Pengkhianat-pengkhianat
Kera dan Kura-kura (2)
Dongeng "Kera dan Kura-kura" itu sangat disenangi
oleh anak-anak. Zaman dulu sering diceritakan oleh orangtua
sebagai dongeng bekal tidur. Apalagi diselingi dengan
nyanyian-nyanyian yang lucu dan mengejek.
-----------------
BAYANGKAN
bagaimana imajinasi anak-anak menggambarkan persahabatan antara
dua hewan yang berbeda bentuk dan sifatnya. Kura-kura yang pandai
berenang menggendong kera di punggungnya. Dengan susah payah, ia
berhasil menyeberangkan sahabatnya, si Kera. Di pihak lain, si
Kera yang pandai memanjat, menggunakan kemahirannya untuk
mendapatkan pisang yang sedang ranum. Dua kemahiran yang berbeda
itu, saling bekerjasama, sehingga diharapkan menjadi persahabatan
yang kompak dan saling menguntungkan.
Apa lacur, persahabatan itu buyar gara-gara si
Kera. Karena suatu kesempatan yang sangat menguntungkan, kera itu
lupa atau pura-pura lupa dengan perjanjian yang disepakati
sebelumnya. Pikir-pikir, perjanjian itu tercetus pada situasi
tertentu dan pada saat adanya persamaan kepentingan. Situasinya
adalah musim kemarau panjang yang menyulitkan mendapatkan makanan
dan air. Dua hewan yang bersahabat itu kelaparan dan kehausan.
Untuk mengatasi penderitaan itu, muncul kepentingan
yang sama, yang hanya dapat dicapai apabila dua kekuatan yang
berbeda itu dipersatukan menjadi sebuah kerjasama. Kerjasama
itulah yang melahirkan perjanjian meliputi berbagai cara untuk
mencapai tujuan dan bagi hasil yang adil.
Siapakah yang melanggar perjanjian itu? Ya, si
Kera! Si Kera itulah yang disebut pengkhianat. Ia lupa atau
pura-pura lupa akan perjanjian yang disepakati sebelumnya. Sikap
lupa itu terjadi karena mendapatkan kesempatan untuk memperoleh
keuntungan sebesar-besarnya. Itulah klimaks sebuah persahabatan
yang berujung permusuhan. Pengkhianat itu memandang sahabatnya
sekaligus sebagai lawan yang harus dikorbankan.
Dongeng itu memang menyajikan peristiwa
pengkhianatan, bukan persahabatan. Perubahan dari sikap bersahabat
ke sikap berkhianat adalah proses batin. Dongeng yang sederhana
itu sangat jelas menawarkan proses perubahan itu. Proses itu
adalah (1) pengenalan dua jenis hewan yang berbeda bentuk dan
sifat tetapi hidup bersahabat, (2) perasaan senasib sependeritaan
karena sulitnya memperoleh makanan, (3) melaksanakan bentuk
kerjasama yang menguntungkan, (4) perubahan pikiran salah satu
pelaku karena kesempatan yang memberi keuntungan, dan (5) hukuman
bagi pengkhianat.
Menyajikan suatu proses perubahan pikiran atau
pandangan dalam bentuk dongeng atau cerita pada umumnya, adalah
suatu metode yang sangat efektif. Di samping penyimak mendapat
kesempatan menikmati dan menghayati suasana dan pemikiran yang
mengandung konflik, tetapi juga mendapatkan apresiasi untuk
belajar menghayati sebuah karya sastra.
Tetapi jangan lupa, penyajian cerita itu hendaknya
juga mengandung nilai pendidikan budaya, yang memperkuat hati
sanubari anak, sehingga berkembang suatu keyakinan untuk selalu
memilih pikiran dan perbuatan yang benar. Oleh karena itu, cerita
disajikan dalam bentuk proses mengambil keputusan, yakni
memperkenalkan, mempertentangkan, mempertimbangkan dan memberikan
hukuman bagi pelaku pengkhianatan.
* made taro