kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 8 Februari 2004 tarukan valas
 

ARSITEKTUR


Makna Spiritual Ragam Hias Bangunan Jawa

Konsep lama tradisi masyarakat Jawa, dalam mendirikan bangunan rumahnya, ternyata masih kuat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, rumah di kalangan masyarakat Jawa bukan sebagai tempat tinggal semata ataupun sebagai tempat berlindungnya dari serangan alam, ganasnya binatang buas, dan sebagainya. Namun, esensi utamanya merupakan ''pusat'' pembinaan keluarga. Lantas, secara khusus, makna apa sesungguhnya yang ada di balik ragam hias bangunan tradisional Jawa? Tulisan ini disarikan dari PR Cyber Media berikut ini mencoba merinci masalah ragam hias tersebut.

KONSEP mendirikan suatu bangunan rumah -- jauh sebelum konsep-konsep Barat jadi acuan -- sesungguhnya sudah dikembangkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Konsep-konsep itu dengan sendirinya amat beragam di pelosok kepulauan Tanah Air, disesuaikan dengan tingkat pendekatan dan penghayatan masing-masing sub-etnis yang ada.

Sesungguhnya, manusia sejak awal mendirikan permukimannya sudah mengapresiasi hubungan dengan lingkungan hidupnya. Ada ekologi, ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, lihatlah permukiman Sunda atau Minang yang seringk ali dikelilingi kolam ikan. Atau permukiman asli di pegunungan tengah Irian Jaya yang berdiri di bukit-bukit dengan rumah-rumahnya yang bulat dan pengap.

Begitupun dengan konsep lama tradisi masyarakat Jawa, dalam mendirikan bangunan rumahnya ternyata masih kuat melekat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, rumah di kalangan masyarakat Jawa bukannya sebagai tempat tinggal semata ataupun sebagai tempat berlindungnya dari serangan alam, ganasnya binatang buas, dan sebagainya. Namun, esensi utamanya merupakan "pusat" pembinaan keluarga.

Menurut Isan Riyanto, salah seorang pengamat budaya dari Solo, ada beberapa bentuk ragam hiasan pada seni bangunan rumah tradisional Jawa, di antaranya hiasan konstruksional dan inkonstruksional. Bentuk hiasan konstruksional artinya ragam hiasan yang sengaja dibuat secara utuh dengan bentuk bangunannya, sedangkan inkonstruksional adalah ragam hiasannya dapat dengan mudah dilepas dari bentuk bangunan aslinya.

Hiasan yang terdapat pada bangunan rumah tradisional Jawa umumnya bersifat konstruksional. Jadi, hiasan dan bangunan menjadi satu kesatuan utuh. Sebab memang masyarakat di Jawa lebih menyukai bentuk bangunan konstruksional ketimbang inkonstruksional. Salah satu bentuk ragam hias yang banyak terdapat pada bangunan rumah khas Jawa yakni berupa flora, fauna, stiliran maupun hiasan campuran. Diambilnya bentuk hiasan bermotif flora bagi kalangan masyarakat, konon memiliki sejumlah makna spiritual -- dipercaya bisa mendatangkan kebahagiaan. Di samping itu, ragam hiasan tersebut memiliki sifat halus, indah, dan sakral. Motif flora meliputi bunga, daun, buah dan ranting serta ujung pepohonan.

Motif Lunglungan
Lunglungan berasal dari kata lung yang berarti tumbuh-tumbuhan melata (merambat) yang masih muda. Jadi, motifnya berbentuk melengkung. Bentuk lunglungan ini banyak dijumpai pada bentuk bangunan khas tradisi Jawa seperti di pesisir utara Pekalongan, Jepara, Madura, Yogyakarta, dan Surakarta. Biasanya, lunglungan berbentuk polos sesuai dengan warna kayu jati -- warna kayu yang biasa dipakai sebagai bahan hiasan. Namun, ada pula yang diberi warna-warni yang sering disebut sunggingan.

Bila diberi warna, cara pewarnaannya ada beberapa macam, di antaranya warna dasar merah tua atau merah cokelat yang bisa disebut cettuk, sedangkan lunglungan-nya berwarna kuning emas dari bahan prada. Untuk tangkai dan daun diberi warna hijau secara sunggingan -- pewarnaan dari warna tua ke warna muda hingga putih. Untuk warna bunga dan buah, biasa menggunakan warna merah, juga secara sunggingan dari warna tua ke warna yang lebih muda hingga putih. Di samping itu, untuk memperkaya hiasan dan pewarnaan juga bisa dipakai warna lain seperti kuning, biru, dan ungu. Ragam hias lunglungan ini paling banyak dijumpai pada bangunan rumah. Biasanya ditempatkan pada setiap balok kerangka rumah -- blandar, tumpang, penegrat, dadapeksi, sunduk, dudur, ander, tiang, rusuk, takir, hingga kerbil. Juga terdapat di pemidangan, tebeng pintu, patang aring, daun pintu, tebeng jendela, dan sebagainya. Khusus bagian pemidangan rumah joglo di keraton misalnya, hiasan lunglungan hampir memenuhi seluruh bagian bangun tiang-tiangnya.

Mengingat ragam hias itu kebanyakan dipahat dan banyak terdapat di bagian rumah khas Jawa dan bahan bangunannya menggunakan bahan kayu, ragam hias lunglungan ini umumnya dipahat oleh si pembuatnya. Hasil pahatannya ada yang kasar, ada pula yang halus. Pada bangunan rumah petani umumnya lebih sederhana dan kurang halus. Sementara itu, pada bangunan rumah para perajin atau bangsawan, pembuatannya sangat halus.

Halus dan kasarnya hasil pahatan biasanya tergantung pada si pemahatnya. Hiasan lunglungan ini bisa memberi kesan -- di samping indah -- tenteram dan bersifat wingit (angker). Sedangkan lukisannya berupa tumbuh-tumbuhan, seperti daun kluwih (yang linuwih = yang serba lebih), bunga melati, bunga teratai, markisa, dan masih banyak contoh lainnya. Kesemuanya dikaitkan dengan falsafah Jawa.

Saton dan Nanasan
Selain motif lunglungan, dikenal pula motif saton. Cara pembuatan dan pemahatannya pun hampir sama. Nama saton berasal dari kata satu, berbentuk bujur sangkar dengan hiasan daun-daunan atau bunga di dalamnya. Hiasan ini banyak dijumpai pada kerangka bangunan seperti blandar, sunduk, pengeret, tumpang, dan ander. Sebagai pengisi tebeng pintu, motif saton selalu ditempatkan pada ujung dan pangkal tebeng pintu. Dalam komposisi ini, hiasan saton merupakan rangkaian atau landasan motif hiasan tlacap, tumpal, dan sorot.

Fungsi saton tumpal dan sorot, di samping memberi keindahan pada bangunan, juga memberi kesan kelengkapan pada ragam hias tumpal tlacapan. Sehingga, saton, tlacap tumpal, dan sorot merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Saton tanpa tlacapan bagaikan karya seni khas yang tidak utuh.

Tentang motif nanasan? Dinamakan nanasan karena bentuknya mirip buah nanas. Nanasan disebut pula omah tawon (sarang lebah) atau tawonan, maksudnya mirip sarang lebah. Ada pula yang menyebut bentuk pritgantil. Dalam seni rupa Islam, hiasan semacam ini mirip dengan hiasan maqamas. Untuk pembuatan motif ini dibutuhkan ketelitian, mulai dari bentuk segi empat, kemudian membulat. Untuk pewarnaan, motif ini bisa disesuaikan dengan buah nanas. Namun yang sering dijumpai, motif nanasan dibiarkan polos sesuai dengan warna kayunya.

Hiasan nanasan biasanya ditempatkan pada kunci (kancing) blandar tumpang bangunan joglo di setiap sudut luarnya. Hiasan ini banyak dijumpai pada bangunan berukuran besar, seperti rumah bangsawan di sekitar keraton.

Faun dan Kemamang
Motif fauna tidak sebanyak motif flora pada bangunan rumah khas Jawa. Hiasan fauna seperti burung garuda, kala, makara, ular dan gajah yang lazim didapati merupakan perwujudan dari simbol atau lambang tertentu. Cara penggambarannya ada yang utuh, ada pula yang sebagian. Untuk bentuk burung misalnya, hanya sayapnya saja, hiasan sayap ini disebut lar.

Bentuk fauna tidak hanya dijumpai dalam rumah-rumah penduduk, juga pada masjid, tempat pertemuan, makam, bahkan pada tembok, pintu gerbang atau regol. Hiasan burung garuda paling banyak dijumpai pada bangunan tradisional Jawa ketimbang hiasan fauna yang lain. Karena menurut cerita, burung ini merupakan burung yang paling besar dan gagah sehingga garuda sering digunakan sebagai perlambang keperkasaan. Bahkan, dalam dunia pewayangan, burung garuda merupakan kendaraan Batara Wisnu.

Dalam rumah tradisional Jawa, ragam hiasan kala lebih banyak dikenal dengan sebutan kemamang. Menurut cerita, kemamang adalah sejenis burung yang terbang malam hari, berwajah raksasa dan selalu mengeluarkan air liur yang bercahaya. Namun dalam kehidupan nyata, tidak dikenal jenis burung kemamang, karena ada yang mengatakan kemamang itu adalah sejenis burung hantu. Ragam hias kemamang berasal dari ragam hias yang sengaja diambilkan dari cerita yang terdapat dalam relief candi-candi, terutama di Jawa Tengah. Sementara di Jawa Timur, orang menyebutnya banaspati. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, banaspati merupakan burung hantu yang berwajah raksasa dengan dua tangan di tanah dan dua kaki di atas. ***

 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

ACARA RADIO & TV

 

CUACA

www.bali-travelnews.com