kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

POTRET


Prof. Dr. Nyoman Dantes

Jika Pendidikan Digratiskan, Kualitasnya Bisa Jebol

Belakangan ini kampus IKIP Negeri Singaraja -- salah satu lembaga pendidikan yang berperan mencetak guru di sekolah dasar dan menengah -- sedang melangsungkan suksesi pimpinan. Prof. Dr. Nyoman Dantes yang sudah dua kali menjalani masa jabatan sebentar lagi akan digantikan oleh kandidat guru besar yang akan membawa pikiran-pikiran segar dalam dunia pendidikan. Selama menjabat rektor, Dantes sudah menyelesaikan banyak program, namun masih banyak juga program yang belum selesai dan harus dilanjutkan oleh penggantinya. Apa saja yang sudah dilakukan Dantes untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Bali, Nusa Tenggara dan secara nasional? Inilah petikan wawancara Bali Post dengan guru besar yang murah senyum dan rendah hati itu.

-----------------------

 

AKHIR 2005 ini Anda meninggalkan posisi rektor, bagaimana perasaan Anda setelah memimpin IKIP Negeri Singaraja selama dua kali masa jabatan?

Tentu saja senang. Saya senang, selama dua kali masa jabatan saya sudah melakukan berbagai hal sesuai dengan harapan saya. Sejak awal saya sudah menyiapkan lima program pokok dalam meningkatkan mutu lembaga ini sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan secara umum. Pertama, penataan lembaga. Kedua, pengembangan dan peningkatan kualitas. Ketiga, pemberian kualitas dan kesempatan lebih besar pada generasi muda untuk mendapat pendidikan tinggi. Keempat, masalah biaya. Dan kelima, peningkatan budaya akademik.

 

Apakah semua program itu sudah tercapai?

Ya, meski tak sepenuhnya tercapai, namun perkembangannya mulai terlihat. Pertama, soal lembaga. Sejak awal kepemimpinan saya, STKIP disiapkan jadi IKIP. Itu disiapkan selama empat tahun. Setelah jadi IKIP, kini mulai lagi menjalani proses untuk menjadi universitas. Untuk persiapan menjadi universitas, terus-menerus dipersiapkan juga SDM, kurikulum, program studi, sarana dan prasarana. Semua itu penataan menyeluruh agar kualitas pendidikan di IKIP ini meningkat. Kualitas pendidikan meningkat maka output yang dihasilkan -- guru yang akan mengemban pendidikan di sekolah-sekolah -- juga bagus.

 

Setelah jadi universitas, secara kongkret apa yang akan dilakukan?

Setelah berubah jadi universitas tentu persiapan SDM akan jadi lebih mendesak. Organisasi dan tata kerja, sarana-prasarana, juga akan lebih ditingkatkan. Universitas ini akan mengelola dua program. Program pendidikan dan nonpendidikan. Intinya tetap pada program pendidikan, namun dalam penyiapan SDM yang berkualitas, maka salah satunya  ditempuh dengan program studi lanjut.

 

Maksudnya?

Sejak awal IKIP Negeri Singaraja menyiapkan tenaga pendidikan yang andal, terutama untuk Bali dan Nusa Tenggara. Nah, kini, dalam persiapan menjadi universitas, kita membuat kurikulum yang bukan kompetensi tunggal. Di sini disiapkan program pendidikan dan nonpendidikan. Ada 22 SKS untuk memilih mata kuliah kompetensi alternatif. Ini untuk mempersiapkan lulusan yang tidak langsung bisa diserap ke lembaga formal. Kalau lulusan itu belum diangkat ke jalur formal, mereka bisa masuk ke jalur nonformal. Atau kalau pun diangkat jadi guru, maka guru itu akan bisa sekaligus memperkuat pendidikan ekstrakurikuler. Kurikulumnya nanti kita tata.

 

Contohnya?

Sampai semester 6 mahasiswa diberikan program pendidikan, sehingga di semester 7 dan 8 bisa ditempuh kompetensi alternatif. Kalau sudah tamat di nonpendidikan, mahasiswa bisa kembali lagi ke program pendidikan. Misalnya pendidikan informatika. Kalau mahasiswa melanjutkan ke sarjana informatika, dia akan dapat gelar S.Kom. Kalau melanjutkan ke sarjana pendidikan, lulusannya akan dapat S.Pd.Kom. Nah, kalau kembali lagi dua semester, mahasiswa dapat dobel, jadi S.Kom, Spd.Kom. Kami rancang seperti itu.

 

Artinya tenaga pengajar juga lebih ditingkatkan, baik mutu dan jumlahnya?

Tentu saja. Sekarang, perimbangan S2 dan S3 di IKIPN Singaraja sebanyak 79,15% dari populasi yang ada. Ini jumlah yang jauh di atas standar nasional. Dari 79,15% itu, 55% ke pendidikan, 45% nonpendidikan. Jumlah SDM kami, edukatif 357 dosen. Dari jumlah itu dan S2-nya 79%. Akhir tahun ini akan menjadi 82% karena masih ada dosen yang sedang menempuh pendidikan di luar.

 

Dengan cara seperti itu, apakah kualitas pendidikan secara umum bisa ditingkatkan?

Diharapkan bisa. Optimis, pasti bisa.

 

* * *

 

SECARA umum, apa sebenarnya masalah pendidikan kita?

Saya sebenarnya ingin mengundang beberapa teman praktisi. Kita identifikasi masalah pendidikan kita secara lebih rinci. Namun saya berpendapat, masalah pendidikan kita itu ada pada calon pelamar. Anak-anak. Ini harus diperhatikan. Lalu masalah kualitas proses belajar-mengajar. Proses ini dipengaruhi juga oleh instrumental input, seperti kurikulum kualitas guru dan sarana. Masalah lainnya adalah pengaruh lingkungan, bagaimana persepsi masyarakat dan orangtua untuk mem-back up proses belajar-mengajar itu agar berlangsung optimal. Nah, semua itu akan mempengaruhi kualitas output.

 

Kualitas pelamar itu apa?

Kualitas pelamar itu kualitas anak-anak yang masuk SD, lalu melamar ke SMP dan seterusnya. Ini harus diperhatikan. Kalau kualitas SD rendah, berlanjut ke SMP juga rendah. Di sini harus ada quality control. Untuk itu, memang perlu ditingkatkan adanya kompetitif untuk mencapai prestasi. Kalau kompetitif tak terjadi, bagaimana pun instrumental itu diperbaiki, tentu tak akan menghasilkan output yang bagus. Umpama, ujian semua lulus, kompetitif akan menjadi minimal. Kalau kompetitif dioptimalkan, maka kemampuannya pun akan terasah optimal. Optimalisasi itu akan terjadi di mana-mana.

 

Apakah itu tugas IKIP sebagai lembaga pencetak guru?

Saya ingin mengklarifikasi bahwa kualitas pendidikan dan guru bukan hanya tanggung jawab IKIP. Yang lebih penting adalah bagaimana perhatian orangtua pada pendidikan. Pendidikan bukan hanya membiayai, tapi orangtua harus ikut memfasilitasi pendidikan informal di rumah. Tak cukup mencarikan guru les, tapi ikut mengontrol. Selain itu, lembaga legislatif dan eksekutif harus punya visi yang sama dan optimal untuk mengangkat SDM melalui pendidikan. Peningkatan kualitas SDM itu, tak bisa tidak, harus dilakukan dari pendidikan.

 

Apa seharusnya tugas lembaga legislatif dan eksekutif?

Ikut meningkatkan kualitas guru dengan memperhatikan kesejahteraannya. Saya berikan ilustrasi. Di negara Malaysia, seorang guru bisa bekerja dari pagi sampai jam enam sore di sekolah. Guru itu mengelola proses belajar-mengajar secara optimal. Mereka menyiapkan materi untuk besoknya, dan memeriksa apa yang diproses sebelumnya. Kenapa guru bisa begitu, karena kesejahteraan.

 

Apakah kesejahteraan menjamin meningkatkan kualitas kerja guru?

Memang tak sepenuhnya menjamin, tapi kesejahteraan guru harus ditingkatkan. Selama ini, tuntutan kepada guru tetap tinggi, dan guru tak bisa mengerjakan karena ia berpikir lain. Segala tuntutan masyarakat dan pemerintah terhadap kinerja guru itu memang dimengerti oleh guru, tapi ia tak bisa mengerjakan karena mereka belum hidup wajar. Harusnya kita berikan kehidupan yang wajar, dan kita tingkatkan pengawasannya. Bagaimana pun, di bawah pendidikan orang dewasa, guru itu komponen yang sangat strategis sifatnya. Penting. Hampir sulit untuk digantikan.

 

Apakah pendidikan gratis bisa menyelesaikan masalah-masalah pendidikan selama ini?

Begini, pendidikan gratis, kalau pemerintah mampu, bagus. Tetapi dengan anggaran pendidikan 3,8% seperti sekarang ini rasanya sulit dilakukan. Kalau pendidikan digratiskan, justru kualitasnya bisa jebol. Tapi di negara maju, pendidikan memang gratis, karena memang didanai secara optimal. Kini pertanyaannya, mampukah kita seperti itu? Kalau belum mampu, sebaiknya kita bagi tanggung jawab pendidikan dengan masyarakat, pemerintah dan orangtua. Pendidikan itu mamang mahal. Jadi, perlu dikembangkan wacana bahwa pendidikan bagi putra-putri kita memang porsinya lebih banyak sebagai tanggung jawab pemerintah, tapi masyarakat dan orangtua harus memberikan kontribusi.

 

Tapi kan banyak orangtua mengeluh tentang berbagai pungutan di sekolah?

Ya, di sini pihak sekolah harus jujur. Jangan membuat program yang tak masuk akal. Harus berani membuka kenyataan. Kalau masyarakat tahu tentang kenyataan, saya rasa orangtua akan mengerti. Misalnya di sini saya membentuk Ikopma, semacam ikatan orangtua mahasiswa. Saya bilang ke orangtua mahasiswa, "Pak, saya membutuhkan begini-begini, saya kurang begini, mohon saya dibantu." Orangtua pun mau membantunya. Beberapa sarana seperti ruang elektro, pascasarjana, IPS, unit kemahasiswaan, semuanya dibiayai Ikopma. Beliau-beliau -- orangtua mahasiswa itu -- yang membangun.

 

* * *

 

SETELAH tidak jadi rektor, apa yang akan Anda kerjakan?

Setelah tak jadi rektor, saya ingin jadi civitas yang baik. Memberi dukungan dan saran. Saya tahu persis bagaimana menjalankan hal itu. Selain itu saya juga ingin punya produk, buku yang bisa disuplai ke masyarakat. Mengabdi kepada institusi, kepada bangsa, kepada nilai akademis, tak hanya menjadi satu komponen, yakni rektor. Kita bisa mengabdi melalui keilmuan, penelitian dan lain-lain.

 

Obsesi Anda yang belum tercapai selama jadi rektor?

Saya memang punya obsesi, tapi tak harus diwujudkan saat menjadi rektor saja. Sebelum pensiun, saya harus bisa mengeluarkan buku. Bahkan sebelum 2010, institusi ini (IKIP) harus sudah berstatus BLU (badan layanan umum) atau BHP (badan hukum pendidikan) -- yakni semiswasta dan seminegeri. Dengan begitu, lembaga ini bisa lebih leluasa mengkreasi program untuk kebutuhan masyarakat.

 

* pewawancara:
  adnyana ole

--------

BIODATA

Nama                :  Prof. Dr. Nyoman Dantes
TTL                   :  Badung, 10 Oktober 1949
Jabatan             :  Guru Besar IKIP Negeri Singaraja
Alamat              :  Jalan Gelatik No. 6 Singaraja

Pendidikan:

SR di Badung tamat 1962
SMP di Denpasar tamat 1965
SPG di Denpasar tamat 1969
S1 di FKIP Unud Singaraja, tamat 1975
S2 di IKIP Jakarta, tamat 1985
S3 di IKIP Jakarta tamat 1989

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com