kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

BERITA


Membedah Kasus Paedofilia
Bali dan Lombok ibarat Telaga yang Indah

PAEDOFILIA hanyalah salah satu jenis dari banyak kasus tindak kekerasan terhadap anak yang terjadi di Bali dan Lombok atau di daerah lain. Komnas Perlindungan Anak Jakarta mencatat kasus paedofilia di Indonesia menunjukkan angka peningkatan cukup besar dari 67 kasus tahun 2004 menjadi 120 kasus tahun 2005--sebagian besar ditemukan di daerah pariwisata.

Hal itu terungkap dalam bedah buku ''Paedofilia dan Tindak Kekerasan Lain: Catatan Observasi Lombok'' karya IBM Dharma Palguna, sastrawan yang aktivis Kanaivasu.

Dalam petualangannya menelusuri Lombok, Dharma Palguna menemukan sejumlah kasus paedofilia dan tindak kekerasan lain terhadap anak. Hasil observasi itulah yang direkam dalam sebuah buku setebal 113 halaman.

Bedah buku yang dimoderatori Drs. Chusmeru, M.Sc. menghadirkan dua pembedah yakni Drs. Supriyadi, M.Sc. dan Ketut S. Abbas. Bedah buku tersebut diselenggarakan Yayasan Kanaivasu, LSM yang bersifat sosial dan mengusung misi kemanusiaan.

Sementara Yayasan Kanaivasu mencatat, sedikitnya terdapat 30 kasus tindak kekerasan terhadap anak yang terekspos di berbagai media cetak di Bali selama selama tahun 2005. Menurut hasil observasi selama tiga bulan di Kota Denpasar, Kanaivasu sedikitnya mencatat 100 kasus tindak kekerasan terhadap anak. Dampak dari tindak kekerasan ini akan sangat dirasakan menjadi suatu penderitaan seumur hidup (traumatis) bagi para korban.

Di mata paedofil, kata Palguna dalam bukunya, Bali dan Lombok sepertinya satu telaga indah yang banyak ikannya. Sepertinya tak ada batas politis, tak ada pula batas geografis. Gunung Rinjani dan Gunung Agung yang sakral tidak membuatnya sungkan. Kelainan seksual bukan dirasakannya beban, melainkan kesenangan, petualangan dan merasa ada kuasa. Melalui berbagai perangkap, sang monster paedofil dengan entengnya mondar-mandar memangsa anak-anak di dua daerah bertetangga ini. Keleluasaan ini sesungguhnya masih terjadi hingga kini.

Tony yang bernama lengkap William Stuart Brown, misalnya, sebelum akhirnya meninggal karena gantung diri di Bali pertengahan 2004, ia telah menyodomi anak-anak di Lombok Tengah. Baik ketika di Lombok Tengah maupun di Bali Timur, mantan diplomat ini menggunakan kursus bahasa Inggris gratis sebagai perangkap. Tony, menurut laporan media, telah pula menjadikan dirinya seorang bapak angkat dan memberikan sejumlah beasiswa. Tetapi sepandai-pandainya tupai melompat, Tony terjerembab oleh perangkapnya sendiri. Tony dibekuk dan dijatuhi hukuman penjara 13 tahun, tetapi akhirnya memilih mengakhiri hidup dengan jalan gantung diri. Perangkap Tony memang berhasil di Lombok, tetapi gagal di Bali.

Jadi, perlu ada gerakan berskala besar dengan penggabungan berbagai kekuatan untuk mengantisipasi dan menuntaskan kasus ini. Dengan demikian, para tunas harapan bangsa terhindar dari jeratan monster paedofil. (lun)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com