kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

KELUARGA


Sebelum Ambil Langkah Bercerai,
Pahami Dulu Faktor Pencetusnya

Seorang wanita muda tampak pasrah menghadapi kehidupan rumah tangganya. Dia mengeluh dan mengatakan kalau dia masih bertahan hidup dalam perkawinannya hanya karena kedua anaknya. Segala masalah yang muncul dalam kehidupan rumah tangganya yang baru terbangun enam tahun sepertinya tidak ada jalan keluarnya. Setiap saat dia selalu bertengkar dengan suaminya, sering karena masalah kecil-kecil. Masalah dalam rumah tangga memang beragam jenis dan pencetusnya. Masing-masing pasangan suami istri tentu punya cara mengatasinya, sehingga kata "cerai" tidaklah menjadi sebuah solusi.

-----------------------

 

DALAM sebuah perkawinan, dua manusia yang berbeda latar belakang disatukan dalam ikatan cinta. Dalam perjalanan hidup, perbedaan-perbedaan sering menjadi pemicu terjadinya perselisihan. Salah satu, misalnya, terlalu menjunjung pandangannya sendiri dan menganggap pandangan pasangannya tidak ada apa-apanya. Istri tak suka suami menaruh handuk di tempat tidur, tapi suami tak pernah peduli dan menganggap hal itu biasa saja. Masalah ini tampaknya kecil, namun jika kekecewaan dan kebencian dibiarkan berlarut-larut, hal ini akan menjadi "bom waktu" yang siap akan meledak menuju pintu perceraian.

Setiap pasangan suami istri (pasutri) hendaknya berusaha menghargai setiap perbedaan yang ada, karena sesungguhnya perbedaan itu indah bila mampu disiasati dengan baik. Istri harus mau menyadari kelemahan suami, demikian juga sebaliknya. Masing-masing pihak tak perlu memaksakan kehendak sendiri, dan harus disadari bahwa kebiasaan dan kelemahan seseorang tidak dapat diubah dan ditentukan seperti harapan dan keinginan orang lain. Ingat, setiap orang punya keunikannya masing-masing. Dan yang terpenting, janganlah membesar-besarkan masalah kecil dalam menjalani bahtera rumah tangga.

 

Kehadiran Anak

Di samping faktor perbedaan tersebut, faktor pencetus lain dari retaknya rumah tangga bisa muncul dari kehadiran anak. Ada seorang suami mengeluh karena istrinya sangat memaksa anak sulung mereka yang baru TK untuk mengikuti segala les, dan sang suami tak setuju itu. Pertengkaran pun terjadi, masing-masing pihak merasa paling benar. Dalam sebuah perkawinan, anak merupakan buah cinta kasih. Pandangan dan cara mendidik anak sering menjadi pemicu pertengkaran yang hebat, sehingga pasutri sering mengambil jalan pintas, bercerai.

Anak yang lahir dalam keluarga penuh cinta kasih dan kekompakan kedua orangtuanya, akan menjadi anak yang penuh percaya diri, karena anak akan merasa dibutuhkan dan bukan menjadi penyebab kehancuran perkawinan orangtuanya. Cara pandang dan mendidik yang tidak sama dapat disatukan dengan meminta nasihat pihak ketiga, seperti orangtua, psikolog anak, atau dengan membaca. Mengapa harus bertengkar untuk kebaikan anak, bukankah anak semestinya menjadi pengikat yang lebih kuat dalam kehidupan rumah tangga? Diskusikanlah semua hal yang menyangkut anak sehingga keputusan yang diambil terbaik untuk anak, bukan untuk suami atau istri.

 

Tidak Ada Anak

Bagaimana jika tidak ada anak dalam kehidupan rumah tangga? Ini tentu menimbulkan keresahan yang sangat beralasan, karena kehadiran anak seperti merupakan suatu keharusan dan kebanggaan dalam keluarga. Pasutri merasa sia-sia bekerja keras jika tidak ada keturunan dalam rumah tangga. Berbagai upaya akan ditempuh untuk mendapatkan anak. Bila sekian tahun telah dilalui tanpa hasil, suami sering mendapat saran dari pihak keluarga, atau idenya sendiri, untuk menikah lagi. bayangkan, jika istri tidak bersedia dimadu, cerai akan menjadi pilihan.

Bila hal ini terjadi, untuk menghindari perceraian, banyak hal dapat dilakukan, antara lain adopsi anak. Bila pasutri mencintai anak itu dengan tulus, walaupun bukan darah dagingnya sendiri, anak itu akan memberikan balasan yang setimpal. Memang, banyak pasutri merasa tak nyaman dengan langkah ini. Bila hal ini terjadi, mengapa pasutri tidak menerima dengan ikhlas kehidupan rumah tangganya tanpa anak? Anggap saja masih pacaran karena cinta tidak selalu berbuah anak. Jadilah ibarat pohon yang bisa tumbuh subur dan dapat menjadi tempat berteduh tanpa harus menghasilkan buah yang bisa dipetik.

 

Masalah Uang

Uang merupakan hal yang sangat sensitif dalam kehidupan rumah tangga. Dalam banyak hal, pasutri tak pernah terlepas dari uang. Seorang istri yang tidak mampu mengatur uang dalam rumah tangga, boros, sering membuat suami naik pitam, sehingga menimbulkan perselisihan dan lama-lama meledak jadi serpihan kata "cerai". Di lain pihak, ada suami yang tidak mampu memberikan nafkah keluarganya, sehingga istri jadi frustrasi mengatur rumah tangga tanpa uang. Ujung-ujungnya, berselisih, lalu bercerai.

Uang memang segalanya, tapi segalanya tidak dapat dibeli dengan uang. Masalah uang hendaknya dibicarakan secara terbuka sehingga hal ini tidak akan menjadi pemicu kehancuran. Istri yang diberikan tanggung jawab mengatur keuangan keluarga harus mencatat dan menjadi pengatur yang bijaksana, serta menjaga kepercayaan yang diberikan suami, sehingga uang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan tidak merugikan keluarga. Jika penghasilan suami kurang dapat memenuhi kebutuhan keluarga, istri dapat membantu dengan bekerja apa saja.

 

Keluarga Besar

Ada seorang istri bercerita tentang suaminya yang berubah drastis setelah perkawinan mereka memasuki usia yang ke-5. "Suami saya tidak menganggap saya sebagai istrinya. Semua hal harus dibicarakan dengan orangtuanya, kakaknya, dan entah siapa lagi dalam keluarga besarnya. Memilih sekolah untuk anak yang saya lahirkan pun harus atas persetujuan orangtuanya. Keluarganya terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga kami," paparnya. Hal yang mungkin sangat sepele bagi suami ini merupakan bencana dan kesedihan yang teramat mendalam bagi istri. Hal ini bisa menjadi pemicu terjadinya kehancuran dalam rumah tangga.

Keluarga besar -- orangtua maupun saudara dari kedua belah pihak -- sesungguhnya merupakan tiang-tiang yang membantu menopang bangunan perkawinan. Keegoisan sering muncul dalam diri manusia, namun hal itu tidak harus dijadikan boomerang dalam kehidupan berumah tangga. Bila suami atau istri terlalu tergantung pada keluarganya, hal itu dapat dibicarakan dengan baik, dan ketergantungan itu berangsur-angsur akan sirna oleh waktu seiring bertambahnya kedewasaan pasutri tersebut.

 

Penganiayaan

Penganiayaan perasaan maupun jasmani dalam perkawinan sering terjadi. Tidak sedikit istri yang melaporkan suaminya ke polisi dengan bukti-bukti kekerasan yang dilakukan berupa pukulan atau tamparan yang disertai kata-kata hinaan yang menyakitkan. Hal ini sering menimbulkan trauma sehingga istri merasa tertekan dalam kehidupan perkawinannya. Penganiayaan lahir dan batin ini tentu berdampak pada penghuni rumah lainnya termasuk anak, sehingga mereka pun akan mengalami ketakutan dan trauma akibat kekerasan itu.

Setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dalam kasus ini, istri hendaknya berusaha menemukan "mengapa" suami menjadi penganiaya. Apakah istri yang membuat kesalahan atau perangai suami memang seperti itu. Ajaklah suami berkonsultasi ke psikolog, sehingga dalam menyelesaikan masalah bukan tangannya yang "berbicara", tapi hati dan cintanya.

 

Perselingkuhan

Ada suami berkata dengan arogannya, "Cinta itu datang, ya harus ditumbuhkan, cinta jangan dibunuh". Apakah cinta yang muncul di hati seorang pria yang telah beristri dengan wanita lain atau sebaliknya cinta yang muncul di hati seorang wanita yang telah bersuami dengan pria lain harus ditumbuhkan? Kenapa harus dihadirkan? Mestinya, cinta itu dihindari dengan segala cara karena kehadirannya hanyalah sebagai "setan penggoda".

Perselingkuhan memang menyakitkan. Namun bila hal ini terlanjur terjadi, dan pasangan telah menyesalinya, bukalah pintu maaf dengan persyaratan atau janji, jika terulangi lagi ada konsekwensi yang harus ditanggung. Ego pasutri harus dinomorduakan karena anak sangat menderita bila orangtuanya berpisah. Tiap pasutri harus selalu menghindari jalan-jalan yang menjerumuskannya pada perselingkuhan. Bila masih menganggap "selingkuh itu nikmat", tegaskan bahwa hal itu adalah "nikmat membawa sengsara".

Masalah-masalah di atas hanya merupakan contoh kecil dari sekian banyaknya masalah dalam kehidupan berumah tangga. Apa pun masalah itu, ada sekian banyak solusi untuk menghindari perceraian.

 

* dewi yulianti

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com