Prof. Dr. Nyoman Dantes
Jika Pendidikan Digratiskan, Kualitasnya Bisa Jebol
Belakangan ini kampus IKIP Negeri Singaraja --
salah satu lembaga pendidikan yang berperan mencetak guru di
sekolah dasar dan menengah -- sedang melangsungkan suksesi
pimpinan. Prof. Dr. Nyoman Dantes yang sudah dua kali menjalani
masa
jabatan
sebentar lagi akan digantikan oleh kandidat guru besar yang akan
membawa pikiran-pikiran segar dalam dunia pendidikan. Selama
menjabat rektor, Dantes sudah menyelesaikan banyak program, namun
masih banyak juga program yang belum selesai dan harus dilanjutkan
oleh penggantinya. Apa saja yang sudah dilakukan Dantes untuk
meningkatkan kualitas pendidikan di Bali, Nusa Tenggara dan secara
nasional? Inilah petikan wawancara Bali Post dengan guru besar
yang murah senyum dan rendah hati itu.
-----------------------
AKHIR
2005 ini Anda meninggalkan posisi rektor, bagaimana perasaan Anda
setelah memimpin IKIP Negeri Singaraja selama dua kali masa
jabatan?
Tentu saja senang. Saya senang, selama dua kali
masa jabatan saya sudah melakukan berbagai hal sesuai dengan
harapan saya. Sejak awal saya sudah menyiapkan lima program pokok
dalam meningkatkan mutu lembaga ini sekaligus meningkatkan
kualitas pendidikan secara umum. Pertama, penataan lembaga. Kedua,
pengembangan dan peningkatan kualitas. Ketiga, pemberian kualitas
dan kesempatan lebih besar pada generasi muda untuk mendapat
pendidikan tinggi. Keempat, masalah biaya. Dan kelima, peningkatan
budaya akademik.
Apakah semua program itu sudah tercapai?
Ya, meski tak sepenuhnya tercapai, namun
perkembangannya mulai terlihat. Pertama, soal lembaga. Sejak awal
kepemimpinan saya, STKIP disiapkan jadi IKIP. Itu disiapkan selama
empat tahun. Setelah jadi IKIP, kini mulai lagi menjalani proses
untuk menjadi universitas. Untuk persiapan menjadi universitas,
terus-menerus dipersiapkan juga SDM, kurikulum, program studi,
sarana dan prasarana. Semua itu penataan menyeluruh agar kualitas
pendidikan di IKIP ini meningkat. Kualitas pendidikan meningkat
maka output yang dihasilkan -- guru yang akan mengemban pendidikan
di sekolah-sekolah -- juga bagus.
Setelah jadi universitas, secara kongkret apa yang
akan dilakukan?
Setelah berubah jadi universitas tentu persiapan
SDM akan jadi lebih mendesak. Organisasi dan tata kerja,
sarana-prasarana, juga akan lebih ditingkatkan. Universitas ini
akan mengelola dua program. Program pendidikan dan nonpendidikan.
Intinya tetap pada program pendidikan, namun dalam penyiapan SDM
yang berkualitas, maka salah satunya ditempuh dengan program
studi lanjut.
Maksudnya?
Sejak awal IKIP Negeri Singaraja menyiapkan tenaga
pendidikan yang andal, terutama untuk Bali dan Nusa Tenggara. Nah,
kini, dalam persiapan menjadi universitas, kita membuat kurikulum
yang bukan kompetensi tunggal. Di sini disiapkan program
pendidikan dan nonpendidikan. Ada 22 SKS untuk memilih mata kuliah
kompetensi alternatif. Ini untuk mempersiapkan lulusan yang tidak
langsung bisa diserap ke lembaga formal. Kalau lulusan itu belum
diangkat ke jalur formal, mereka bisa masuk ke jalur nonformal.
Atau kalau pun diangkat jadi guru, maka guru itu akan bisa
sekaligus memperkuat pendidikan ekstrakurikuler. Kurikulumnya
nanti kita tata.
Contohnya?
Sampai semester 6 mahasiswa diberikan program
pendidikan, sehingga di semester 7 dan 8 bisa ditempuh kompetensi
alternatif. Kalau sudah tamat di nonpendidikan, mahasiswa bisa
kembali lagi ke program pendidikan. Misalnya pendidikan
informatika. Kalau mahasiswa melanjutkan ke sarjana informatika,
dia akan dapat gelar S.Kom. Kalau melanjutkan ke sarjana
pendidikan, lulusannya akan dapat S.Pd.Kom. Nah, kalau kembali
lagi dua semester, mahasiswa dapat dobel, jadi S.Kom, Spd.Kom.
Kami rancang seperti itu.
Artinya tenaga pengajar juga lebih ditingkatkan,
baik mutu dan jumlahnya?
Tentu saja. Sekarang, perimbangan S2 dan S3 di
IKIPN Singaraja sebanyak 79,15% dari populasi yang ada. Ini jumlah
yang jauh di atas standar nasional. Dari 79,15% itu, 55% ke
pendidikan, 45% nonpendidikan. Jumlah SDM kami, edukatif 357
dosen. Dari jumlah itu dan S2-nya 79%. Akhir tahun ini akan
menjadi 82% karena masih ada dosen yang sedang menempuh pendidikan
di luar.
Dengan cara seperti itu, apakah kualitas pendidikan
secara umum bisa ditingkatkan?
Diharapkan bisa. Optimis, pasti bisa.
* * *
SECARA umum, apa sebenarnya masalah pendidikan
kita?
Saya sebenarnya ingin mengundang beberapa teman
praktisi. Kita identifikasi masalah pendidikan kita secara lebih
rinci. Namun saya berpendapat, masalah pendidikan kita itu ada
pada calon pelamar. Anak-anak. Ini harus diperhatikan. Lalu
masalah kualitas proses belajar-mengajar. Proses ini dipengaruhi
juga oleh instrumental input, seperti kurikulum kualitas guru dan
sarana. Masalah lainnya adalah pengaruh lingkungan, bagaimana
persepsi masyarakat dan orangtua untuk mem-back up proses
belajar-mengajar itu agar berlangsung optimal. Nah, semua itu akan
mempengaruhi kualitas output.
Kualitas pelamar itu apa?
Kualitas pelamar itu kualitas anak-anak yang masuk
SD, lalu melamar ke SMP dan seterusnya. Ini harus diperhatikan.
Kalau kualitas SD rendah, berlanjut ke SMP juga rendah. Di sini
harus ada quality control. Untuk itu, memang perlu ditingkatkan
adanya kompetitif untuk mencapai prestasi. Kalau kompetitif tak
terjadi, bagaimana pun instrumental itu diperbaiki, tentu tak akan
menghasilkan output yang bagus. Umpama, ujian semua lulus,
kompetitif akan menjadi minimal. Kalau kompetitif dioptimalkan,
maka kemampuannya pun akan terasah optimal. Optimalisasi itu akan
terjadi di mana-mana.
Apakah itu tugas IKIP sebagai lembaga pencetak
guru?
Saya ingin mengklarifikasi bahwa kualitas
pendidikan dan guru bukan hanya tanggung jawab IKIP. Yang lebih
penting adalah bagaimana perhatian orangtua pada pendidikan.
Pendidikan bukan hanya membiayai, tapi orangtua harus ikut
memfasilitasi pendidikan informal di rumah. Tak cukup mencarikan
guru les, tapi ikut mengontrol. Selain itu, lembaga legislatif dan
eksekutif harus punya visi yang sama dan optimal untuk mengangkat
SDM melalui pendidikan. Peningkatan kualitas SDM itu, tak bisa
tidak, harus dilakukan dari pendidikan.
Apa seharusnya tugas lembaga legislatif dan
eksekutif?
Ikut meningkatkan kualitas guru dengan
memperhatikan kesejahteraannya. Saya berikan ilustrasi. Di negara
Malaysia, seorang guru bisa bekerja dari pagi sampai jam enam sore
di sekolah. Guru itu mengelola proses belajar-mengajar secara
optimal. Mereka menyiapkan materi untuk besoknya, dan memeriksa
apa yang diproses sebelumnya. Kenapa guru bisa begitu, karena
kesejahteraan.
Apakah kesejahteraan menjamin meningkatkan kualitas
kerja guru?
Memang tak sepenuhnya menjamin, tapi kesejahteraan
guru harus ditingkatkan. Selama ini, tuntutan kepada guru tetap
tinggi, dan guru tak bisa mengerjakan karena ia berpikir lain.
Segala tuntutan masyarakat dan pemerintah terhadap kinerja guru
itu memang dimengerti oleh guru, tapi ia tak bisa mengerjakan
karena mereka belum hidup wajar. Harusnya kita berikan kehidupan
yang wajar, dan kita tingkatkan pengawasannya. Bagaimana pun, di
bawah pendidikan orang dewasa, guru itu komponen yang sangat
strategis sifatnya. Penting. Hampir sulit untuk digantikan.
Apakah pendidikan gratis bisa menyelesaikan
masalah-masalah pendidikan selama ini?
Begini, pendidikan gratis, kalau pemerintah mampu,
bagus. Tetapi dengan anggaran pendidikan 3,8% seperti sekarang ini
rasanya sulit dilakukan. Kalau pendidikan digratiskan, justru
kualitasnya bisa jebol. Tapi di negara maju, pendidikan memang
gratis, karena memang didanai secara optimal. Kini pertanyaannya,
mampukah kita seperti itu? Kalau belum mampu, sebaiknya kita bagi
tanggung jawab pendidikan dengan masyarakat, pemerintah dan
orangtua. Pendidikan itu mamang mahal. Jadi, perlu dikembangkan
wacana bahwa pendidikan bagi putra-putri kita memang porsinya
lebih banyak sebagai tanggung jawab pemerintah, tapi masyarakat
dan orangtua harus memberikan kontribusi.
Tapi kan banyak orangtua mengeluh tentang berbagai
pungutan di sekolah?
Ya, di sini pihak sekolah harus jujur. Jangan
membuat program yang tak masuk akal. Harus berani membuka
kenyataan. Kalau masyarakat tahu tentang kenyataan, saya rasa
orangtua akan mengerti. Misalnya di sini saya membentuk Ikopma,
semacam ikatan orangtua mahasiswa. Saya bilang ke orangtua
mahasiswa, "Pak, saya membutuhkan begini-begini, saya kurang
begini, mohon saya dibantu." Orangtua pun mau membantunya.
Beberapa sarana seperti ruang elektro, pascasarjana, IPS, unit
kemahasiswaan, semuanya dibiayai Ikopma. Beliau-beliau -- orangtua
mahasiswa itu -- yang membangun.
* * *
SETELAH
tidak jadi rektor, apa yang akan Anda kerjakan?
Setelah tak jadi rektor, saya ingin jadi civitas
yang baik. Memberi dukungan dan saran. Saya tahu persis bagaimana
menjalankan hal itu. Selain itu saya juga ingin punya produk, buku
yang bisa disuplai ke masyarakat. Mengabdi kepada institusi,
kepada bangsa, kepada nilai akademis, tak hanya menjadi satu
komponen, yakni rektor. Kita bisa mengabdi melalui keilmuan,
penelitian dan lain-lain.
Obsesi Anda yang belum tercapai selama jadi rektor?
Saya memang punya obsesi, tapi tak harus diwujudkan
saat menjadi rektor saja. Sebelum pensiun, saya harus bisa
mengeluarkan buku. Bahkan sebelum 2010, institusi ini (IKIP) harus
sudah berstatus BLU (badan layanan umum) atau BHP (badan hukum
pendidikan) -- yakni semiswasta dan seminegeri. Dengan begitu,
lembaga ini bisa lebih leluasa mengkreasi program untuk kebutuhan
masyarakat.
*
pewawancara:
adnyana ole
--------
BIODATA
Nama
: Prof. Dr. Nyoman Dantes
TTL
: Badung, 10 Oktober 1949
Jabatan
: Guru Besar IKIP Negeri Singaraja
Alamat
: Jalan Gelatik No. 6 Singaraja
Pendidikan:
SR di Badung tamat 1962
SMP di Denpasar tamat 1965
SPG di Denpasar tamat 1969
S1 di FKIP Unud Singaraja, tamat 1975
S2 di IKIP Jakarta, tamat 1985
S3 di IKIP Jakarta tamat 1989