kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 13 April 2003 tarukan valas
 

APRESIASI


Lestarikan Alam dan Budaya lewat Lukisan

SEJUMLAH lukisan digelar dalam sebuah pameran di Hotel Padma, Legian-Kuta pada 9-11 April lalu. Para pelukis yang terlibat dalam pameran ini adalah I Wayan Gunawan, I Nyoman Sukaya, I Made Yasana, dan NA Arnawa. Secara menyeluruh, karya-karya mereka memperlihatkan usaha untuk melestarikan alam dan budaya. Pameran lukisan yang dirangkai untuk memeriahkan sebuah acara seminar nasional ini dibuka Ir. Subagiono, Dirjen Bina Produksi Perkebunan.

Menyimak pameran yang menampilkan 32 lukisan ini, ada kesan misalnya pelukis I Nyoman Sukaya lebih dominan menampilkan pemandangan alam. Sembilan lukisannya tidak menampakkan sosok manusia atau hewan, hanya pepohonan dan semak-belukar, hutan belantara, pesawahan, pantai dan pegunungan. Menurut Sukaya yang lahir di Tabanan, 1942, juga sebagai Ketua PSSRD Unud ini, memang sengaja tidak menampilkan sosok manusia dan hewan dalam lukisannya. Ini dikarenakaan ia menganggap manusia dan hewan dapat merusak alam -- menebang, membakar, memakan, dan mengkoyak alam.

Pada karya yang berjudul "Jatiluwih Lanscaping" misalnya, Sukaya mencoba memurnikan, menata lingkungan pemandangan alam, seperti yang diinginkannya, yang berkesan menyejukkan, suasana hening-bening dan ungkapan kedamaian serta ketenangan, terkadang sulit dijumpai pada masa kini yang penuh hiruk-pikuknya kehidupan. Lukisannya dikemas dengan teknik basah dan dusel dengan warna-warna sejuk kehijauan, teratur indah menjurus dekoratif. Rekannya I Wayan Gunawan, kelahiran Buleleng 1958, pada sembilan lukisannya, ada yang menyuguhkan pemandangan alam, ada kegiatan peribadatan, tempat-tempat suci/pura, barong, dll. Lukisan Gunawan dikemas dengan realis, menggunakan cat minyak dengan teknik campuran, basah, kering dan palet serta tekstur yang menonjol.

Demikian pula dengan I Made Yasana, kelahiran Gianyar 1949. Pelukis yang juga keramikus dari PSSRD Unud ini menampilkan karya lukisan yang berlatarbelakang adat dan budaya Bali -- ada tarian, profil gadis Bali, peribadatan, pemandangan, bangunan, dan lingkungan alam di Bali. Seperti halnya Gunawan, Yasana mengemas lukisannya dengan gaya realis dengan warna-warna yang cerah.

Berbeda dengan ketiga rekannya, NA Arnawa, kelahiran Denpasar 1950, menampilkan lukisan dengan nuansa kain klasik Bali dan dunia pewayangan. Ini terlihat pada karyanya yang berjudul "Kain Bali I & II", "Arjuna Wiwaha", "Wayang Arja", "Balinese Weaving" dan "Wayang Tantri", menonjolkan motif-motif kain tradisional dengan lipatan-lipatannya yang dirangkai dengan motif-motif pewayangan. Motif-motif kain Bali, bila diamati, cukup menarik. Hal ini membuat Arnawa seakan "jatuh cinta" pada kain dan mengekpresikannya dalam lukisan. Arnawa mengemas lukisannya dengan penuh kesabaran dan ketelitian, sedikit dekoratif dengan menonjolkan warna-warna kecoklatan atau warna-warna merah soga seperti warna-warna kain yang sudah lama dan berdebu.

* Agus Mulyadi Utomo


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com