''Economic Hit Man''
We're a small, exclusive club. We're paid - well paid - to cheat
countries around the globe out of billions of dollars. A
large part of your job is to encourage world leaders to become
part of a vast network that promotes U.S. commercial interests. In
the end, those leaders become ensnared in a web of debt that
ensures their loyalty.
(Confessions of an Economic Hit Man, John Perkins, 2005)
------------------
RUBAG manggut-manggut membaca bagian dari buku yang
diterimanya sebagai oleh-oleh dari temannya, Nyoman Putra yang
datang dari
London, Inggris, 13 Agustus lalu. Paragraf tersebut menarik
karena John Perkins, penulis buku tersebut, mengaku mengawali
debutnya sebagai "Preman Ekonomi" atau Economic Hit Man (EHM) di
Indonesia.
Setelah mengikuti kegiatan Peace Corp Amerika Serikat selama tiga
tahun sejak 1968 di kawasan Amazon, Ekuador, sebagai ajang latihan
calon anggota NSA, maka untuk mengawali tugasnya, pria kelahiran
1945 itu dikirim ke Jakarta pada 1971. Untuk penyamarannya, dia
diangkat sebagai Kepala Bagian Ekonomi dan Perencana Regional
sebuah perusahaan konsultan internasional, Chas.T.Main, Inc. (MAIN).
"Kita adalah klub kecil tapi eksklusif! Kita digaji, dibayar
mahal, untuk menipu negara-negara di dunia dalam jumlah milyaran
dolar. Tugas kalian yang terpenting adalah membujuk para pemimpin
negara-negara tersebut untuk menjadi bagian dari jaringan besar
guna mendukung kepentingan bisnis Amerika Serikat (AS). Akhirnya,
para pemimpin tersebut akan terjerat timbunan utang yang mengikat
kesetiaan mereka," demikian indoktrinasi yang diterima Perkins dan
para calon anggota EHM saat rekrutmen, yang diakhiri wanti-wanti
bahwa sekali mereka memutuskan bergabung menjadi anggota, untuk
keluar sangat sulit.
Meski hanya berbekalkan ijazah bachelor atau sarjana muda dari
Boston University College of Business Administration, Perkins
ternyata dinilai lebih sukses menunaikan tugasnya dibanding
beberapa rekannya yang bertitel doktor dan PhD. Setelah berhasil
menjerat Indonesia dalam timbunan utang, dia dikirim kembali ke
Ekuador, Guatemala, Panama dan Saudi Arabia.
Sebagai eksekutif MAIN, tugasnya hanya melobi dan membujuk para
pemimpin negara tempatnya bertugas untuk menerima pinjaman dari
Bank Dunia, IMF dan lembaga-lembaga keuangan lainnya. Makin banyak
mereka mau meminjam, makin baik. Pinjaman itu harus digunakan
untuk membangun proyek-proyek infrastruktur seperti pusat
pembangkit tenaga listrik (power plan), jalan, dam, jembatan,
bandara, pelabuhan dan pengerjaannya harus diserahkan pada
kontraktor-kontraktor AS, seperti Halliburton, Bechtel, Arthur
D.Little, Brown & Root dan Stone & Webster.
"Tugas saya selesai, saat bayaran pada MAIN sebagai konsultan,
juga pada kontraktor seperti Halliburton atau Bechtel
diselesaikan, tentunya dengan uang yang mereka pinjam dari lembaga
keuangan internasional. Selanjutnya kewajiban negara-negara yang
sarat dengan utang tersebutlah membayar pinjamannya pada lembaga
kreditor internasional yang di antaranya sulit terbayar sehingga
nyaris bangkrut tertimbun utang. Ini membuat mereka terikat terus
dan harus tunduk pada kehendak para kreditor," tulis Perkins, yang
membayangkan dirinya tidak ubahnya seperti tokoh agen rahasia
dalam film James Bond.
***
TERJADINYA terorisme di beberapa belahan dunia,
menurut Perkins, tidak terlepas dari keserakahan kaum
korporatokrasi yang ingin menguasai dunia.
Korporatokrasi terdiri dari para korporasi transnasional,
lembaga-lembaga non-negara seperti IMF-World Bank dan WTO serta
negara-negara kapitalis, yang menggunakan para EHM sebagai
perintis jalan menuju "Kekaisaran Ekonomi" mereka. Bila
bujuk rayu tidak berhasil, tulis Perkins, peran EHM akan diganti
Central Intelligence Agency (CIA) yang siap melakukan tindakan
kasar. Terbunuhnya Presiden Ekuador Jaime Roldos yang anti pada
perusahaan-perusahaan minyak AS yang beroperasi di negara itu,
juga kematian Presiden Panama, Omar Torrijos karena menentang
keinginan AS untuk menguasai Terusan Panama dan membangun
pangkalan militer di sana, ditengarai Perkins, direkayasa CIA.
Karena mengalami depresi mental dan menyesal atas perbuatannya
yang terjebak keinginan untuk menjadi kaya dan berkuasa sebagai
"Preman Ekonomi" yang membuat banyak bangsa dan negara di dunia
melarat, Perkins keluar dari MAIN pada 1980. Meski sempat
mendirikan perusahaan Independent Power Systems Inc yang bergerak
di bidang perlistrikan pada 1983-1989, namun rasa berdosa melihat
kemelaratan bangsa-bangsa akibat ulahnya sebagai EHM, dia selalu
terobsesi untuk menulis buku "pengakuan".
Tragedi WTC New York, 11 September 2001, lebih mendorong tekadnya
menyelesaikan "Confession of an Economic Hit Man" meski berbagai
suapan atau sebaliknya ancaman diterimanya agar dia tidak
meneruskan niatnya. Ternyata buku itu mendapat tanggapan antusias
dari seluruh penjuru dunia sehingga menjadi buku terlaris versi
New York Times dan dikomentari beberapa tokoh dunia yang prihatin
atas ulah para korporatokrasi, yang mencengkeram dunia seperti
para kaisar di Zaman Romawi menindas negara-negara taklukannya.
Sebagai mantan "orang dalam" yang mengetahui seluk beluk tipuan
dan sekaligus melaksanakan segala perintah mereka yang
menggajinya, Perkins secara telanjang membeberkan peran para
petinggi pemerintah AS dalam korporatokrasi. George Shultz, Caspar
Weinberger, Richard Helms, Richard Cheney, juga George W Bush
dikatakannya ikut terlibat dalam kegiatan Bechtel dan
Halliburton berkolaborasi dengan MAIN untuk menjerat negara-negara
di dunia dalam timbunan utang. Tidak ketinggalan peran
Robert Mc Namara, mantan sekretaris pertahanan AS pada
pemerintahan Kennedy, menggiring Bank Dunia sebagai agen utama
"Kekaisaran Global".
Sayang, mundurnya Perkins tidak menghentikan kegiatan EHM, karena
Perkins-Perkins yang lain jumlahnya banyak dan semuanya mengemban
tugas "E Pluribus Unum", menggiring dunia di bawah satu atap.
***
TIDAK berlebihan bila Wakapolda Bali,
Brigjen. Pol. Teguh Soedarsono yang bertindak sebagai moderator
dalam pertemuan untuk mengkaji aspek sosial dan budaya proyek
PLTPB Bedugul, di Gedung Wiswa Saba Kantor Gubernur Bali,
baru-baru ini, mengingatkan para peserta yang terdiri dari
berbagai elemen masyarakat untuk tidak melontarkan pendapat setuju
atau menolak proyek tersebut.
Sebab, pertemuan yang diselenggarakan Bapedalda Bali itu, menurut
Teguh, tidak berpengaruh atas batal atau berlanjutnya proyek
akibat penolakan atau persetujuan masyarakat. Di samping proyek
itu merupakan program nasional, kata Teguh, ada "kekuatan besar"
yang tidak memungkinkan masyarakat Bali untuk menolaknya.
Rubag yang sempat membaca buku Perkins hanya bisa bertanya dalam
hati, apakah "kekuatan besar" tersebut berkaitan dengan EHM? Bila
jawabannya "ya", sungguh malang nasib masyarakat yang berkumpul
dan melontarkan berbagai pendapat tentang konsep agama Hindu
berkaitan dengan proyek geothermal Bedugul tersebut -- khususnya
konsep bhuwana agung yang mempercayai gunung sebagai lingga atau
purusa dan danau serta lautan sebagai yoni atau pradana.
Purusa-pradana atau maskulin-feminin merupakan dua kekuatan hakiki
alam yang menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat Bali.
Lantas, apakah kepercayaan Hindu yang diyakini sebagian besar
orang Bali itu mau didengar para EHM beserta para kompradornya?
Ataukah karena terdorong oleh hasrat libidinal untuk menguasai
kekayaan duniawi secepatnya, justru melakukan "sodomi" atas purusa
yang dianggap sakral oleh umat Hindu di Bali? Bila itu terjadi,
maka orang Bali hanya bisa melafal doa, "ayu tinindak, ayu tinemu,
ala tinindak, ala tinemu!", seperti menyikapi Tragedi Bom Legian
tiga tahun silam.
* aridus