Mengangkat
Firasat-firasat
di Atas
Pentas
Setiap
saat orang
mendapat firasat.
Namun karena
pertimbangan
logika, orang
sering kali
meremehkan bahkan
mengabaikan
firasat. Tetapi
mungkin juga
karena orang
tak selalu
tahu hubungan
firasat dengan
peristiwa-peristiwa yang
akan terjadi,
apakah terkait
dengan dirinya,
keluarganya, atau
lingkungannya.
---------
KETIKA
sebuah peristiwa
terjadi, barulah
orang tersentak
berusaha
menghubungkan berbagai
hal dengan
peristiwa yang
tengah terjadi.
Atau bahkan
berupaya
merangkai-rangkai kembali
kejadian
remeh-temeh dan
membingkainya
dalam bentuk
cerita yang utuh.
Kejadian-kejadian
remeh-temeh yang
terjadi sebelum
peristiwa bom
Bali yang menewaskan
ratusan orang
itu, misalnya,
lantas diangkat
dan ditampilkan
Sandra Thibodeaux dan
Mas Ruscitadewi
dalam drama
dwibahasa (Inggris-Indonesia)
yang berjudul "Diburu
Waktu" (Time is a Hunter). Drama
ini dimainkan
oleh kelompok
Datu Bulan
Theatre Company, disutradarai
oleh Andrish
Saint dan
terjemahannya dikerjakan
oleh Kadek
Krishna Adidharma.
Drama "Diburu
Waktu" ini
dipentaskan
selama
lima
hari
berturut-turut -- 24 s.d. 28
Agustus 2005 --
di Town Hall Ruins,
Darwin,
Australia dalam
rangkaian event "Festival Darwin 2005".
Pertunjukan
dibuka dengan
permainan wayang
oleh dalang
I Made Sidia.
Dengan bantuan
proyektor yang
dikerjakan oleh Tim Parish,
Sidia berupaya
menggambarkan
proses penciptaan
dunia. Dari tapa
yang dilakukan
Dewa Ciwa,
proses penciptaan
dunia dalam
bentuk Ciwa
Nataraja, yang
dengan segera
berganti menjadi
kayonan,
dirangkaikan dengan
munculnya
dewa-dewa, manusia,
butakala dan
binatang dalam
wujud rusa.
Tampilan
wayang dengan
bantuan slide
proyektor dan
diiringi musik
gamelan gender dan
suling yang
digarap Dewa
Putu Sugiartha
dan I Gusti
Ngurah Muliawan,
dibantu oleh
Sekaa Gamelan Tunas
Mekar Darwin ini
mampu memikat
penonton. Bahkan,
ini memaksa
mereka untuk
masuk ke
dalam suasana
misteri yang
diciptakan. Dari sinilah
cerita diawali.
Selanjutnya,
slide menampilkan
gambar laundry. Tampak
tokoh Made sedang
sibuk berlatih
pidato bahasa
Inggris. Kepada
publik ia
bercerita tentang
kisah cintanya
dengan seorang
imigran
Afganistan yang bernama Ali,
yang kini
terdampar di
penjara Australia.
Kisah hidup
Made sungguh
memprihatinkan. Dengan
dua orang
anak bernama
Leonardo dan Kim, Made
berusaha berjuang
meraih
kebahagiaan. Ukuran
kebahagiaan bagi
Made adalah bisa
punya pekerjaan
bagus, punya
uang untuk
kebutuhan
anak-anaknya, bisa
pergi ke
Australia menyusul
suaminya,
mendapatkan banyak
uang dan
terbebas dari
kemiskinan.
Berbeda
dengan Made,
tokoh utama
lainnya bernama
Ayu, seorang
wanita Bali
berkasta yang punya
masalah dengan
adat yang
membelenggunya. Diceritakan,
Ayu yang semula
hanya serupa
"rak pajangan"
dalam keluarga,
akhirnya harus
bekerja karena
kedua orangtuanya
meninggal.
Pertemuannya dengan Dave,
lelaki Australia yang
dikenalnya di
tempat kerja,
seolah dijadikan
pemecahan masalah
atas
benturan-benturannya dengan
tradisi.
Ayu
siap kehilangan
keluarga, kasta
dan harta
benda, karena
memilih Dave. Toh,
Ayu bisa
pergi ke
Australia dan
berteman dengan
orang Australia.
Namun, hidup
ternyata tak
semudah yang
dibayangkan Ayu,
ada perbedaan
budaya yang sulit
dipecahkan yang
mengganggu keutuhan
rumah tangganya
dengan Dave.
Kedua
tokoh sentral
dalam drama -- Made (yang
dimainkan oleh
Desak Putu
Warti) dan
Ayu (diperankan
oleh Mas
Ruscitadewi) --
adalah tokoh-tokoh yang
berjuang untuk
meraih
kebahagiaannya. Hari
itu, 12 Oktober
2002, mereka
bertemu, di laundry,
di tempat
kursus bahasa
Inggris, dan
di Sari Club Kuta.
Di Sari Club, Dave (diperankan
oleh Damien A
Pree) ada
janji meeting dengan
calon pembeli
hotelnya. Dave
bertemu Kim (diperankan Sarah
Kingston), warga Australia yang
nyasar karena
tiketnya ditunda.
Juga ada
Ismail (diperankan
oleh Alek)
mantan pacar
Ayu yang berusaha
menipu Dave.
Pertemuan-pentemuan
dan
peristiwa-peristiwa pemeran
seperti menjadi
firasat akan
terjadinya
peristiwa yang akan
mengubah hidup
mereka. Jari
Ayu yang tertusuk
duri salak,
banten yang jatuh,
tangis anak
Made sebelum
ditinggal bekerja
sebagai kasir
di Sari Club dan
kebahagiaan Made
dengan kerja
barunya, seakan
menjadi firasat
yang akan
membebaskannya dari
penderitaan.
Semua
tokohnya -- Made,
Ayu, Dave, Kim, hingga
Ismail -- seperti
sedang berlari,
berpacu dengan
waktu. Ujungnya,
meledaknya bom
di Sari Club
malam itu
seakan menjadi
muara pelarian
mereka, sekaligus
menjadi jawaban
atas
firasat-firasat yang mereka
alami. (ita)