kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 9 Maret 2003 tarukan valas
 

POTRET


I Gde Yudana

Kancah Politik Sekarang Betul-betul Ambruk

Pemeran raja buduh dalam Drama Gong, I Gde Yudana, memilih seni peran sebagai jalan hidupnya. Mantan polisi itu rela pensiun muda dan menceburkan diri dalam pertunjukan drama yang masih diminati masyarakat hingga kini. Dalam satu bulan, tidak kurang dari 15 kali ia tampil di atas pentas di seluruh pelosok Bali. Baginya, dunia kesenian menjadi obat awet muda. Dalam berkesenian, tidak dibayar pun ia rela. Walaupun begitu, seniman yang beristri tiga dan rukun semua ini ikut terjun dalam kancah politik praktis sebagai Ketua DPC PNI Bung Karno cabang Badung. Menurutnya, dalam politik pun dirinya menerapkan seni. Apa maksudnya dan apa rahasia keharmonisan rumah tangga bapak delapan anak ini? Berikut wawancara Bali Post dengan I Gde Yudana. Wawancara ini juga disiarkan dalam acara Profil Global di Radio Global FM.

APA yang membuat Anda tergerak untuk menggeluti pentas seni drama?
Bermain drama bukanlah pekerjaan untuk mencari uang. Bagi saya bermain drama itu tujuannya untuk sehat. Orang yang main drama atau berkecimpung bidang seni itu lebih banyak ketawa daripada yang lainnya. Saya di rumah kadang bingung menghadapi anak-anak atau pekerjaan di hotel itu harus serius, maka di drama saya bisa mengeluarkan unek-unek saya dan ketawa.

Sejak kapan Anda main drama?
Sejak tahun 1967. Jadi suka duka di drama banyak, tetapi saya tetap bersedia main. Walaupun misalnya di suatu desa kurang penghargaannya terhadap seni yang kami perankan, misalnya tikarnya saja robek, saya tidak menyesal. Saya main drama pertama kali ketika saya ditugaskan sebagai Bimas Polri di Pekutatan, Negara. Di desa saat itu orang tengah haus kesenian. Maka di desa itu dibuat kesenian Drama Gong yang dilatih oleh teman saya, namanya Sunarta. Saya ikut belajar. Saat itu saya merasa cocok walaupun karakter yang diajarkan pada saya cukup unik.

Bagaimana regenerasi untuk Drama Gong kini?
Saya usulkan pada pemerintah supaya pada tiap Pesta Kesenian Bali (PKB) diadakan festival Drama Gong. Karena sekarang di desa-desa orang tidak bisa membuat kelompok drama seperti di tahun 1960-an. Sama halnya dengan menjamurnya lagu pop Bali. Makanya saya usulkan itu. Dengan demikian, kita akan mendapatkan bibit unggul.

Apakah pelatih drama yang langka membuat sulit regenerasi pemain?
Bukan. Di masing-masing kabupaten masih banyak tokoh-tokoh Drama Gong yang masih eksis. Misalnya Jembrana, Singaraja, Karangasem, Klungkung dan Bangli. Sekarang banyak Drama Gong yang ditampilkan di televisi. Tetapi sayangnya para pelawak itu, jika sudah ditayangkan di televisi, leluconnya lantas hilang. Misalnya lelucon itu sudah dikeluarkan di televisi, penonton sudah mencerna. Jadi kalau kita buka lagi lelucon itu di desa, lantas jadi tidak lucu. Makanya saya harapkan generasi muda agar rajin main di televisi agar bisa menunjukkan bahwa Drama Gong itu memang masih ada dan masih eksis serta diterima orang Bali.

Mengingat media televisi menjadi wahana ampuh bagi sosialisasi Drama Gong, bagaimana peluang mengemaskan dalam format media elektronik yang beda dengan drama panggung?
Saya pernah syuting Drama Gong di tempat terbuka, misalnya di hotel. Itu kan sama dengan sinetron. Saya kira itu bisa dilakukan, hanya, biayanya tinggi, sama dengan film. Di TVRI Denpasar masih ada kopi syutingnya berjudul "Bagus Bego". Saya sebagai pemeran utama. Ini sangat menyenangkan, namun payah sekali. Itu perlu biaya tinggi. Kalau kita paksakan dengan biaya seadanya, kan kasihan pemain dan pendukungnya.

Anda sering berperan sebagai "raja muda", bagaimana menghayati peran itu?
Kita kan melihat sehari-hari, bagaimana gelagat anak muda. Saya kan pernah muda. Misalnya bagaimana anak muda merayu. Maklumlah jam terbang untuk main drama sudah tinggi. Jadi seolah-olah panggung itu tidak ada artinya bagi saya. Kita seperti berjalan di halaman. Tidak lagi grogi.

Awalnya grogi juga, lalu bagaimana menghilangkannya?
Ya, lama juga. Sama dengan bintang film, awalnya pasti dia grogi. Itu akan hilang jika jam terbangnya tinggi.

Karena peran "raja muda"-kah menyebabkan Anda menikah dengan tiga wanita?
Betul juga. Tetapi begini, saya melakukan ini karena saya sudah tujuh turunan hijrah dari Tabanan ke Denpasar hanya punya satu keturunan. Misalnya bapak saya anak tunggal, demikian juga kakek saya, dan bahkan buyut saya juga demikian. Itulah sebabnya saya ingin anak banyak dan memang generasi saya yang merealisasikan itu. Kadang-kadang waktu kecil saya menangis sama ayah. Karena di sanggah orang lain banyak yang sembahyang, sedangkan di sanggah saya, saya sendiri. Makanya saya bertekad, apa pun orang bilang, enggak apa-apa, yang penting anak-anak saya banyak dan bisa hidup rukun.

Apa gunanya Anda terjun di bidang politik praktis?
Semua ini tertuang pada pribadi. Saya di drama mencari pergaulan seluas-luasnya. Sama dengan di politik, juga mencari pergaulan seluas-luasnya. Karena kancah politik sekarang ini betul-betul ambruk. Makanya saya merasa terpanggil. Memang berat membina banyak orang yang menguras pikiran. Namun itu sama dengan main Drama Gong, itu untuk mencari pergaulan seluas-luasnya. Tidak ada artinya jika kita hidup tanpa teman atau tanpa saudara.

Anda kagum pada Bung Karno, itukah yang membuat Anda tertarik di bidang politik?
Betul sekali. Saya dari kecil memang kagum dengan Bung Karno. Saat SD saya berusaha agar dekat dengan beliau, caranya dengan ikut kegiatan Pandu. Jadi kalau di Pandu kan kita mendapat kesempatan berbaris di depan saat Bung karno datang. Saya pernah salaman dengan Bung Karno saat SD. Saya kagum dengan buku yang ditulisnya tentang marhaeinisme tahun 1927. Memang Bung Karno itu manusia yang lain daripada yang lain. Dia mengeluarkan banyak seruan, misalnya trisakti yang mencakup semuanya termasuk kehidupan sekarang. Salah satunya adalah kita berdiri di atas kaki sendiri. Kita berdaulat di bidang politik. Itulah penyebab saya terpanggil terjun di bidang politik.

Bagaimana pendidikan yang diberikan orangtua Anda?
Saya hanya diberikan disiplin dalam arti bisa bermasyarakat, baik melalui undagi seperti kakek saya dan orangtua saya sebagai kepala desa. Saya diajarkan supaya dekat dengan semua orang, bukan hanya yang kaya namun dengan orang miskin pula. Hal itu juga saya terapkan dalam kiprah saya di partai politik. Jadi walaupun saya bersebrangan dengan partai politik lainnya, namun saya tetap mengajak teman-teman dari partai lain agar bergandengan tangan. Karena tidak ada artinya kehidupan kita tanpa kebersamaan. Saya tetap berusaha dalam berpartai itu ber-tat twam asi -- artinya saling menghormati.

Anda anak tunggal dan dimanja, lalu mengapa memilih bekerja sebagai polisi yang identik dengan kehidupan keras?
Betul sekali, orangtua saya sangat menyayangi saya. Tidak pernah saya makan nasi jagung sejak kecil. Tetapi setelah di pendidikan justru saya makan nasi dicampur dengan jagung. Justru itulah yang membesarkan saya. Saya bangga jadi polisi, karena saya jadi orang berani. Mungkin kalau saya di rumah, saya jadi orang dungu. Jika orangtua saya mengikat saya di rumah, mungkin saya tidak jadi seperti sekarang. Pendidikan itu banyak menempa saya agar dapat bergaul dengan baik dan berani.

Siapa yang memberi inspirasi masuk Kepolisian, apakah ada dorongan luar?
Tidak. Saya inisiatif sendiri. Karena tanpa kita keluar, kita tidak akan melihat apa-apa. Saya harus keluar dari rumah. Hingga tiga bulan saya sekolah polisi, orangtua tidak tahu, dikiranya saya sekolah biasa. Ibu saya datang ke Singaraja, tempat pendidikan polisi, dan saya disuruh berhenti sekolah. Saya tidak mau.

Tetapi kemudian Anda pensiun muda di polisi, apa alasannya?
Sebenarnya ini karena saya diberi jabatan lain, sebagai kepala Inkopol atau Induk Koperasi Polisi. Jabatan saya waktu itu pembantu perwira sehingga saya tidak boleh rangkap jabatan. Lantas saya minta pensiun muda. Akhirnya saya pegang jabatan Inkopol untuk Nusa Tenggara. Waktu itu umur saya 39 tahun. Dua perusahaan milik polisi yang saya pegang, saya juga menjabat sebagai Direktur Koperasi Bhayangkara di Bali. Ini ajang saya belajar untuk berbisnis. Karena kalau saya berkarier di polisi, ya begitu saja. Bisnis itu saya lakukan demi masa depan anak. Ada bapak saya dari Jakarta, pak guru Bada namanya, beliau bilang, anakmu mau kamu kasih makan apa? Itulah sebabnya saya putuskan untuk menerima jabatan sebagai kepala Inkopol. Benar juga. Saya ditempa di koperasi itu untuk belajar berbisnis. Memang berlawanan sekali perilaku antara bisnis dan politik. Orang bisnis tiap mengeluarkan sesuatu harus dengan perhitungan, sementara di politik harus berani mengeluarkan dana untuk massa, pendukung dan kader.

Apa yang membuat Anda bahagia?
Kita harus tenang, dalam keluarga aman, rukun. Maaf, meskipun saya punya istri tiga, tetapi semua rukun. Dengan demikian rezeki akan datang. Tidak mungkin rezeki datang jika kita bertengkar tiap hari. Sekali pun tidak banyak, namun cukup untuk anak-anak.

Lantas apa harapan Anda untuk Drama Gong?
Saya berharap Drama Gong tetap ada di Bali. Sebab Drama Gong media mendidik orang berbahasa Bali dengan baik. Selain itu saya akan mempertahankan Drama Gong hingga akhir hayat. Walaupun saya tidak main, saya bisa membuat naskah atau melatih anak-anak. Saya ingin terus menuangkan ide-ide saya untuk Drama Gong.

* Pewawancara:
Asti Musman

BIODATA
Nama : I Gde Yudana
Tempat/tgl. lahir : Denpasar, 14 Januari 1947
Nama istri : Made Sasih Arini
Ketut Suwarsiki
Kadek Yuhameni
Nama anak : Putu Yudiatmika, S.H.
Komang Yudiastawa
Ketut Yudiastuti
I Gde Yudi Armawan
Putu Gde Yudi Armawan, S.E.
Putu Nik Yudi Arsika
Gde Yudi Artana
Made Yudi Artawa

Pekerjaan : Purnawirawan Polisi
Kepala Inkopol (Induk Koperasi Polisi) Nusa Tenggara
Pemilik Hotel Batukaru

Organisasi:
Sekretaris Umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Bali
Ketua DPC PNI Bung Karno Kabupaten Badung


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

Acara TV 
& Radio

CUACA

www.bali-travelnews.com