Bercerai, Awal Kebebasan?
Cerai. Inilah kata yang barangkali kini menjadi
berita biasa dan akrab terdengar. Lebih-lebih bagi mereka yang
begitu getol menonton acara yang menyorot tingkah polah para
selebriti Indonesia. Perceraian di kalangan orang ternama di jagat
hiburan itupun makin sering dibahas di layar televisi.
---------------------
DUH,
semudah itukah pasangan yang telah berkomitmen selalu bersama
dalam suka dan duka itu mengambil jalan pintas, bercerai? Inikah
awal sebuah kebebasan yang dicari? Lantas, bagaimana pasangan yang
telah menikah menyikapi hal ini? Tentu, segala keputusan yang
diambil mesti dipertimbangkan dengan matang.
Ini pengalaman nyata Wei Ling, wanita Singapura
berusia 30-an yang memutuskan untuk bercerai. Alasan mengalami
kekerasan dalam keluarga menjadi kisah yang Ling sampaikan secara
gamblang pada majalah wanita Her World. Bila dicermati, alasan
yang disampaikan Ling cukuplah jelas. Tak seperti alasan klise
yang belakangan sering terdengar dari beberapa pasangan suami
istri (pasutri) di ambang perceraian. Ya, adanya perbedaan visi
dan misi dalam keluarga selalu disebut sebagai penyebab utama.
Katakanlah memang terjadi perbedaan cara pandang dan sikap hidup
yang begitu tajam dalam keluarga.
Namun, apakah itu akan dapat dengan mudah dicarikan
jalan "pembebasan" melalui perceraian? Lalu, bagaimana dengan
anak-anak yang telah hadir dalam keluarga, mereka sungguh akan
menjadi korban utama dari lakon yang sedang dimainkan orangtuanya.
Umpamakan pula bila orangtua akhirnya berpisah, apakah kebebasan
yang diinginkan itu akan benar-benar dimiliki pihak pasutri yang
telah bercerai? Bermacam pertanyaan dapat muncul seputar
perceraian dalam keluarga ini, karena nantinya masing-masing pihak
akan menyandang status baru, janda atau duda. Lebih-lebih di pihak
wanita, sungguhkah kebebasan akan mengantarkannya menuju
kebahagiaan yang baru?
Timbulnya
Masalah
Kembali pada Wei Ling yang lalu membagi ceritanya
setelah bercerai dari suaminya. Satu demi satu kisah dengan
beberapa pria terjadi, yang tentu saja ia temukan dalam kehidupan
setelah perceraian. Apakah semua kisah menyenangkan karena kini ia
telah menjadi seorang wanita "bebas"? Ternyata tidak. Banyak yang
membuatnya jengkel, geli dan tak habis pikir karena begitu banyak
hal tak masuk akal dialami.
Beberapa dari hal baru tersebut, sebelumnya tak
pernah singgah dalam ruang pikirnya. Mulai dari janji makan malam
dengan mantan boss-nya yang berujung pada niat kencan semalam,
pertemuan kembali dengan beberapa kawan lama semasa sekolah yang
mencoba melakukan pendekatan hingga "proposal" yang ia dapatkan
dari beberapa relasi dalam pekerjaan. Syukur saja semua hal itu
dapat ia selesaikan dengan baik. Ling menganggap masalah unik yang
ia temui kini merupakan risiko dari pilihannya -- bercerai dan
mulai hidup sendiri lagi.
Rupanya masalah belum cukup sampai di sana. Seorang
teman wanita mencoba menjadi mak comblang dengan mengenalkan Ling
pada pria high level, seorang dokter kaya yang rupanya sedang
mencari istri. Dari segi fisik, penampilan dokter yang tampak
dewasa itu sungguh tak mengecewakan. Ia tampan dan sangat sopan
dalam berbicara. Belum lagi dengan koleksi mobil mewah yang
dibawanya saat menjemput Ling untuk makan malam bersama. Semuanya
memang tampak sempurna.
Banyak dokter lain yang datang membawa pasangannya
masing-masing. Mereka tampak serasi karena dokter yang gagah dan
para wanita pendampingnya sangatlah cantik. Lebih-lebih lagi
mereka dibalut busana yang sangat indah dan mahal. Sayang, semua
wanita pasangan para dotker malam itu adalah para istri kedua.
Hah? Ling pun kaget dan ternganga. Tentu saja ia memutuskan untuk
bercerai bukan dengan alasan ingin menjadi istri kedua!
Bermacam masalah bermunculan satu demi satu. Ling
harus juga mengurus putri semata wayangnya sendiri. Bila tak punya
penghasilan yang cukup, tentu saja akan membuatnya pusing. Untuk
yang satu ini, Ling cukup beruntung karena ia punya pendapatan
yang lumayan. Namun, masih ada saja yang mencoba bersimpati
padanya dengan alasan kasihan. Seorang pria "hidung belang"
mencoba berkomitmen lagi dengannya. Sebuah apartemen mahal dan
janji uang bulanan masuk dalam upaya pendekatan itu. Tetapi mudah
ditebak, untuk semua yang ia dapatkan itu Ling harus mau melakukan
apa saja yang diinginkan pria itu.
Dalam keadaan seperti itu, Ling berpikir panjang.
Ia harus memperhatikan putri kecilnya dari bermacam sudut pandang.
Tak mungkin rasanya memberikan status yang tak jelas bagi hubungan
semacam itu. Orang-orang akan menertawakan anaknya nanti bila ia
mau menerima "tawaran" yang sebetulnya cukup menggiurkan tersebut.
Ling tak harus susah payah bekerja karena ada yang menjamin
kehidupannya setiap bulan. "Tidak," itulah jawaban Ling setelah
mendalami lagi karakter si pria yang hanya menginginkan Ling
tetapi tak mengindahkan keberadaan putrinya itu.
Bukan
Kebebasan
Alasan mengapa bercerai rupanya mendapat perhatian
juga dari orang-orang yang ditemui dalam kehidupan setelah
perceraian terjadi. Ling mengalami hal itu. Orang-orang
memperkirakan bahwa Ling sangat segera perlu pendamping karena
sebelumnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Beberapa pria
yang mencoba mendekati menunjukkan hal itu. Bagi Ling sendiri,
tentu saja hal itu tidaklah benar karena kini ia mencoba menata
kembali kehidupannya. Sesekali rasa tak nyaman membuatnya cukup
terganggu, di samping beberapa pandangan yang karena perubahan
statusnya, membuat orang-orang bersikap lain. Namun semua itu
dilakukan Ling dengan berpikiran positif.
Ia sangat tak setuju bila ada yang mengatakan bahwa
seseorang yang mengalami perceraian akan melewati suatu masa
keputusasaan. Ling menganggap semua masalah yang muncul harus
dihadapi karena ia percaya pasti selalu ada solusi. Hingga
akhirnya harapan dalam kehidupannya menjadi nyata. Ia lalu menikah
dengan seseorang yang dianggapnya paling tepat. Seorang bernama
Steve yang sebenarnya telah ia kenal jauh sebelum perkawinannya
terdahulu. Pria dewasa yang sangat menyayangi putri Ling. Karena
itulah, Ling merasa pilihannya kali ini tidaklah salah.
Akhirnya, kebahagiaan yang sesungguhnya datang
dalam kehidupan Ling. Ia merasa sangat bersyukur. Bila ada
beberapa wanita yang mengalami perceraian, Ling selalu mengatakan
untuk mempelajari terlebih dahulu karakter pria yang mencoba
mengadakan pendekatan dengan berbagai macam alasan dan keadaannya.
Masa yang dialami setelah perceraian bukan merupakan kebebasan
yang memberikan peluang seseorang untuk melakukan apa saja yang
tak pernah dialaminya semasa perkawinan terdahulu. Bermacam
masalah dan "godaan" pasti akan ada yang tentu saja menuntut
penyelesaian dengan tingkat kesabaran lebih tinggi. Tuntutan
mandiri itu pasti akan ada, lebih-lebih bagi para wanita yang
kebetulan mendapat hak asuh anak.
* sri
jayantini