kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

DESAIN & KONSTRUKSI


Aktualisasi Keunggulan Lokal dalam Ruang Arsitektural

Desain-desain yang berasal dari budaya lokal di Indonesia pada era global kini berhadapan pada pilihan-pilihan dilematis. Di satu sisi, globalisasi dianggap sebagai sebuah "peluang" bagi pengembangan potensi diri, sementara di lain sisi globalisasi dilihat sebagai ancaman terhadap eksistensi desain-desain lokal dan keberlanjutan budaya itu sendiri. Dalam situasi dilematis ini, diperlukan strategi untuk mengaktualisasikan keunggulan lokal (local genius) di dalam konteks global dan menghindarkan pengaruh homogenisasi budaya, serta masuknya desain-desain dari budaya luar.

--------------

 

BERBAGAI pemikiran diperlukan untuk menggali keunggulan lokal, baik pada tingkat filosofis, ekonomis, sosiologis dan kultural. Dari situ diharapkan dapat dibuka peluang bagi pengayaan desain dan budaya lokal melalui pengembangan kreativitas lokal dan inovasi kultural, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai dasarnya.

Hal ini sempat disampaikan oleh Drs. Yasraf Amir Piliang, dosen Jurusan Desain Produk dan Program Magister Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB Bandung, pada seminar seni dan desain di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Ir. I Made Widnyana Sudibya, Ketua Ikatan Arsitek Indoensia (IAI) Daerah Bali, juga melihat pergerakan zaman dari milenium kedua menuju milenium ketiga telah mendorong perubahan teknik manual ke teknologi digital dalam dunia desain, akibat dari inovasi-inovasi di bidang teknologi komunikasi dan informatika. Akibatnya, percepatan kerja dipacu lebih kencang, tetapi sentuhan personal makin redup. Sebab telah digantikan nuansa digital yang memberi peluang kreasi lebih luas, termasuk memanipulasi sentuhan personal arsitek dan desainer.

Widnyana yang mempresentasikan makalah "Tingkah, Ruang dan Waktu Menjalin Komunikasi Karya" dalam seminar itu tetap berkeyakinan bahwa dalam menggali lebih dalam pondasi budaya Bali yang menyimpan kekayaan sumber inspirasi, tetap diperlukan dasar pijakan dalam berkarya. Hal ini akan dapat meredam kepasrahan manusia yang diperbudak teknologi, sebab teknologi komputer adalah benda mati yang sesungguhnya hanyalah sebagai alat bantu.

 

Dapat Memperkaya

Yasraf Amir Piliang, lebih lanjut mengemukakan, untuk memperkaya budaya dan kreativitas lokal, serta inovasi kultural, kita bisa "mencuri" budaya luar dalam arti untuk dipelajari dan mencari makna-makna baru. Apalagi bangsa Indonesia sudah biasa sejak dulu mengambil budaya luar ke dalam budaya lokal, sehingga kebudayaan lokal bisa berkembang melalui proses adaptasi teknologi dan hibrid (terkombinasikan).

Yasraf kemudian mencontohkan kerajinan beton cetak yang ada di Bali. Teknologi beton adalah teknologi modern dari luar, setelah melalui proses adaptasi dan hibrid ke dalam kebudayaan Bali, dengan potensi keterampilan lokal ada, jadilah ia kerajinan beton cetak Bali yang tidak ada di daerah lain di Indonesia.

Yasraf yang mempresentasikan makalah berjudul "Menciptakan Keunggulan Lokal untuk Merebut Peluang Global; Sebuah Pendekatan Kultural", melihat Bali memiliki warisan keterampilan di bidang seni dan budaya (lokal), memiliki potensi untuk menciptakan keunggulan budaya lokal. Adanya perajin Bali yang membuat kerajinan lokal daerah dan negara lain, dibiarkan saja, karena kebetulan ada "pasarnya".

Sebutlah semisal seni tatto yang digemari wisatawan, sebenarnya bukan budaya lokal Bali, tetapi karena estetikanya dikembangkan sesuai dengan budaya asal wisatawan, mereka menjadi senang dengan tatto-nya. Pun dengan kerajinan Asmat dan topeng-topeng Meksiko yang berkembang di Bali. Hal ini merupakan suatu proses "lintas estetik" yang dapat memperkaya keunggulan lokal. Estetiknya diambil dari luar, tetapi tidak merusak kebudayaan lokal yang asli.

Sedangkan dalam hal pengayaan desain di bidang arsitektur maupun interior, Widnyana mengungkapkan, arsitektur Bali tetap ramah menerima pengaruh budaya dari luar. Pengaruh itu kemudian diolah para seniman Bali. Sebutlah semisal ornamen patra wolanda sebagai pengaruh budaya Belanda, patra cina yang mendapat pengaruh dari budaya Cina, sampai patra kuta mesir yang merupakan ornamen pengaruh budaya Mesir.

 

Proses Pendekatan

Upaya menciptakan keunggulan lokal dalam hal mencipta, menurut Yasraf, bisa dilakukan melalui proses pendekatan kultural lokal (sesuai dengan daerah), tradisi (sesuatu yang tidak pernah berubah dari generasi ke generasi) dan indigenous (keunikan di suatu daerah).

Pengembangan keunggulan lokal tidak sama dengan pengembangan tradisi, meskipun ada bentuk-bentuk indigenous yang sudah menjadi bagian dari tradisi. Berbagai sumber keunggulan lokal yang berasal dari tradisi maupun sumber-sumber indigenous adalah filsafat lokal, pengetahuan lokal, teknologi lokal, keterampilan lokal, material lokal, estetika dan idiom lokal.

Dalam pengembangan budaya lokal dalam konteks global, diperlukan pengembangan khusus yang tidak terputus dari konteks lokal itu sendiri menyangkut norma, pranata, hingga nilai. Pengembangan keunggulan lokal melalui inovasi harus melalui proses reinterpretasi dan rekontekstualisasi makna, agar menemukan hasil inovasi dan pengalaman estetik yang berbeda, tetapi tidak merusak nilai-nilai dasar lokal. Sehingga, inovasi di sini masih dalam kerangka penghargaan terhadap nilai-nilai tradisi.

Pengembangan budaya lokal untuk menghasilkan keunggulan lokal memerlukan beberapa strategi. Strategi I, berkaitan dengan reinterpretasi untuk memberi makna baru tanpa merusak nilai-nilai esensialnya. Strategi II, pelintasan estetik untuk memperkaya budaya lokal dan desain akibat pertemuan antarbudaya. Strategi III, dialogisme budaya, merupakan proses pertemuan antarbudaya yang selektif, sehingga tidak mengorbankan nilai identitas budaya lokal. Strategi IV, keterbukaan kritis -- sikap menerima budaya luar yang positif dan menyaring yang negatif, agar budaya lokal tidak rusak.

Strategi V, diferensiasi pengetahuan lokal, proses menggali (meneliti) sumber-sumber pengetahuan lokal untuk menghasilkan berbagai produk budaya yang unik dan orisinal. Strategi VI terkait gaya hidup, untuk mempelajari perubahan gaya hidup, agar desain yang dibuat tepat sasaran. Strategi VII, semantika produk untuk pengembangan pemaknaan terhadap objek seni, kriya dan desain agar bisa diterima konsumen.

Dalam hal mengembangkan kebudayaan lokal menjadi keunggulan lokal, Widnyana mengingatkan agar masyarakat Bali berhati-hati, sehingga yang diunggulkan betul-betul unik dan mengandung spirit lokal. Widnyana kemudian mencontohkan pengungkapan konsep ruang secara simbolik dalam sebuah upacara besar di Pura Besakih. Hal itu betul-betul unik tidak ada duanya dan bisa diunggulkan. Sedangkan hal-hal yang kurang etis jangan sampai merusak citra, makna dan estetika, semisal pementasan tarian joged yang terlalu vulgar di halaman pura.

Karena itu, Widnyana mengajak, untuk menghasilkan suatu karya yang bisa diunggulkan, kita perlu belajar dan menyimak pengalaman serta karya-karya para undagi Bali dan praktisi pada bidang desain. Sebab, hal itu merupakan jalan pintas yang mudah dilakukan untuk mengasah kemampuan dan rasa, untuk membuat karya atau desain yang baik. Kendati tidak mudah, merasa enggan dan risih, tetapi introspeksi mesti dilakukan untuk tetap menghasilkan gubahan ruang yang sesuai dengan aktivitas pada rentang waktu yang tepat.

Sedangkan menurut Yasraf, pada prinsipnya, penciptaan keunggulan lokal adalah upaya-upaya untuk mengembangkan pengetahuan, konsep atau produk (desain) berdasarkan sumber-sumber indigenous.

 

* gede mugi raharja

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com