kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

BERITA


Dolar Diperkirakan Bertahan Rp 10.000

Jakarta (Bali Post) -
Nilai
tukar rupiah diperkirakan akan tetap bertengger di 10.000 per dolar AS dalam jangka waktu lama. Jika pengelola moneter dan fiskal bisa mengelola ekonomi lebih baik, rupiah baru akan menguat di level 9.500/9.800 per dolar AS.

Mengenai kekhawatiran adanya rupiah yang melemah hingga 12.000/13.000 per dolar AS, ekonom UI Faisal Basri di Jakarta, Sabtu (3/9) kemarin berpendapat tidak ada alasan rupiah bisa sampai ke level tersebut. "Kalau sebulan ke depan mungkin masih di tingkat 10 ribuan," kata Faisal.

Dengan jujur Faisal mengakui fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya dalam kondisi sangat baik. Misalnya, inflasi secara year on year sudah mencapai 8,33 persen, meski angka itu lebih rendah dibandingkan sebelum krisis. Cadangan devisa, walaupun turun 5 milyar dolar AS ke level 32 milyar dolar AS, dalam pandangan Faisal masih lebih tinggi dibandingkan masa krisis yang hanya 17 milyar dolar AS. Di sisi ekspor masih memperlihatkan peningkatan menjadi 88 milyar dolar AS pada tahun ini.

Mengenai stok kebutuhan pokok masyarakat, sejauh ini masih baik. Jadi, tegas Faisal, jika pemerintah bisa mengelola fungsi treasury dari Departemen Keuangan yang diperkuat, maka cashflow tidak missmatch. Pasalnya, missmatch itu menimbulkan kesenjangan yang pada akhirnya memicu spekulasi.

Seiring dengan nilai tukar rupiah yang sulit di bawah 10.000, ekonom pasar modal Dandossi Matram berpandangan kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan berlangsung hingga perdagangan pekan depan. Bahkan, indeks Jakarta ini diperkirakan bisa turun di bawah level 900. "Turunnya masih bisa drastis di bawah angka 900. Cuma masalahnya kapan jatuhnya," kata dia.

Dandosi mengatakan IHSG untuk pertama kalinya pada tahun ini kembali di bawah level 1.000, yakni pada perdagangan Senin, 29 Agustus lalu, di mana IHSG sempat melemah 30,555 poin pada level 1.018,319. Pelemahan IHSG dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus level 10.000 per dolar AS dan harga minyak dunia yang mencapai level 70 dolar AS per barel. Tetapi, IHSG sempat pulih pada Rabu (31/8) lalu dengan mencatat kenaikan hingga 10,270 poin di level 1.050, 090. Sayangnya, IHSG akhirnya ambruk lagi karena pelaku pasar kecewa dengan paket kebijakan yang dikeluarkan oleh Presiden SBY. Sinyal kekecewaan ini tidak saja terlihat dari angka IHSG. Nilai rupiah pun sempat melemah hingga ke 10.800, meski akhirnya ditutup stagnan di level 10.225 per dolar AS.

Dandossi mengatakan situasi instabilitas yang sekarang dialami perekonomian Indonesia sebagai pemicu pelemahan rupiah dan IHSG. Dia melihat, turunnya indeks dalam beberapa waktu ke depan disebabkan kebijakan BI untuk terus menaikkan tingkat suku bunganya dalam rangka membendung pelemahan rupiah. Pada keputusannya, BI menetapkan BI Rate menjadi 9,5 persen. selain itu, suku bunga penjaminan juga di tingkat 50 bps plus BI Rate atau sekitar 10 persen. Sementara itu, bunga valas juga naik 4,25 persen sebagai penyeimbang bunga Fed yang terus naik.

Dandosi melihat suku bunga juga diprediksi akan terus meningkat seiring trend pelemahan rupiah. Sehingga, IHSG ke depan diperkirakan akan terus turun. Sebab katanya, tingkat suku bunga berpengaruh negatif secara langsung kepada IHSG. (kmb2)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com