kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)   Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

OPINI


''Economic Hit Man''

We're a small, exclusive club. We're paid - well paid - to cheat countries around the globe out of billions of dollars.  A large part of your job is to encourage world leaders to become part of a vast network that promotes U.S. commercial interests. In the end, those leaders become ensnared in a web of debt that ensures their loyalty.

(Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins, 2005)

------------------

 

RUBAG manggut-manggut membaca bagian dari buku yang diterimanya sebagai oleh-oleh dari temannya, Nyoman Putra yang datang dari London, Inggris, 13 Agustus lalu. Paragraf  tersebut menarik karena John Perkins, penulis buku tersebut, mengaku mengawali debutnya sebagai "Preman Ekonomi" atau Economic Hit Man (EHM) di Indonesia.

Setelah mengikuti kegiatan Peace Corp Amerika Serikat selama tiga tahun sejak 1968 di kawasan Amazon, Ekuador, sebagai ajang latihan calon anggota NSA, maka untuk mengawali tugasnya, pria kelahiran 1945 itu dikirim ke Jakarta pada 1971. Untuk penyamarannya, dia diangkat sebagai Kepala Bagian Ekonomi dan Perencana Regional sebuah perusahaan konsultan internasional, Chas.T.Main, Inc. (MAIN).

"Kita adalah klub kecil tapi eksklusif! Kita digaji, dibayar mahal, untuk menipu negara-negara di dunia dalam jumlah milyaran dolar. Tugas kalian yang terpenting adalah membujuk para pemimpin negara-negara tersebut untuk menjadi bagian dari jaringan besar guna mendukung kepentingan bisnis Amerika Serikat (AS). Akhirnya, para pemimpin tersebut akan terjerat timbunan utang yang mengikat kesetiaan mereka," demikian indoktrinasi yang diterima Perkins dan para calon anggota EHM saat rekrutmen, yang diakhiri wanti-wanti bahwa sekali mereka memutuskan bergabung menjadi anggota, untuk keluar sangat sulit.

Meski hanya berbekalkan ijazah bachelor atau sarjana muda dari Boston University College of Business Administration, Perkins ternyata dinilai lebih sukses menunaikan tugasnya dibanding beberapa rekannya yang bertitel doktor dan PhD. Setelah berhasil menjerat Indonesia dalam timbunan utang, dia dikirim kembali ke Ekuador, Guatemala, Panama dan Saudi Arabia.

Sebagai eksekutif MAIN, tugasnya hanya melobi dan membujuk para pemimpin negara tempatnya bertugas untuk menerima pinjaman dari Bank Dunia, IMF dan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Makin banyak mereka mau meminjam, makin baik. Pinjaman itu harus digunakan untuk membangun proyek-proyek infrastruktur seperti pusat pembangkit tenaga listrik (power plan), jalan, dam, jembatan, bandara, pelabuhan dan pengerjaannya harus diserahkan pada kontraktor-kontraktor AS, seperti Halliburton, Bechtel, Arthur D.Little, Brown & Root dan Stone & Webster.

"Tugas saya selesai, saat bayaran pada MAIN sebagai konsultan, juga pada kontraktor seperti Halliburton atau Bechtel diselesaikan, tentunya dengan uang yang mereka pinjam dari lembaga keuangan internasional. Selanjutnya kewajiban negara-negara yang sarat dengan utang tersebutlah membayar pinjamannya pada lembaga kreditor internasional yang di antaranya sulit terbayar sehingga nyaris bangkrut tertimbun utang. Ini membuat mereka terikat terus dan harus tunduk pada kehendak para kreditor," tulis Perkins, yang membayangkan dirinya tidak ubahnya seperti tokoh agen rahasia dalam film James Bond.

***

 

TERJADINYA terorisme di beberapa belahan dunia, menurut Perkins, tidak terlepas dari keserakahan kaum korporatokrasi yang ingin menguasai dunia.

Korporatokrasi terdiri dari para korporasi transnasional, lembaga-lembaga non-negara seperti IMF-World Bank dan WTO serta negara-negara kapitalis, yang menggunakan para EHM sebagai perintis jalan menuju "Kekaisaran Ekonomi" mereka.  Bila bujuk rayu tidak berhasil, tulis Perkins, peran EHM akan diganti Central Intelligence Agency (CIA) yang siap melakukan tindakan kasar. Terbunuhnya Presiden Ekuador Jaime Roldos yang anti pada perusahaan-perusahaan minyak AS yang beroperasi di negara itu, juga kematian Presiden Panama, Omar Torrijos karena menentang keinginan AS untuk menguasai Terusan Panama dan membangun pangkalan militer di sana, ditengarai Perkins, direkayasa CIA.

Karena mengalami depresi mental dan menyesal atas perbuatannya yang terjebak keinginan untuk menjadi kaya dan berkuasa sebagai "Preman Ekonomi" yang membuat banyak bangsa dan negara di dunia melarat, Perkins keluar dari MAIN pada 1980. Meski sempat mendirikan perusahaan Independent Power Systems Inc yang bergerak di bidang perlistrikan pada 1983-1989, namun rasa berdosa melihat kemelaratan bangsa-bangsa akibat ulahnya sebagai EHM, dia selalu terobsesi untuk menulis buku "pengakuan".

Tragedi WTC New York, 11 September 2001, lebih mendorong tekadnya menyelesaikan "Confession of an Economic Hit Man" meski berbagai suapan atau sebaliknya ancaman diterimanya agar dia tidak meneruskan niatnya. Ternyata buku itu mendapat tanggapan antusias dari seluruh penjuru dunia sehingga menjadi buku terlaris versi New York Times dan dikomentari beberapa tokoh dunia yang prihatin atas ulah para korporatokrasi, yang mencengkeram dunia seperti para kaisar di Zaman Romawi menindas negara-negara taklukannya.

Sebagai mantan "orang dalam" yang mengetahui seluk beluk tipuan dan sekaligus melaksanakan segala perintah mereka yang menggajinya, Perkins secara telanjang membeberkan peran para petinggi pemerintah AS dalam korporatokrasi. George Shultz, Caspar Weinberger, Richard Helms, Richard Cheney, juga George W Bush dikatakannya ikut terlibat dalam  kegiatan Bechtel dan Halliburton berkolaborasi dengan MAIN untuk menjerat negara-negara di dunia dalam timbunan utang.  Tidak ketinggalan peran Robert Mc Namara, mantan sekretaris pertahanan AS pada pemerintahan Kennedy, menggiring Bank Dunia sebagai agen utama "Kekaisaran Global".

Sayang, mundurnya Perkins tidak menghentikan kegiatan EHM, karena Perkins-Perkins yang lain jumlahnya banyak dan semuanya mengemban tugas "E Pluribus Unum", menggiring dunia di bawah satu atap.

***

 

TIDAK berlebihan bila Wakapolda Bali, Brigjen. Pol. Teguh Soedarsono yang bertindak sebagai moderator dalam pertemuan untuk mengkaji aspek sosial dan budaya proyek PLTPB Bedugul, di Gedung Wiswa Saba Kantor Gubernur Bali, baru-baru ini, mengingatkan para peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat untuk tidak melontarkan pendapat setuju atau menolak proyek tersebut.

Sebab, pertemuan yang diselenggarakan Bapedalda Bali itu, menurut Teguh, tidak berpengaruh atas batal atau berlanjutnya proyek akibat penolakan atau persetujuan masyarakat. Di samping proyek itu merupakan program nasional, kata Teguh, ada "kekuatan besar" yang tidak memungkinkan masyarakat Bali untuk menolaknya.

Rubag yang sempat membaca buku Perkins hanya bisa bertanya dalam hati, apakah "kekuatan besar" tersebut berkaitan dengan EHM? Bila jawabannya "ya", sungguh malang nasib masyarakat yang berkumpul dan melontarkan berbagai pendapat tentang konsep agama Hindu berkaitan dengan proyek geothermal Bedugul tersebut -- khususnya konsep bhuwana agung yang mempercayai gunung sebagai lingga atau purusa dan danau serta lautan sebagai yoni atau pradana. Purusa-pradana atau maskulin-feminin merupakan dua kekuatan hakiki alam yang menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat Bali.

Lantas, apakah kepercayaan Hindu yang diyakini sebagian besar orang Bali itu mau didengar para EHM beserta para kompradornya? Ataukah karena terdorong oleh hasrat libidinal untuk menguasai kekayaan duniawi secepatnya, justru melakukan "sodomi" atas purusa yang dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali? Bila itu terjadi, maka orang Bali hanya bisa melafal doa, "ayu tinindak, ayu tinemu, ala tinindak, ala tinemu!", seperti menyikapi Tragedi Bom Legian tiga tahun silam.

* aridus

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com