Ny. Lauren:
Masyarakat Bali harus lebih Waspada
DUA
bulan ke depan ditengarai merupakan masa yang rawan dan kritis
bagi keamanan di Indonesia, termasuk di Bali. Saat itu,
pihak-pihak yang ingin membuat kekacauan bergentayangan. Antara
lain dalam bentuk teror bom, baik bom sungguhan maupun sekadar
menebar kecemasan. Karena itu, masyarakat Bali diminta lebih
waspada. Disarankan, kalau tak perlu benar supaya menjauhi
tempat-tempar ramai di malam hari.
Demikian imbuan paranormal Ny. Lauren dalam suatu
wawancara khusus di Rumah Makan Sari Warta Boga, Denpasar, Jumat
(2/9) malam. Ramalan itu disampaikan terkait meningkatnya
intensitas ancaman bom di Bali dalam beberapa hari terakhir.
Termasuk kejadian di Hotel Kuta Paradiso, Tuban serta penelepon
gelap yang mengancam akan meledakkan sejumlah hotel dan tempat
tertentu di Bali.
Menurut penglihatan Ny. Lauren, ancaman bom tak
hanya datang dari kelompok teroris dan jaringannya yang belum
tertangkap, tetapi juga dari warga asing yang tak puas terhadap
hukuman yang ditimpakan kepada rekan-rekannya yang terlibat kasus
narkoba. "Kita jangan hanya terpaku pada teroris dari kelompok
ekstrem tetapi juga pada warga asing yang tidak terima warganya
dihukum berat karena kasus narkoba," ujar paranormal kondang ini.
Diharapkan, pengamanan di semua pintu menuju Pulau
Dewata diperketat. Baik di pelabuhan laut seperti Gilimanuk,
Padangbai, dan Benoa juga Bandara Ngurah Rai. Sebab, tidak semua
orang yang masuk Bali mempunyai niat baik. Pengamanan ketat, kata
Lauren, bukanlah ekspresi ketakutan atau hilangnya hospitality,
melainkan bentuk kewaspadaan. Lebih dari pengamanan fisik, dia
juga menyarankan agar setiap umat beragama di Bali berdoa untuk
keselamatan bersama.
Dia juga mengingatkan para pengambil kebijakan di
daerah ini bersikap bijak untuk tidak mudah diiming-imingi
kepentingan sesaat. Padahal dampak dari keputusannya berjangka
panjang dan merusak Bali. Secara khusus Ny. Lauren menyoroti
pembangunan listrik tenaga panas bumi (geothermal) di Bedugul
serta sikap agresif kelompok tertentu yang ingin menguasai Bali.
"Kalau tidak hati-hati, Bali akan hancur," tandasnya seraya
mengingatkan hancur bukan hanya dalam arti fisik.
Ny. Lauren secara sekilas juga menyinggung kondisi
kerawanan di Indonesia yang menurutnya berpotensi meletupkan
tragedi besar seperti tahun 1998. Instabilitas ekonomi, sikap
menang sendiri dari kelompok tertentu serta kekecewaan mendalam
dari kelompok lainnya bisa menjadi pemicu meledaknya chaos. Kalau
sampai terjadi, kondisinya bisa lebih parah. Pilar bangsa ini bisa
rapuh. "Seperti ramalan saya beberapa tahun lalu, Indonesia bisa
pecah menjadi delapan," ujarnya mengingatkan.
(gre)