kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 4 September 2005 tarukan valas
 

BERITA


Ni Ketut Puspitasari

Imbangi Tari dengan Yoga

SENANG dan bangga. Itu yang dirasakan Ni Ketut Puspitasari belum lama ini. Pasalnya, dara yang beralamat di Banjar Piling Kauhan, Penebel, Tabanan ini dipercaya tampil pada pentas kolaborasi seni tari Bali, India, dan yoga oleh Indian Cultural Centre (ICC) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar serangkain peringatan HUT Kemerdekaan RI di Lapangan Astina Ubud, Gianyar.

Meskipun bukan jebolan sekolah seni, tetapi Ipus -- begitu ia biasa disapa -- mengaku tampil percaya diri. Maklum saja, kolaborasi seperti ini bukan yang pertama kali ia lakukan. Meski demikian, jauh hari sebelumnya ia mengaku melakukan latihan secara rutin. "Untuk bisa mengimbangi para penari itu, saya harus banyak latihan. Untung saja saya memiliki dasar yoga, sehingga saya tidak pernah merasa capek," kata wanita yang pernah pentas di Madrid, Spanyol, bersama Dinas Pariwisata dan Garuda Indonesia pada 1995 ini.

Menurut Ipus, yoga dan tari Bali sangat terkait. Di samping melatih gerak, yoga juga bisa menghilangkan rasa capek, misalnya dengan melakukan pranayama atau pengaturan napas. Lalu, Ipus menuturkan dulu mendengar kata yoga pikiran orang pasti tertuju pada segala sesuatu yang berkait dengan ilmu tenaga dalam. Padahal, kini yoga bisa dilakukan oleh siapa saja dan bisa menyenangkan siapa saja.

Ipus sendiri mengaku pada awalnya tak tertarik bahkan tak pernah peduli pada yoga. Tetapi ketika mengalami masalah kesehatan pada pencernaannya yang tidak kunjung sembuh, walau sudah berulang-kali ke dokter, ia mencoba latihan yoga. Dengan yoga, ia sembuh dan penyakitnya tak pernah kambuh lagi. "Yoga sesungguhnya sebuah cara untuk mencapai moksa atau kesempurnaan," jelas bungsu dari empat saudara anak dari pasangan Drs. Ketut Karya (alm.) dan Ni Wayan Sukanata ini.

Kini, Ipus malah sudah menjadi instruktur yoga. Ia banyak memiliki anggota yang berasal dari lingkungan keluarganya dan teman-temannya di kantor. "Saya bukan instruktur, tetapi belajar bersama-sama teman. Kalau ada yang sakit, paling tidak saya bisa memberikan saran tentang gerakan atau pernapasannya," katanya.

Pemilik tinggi badan 165 cm dan berat 55 kg ini sangat percaya yoga bisa membantu pengendalian diri seseorang. Lalu, ia mencontohkan berita-berita tentang bentrok yang ditayangkan televisi. "Jika lebih banyak orang yang ikut yoga, berarti banyak pula yang bisa mengendalikan dirinya. Sehingga, orang tidak ada lagi penuh emosi dan dendam yang dapat menimbulkan huru-hara dan kekacauan di mana-mana," papar Ipus seraya menambahkan yoga juga bisa mengendalikan diri orang dari ketergantungan obat-obatan terlarang.

Perihal remaja masa kini, Ipus menilai, remaja sekarang lebih berani dan sikapnya cenderung kebarat-baratan. "Kalau bisa, remaja kini jangan meninggalkan budaya majejahitan yang merupakan warisan leluhur," ajak pemenang 10 besar Lomba Lagu Pop Bali RRI Denpasar (2000) dan model foto pakaian garmen untuk brosur garmen di New Zealand (2001) yang akhir-akhir ini sedang sibuk persiapan syuting untuk acara yoga tayangan Bali TV ini. (ana)

 

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com