Membedah Kasus Paedofilia
Bali dan Lombok ibarat Telaga yang Indah
PAEDOFILIA
hanyalah salah satu jenis dari banyak kasus tindak kekerasan
terhadap anak yang terjadi di Bali dan Lombok atau di daerah lain.
Komnas Perlindungan Anak Jakarta mencatat kasus paedofilia di
Indonesia menunjukkan angka peningkatan cukup besar dari 67 kasus
tahun 2004 menjadi 120 kasus tahun 2005--sebagian besar ditemukan
di daerah pariwisata.
Hal itu terungkap dalam bedah buku ''Paedofilia dan
Tindak Kekerasan Lain: Catatan Observasi Lombok'' karya IBM Dharma
Palguna, sastrawan yang aktivis Kanaivasu.
Dalam petualangannya menelusuri Lombok, Dharma
Palguna menemukan sejumlah kasus paedofilia dan tindak kekerasan
lain terhadap anak. Hasil observasi itulah yang direkam dalam
sebuah buku setebal 113 halaman.
Bedah buku yang dimoderatori Drs. Chusmeru, M.Sc.
menghadirkan dua pembedah yakni Drs. Supriyadi, M.Sc. dan Ketut S.
Abbas. Bedah buku tersebut diselenggarakan Yayasan Kanaivasu, LSM
yang bersifat sosial dan mengusung misi kemanusiaan.
Sementara Yayasan Kanaivasu mencatat, sedikitnya
terdapat 30 kasus tindak kekerasan terhadap anak yang terekspos di
berbagai media cetak di Bali selama selama tahun 2005. Menurut
hasil observasi selama tiga bulan di Kota Denpasar, Kanaivasu
sedikitnya mencatat 100 kasus tindak kekerasan terhadap anak.
Dampak dari tindak kekerasan ini akan sangat dirasakan menjadi
suatu penderitaan seumur hidup (traumatis) bagi para korban.
Di mata paedofil, kata Palguna dalam bukunya, Bali
dan Lombok sepertinya satu telaga indah yang banyak ikannya.
Sepertinya tak ada batas politis, tak ada pula batas geografis.
Gunung Rinjani dan Gunung Agung yang sakral tidak membuatnya
sungkan. Kelainan seksual bukan dirasakannya beban, melainkan
kesenangan, petualangan dan merasa ada kuasa. Melalui berbagai
perangkap, sang monster paedofil dengan entengnya mondar-mandar
memangsa anak-anak di dua daerah bertetangga ini. Keleluasaan ini
sesungguhnya masih terjadi hingga kini.
Tony yang bernama lengkap William Stuart Brown,
misalnya, sebelum akhirnya meninggal karena gantung diri di Bali
pertengahan 2004, ia telah menyodomi anak-anak di Lombok Tengah.
Baik ketika di Lombok Tengah maupun di Bali Timur, mantan diplomat
ini menggunakan kursus bahasa Inggris gratis sebagai perangkap.
Tony, menurut laporan media, telah pula menjadikan dirinya seorang
bapak angkat dan memberikan sejumlah beasiswa. Tetapi
sepandai-pandainya tupai melompat, Tony terjerembab oleh
perangkapnya sendiri. Tony dibekuk dan dijatuhi hukuman penjara 13
tahun, tetapi akhirnya memilih mengakhiri hidup dengan jalan
gantung diri. Perangkap Tony memang berhasil di Lombok, tetapi
gagal di Bali.
Jadi, perlu ada gerakan berskala besar dengan
penggabungan berbagai kekuatan untuk mengantisipasi dan
menuntaskan kasus ini. Dengan demikian, para tunas harapan bangsa
terhindar dari jeratan monster paedofil.
(lun)