kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

KELUARGA


Pengkhianat-pengkhianat

Kera dan Kura-kura (2)

Dongeng "Kera dan Kura-kura" itu sangat disenangi oleh anak-anak. Zaman dulu sering diceritakan oleh orangtua sebagai dongeng bekal tidur. Apalagi diselingi dengan nyanyian-nyanyian yang lucu dan mengejek.

-----------------

 

BAYANGKAN bagaimana imajinasi anak-anak menggambarkan persahabatan antara dua hewan yang berbeda bentuk dan sifatnya. Kura-kura yang pandai berenang menggendong kera di punggungnya. Dengan susah payah, ia berhasil menyeberangkan sahabatnya, si Kera. Di pihak lain, si Kera yang pandai memanjat, menggunakan kemahirannya untuk mendapatkan pisang yang sedang ranum. Dua kemahiran yang berbeda itu, saling bekerjasama, sehingga diharapkan menjadi persahabatan yang kompak dan saling menguntungkan.

Apa lacur, persahabatan itu buyar gara-gara si Kera. Karena suatu kesempatan yang sangat menguntungkan, kera itu lupa atau pura-pura lupa dengan perjanjian yang disepakati sebelumnya. Pikir-pikir, perjanjian itu tercetus pada situasi tertentu dan pada saat adanya persamaan kepentingan. Situasinya adalah musim kemarau panjang yang menyulitkan mendapatkan makanan dan air. Dua hewan yang bersahabat itu kelaparan dan kehausan.

Untuk mengatasi penderitaan itu, muncul kepentingan yang sama, yang hanya dapat dicapai apabila dua kekuatan yang berbeda itu dipersatukan menjadi sebuah kerjasama. Kerjasama itulah yang melahirkan perjanjian meliputi berbagai cara untuk mencapai tujuan dan bagi hasil yang adil.

Siapakah yang melanggar perjanjian itu? Ya, si Kera! Si Kera itulah yang disebut pengkhianat. Ia lupa atau pura-pura lupa akan perjanjian yang disepakati sebelumnya. Sikap lupa itu terjadi karena mendapatkan kesempatan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Itulah klimaks sebuah persahabatan yang berujung permusuhan. Pengkhianat itu memandang sahabatnya sekaligus sebagai lawan yang harus dikorbankan.

Dongeng itu memang menyajikan peristiwa pengkhianatan, bukan persahabatan. Perubahan dari sikap bersahabat ke sikap berkhianat adalah proses batin. Dongeng yang sederhana itu sangat jelas menawarkan proses perubahan itu. Proses itu adalah (1) pengenalan dua jenis hewan yang berbeda bentuk dan sifat tetapi hidup bersahabat, (2) perasaan senasib sependeritaan karena sulitnya memperoleh makanan, (3) melaksanakan bentuk kerjasama yang menguntungkan, (4) perubahan pikiran salah satu pelaku karena kesempatan yang memberi keuntungan, dan (5) hukuman bagi pengkhianat.

Menyajikan suatu proses perubahan pikiran atau pandangan dalam bentuk dongeng atau cerita pada umumnya, adalah suatu metode yang sangat efektif. Di samping penyimak mendapat kesempatan menikmati dan menghayati suasana dan pemikiran yang mengandung konflik, tetapi juga mendapatkan apresiasi untuk belajar menghayati sebuah karya sastra.

Tetapi jangan lupa, penyajian cerita itu hendaknya juga mengandung nilai pendidikan budaya, yang memperkuat hati sanubari anak, sehingga berkembang suatu keyakinan untuk selalu memilih pikiran dan perbuatan yang benar. Oleh karena itu, cerita disajikan dalam bentuk proses mengambil keputusan, yakni memperkenalkan, mempertentangkan, mempertimbangkan dan memberikan hukuman bagi pelaku pengkhianatan.

 

* made taro

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com