Ni Ketut Puspitasari
Imbangi Tari dengan Yoga
SENANG
dan bangga. Itu yang dirasakan Ni Ketut Puspitasari belum lama
ini. Pasalnya, dara yang beralamat di Banjar Piling Kauhan,
Penebel, Tabanan ini dipercaya tampil pada pentas kolaborasi seni
tari Bali, India, dan yoga oleh Indian Cultural Centre (ICC) dan
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar serangkain peringatan HUT
Kemerdekaan RI di Lapangan Astina Ubud, Gianyar.
Meskipun bukan jebolan sekolah seni, tetapi Ipus --
begitu ia biasa disapa -- mengaku tampil percaya diri. Maklum
saja, kolaborasi seperti ini bukan yang pertama kali ia lakukan.
Meski demikian, jauh hari sebelumnya ia mengaku melakukan latihan
secara rutin. "Untuk bisa mengimbangi para penari itu, saya harus
banyak latihan. Untung saja saya memiliki dasar yoga, sehingga
saya tidak pernah merasa capek," kata wanita yang pernah pentas di
Madrid, Spanyol, bersama Dinas Pariwisata dan Garuda Indonesia
pada 1995 ini.
Menurut Ipus, yoga dan tari Bali sangat terkait. Di
samping melatih gerak, yoga juga bisa menghilangkan rasa capek,
misalnya dengan melakukan pranayama atau pengaturan napas. Lalu,
Ipus menuturkan dulu mendengar kata yoga pikiran orang pasti
tertuju pada segala sesuatu yang berkait dengan ilmu tenaga dalam.
Padahal, kini yoga bisa dilakukan oleh siapa saja dan bisa
menyenangkan siapa saja.
Ipus sendiri mengaku pada awalnya tak tertarik
bahkan tak pernah peduli pada yoga. Tetapi ketika mengalami
masalah kesehatan pada pencernaannya yang tidak kunjung sembuh,
walau sudah berulang-kali ke dokter, ia mencoba latihan yoga.
Dengan yoga, ia sembuh dan penyakitnya tak pernah kambuh lagi.
"Yoga sesungguhnya sebuah cara untuk mencapai moksa atau
kesempurnaan," jelas bungsu dari empat saudara anak dari pasangan
Drs. Ketut Karya (alm.) dan Ni Wayan Sukanata ini.
Kini, Ipus malah sudah menjadi instruktur yoga. Ia
banyak memiliki anggota yang berasal dari lingkungan keluarganya
dan teman-temannya di kantor. "Saya bukan instruktur, tetapi
belajar bersama-sama teman. Kalau ada yang sakit, paling tidak
saya bisa memberikan saran tentang gerakan atau pernapasannya,"
katanya.
Pemilik tinggi badan 165 cm dan berat 55 kg ini
sangat percaya yoga bisa membantu pengendalian diri seseorang.
Lalu, ia mencontohkan berita-berita tentang bentrok yang
ditayangkan televisi. "Jika lebih banyak orang yang ikut yoga,
berarti banyak pula yang bisa mengendalikan dirinya. Sehingga,
orang tidak ada lagi penuh emosi dan dendam yang dapat menimbulkan
huru-hara dan kekacauan di mana-mana," papar Ipus seraya
menambahkan yoga juga bisa mengendalikan diri orang dari
ketergantungan obat-obatan terlarang.
Perihal remaja masa kini, Ipus menilai, remaja
sekarang lebih berani dan sikapnya cenderung kebarat-baratan.
"Kalau bisa, remaja kini jangan meninggalkan budaya majejahitan
yang merupakan warisan leluhur," ajak pemenang 10 besar Lomba Lagu
Pop Bali RRI Denpasar (2000) dan model foto pakaian garmen untuk
brosur garmen di New Zealand (2001) yang akhir-akhir ini sedang
sibuk persiapan syuting untuk acara yoga tayangan Bali TV ini.
(ana)