Sebelum Ambil Langkah Bercerai,
Pahami Dulu Faktor Pencetusnya
Seorang wanita muda tampak pasrah menghadapi
kehidupan rumah tangganya. Dia mengeluh dan mengatakan kalau dia
masih bertahan hidup dalam perkawinannya hanya karena kedua
anaknya. Segala masalah yang muncul dalam kehidupan rumah
tangganya yang baru terbangun enam tahun sepertinya tidak ada
jalan keluarnya. Setiap saat dia selalu bertengkar dengan
suaminya, sering karena masalah kecil-kecil. Masalah dalam rumah
tangga memang beragam jenis dan pencetusnya. Masing-masing
pasangan suami istri tentu punya cara mengatasinya, sehingga kata
"cerai" tidaklah menjadi sebuah solusi.
-----------------------
DALAM
sebuah perkawinan, dua manusia yang berbeda latar belakang
disatukan dalam ikatan cinta. Dalam perjalanan hidup,
perbedaan-perbedaan sering menjadi pemicu terjadinya perselisihan.
Salah satu, misalnya, terlalu menjunjung pandangannya sendiri dan
menganggap pandangan pasangannya tidak ada apa-apanya. Istri tak
suka suami menaruh handuk di tempat tidur, tapi suami tak pernah
peduli dan menganggap hal itu biasa saja. Masalah ini tampaknya
kecil, namun jika kekecewaan dan kebencian dibiarkan
berlarut-larut, hal ini akan menjadi "bom waktu" yang siap akan
meledak menuju pintu perceraian.
Setiap pasangan suami istri (pasutri) hendaknya
berusaha menghargai setiap perbedaan yang ada, karena sesungguhnya
perbedaan itu indah bila mampu disiasati dengan baik. Istri harus
mau menyadari kelemahan suami, demikian juga sebaliknya.
Masing-masing pihak tak perlu memaksakan kehendak sendiri, dan
harus disadari bahwa kebiasaan dan kelemahan seseorang tidak dapat
diubah dan ditentukan seperti harapan dan keinginan orang lain.
Ingat, setiap orang punya keunikannya masing-masing. Dan yang
terpenting, janganlah membesar-besarkan masalah kecil dalam
menjalani bahtera rumah tangga.
Kehadiran
Anak
Di samping faktor perbedaan tersebut, faktor
pencetus lain dari retaknya rumah tangga bisa muncul dari
kehadiran anak. Ada seorang suami mengeluh karena istrinya sangat
memaksa anak sulung mereka yang baru TK untuk mengikuti segala
les, dan sang suami tak setuju itu. Pertengkaran pun terjadi,
masing-masing pihak merasa paling benar. Dalam sebuah perkawinan,
anak merupakan buah cinta kasih. Pandangan dan cara mendidik anak
sering menjadi pemicu pertengkaran yang hebat, sehingga pasutri
sering mengambil jalan pintas, bercerai.
Anak yang lahir dalam keluarga penuh cinta kasih
dan kekompakan kedua orangtuanya, akan menjadi anak yang penuh
percaya diri, karena anak akan merasa dibutuhkan dan bukan menjadi
penyebab kehancuran perkawinan orangtuanya. Cara pandang dan
mendidik yang tidak sama dapat disatukan dengan meminta nasihat
pihak ketiga, seperti orangtua, psikolog anak, atau dengan
membaca. Mengapa harus bertengkar untuk kebaikan anak, bukankah
anak semestinya menjadi pengikat yang lebih kuat dalam kehidupan
rumah tangga? Diskusikanlah semua hal yang menyangkut anak
sehingga keputusan yang diambil terbaik untuk anak, bukan untuk
suami atau istri.
Tidak Ada
Anak
Bagaimana jika tidak ada anak dalam kehidupan rumah
tangga? Ini tentu menimbulkan keresahan yang sangat beralasan,
karena kehadiran anak seperti merupakan suatu keharusan dan
kebanggaan dalam keluarga. Pasutri merasa sia-sia bekerja keras
jika tidak ada keturunan dalam rumah tangga. Berbagai upaya akan
ditempuh untuk mendapatkan anak. Bila sekian tahun telah dilalui
tanpa hasil, suami sering mendapat saran dari pihak keluarga, atau
idenya sendiri, untuk menikah lagi. bayangkan, jika istri tidak
bersedia dimadu, cerai akan menjadi pilihan.
Bila hal ini terjadi, untuk menghindari perceraian,
banyak hal dapat dilakukan, antara lain adopsi anak. Bila pasutri
mencintai anak itu dengan tulus, walaupun bukan darah dagingnya
sendiri, anak itu akan memberikan balasan yang setimpal. Memang,
banyak pasutri merasa tak nyaman dengan langkah ini. Bila hal ini
terjadi, mengapa pasutri tidak menerima dengan ikhlas kehidupan
rumah tangganya tanpa anak? Anggap saja masih pacaran karena cinta
tidak selalu berbuah anak. Jadilah ibarat pohon yang bisa tumbuh
subur dan dapat menjadi tempat berteduh tanpa harus menghasilkan
buah yang bisa dipetik.
Masalah
Uang
Uang merupakan hal yang sangat sensitif dalam
kehidupan rumah tangga. Dalam banyak hal, pasutri tak pernah
terlepas dari uang. Seorang istri yang tidak mampu mengatur uang
dalam rumah tangga, boros, sering membuat suami naik pitam,
sehingga menimbulkan perselisihan dan lama-lama meledak jadi
serpihan kata "cerai". Di lain pihak, ada suami yang tidak mampu
memberikan nafkah keluarganya, sehingga istri jadi frustrasi
mengatur rumah tangga tanpa uang. Ujung-ujungnya, berselisih, lalu
bercerai.
Uang memang segalanya, tapi segalanya tidak dapat
dibeli dengan uang. Masalah uang hendaknya dibicarakan secara
terbuka sehingga hal ini tidak akan menjadi pemicu kehancuran.
Istri yang diberikan tanggung jawab mengatur keuangan keluarga
harus mencatat dan menjadi pengatur yang bijaksana, serta menjaga
kepercayaan yang diberikan suami, sehingga uang dapat dimanfaatkan
sesuai kebutuhan dan tidak merugikan keluarga. Jika penghasilan
suami kurang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, istri dapat
membantu dengan bekerja apa saja.
Keluarga
Besar
Ada seorang istri bercerita tentang suaminya yang
berubah drastis setelah perkawinan mereka memasuki usia yang ke-5.
"Suami saya tidak menganggap saya sebagai istrinya. Semua hal
harus dibicarakan dengan orangtuanya, kakaknya, dan entah siapa
lagi dalam keluarga besarnya. Memilih sekolah untuk anak yang saya
lahirkan pun harus atas persetujuan orangtuanya. Keluarganya
terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga kami," paparnya.
Hal yang mungkin sangat sepele bagi suami ini merupakan bencana
dan kesedihan yang teramat mendalam bagi istri. Hal ini bisa
menjadi pemicu terjadinya kehancuran dalam rumah tangga.
Keluarga besar -- orangtua maupun saudara dari
kedua belah pihak -- sesungguhnya merupakan tiang-tiang yang
membantu menopang bangunan perkawinan. Keegoisan sering muncul
dalam diri manusia, namun hal itu tidak harus dijadikan boomerang
dalam kehidupan berumah tangga. Bila suami atau istri terlalu
tergantung pada keluarganya, hal itu dapat dibicarakan dengan
baik, dan ketergantungan itu berangsur-angsur akan sirna oleh
waktu seiring bertambahnya kedewasaan pasutri tersebut.
Penganiayaan
Penganiayaan perasaan maupun jasmani dalam
perkawinan sering terjadi. Tidak sedikit istri yang melaporkan
suaminya ke polisi dengan bukti-bukti kekerasan yang dilakukan
berupa pukulan atau tamparan yang disertai kata-kata hinaan yang
menyakitkan. Hal ini sering menimbulkan trauma sehingga istri
merasa tertekan dalam kehidupan perkawinannya. Penganiayaan lahir
dan batin ini tentu berdampak pada penghuni rumah lainnya termasuk
anak, sehingga mereka pun akan mengalami ketakutan dan trauma
akibat kekerasan itu.
Setiap manusia pasti punya kelebihan dan
kekurangan. Dalam kasus ini, istri hendaknya berusaha menemukan
"mengapa" suami menjadi penganiaya. Apakah istri yang membuat
kesalahan atau perangai suami memang seperti itu. Ajaklah suami
berkonsultasi ke psikolog, sehingga dalam menyelesaikan masalah
bukan tangannya yang "berbicara", tapi hati dan cintanya.
Perselingkuhan
Ada suami berkata dengan arogannya, "Cinta itu
datang, ya harus ditumbuhkan, cinta jangan dibunuh". Apakah cinta
yang muncul di hati seorang pria yang telah beristri dengan wanita
lain atau sebaliknya cinta yang muncul di hati seorang wanita yang
telah bersuami dengan pria lain harus ditumbuhkan? Kenapa harus
dihadirkan? Mestinya, cinta itu dihindari dengan segala cara
karena kehadirannya hanyalah sebagai "setan penggoda".
Perselingkuhan memang menyakitkan. Namun bila hal
ini terlanjur terjadi, dan pasangan telah menyesalinya, bukalah
pintu maaf dengan persyaratan atau janji, jika terulangi lagi ada
konsekwensi yang harus ditanggung. Ego pasutri harus dinomorduakan
karena anak sangat menderita bila orangtuanya berpisah. Tiap
pasutri harus selalu menghindari jalan-jalan yang menjerumuskannya
pada perselingkuhan. Bila masih menganggap "selingkuh itu nikmat",
tegaskan bahwa hal itu adalah "nikmat membawa sengsara".
Masalah-masalah di atas hanya merupakan contoh
kecil dari sekian banyaknya masalah dalam kehidupan berumah
tangga. Apa pun masalah itu, ada sekian banyak solusi untuk
menghindari perceraian.
* dewi
yulianti