Mengagungkan Galungan di Negeri Sakura
Suara gamelan bleganjur tiba-tiba terdengar dari
sebuah sudut kota Tokyo, Jepang. Derap kendang, ocehan jalinan
cengceng, melodi reong bergaung di sebuah gedung pertunjukan
bergengsi setempat, Sumida Triphony Hall yang terletak di jantung
kota metropolitan itu. Sebuah iring-iringan peed bergulir. Ada
senandung kidung dan hadir pula semerbak magis aroma dupa.
Umbul-umbul menjulang berwarna merah, putih, hitam, kuning
melambai-lambai dengan ornamen naga. Pajeng merah dan hitam yang
berprada mengembang gagah dan sepasang tombak mengacung tegar.
-------------
KEKENTALAN
suasana Bali itu menyergap segenap penonton. Adalah sebuah sekaa
seni pertunjukan Bali, Grup Jegog Suar Agung Bali, yang mengawali
penampilannya dengan prosesi beratmosfir khas Pulau Dewata,
dalam lawatannya di Negeri Sakura, Jepang, Agustus lalu. Selama
lima kali konser gamelan dan pentas tari yang disajikan di empat
kota negeri itu, Suar Agung agaknya sengaja "memindahkan" suasana
Bali ke sana. Selain menggelar prosesi peed-bleganjur, grup
kesenian dari Desa Sangkaragung, Jembrana, pimpinan I Ketut
Suwentra ini pada klimaks pementasannya menyuguhkan tari kreasi
bertajuk "Satya Jagadhita", garapan seni tari yang bertutur
tentang hari raya Hindu, Galungan.
Tema tari "Satya Jagadhita" ini berangkat dari
cuplikan sejarah Bali kuno. Alkisah, sebelum Sri Jayakasunu
menjadi raja, keadaan rakyat Bali sangat menderita. Hal ini
disebabkan oleh kurangnya perhatian para pemimpin Bali sebelumnya
pada upacara keagamaan. Ketika naik tahta, Jayakasunu mohon
petunjuk Hyang Widhi untuk mengembalikan kemakmuran dan
ketenteraman Bali. Atas petunjuk Batari Durga, Sri Jayakasunu
diperintahkan melaksanakan Galungan dengan mengaturkan aneka
sesajen dan mendirikan penjor.
Galungan yang jatuh setiap wuku dungulan (210 hari
sekali) kemudian dirayakan oleh orang Bali dengan menancapkan
penjor, dibuat dari sebatang bambu yang unjungnya melengkung ke
bawah. Selain memiliki makna simbolik sebagai ungkapkan
terimakasih umat manusia atas karunia Tuhan, penjor yang
pembuatannya sarat dengan sentuhan estetik, adalah juga ekspresi
rasa syukur atas kemenangan dharma melawan adharma demi ajegnya
jagat, moksatham jagadhita.
Kreasi tari dengan iringan gamelan jegog ini
dibawakan secara kwartet oleh I Made Putu Astawa, Ida Ayu Made
Setiawati, Ni Komang Puspa Dewi, dan I Kadek Wiwik Hartawan.
Memakai kostum berbinar kombinasi warna sejuk hijau-kuning serta
aksen Bali poleng hitam-putih kotak-kotak kecil, tari yang
berdurasi sekitar 10 menit ini hadir dengan tata estetika raga
tari dalam sebuah simbolisme tentang perseteruan dharma versus
adharma, dikotomi yang dikenal dengan rwa-bhineda dalam masyarakat
Bali.
Jagat seni dipercaya memiliki kesanggupan untuk
mengapresiasi nilai-nilai yang memuliakan kemanusiaan. Pesan tari
"Satya Jagatdhita" adalah untuk mengingatkan kita untuk
memanusiakan manusia dalam konteks perdamaian jagat. Karenanya,
dialog dari hati ke hati dengan media seni, seperti yang
dikibarkan Suar Agung Bali dalam lawatannya di Jepang itu bisa
jadi adalah sebuah upaya perayaan eksistensi multikulturalisme. Di
Jepang, para seniman Bali yang tergabung di bawah payung Suar
Agung itu telah merajutnya sejak 15 tahun yang lalu.
Mendapat
Tempat
Gamelan jegog mulai diperkenalkan di Jepang sekitar
tahun 1970-an oleh dedengkot kesenian jogog asal Sangkaragung, I
Ketut Suwentra, SST.
Dalam konser dan pentas tari kelilingnya di Jepang
selama dua minggu yang lalu, tak ada kursi yang kosong dalam
setiap penampilannya. Bahkan tiket yang rata-rata seharga 5 ribu
Yen per lembar itu umumnya sudah ludes jauh-jauh hari. Tambahan
kursi yang diinginkan penonton yang antre panjang di luar gedung
sering terjadi.
Gaya menabuh yang atraktif dalam kesenian jegog
rupanya digandrungi penonton Jepang. Tampak saat memainkan tabuh
mabarung di Yokohama misalnya, para penonton hanyut dalam histeria
gegap gemuruh nada-nada bambu dengan bertepuk tangan hampir
sepanjang penyajian.
Agaknya, jegog telah mendapat tempat tersendiri di
hati masyarakat penonton setempat. Betapa antusiasnya atmosfir
yang mengemuka setiap kali pergelaran. Bahkan banyak penonton
memerlukan waktu 2-4 jam naik kereta api atau mobil dari tempat
tinggalnya untuk dapat mereguk konser musik bambu dan pentas tari
dari sebuah pulau yang mungkin sudah berkali-kali mereka kunjungi
dan kagumi keelokan alam serta keadiluhungan seni budayanya.
Mori misalnya, seorang pengusaha asal Tokyo,
bersama istrinya memburu ke kota mana pun para seniman Bali ini
pentas, dengan mobil pribadinya. Di Yokohama, sekelompok ibu-ibu
penggemar jegog dengan baju seragam berwarna merah menyerbu ke
belakang panggung seusai pementasan melantunkan "merah putih,
benderan titiange, berkibaran di langite terang galang...," dan
seterusnya -- lagu ciptaan I Gede Dharna yang sangat terkenal di
kalangan anak-anak di Bali.
Kelompok jegog pimpinan I Ketut Suwentra ini telah
sekian kali diundang tampil di Jepang. Kali ini, selain menggelar
konser di Tokyo, juga hadir di Yokohama, Takayama, dan Yamaguchi.
Di Yamaguchi, sekitar 80 peminat seni pertunjukan setempat sempat
meminta workshop pada siang harinya. Suwentra dan para asistennya
dengan senang hati mengajarkan dasar-dasar tari Bali dan prinsip
musikal gamelan jegog. Para peserta yang didominasi kaum wanita
ini mengikuti workshop dengan penuh kesungguhan.
Grup Jegog Suar Agung yang anggotanya berintikan
para seniman alam plus beberapa seniman muda mahasiswa dan alumni
STSI (sekarang ISI) Denpasar tampaknya memang sedang berbinar di
Jepang.
* kadek
suartaya