Dolar Diperkirakan
Bertahan Rp 10.000
Jakarta
(Bali Post) -
Nilai
tukar rupiah
diperkirakan akan
tetap bertengger
di 10.000 per
dolar AS dalam
jangka waktu
lama. Jika
pengelola moneter
dan fiskal
bisa mengelola
ekonomi lebih
baik, rupiah
baru akan
menguat di
level 9.500/9.800 per dolar AS.
Mengenai
kekhawatiran
adanya rupiah yang
melemah hingga
12.000/13.000 per dolar AS,
ekonom UI Faisal
Basri di Jakarta,
Sabtu (3/9)
kemarin berpendapat
tidak ada
alasan rupiah
bisa sampai
ke level tersebut.
"Kalau sebulan
ke depan
mungkin masih
di tingkat
10 ribuan," kata
Faisal.
Dengan
jujur Faisal
mengakui fundamental ekonomi
Indonesia sebenarnya
dalam kondisi
sangat baik.
Misalnya, inflasi
secara year on year
sudah mencapai
8,33 persen,
meski angka
itu lebih
rendah
dibandingkan sebelum
krisis. Cadangan
devisa, walaupun
turun 5 milyar
dolar AS ke
level 32 milyar
dolar AS, dalam
pandangan Faisal
masih lebih
tinggi
dibandingkan masa
krisis yang hanya
17 milyar dolar
AS. Di sisi
ekspor masih
memperlihatkan
peningkatan menjadi 88
milyar dolar
AS pada tahun
ini.
Mengenai
stok kebutuhan
pokok masyarakat,
sejauh ini
masih baik.
Jadi, tegas
Faisal, jika
pemerintah bisa
mengelola fungsi
treasury dari
Departemen Keuangan yang
diperkuat, maka
cashflow tidak
missmatch.
Pasalnya, missmatch
itu menimbulkan
kesenjangan yang
pada akhirnya
memicu spekulasi.
Seiring
dengan nilai
tukar rupiah
yang sulit di
bawah 10.000,
ekonom pasar modal
Dandossi Matram
berpandangan
kemerosotan Indeks
Harga Saham
Gabungan (IHSG)
diprediksi masih
akan berlangsung
hingga
perdagangan pekan
depan. Bahkan,
indeks Jakarta
ini diperkirakan
bisa turun
di bawah
level 900. "Turunnya
masih bisa
drastis di
bawah angka
900. Cuma
masalahnya kapan
jatuhnya," kata
dia.
Dandosi
mengatakan IHSG
untuk pertama
kalinya pada
tahun ini
kembali di
bawah level 1.000,
yakni pada
perdagangan Senin,
29 Agustus lalu,
di mana
IHSG sempat
melemah 30,555 poin
pada level 1.018,319.
Pelemahan IHSG
dipicu oleh
melemahnya nilai
tukar rupiah
yang menembus level 10.000 per
dolar AS dan
harga minyak
dunia yang
mencapai level 70 dolar AS per
barel. Tetapi,
IHSG sempat pulih
pada Rabu
(31/8) lalu
dengan mencatat
kenaikan hingga
10,270 poin di
level 1.050, 090. Sayangnya, IHSG
akhirnya ambruk
lagi karena
pelaku pasar
kecewa dengan
paket kebijakan
yang dikeluarkan
oleh Presiden SBY.
Sinyal kekecewaan
ini tidak
saja terlihat
dari angka
IHSG. Nilai
rupiah pun sempat
melemah hingga
ke 10.800, meski
akhirnya ditutup
stagnan di
level 10.225 per dolar AS.
Dandossi
mengatakan
situasi instabilitas yang
sekarang dialami
perekonomian Indonesia
sebagai pemicu
pelemahan rupiah
dan IHSG. Dia
melihat, turunnya
indeks dalam
beberapa waktu
ke depan
disebabkan
kebijakan BI untuk
terus menaikkan
tingkat suku
bunganya dalam
rangka membendung
pelemahan rupiah.
Pada keputusannya,
BI menetapkan BI Rate
menjadi 9,5
persen. selain
itu, suku
bunga penjaminan
juga di
tingkat 50 bps plus BI Rate
atau sekitar
10 persen.
Sementara itu,
bunga valas
juga naik
4,25 persen
sebagai penyeimbang
bunga Fed yang
terus naik.
Dandosi
melihat suku
bunga juga
diprediksi akan
terus meningkat
seiring trend
pelemahan rupiah.
Sehingga, IHSG ke
depan
diperkirakan akan
terus turun.
Sebab katanya,
tingkat suku
bunga berpengaruh
negatif secara
langsung kepada
IHSG. (kmb2)