kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

GEBYAR


Mengagungkan Galungan di Negeri Sakura

Suara gamelan bleganjur tiba-tiba terdengar dari sebuah sudut kota Tokyo, Jepang. Derap kendang, ocehan jalinan cengceng, melodi reong bergaung di sebuah gedung pertunjukan bergengsi setempat, Sumida Triphony Hall yang terletak di jantung kota metropolitan itu. Sebuah iring-iringan peed bergulir. Ada senandung kidung dan hadir pula semerbak magis aroma dupa. Umbul-umbul menjulang berwarna merah, putih, hitam, kuning melambai-lambai dengan ornamen naga. Pajeng merah dan hitam yang berprada mengembang gagah dan sepasang tombak mengacung tegar.

-------------

 

KEKENTALAN suasana Bali itu menyergap segenap penonton. Adalah sebuah sekaa seni pertunjukan Bali, Grup Jegog Suar Agung Bali, yang mengawali penampilannya dengan prosesi  beratmosfir khas Pulau Dewata, dalam lawatannya di Negeri Sakura, Jepang, Agustus lalu. Selama lima kali konser gamelan dan pentas tari yang disajikan di empat kota negeri itu, Suar Agung agaknya sengaja "memindahkan" suasana Bali ke sana. Selain menggelar prosesi peed-bleganjur, grup kesenian dari Desa Sangkaragung, Jembrana, pimpinan I Ketut Suwentra ini pada klimaks pementasannya menyuguhkan tari kreasi bertajuk "Satya Jagadhita", garapan seni tari yang bertutur tentang hari raya Hindu, Galungan.

Tema tari "Satya Jagadhita" ini berangkat dari cuplikan sejarah Bali kuno. Alkisah, sebelum Sri Jayakasunu menjadi raja, keadaan rakyat Bali sangat menderita. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian para pemimpin Bali sebelumnya pada upacara keagamaan. Ketika naik tahta, Jayakasunu mohon petunjuk Hyang Widhi untuk mengembalikan kemakmuran dan ketenteraman Bali. Atas petunjuk Batari Durga, Sri Jayakasunu diperintahkan melaksanakan Galungan dengan mengaturkan aneka sesajen dan mendirikan penjor.

Galungan yang jatuh setiap wuku dungulan (210 hari sekali) kemudian dirayakan oleh orang Bali dengan menancapkan penjor, dibuat dari sebatang bambu yang unjungnya melengkung ke bawah. Selain memiliki makna simbolik sebagai ungkapkan terimakasih umat manusia atas karunia Tuhan, penjor yang pembuatannya sarat dengan sentuhan estetik, adalah juga ekspresi rasa syukur atas kemenangan dharma melawan adharma demi ajegnya jagat, moksatham jagadhita.

Kreasi tari dengan iringan gamelan jegog ini dibawakan secara kwartet oleh I Made Putu Astawa, Ida Ayu Made Setiawati, Ni Komang Puspa Dewi, dan I Kadek Wiwik Hartawan. Memakai kostum berbinar kombinasi warna sejuk hijau-kuning serta aksen Bali poleng hitam-putih kotak-kotak kecil, tari yang berdurasi sekitar 10 menit ini hadir dengan tata estetika raga tari dalam sebuah simbolisme tentang perseteruan dharma versus adharma, dikotomi yang dikenal dengan rwa-bhineda dalam masyarakat Bali.

Jagat seni dipercaya memiliki kesanggupan untuk mengapresiasi nilai-nilai yang memuliakan kemanusiaan. Pesan tari "Satya Jagatdhita" adalah untuk mengingatkan kita untuk memanusiakan manusia dalam konteks perdamaian jagat. Karenanya, dialog dari hati ke hati dengan media seni, seperti yang dikibarkan Suar Agung Bali dalam lawatannya di Jepang itu bisa jadi adalah sebuah upaya perayaan eksistensi multikulturalisme. Di Jepang, para seniman Bali yang tergabung di bawah payung Suar Agung itu telah merajutnya sejak 15 tahun yang lalu.

 

 

Mendapat Tempat

Gamelan jegog mulai diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 1970-an oleh dedengkot kesenian jogog asal Sangkaragung, I Ketut Suwentra, SST.

 Dalam konser dan pentas tari kelilingnya di Jepang selama dua minggu yang lalu, tak ada kursi yang kosong dalam setiap penampilannya. Bahkan tiket yang rata-rata seharga 5 ribu Yen per lembar itu umumnya sudah ludes jauh-jauh hari. Tambahan kursi yang diinginkan penonton yang antre panjang di luar gedung sering terjadi.

Gaya menabuh yang atraktif dalam kesenian jegog rupanya digandrungi penonton Jepang. Tampak saat memainkan tabuh mabarung di Yokohama misalnya, para penonton hanyut dalam histeria gegap gemuruh nada-nada bambu dengan bertepuk tangan hampir sepanjang penyajian.

Agaknya, jegog telah mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat penonton setempat. Betapa antusiasnya atmosfir yang mengemuka setiap kali pergelaran. Bahkan banyak penonton memerlukan waktu 2-4 jam naik kereta api atau mobil dari tempat tinggalnya untuk dapat mereguk konser musik bambu dan pentas tari dari sebuah pulau yang mungkin sudah berkali-kali mereka kunjungi dan kagumi keelokan alam serta keadiluhungan seni budayanya.

Mori misalnya, seorang pengusaha asal Tokyo, bersama istrinya memburu ke kota mana pun para seniman Bali ini pentas, dengan mobil pribadinya. Di Yokohama, sekelompok ibu-ibu penggemar jegog dengan baju seragam berwarna merah menyerbu ke belakang panggung seusai pementasan melantunkan "merah putih, benderan titiange, berkibaran di langite terang galang...," dan seterusnya -- lagu ciptaan I Gede Dharna yang sangat terkenal di kalangan anak-anak di Bali.

Kelompok jegog pimpinan I Ketut Suwentra ini telah sekian kali diundang tampil di Jepang. Kali ini, selain menggelar konser di Tokyo, juga hadir di Yokohama, Takayama, dan Yamaguchi. Di Yamaguchi, sekitar 80 peminat seni pertunjukan setempat sempat meminta workshop pada siang harinya. Suwentra dan para asistennya dengan senang hati mengajarkan dasar-dasar tari Bali dan prinsip musikal gamelan jegog. Para peserta yang didominasi kaum wanita ini mengikuti workshop dengan penuh kesungguhan.

Grup Jegog Suar Agung yang anggotanya berintikan para seniman alam plus beberapa seniman muda mahasiswa dan alumni STSI (sekarang ISI) Denpasar tampaknya memang sedang berbinar di Jepang.

* kadek suartaya

 

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com