Aktualisasi Keunggulan Lokal dalam Ruang
Arsitektural
Desain-desain yang berasal dari budaya lokal di
Indonesia pada era global kini berhadapan pada pilihan-pilihan
dilematis. Di satu sisi, globalisasi dianggap sebagai sebuah "peluang"
bagi pengembangan potensi diri, sementara di lain sisi globalisasi
dilihat sebagai ancaman terhadap eksistensi desain-desain lokal
dan keberlanjutan budaya itu sendiri. Dalam situasi dilematis ini,
diperlukan strategi untuk mengaktualisasikan keunggulan lokal
(local genius) di dalam konteks global dan menghindarkan pengaruh
homogenisasi budaya, serta masuknya desain-desain dari budaya luar.
--------------
BERBAGAI
pemikiran diperlukan untuk menggali keunggulan lokal, baik pada
tingkat filosofis, ekonomis, sosiologis dan kultural. Dari situ
diharapkan dapat dibuka peluang bagi pengayaan desain dan budaya
lokal melalui pengembangan kreativitas lokal dan inovasi kultural,
tanpa harus mengorbankan nilai-nilai dasarnya.
Hal ini sempat disampaikan oleh Drs. Yasraf Amir
Piliang, dosen Jurusan Desain Produk dan Program Magister Fakultas
Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB Bandung, pada seminar seni dan
desain di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar beberapa waktu
lalu.
Dalam kesempatan itu, Ir. I Made Widnyana Sudibya,
Ketua Ikatan Arsitek Indoensia (IAI) Daerah Bali, juga melihat
pergerakan zaman dari milenium kedua menuju milenium ketiga telah
mendorong perubahan teknik manual ke teknologi digital dalam dunia
desain, akibat dari inovasi-inovasi di bidang teknologi komunikasi
dan informatika. Akibatnya, percepatan kerja dipacu lebih kencang,
tetapi sentuhan personal makin redup. Sebab telah digantikan
nuansa digital yang memberi peluang kreasi lebih luas, termasuk
memanipulasi sentuhan personal arsitek dan desainer.
Widnyana yang mempresentasikan makalah "Tingkah,
Ruang dan Waktu Menjalin Komunikasi Karya" dalam seminar itu tetap
berkeyakinan bahwa dalam menggali lebih dalam pondasi budaya Bali
yang menyimpan kekayaan sumber inspirasi, tetap diperlukan dasar
pijakan dalam berkarya. Hal ini akan dapat meredam kepasrahan
manusia yang diperbudak teknologi, sebab teknologi komputer adalah
benda mati yang sesungguhnya hanyalah sebagai alat bantu.
Dapat
Memperkaya
Yasraf Amir Piliang, lebih lanjut mengemukakan,
untuk memperkaya budaya dan kreativitas lokal, serta inovasi
kultural, kita bisa "mencuri" budaya luar dalam arti untuk
dipelajari dan mencari makna-makna baru. Apalagi bangsa Indonesia
sudah biasa sejak dulu mengambil budaya luar ke dalam budaya lokal,
sehingga kebudayaan lokal bisa berkembang melalui proses adaptasi
teknologi dan hibrid (terkombinasikan).
Yasraf kemudian mencontohkan kerajinan beton cetak
yang ada di Bali. Teknologi beton adalah teknologi modern dari
luar, setelah melalui proses adaptasi dan hibrid ke dalam
kebudayaan Bali, dengan potensi keterampilan lokal ada, jadilah ia
kerajinan beton cetak Bali yang tidak ada di daerah lain di
Indonesia.
Yasraf yang mempresentasikan makalah berjudul "Menciptakan
Keunggulan Lokal untuk Merebut Peluang Global; Sebuah Pendekatan
Kultural", melihat Bali memiliki warisan keterampilan di bidang
seni dan budaya (lokal), memiliki potensi untuk menciptakan
keunggulan budaya lokal. Adanya perajin Bali yang membuat
kerajinan lokal daerah dan negara lain, dibiarkan saja, karena
kebetulan ada "pasarnya".
Sebutlah semisal seni tatto yang digemari wisatawan,
sebenarnya bukan budaya lokal Bali, tetapi karena estetikanya
dikembangkan sesuai dengan budaya asal wisatawan, mereka menjadi
senang dengan tatto-nya. Pun dengan kerajinan Asmat dan
topeng-topeng Meksiko yang berkembang di Bali. Hal ini merupakan
suatu proses "lintas estetik" yang dapat memperkaya keunggulan
lokal. Estetiknya diambil dari luar, tetapi tidak merusak
kebudayaan lokal yang asli.
Sedangkan dalam hal pengayaan desain di bidang
arsitektur maupun interior, Widnyana mengungkapkan, arsitektur
Bali tetap ramah menerima pengaruh budaya dari luar. Pengaruh itu
kemudian diolah para seniman Bali. Sebutlah semisal ornamen patra
wolanda sebagai pengaruh budaya Belanda, patra cina yang mendapat
pengaruh dari budaya Cina, sampai patra kuta mesir yang merupakan
ornamen pengaruh budaya Mesir.
Proses
Pendekatan
Upaya menciptakan keunggulan lokal dalam hal
mencipta, menurut Yasraf, bisa dilakukan melalui proses pendekatan
kultural lokal (sesuai dengan daerah), tradisi (sesuatu yang tidak
pernah berubah dari generasi ke generasi) dan indigenous (keunikan
di suatu daerah).
Pengembangan keunggulan lokal tidak sama dengan
pengembangan tradisi, meskipun ada bentuk-bentuk indigenous yang
sudah menjadi bagian dari tradisi. Berbagai sumber keunggulan
lokal yang berasal dari tradisi maupun sumber-sumber indigenous
adalah filsafat lokal, pengetahuan lokal, teknologi lokal,
keterampilan lokal, material lokal, estetika dan idiom lokal.
Dalam pengembangan budaya lokal dalam konteks
global, diperlukan pengembangan khusus yang tidak terputus dari
konteks lokal itu sendiri menyangkut norma, pranata, hingga nilai.
Pengembangan keunggulan lokal melalui inovasi harus melalui proses
reinterpretasi dan rekontekstualisasi makna, agar menemukan hasil
inovasi dan pengalaman estetik yang berbeda, tetapi tidak merusak
nilai-nilai dasar lokal. Sehingga, inovasi di sini masih dalam
kerangka penghargaan terhadap nilai-nilai tradisi.
Pengembangan budaya lokal untuk menghasilkan
keunggulan lokal memerlukan beberapa strategi. Strategi I,
berkaitan dengan reinterpretasi untuk memberi makna baru tanpa
merusak nilai-nilai esensialnya. Strategi II, pelintasan estetik
untuk memperkaya budaya lokal dan desain akibat pertemuan
antarbudaya. Strategi III, dialogisme budaya, merupakan proses
pertemuan antarbudaya yang selektif, sehingga tidak mengorbankan
nilai identitas budaya lokal. Strategi IV, keterbukaan kritis --
sikap menerima budaya luar yang positif dan menyaring yang negatif,
agar budaya lokal tidak rusak.
Strategi V, diferensiasi pengetahuan lokal, proses
menggali (meneliti) sumber-sumber pengetahuan lokal untuk
menghasilkan berbagai produk budaya yang unik dan orisinal.
Strategi VI terkait gaya hidup, untuk mempelajari perubahan gaya
hidup, agar desain yang dibuat tepat sasaran. Strategi VII,
semantika produk untuk pengembangan pemaknaan terhadap objek seni,
kriya dan desain agar bisa diterima konsumen.
Dalam hal mengembangkan kebudayaan lokal menjadi
keunggulan lokal, Widnyana mengingatkan agar masyarakat Bali
berhati-hati, sehingga yang diunggulkan betul-betul unik dan
mengandung spirit lokal. Widnyana kemudian mencontohkan
pengungkapan konsep ruang secara simbolik dalam sebuah upacara
besar di Pura Besakih. Hal itu betul-betul unik tidak ada duanya
dan bisa diunggulkan. Sedangkan hal-hal yang kurang etis jangan
sampai merusak citra, makna dan estetika, semisal pementasan
tarian joged yang terlalu vulgar di halaman pura.
Karena itu, Widnyana mengajak, untuk menghasilkan
suatu karya yang bisa diunggulkan, kita perlu belajar dan menyimak
pengalaman serta karya-karya para undagi Bali dan praktisi pada
bidang desain. Sebab, hal itu merupakan jalan pintas yang mudah
dilakukan untuk mengasah kemampuan dan rasa, untuk membuat karya
atau desain yang baik. Kendati tidak mudah, merasa enggan dan
risih, tetapi introspeksi mesti dilakukan untuk tetap menghasilkan
gubahan ruang yang sesuai dengan aktivitas pada rentang waktu yang
tepat.
Sedangkan menurut Yasraf, pada prinsipnya,
penciptaan keunggulan lokal adalah upaya-upaya untuk mengembangkan
pengetahuan, konsep atau produk (desain) berdasarkan sumber-sumber
indigenous.
* gede mugi raharja