kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

BERITA


Mengangkat
Firasat-firasat di Atas Pentas

Setiap saat orang mendapat firasat. Namun karena pertimbangan logika, orang sering kali meremehkan bahkan mengabaikan firasat. Tetapi mungkin juga karena orang tak selalu tahu hubungan firasat dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, apakah terkait dengan dirinya, keluarganya, atau lingkungannya.

---------

 

KETIKA sebuah peristiwa terjadi, barulah orang tersentak berusaha menghubungkan berbagai hal dengan peristiwa yang tengah terjadi. Atau bahkan berupaya merangkai-rangkai kembali kejadian remeh-temeh dan membingkainya dalam bentuk cerita yang utuh.

Kejadian-kejadian remeh-temeh yang terjadi sebelum peristiwa bom Bali yang menewaskan ratusan orang itu, misalnya, lantas diangkat dan ditampilkan Sandra Thibodeaux dan Mas Ruscitadewi dalam drama dwibahasa (Inggris-Indonesia) yang berjudul "Diburu Waktu" (Time is a Hunter). Drama ini dimainkan oleh kelompok Datu Bulan Theatre Company, disutradarai oleh Andrish Saint dan terjemahannya dikerjakan oleh Kadek Krishna Adidharma.

Drama "Diburu Waktu" ini dipentaskan selama lima hari berturut-turut -- 24 s.d. 28 Agustus 2005 -- di Town Hall Ruins, Darwin, Australia dalam rangkaian event "Festival Darwin 2005".

Pertunjukan dibuka dengan permainan wayang oleh dalang I Made Sidia. Dengan bantuan proyektor yang dikerjakan oleh Tim Parish, Sidia berupaya menggambarkan proses penciptaan dunia. Dari tapa yang dilakukan Dewa Ciwa, proses penciptaan dunia dalam bentuk Ciwa Nataraja, yang dengan segera berganti menjadi kayonan, dirangkaikan dengan munculnya dewa-dewa, manusia, butakala dan binatang dalam wujud rusa.

Tampilan wayang dengan bantuan slide proyektor dan diiringi musik gamelan gender dan suling yang digarap Dewa Putu Sugiartha dan I Gusti Ngurah Muliawan, dibantu oleh Sekaa Gamelan Tunas Mekar Darwin ini mampu memikat penonton. Bahkan, ini memaksa mereka untuk masuk ke dalam suasana misteri yang diciptakan. Dari sinilah cerita diawali.

Selanjutnya, slide menampilkan gambar laundry. Tampak tokoh Made sedang sibuk berlatih pidato bahasa Inggris. Kepada publik ia bercerita tentang kisah cintanya dengan seorang imigran Afganistan yang bernama Ali, yang kini terdampar di penjara Australia. Kisah hidup Made sungguh memprihatinkan. Dengan dua orang anak bernama Leonardo dan Kim, Made berusaha berjuang meraih kebahagiaan. Ukuran kebahagiaan bagi Made adalah bisa punya pekerjaan bagus, punya uang untuk kebutuhan anak-anaknya, bisa pergi ke Australia menyusul suaminya, mendapatkan banyak uang dan terbebas dari kemiskinan.

Berbeda dengan Made, tokoh utama lainnya bernama Ayu, seorang wanita Bali berkasta yang punya masalah dengan adat yang membelenggunya. Diceritakan, Ayu yang semula hanya serupa "rak pajangan" dalam keluarga, akhirnya harus bekerja karena kedua orangtuanya meninggal. Pertemuannya dengan Dave, lelaki Australia yang dikenalnya di tempat kerja, seolah dijadikan pemecahan masalah atas benturan-benturannya dengan tradisi.

Ayu siap kehilangan keluarga, kasta dan harta benda, karena memilih Dave. Toh, Ayu bisa pergi ke Australia dan berteman dengan orang Australia. Namun, hidup ternyata tak semudah yang dibayangkan Ayu, ada perbedaan budaya yang sulit dipecahkan yang mengganggu keutuhan rumah tangganya dengan Dave.

Kedua tokoh sentral dalam drama -- Made (yang dimainkan oleh Desak Putu Warti) dan Ayu (diperankan oleh Mas Ruscitadewi) -- adalah tokoh-tokoh yang berjuang untuk meraih kebahagiaannya. Hari itu, 12 Oktober 2002, mereka bertemu, di laundry, di tempat kursus bahasa Inggris, dan di Sari Club Kuta. Di Sari Club, Dave (diperankan oleh Damien A Pree) ada janji meeting dengan calon pembeli hotelnya. Dave bertemu Kim (diperankan Sarah Kingston), warga Australia yang nyasar karena tiketnya ditunda. Juga ada Ismail (diperankan oleh Alek) mantan pacar Ayu yang berusaha menipu Dave.

Pertemuan-pentemuan dan peristiwa-peristiwa pemeran seperti menjadi firasat akan terjadinya peristiwa yang akan mengubah hidup mereka. Jari Ayu yang tertusuk duri salak, banten yang jatuh, tangis anak Made sebelum ditinggal bekerja sebagai kasir di Sari Club dan kebahagiaan Made dengan kerja barunya, seakan menjadi firasat yang akan membebaskannya dari penderitaan.

Semua tokohnya -- Made, Ayu, Dave, Kim, hingga Ismail -- seperti sedang berlari, berpacu dengan waktu. Ujungnya, meledaknya bom di Sari Club malam itu seakan menjadi muara pelarian mereka, sekaligus menjadi jawaban atas firasat-firasat yang mereka alami. (ita)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com