang dikenal bernama Rampen dan
Sudarsana. "Kepada guru saya itu saya tanyakan bagaimana caranya
pindah ke SGA," kenangnya. Guru itu mendukung, bahkan merekalah
yang mengurus kepindahan Dantes ke SGA bahkan hingga dapat
beasiswa. Tamat SGA ia melanjutkan ke FKIP Unud di
Singaraja.
Waktu tamat sarjana muda, ia kembali dihadapkan
pada pilihan yang kelak menentukan kariernya. Karena mendapat
beasiswa, ia dipanggil dengan cepat untuk mengajar di Tianyar. Di
sisi lain, ia juga diangkat jadi asisten dosen di kampusnya. Takut
membuat kesalahan, Dantes akhirnya minta pertimbangan pada Suda
Sugira, kepala Dinas Pendidikan di Denpasar saat itu. Suda Sugira
menyarankan Dantes memilih jadi asisten dosen. "Siapa tahu nanti
jadi profesor," kata Dantes mengutip kalimat Suda Sugira ketika
itu.
Maka, hari-hari Dantes pun dijalani di Singaraja.
Mulai jadi dosen muda hingga guru besar dan akhirnya menapak
posisi rektor. Setelah selama dua masa jabatan, kini ia tampak
amat sibuk. Ia harus bolak-balik Jakarta-Singaraja untuk
mempersiapkan suksesi akademis di kampusnya. Bahkan untuk proses
awal pemilihan rektor periode 2005-2009, pria kelahiran Badung
yang semasa SMP dan SMA dikenal sebagai pemain basket ini ikut
terlibat, bukan hanya secara administratif, tapi juga terlibat
secara fisik dengan turut bekerja, misalnya mempersiapkan kotak
suara.
Kenapa ia tak ngotot memperpanjang masa jabatannya
dengan ikut dalam pemilihan rektor? Selain sudah dua kali
mengemban masa jabatan, Dantes mengaku harus menyerahkan estafet
kepemimpinan itu kepada yang lebih muda. "Lembaga pendidikan
memerlukan penyegaran dengan jiwa dan pikiran yang segar,"
katanya.
Apalagi untuk meningkatkan kualitas pendidikan
nasional sebagaimana yang dicita-citakannya tidak harus dengan
cara menjadi rektor. Semuanya berperan. Dan ia mengaku agak senang
karena kandidat rektor yang akan menggantikannya adalah
orang-orang yang sudah berpengalaman menjadi pembantu rektor,
seperti Sudiana dan Bawa Atmaja. "Mereka sudah mengikuti saya
selama delapan tahun. Sehingga tahu lembaga ini mau jadi apa,"
kata Dantes. (ole)