kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

POTRET


Pebasket yang Mimpi Jadi Guru

TIDAK bisa dipungkiri Prof. Dr. Nyoman Dantes adalah tokoh pendidikan yang berjasa mengemban kehidupan IKIP Negeri Singaraja sejak masih menjadi FKIP Unud, lalu menjadi STKIP dan kini dari IKIP akan berubah status menjadi universitas. Dantes memang memiliki cita-cita tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, bukan hanya di Bali tapi juga secara nasional. Cita-cita itu bukan hanya muncul ketika ia menjadi rektor, tapi jauh sebelum ia memutuskan untuk sekolah di SGA Denpasar.

Masa kecil Dantes adalah masa kecil yang sangat takjub kepada guru. Apalagi, keluarganya memiliki apresiasi yang sangat tinggi pada pendidikan. "Kakak saya guru dan saya angkat topi pada orangtua saya yang juga punya apresiasi yang tinggi terhadap pendidikan," ujarnya.

Mimpi menjadi guru muncul ketika ia melihat kakaknya mengajar Dantes di rumah. Ketika itu ia sudah masuk di SMA 1 Denpasar. Makanya, ketika baru setahun masuk SMA ia ingin pindah ke SGA biar suatu saat nanti bisa diangkat menjadi guru. Jalan pun terbuka, Dantes yang dikenal pintar main basket dan bola voli ini ketemu guru olah raganya yang dikenal bernama Rampen dan Sudarsana. "Kepada guru saya itu saya tanyakan bagaimana caranya pindah ke SGA," kenangnya. Guru itu mendukung, bahkan merekalah yang mengurus kepindahan Dantes ke SGA bahkan hingga dapat beasiswa.  Tamat SGA ia melanjutkan ke FKIP Unud di Singaraja.

Waktu tamat sarjana muda, ia kembali dihadapkan pada pilihan yang kelak menentukan kariernya. Karena mendapat beasiswa, ia dipanggil dengan cepat untuk mengajar di Tianyar. Di sisi lain, ia juga diangkat jadi asisten dosen di kampusnya. Takut membuat kesalahan, Dantes akhirnya minta pertimbangan pada Suda Sugira, kepala Dinas Pendidikan di Denpasar saat itu. Suda Sugira menyarankan Dantes memilih jadi asisten dosen. "Siapa tahu nanti jadi profesor," kata Dantes mengutip kalimat Suda Sugira ketika itu.

Maka, hari-hari Dantes pun dijalani di Singaraja. Mulai jadi dosen muda hingga guru besar dan akhirnya menapak posisi rektor. Setelah selama dua masa jabatan, kini ia tampak amat sibuk. Ia harus bolak-balik Jakarta-Singaraja untuk mempersiapkan suksesi akademis di kampusnya. Bahkan untuk proses awal pemilihan rektor periode 2005-2009, pria kelahiran Badung yang semasa SMP dan SMA dikenal sebagai pemain basket ini ikut terlibat, bukan hanya secara administratif, tapi juga terlibat secara fisik dengan turut bekerja, misalnya mempersiapkan kotak suara.

Kenapa ia tak ngotot memperpanjang masa jabatannya dengan ikut dalam pemilihan rektor? Selain sudah dua kali mengemban masa jabatan, Dantes mengaku harus menyerahkan estafet kepemimpinan itu kepada yang lebih muda. "Lembaga pendidikan memerlukan penyegaran dengan jiwa dan pikiran yang segar," katanya.

Apalagi untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional sebagaimana yang dicita-citakannya tidak harus dengan cara menjadi rektor. Semuanya berperan. Dan ia mengaku agak senang karena kandidat rektor yang akan menggantikannya adalah orang-orang yang sudah berpengalaman menjadi pembantu rektor, seperti Sudiana dan Bawa Atmaja. "Mereka sudah mengikuti saya selama delapan tahun. Sehingga tahu lembaga ini mau jadi apa," kata Dantes. (ole)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com