kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

KELUARGA


Bercerai, Awal Kebebasan?

Cerai. Inilah kata yang barangkali kini menjadi berita biasa dan akrab terdengar. Lebih-lebih bagi mereka yang begitu getol menonton acara yang menyorot tingkah polah para selebriti Indonesia. Perceraian di kalangan orang ternama di jagat hiburan itupun makin sering dibahas di layar televisi.

---------------------

 

DUH, semudah itukah pasangan yang telah berkomitmen selalu bersama dalam suka dan duka itu mengambil jalan pintas, bercerai? Inikah awal sebuah kebebasan yang dicari? Lantas, bagaimana pasangan yang telah menikah menyikapi hal ini? Tentu, segala keputusan yang diambil mesti dipertimbangkan dengan matang.

Ini pengalaman nyata Wei Ling, wanita Singapura berusia 30-an yang memutuskan untuk bercerai. Alasan mengalami kekerasan dalam keluarga menjadi kisah yang Ling sampaikan secara gamblang pada majalah wanita Her World. Bila dicermati, alasan yang disampaikan Ling cukuplah jelas. Tak seperti alasan klise yang belakangan sering terdengar dari beberapa pasangan suami istri (pasutri) di ambang perceraian. Ya, adanya perbedaan visi dan misi dalam keluarga selalu disebut sebagai penyebab utama. Katakanlah memang terjadi perbedaan cara pandang dan sikap hidup yang begitu tajam dalam keluarga.

Namun, apakah itu akan dapat dengan mudah dicarikan jalan "pembebasan" melalui perceraian? Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang telah hadir dalam keluarga, mereka sungguh akan menjadi korban utama dari lakon yang sedang dimainkan orangtuanya. Umpamakan pula bila orangtua akhirnya berpisah, apakah kebebasan yang diinginkan itu akan benar-benar dimiliki pihak pasutri yang telah bercerai? Bermacam pertanyaan dapat muncul seputar perceraian dalam keluarga ini, karena nantinya masing-masing pihak akan menyandang status baru, janda atau duda. Lebih-lebih di pihak wanita, sungguhkah kebebasan akan mengantarkannya menuju kebahagiaan yang baru?

 

Timbulnya Masalah

Kembali pada Wei Ling yang lalu membagi ceritanya setelah bercerai dari suaminya. Satu demi satu kisah dengan beberapa pria terjadi, yang tentu saja ia temukan dalam kehidupan setelah perceraian. Apakah semua kisah menyenangkan karena kini ia telah menjadi seorang wanita "bebas"? Ternyata tidak. Banyak yang membuatnya jengkel, geli dan tak habis pikir karena begitu banyak hal tak masuk akal dialami.

Beberapa dari hal baru tersebut, sebelumnya tak pernah singgah dalam ruang pikirnya. Mulai dari janji makan malam dengan mantan boss-nya yang berujung pada niat kencan semalam, pertemuan kembali dengan beberapa kawan lama semasa sekolah yang mencoba melakukan pendekatan hingga "proposal" yang ia dapatkan dari beberapa relasi dalam pekerjaan. Syukur saja semua hal itu dapat ia selesaikan dengan baik. Ling menganggap masalah unik yang ia temui kini merupakan risiko dari pilihannya -- bercerai dan mulai hidup sendiri lagi.

Rupanya masalah belum cukup sampai di sana. Seorang teman wanita mencoba menjadi mak comblang dengan mengenalkan Ling pada pria high level, seorang dokter kaya yang rupanya sedang mencari istri. Dari segi fisik, penampilan dokter yang tampak dewasa itu sungguh tak mengecewakan. Ia tampan dan sangat sopan dalam berbicara. Belum lagi dengan koleksi mobil mewah yang dibawanya saat menjemput Ling untuk makan malam bersama. Semuanya memang tampak sempurna.

Banyak dokter lain yang datang membawa pasangannya masing-masing. Mereka tampak serasi karena dokter yang gagah dan para wanita pendampingnya sangatlah cantik. Lebih-lebih lagi mereka dibalut busana yang sangat indah dan mahal. Sayang, semua wanita pasangan para dotker malam itu adalah para istri kedua. Hah? Ling pun kaget dan ternganga. Tentu saja ia memutuskan untuk bercerai bukan dengan alasan ingin menjadi istri kedua!

Bermacam masalah bermunculan satu demi satu. Ling harus juga mengurus putri semata wayangnya sendiri. Bila tak punya penghasilan yang cukup, tentu saja akan membuatnya pusing. Untuk yang satu ini, Ling cukup beruntung karena ia punya pendapatan yang lumayan. Namun, masih ada saja yang mencoba bersimpati padanya dengan alasan kasihan. Seorang pria "hidung belang" mencoba berkomitmen lagi dengannya. Sebuah apartemen mahal dan janji uang bulanan masuk dalam upaya pendekatan itu. Tetapi mudah ditebak, untuk semua yang ia dapatkan itu Ling harus mau melakukan apa saja yang diinginkan pria itu.

Dalam keadaan seperti itu, Ling berpikir panjang. Ia harus memperhatikan putri kecilnya dari bermacam sudut pandang. Tak mungkin rasanya memberikan status yang tak jelas bagi hubungan semacam itu. Orang-orang akan menertawakan anaknya nanti bila ia mau menerima "tawaran" yang sebetulnya cukup menggiurkan tersebut. Ling tak harus susah payah bekerja karena ada yang menjamin kehidupannya setiap bulan. "Tidak," itulah jawaban Ling setelah mendalami lagi karakter si pria yang hanya menginginkan Ling tetapi tak mengindahkan keberadaan putrinya itu.

 

Bukan Kebebasan

Alasan mengapa bercerai rupanya mendapat perhatian juga dari orang-orang yang ditemui dalam kehidupan setelah perceraian terjadi. Ling mengalami hal itu. Orang-orang memperkirakan bahwa Ling sangat segera perlu pendamping karena sebelumnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Beberapa pria yang mencoba mendekati menunjukkan hal itu. Bagi Ling sendiri, tentu saja hal itu tidaklah benar karena kini ia mencoba menata kembali kehidupannya. Sesekali rasa tak nyaman membuatnya cukup terganggu, di samping beberapa pandangan yang karena perubahan statusnya, membuat orang-orang bersikap lain. Namun semua itu dilakukan Ling dengan berpikiran positif.

Ia sangat tak setuju bila ada yang mengatakan bahwa seseorang yang mengalami perceraian akan melewati suatu masa keputusasaan. Ling menganggap semua masalah yang muncul harus dihadapi karena ia percaya pasti selalu ada solusi. Hingga akhirnya harapan dalam kehidupannya menjadi nyata. Ia lalu menikah dengan seseorang yang dianggapnya paling tepat. Seorang bernama Steve yang sebenarnya telah ia kenal jauh sebelum perkawinannya terdahulu. Pria dewasa yang sangat menyayangi putri Ling. Karena itulah, Ling merasa pilihannya kali ini tidaklah salah.

Akhirnya, kebahagiaan yang sesungguhnya datang dalam kehidupan Ling. Ia merasa sangat bersyukur. Bila ada beberapa wanita yang mengalami perceraian, Ling selalu mengatakan untuk mempelajari terlebih dahulu karakter pria yang mencoba mengadakan pendekatan dengan berbagai macam alasan dan keadaannya. Masa yang dialami setelah perceraian bukan merupakan kebebasan yang memberikan peluang seseorang untuk melakukan apa saja yang tak pernah dialaminya semasa perkawinan terdahulu. Bermacam masalah dan "godaan" pasti akan ada yang tentu saja menuntut penyelesaian dengan tingkat kesabaran lebih tinggi. Tuntutan mandiri itu pasti akan ada, lebih-lebih bagi para wanita yang kebetulan mendapat hak asuh anak.

 

* sri jayantini

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com