I Gde Yudana
Kancah Politik
Sekarang Betul-betul Ambruk
Pemeran
raja buduh dalam Drama Gong, I Gde Yudana, memilih seni peran
sebagai jalan hidupnya. Mantan polisi itu rela pensiun muda dan
menceburkan diri dalam pertunjukan drama yang masih diminati
masyarakat hingga kini. Dalam satu bulan, tidak kurang dari 15
kali ia tampil di atas pentas di seluruh pelosok Bali. Baginya,
dunia kesenian menjadi obat awet muda. Dalam berkesenian, tidak
dibayar pun ia rela. Walaupun begitu, seniman yang beristri tiga
dan rukun semua ini ikut terjun dalam kancah politik praktis
sebagai Ketua DPC PNI Bung Karno cabang Badung. Menurutnya,
dalam politik pun dirinya menerapkan seni. Apa maksudnya dan apa
rahasia keharmonisan rumah tangga bapak delapan anak ini?
Berikut wawancara Bali Post dengan I Gde Yudana. Wawancara ini
juga disiarkan dalam acara Profil Global di Radio Global FM.
APA yang
membuat Anda tergerak untuk menggeluti pentas seni drama?
Bermain drama bukanlah pekerjaan untuk mencari uang. Bagi saya
bermain drama itu tujuannya untuk sehat. Orang yang main drama
atau berkecimpung bidang seni itu lebih banyak ketawa daripada
yang lainnya. Saya di rumah kadang bingung menghadapi anak-anak
atau pekerjaan di hotel itu harus serius, maka di drama saya
bisa mengeluarkan unek-unek saya dan ketawa.
Sejak kapan Anda main
drama?
Sejak tahun 1967. Jadi suka duka di drama banyak, tetapi saya
tetap bersedia main. Walaupun misalnya di suatu desa kurang
penghargaannya terhadap seni yang kami perankan, misalnya
tikarnya saja robek, saya tidak menyesal. Saya main drama
pertama kali ketika saya ditugaskan sebagai Bimas Polri di
Pekutatan, Negara. Di desa saat itu orang tengah haus kesenian.
Maka di desa itu dibuat kesenian Drama Gong yang dilatih oleh
teman saya, namanya Sunarta. Saya ikut belajar. Saat itu saya
merasa cocok walaupun karakter yang diajarkan pada saya cukup
unik.
Bagaimana regenerasi
untuk Drama Gong kini?
Saya usulkan pada pemerintah supaya pada tiap Pesta Kesenian
Bali (PKB) diadakan festival Drama Gong. Karena sekarang di
desa-desa orang tidak bisa membuat kelompok drama seperti di
tahun 1960-an. Sama halnya dengan menjamurnya lagu pop Bali.
Makanya saya usulkan itu. Dengan demikian, kita akan mendapatkan
bibit unggul.
Apakah pelatih drama yang
langka membuat sulit regenerasi pemain?
Bukan. Di masing-masing kabupaten masih banyak tokoh-tokoh Drama
Gong yang masih eksis. Misalnya Jembrana, Singaraja, Karangasem,
Klungkung dan Bangli. Sekarang banyak Drama Gong yang
ditampilkan di televisi. Tetapi sayangnya para pelawak itu, jika
sudah ditayangkan di televisi, leluconnya lantas hilang.
Misalnya lelucon itu sudah dikeluarkan di televisi, penonton
sudah mencerna. Jadi kalau kita buka lagi lelucon itu di desa,
lantas jadi tidak lucu. Makanya saya harapkan generasi muda agar
rajin main di televisi agar bisa menunjukkan bahwa Drama Gong
itu memang masih ada dan masih eksis serta diterima orang Bali.
Mengingat media televisi
menjadi wahana ampuh bagi sosialisasi Drama Gong, bagaimana
peluang mengemaskan dalam format media elektronik yang beda
dengan drama panggung?
Saya pernah syuting Drama Gong di tempat terbuka, misalnya di
hotel. Itu kan sama dengan sinetron. Saya kira itu bisa
dilakukan, hanya, biayanya tinggi, sama dengan film. Di TVRI
Denpasar masih ada kopi syutingnya berjudul "Bagus
Bego". Saya sebagai pemeran utama. Ini sangat menyenangkan,
namun payah sekali. Itu perlu biaya tinggi. Kalau kita paksakan
dengan biaya seadanya, kan kasihan pemain dan pendukungnya.
Anda sering berperan
sebagai "raja muda", bagaimana menghayati peran itu?
Kita kan melihat sehari-hari, bagaimana gelagat anak muda. Saya
kan pernah muda. Misalnya bagaimana anak muda merayu. Maklumlah
jam terbang untuk main drama sudah tinggi. Jadi seolah-olah
panggung itu tidak ada artinya bagi saya. Kita seperti berjalan
di halaman. Tidak lagi grogi.
Awalnya grogi juga, lalu
bagaimana menghilangkannya?
Ya, lama juga. Sama dengan bintang film, awalnya pasti dia
grogi. Itu akan hilang jika jam terbangnya tinggi.
Karena peran "raja
muda"-kah menyebabkan Anda menikah dengan tiga wanita?
Betul juga. Tetapi begini, saya melakukan ini karena saya sudah
tujuh turunan hijrah dari Tabanan ke Denpasar hanya punya satu
keturunan. Misalnya bapak saya anak tunggal, demikian juga kakek
saya, dan bahkan buyut saya juga demikian. Itulah sebabnya saya
ingin anak banyak dan memang generasi saya yang merealisasikan
itu. Kadang-kadang waktu kecil saya menangis sama ayah. Karena
di sanggah orang lain banyak yang sembahyang, sedangkan di
sanggah saya, saya sendiri. Makanya saya bertekad, apa pun orang
bilang, enggak apa-apa, yang penting anak-anak saya banyak dan
bisa hidup rukun.
Apa gunanya Anda terjun
di bidang politik praktis?
Semua ini tertuang pada pribadi. Saya di drama mencari pergaulan
seluas-luasnya. Sama dengan di politik, juga mencari pergaulan
seluas-luasnya. Karena kancah politik sekarang ini betul-betul
ambruk. Makanya saya merasa terpanggil. Memang berat membina
banyak orang yang menguras pikiran. Namun itu sama dengan main
Drama Gong, itu untuk mencari pergaulan seluas-luasnya. Tidak
ada artinya jika kita hidup tanpa teman atau tanpa saudara.
Anda kagum pada Bung
Karno, itukah yang membuat Anda tertarik di bidang politik?
Betul sekali. Saya dari kecil memang kagum dengan Bung Karno.
Saat SD saya berusaha agar dekat dengan beliau, caranya dengan
ikut kegiatan Pandu. Jadi kalau di Pandu kan kita mendapat
kesempatan berbaris di depan saat Bung karno datang. Saya pernah
salaman dengan Bung Karno saat SD. Saya kagum dengan buku yang
ditulisnya tentang marhaeinisme tahun 1927. Memang Bung Karno
itu manusia yang lain daripada yang lain. Dia mengeluarkan
banyak seruan, misalnya trisakti yang mencakup semuanya termasuk
kehidupan sekarang. Salah satunya adalah kita berdiri di atas
kaki sendiri. Kita berdaulat di bidang politik. Itulah penyebab
saya terpanggil terjun di bidang politik.
Bagaimana pendidikan yang
diberikan orangtua Anda?
Saya hanya diberikan disiplin dalam arti bisa bermasyarakat,
baik melalui undagi seperti kakek saya dan orangtua saya sebagai
kepala desa. Saya diajarkan supaya dekat dengan semua orang,
bukan hanya yang kaya namun dengan orang miskin pula. Hal itu
juga saya terapkan dalam kiprah saya di partai politik. Jadi
walaupun saya bersebrangan dengan partai politik lainnya, namun
saya tetap mengajak teman-teman dari partai lain agar
bergandengan tangan. Karena tidak ada artinya kehidupan kita
tanpa kebersamaan. Saya tetap berusaha dalam berpartai itu
ber-tat twam asi -- artinya saling menghormati.
Anda anak tunggal dan
dimanja, lalu mengapa memilih bekerja sebagai polisi yang
identik dengan kehidupan keras?
Betul sekali, orangtua saya sangat menyayangi saya. Tidak pernah
saya makan nasi jagung sejak kecil. Tetapi setelah di pendidikan
justru saya makan nasi dicampur dengan jagung. Justru itulah
yang membesarkan saya. Saya bangga jadi polisi, karena saya jadi
orang berani. Mungkin kalau saya di rumah, saya jadi orang
dungu. Jika orangtua saya mengikat saya di rumah, mungkin saya
tidak jadi seperti sekarang. Pendidikan itu banyak menempa saya
agar dapat bergaul dengan baik dan berani.
Siapa yang memberi
inspirasi masuk Kepolisian, apakah ada dorongan luar?
Tidak. Saya inisiatif sendiri. Karena tanpa kita keluar, kita
tidak akan melihat apa-apa. Saya harus keluar dari rumah. Hingga
tiga bulan saya sekolah polisi, orangtua tidak tahu, dikiranya
saya sekolah biasa. Ibu saya datang ke Singaraja, tempat
pendidikan polisi, dan saya disuruh berhenti sekolah. Saya tidak
mau.
Tetapi kemudian Anda
pensiun muda di polisi, apa alasannya?
Sebenarnya ini karena saya diberi jabatan lain, sebagai kepala
Inkopol atau Induk Koperasi Polisi. Jabatan saya waktu itu
pembantu perwira sehingga saya tidak boleh rangkap jabatan.
Lantas saya minta pensiun muda. Akhirnya saya pegang jabatan
Inkopol untuk Nusa Tenggara. Waktu itu umur saya 39 tahun. Dua
perusahaan milik polisi yang saya pegang, saya juga menjabat
sebagai Direktur Koperasi Bhayangkara di Bali. Ini ajang saya
belajar untuk berbisnis. Karena kalau saya berkarier di polisi,
ya begitu saja. Bisnis itu saya lakukan demi masa depan anak.
Ada bapak saya dari Jakarta, pak guru Bada namanya, beliau
bilang, anakmu mau kamu kasih makan apa? Itulah sebabnya saya
putuskan untuk menerima jabatan sebagai kepala Inkopol. Benar
juga. Saya ditempa di koperasi itu untuk belajar berbisnis.
Memang berlawanan sekali perilaku antara bisnis dan politik.
Orang bisnis tiap mengeluarkan sesuatu harus dengan perhitungan,
sementara di politik harus berani mengeluarkan dana untuk massa,
pendukung dan kader.
Apa yang membuat Anda
bahagia?
Kita harus tenang, dalam keluarga aman, rukun. Maaf, meskipun
saya punya istri tiga, tetapi semua rukun. Dengan demikian
rezeki akan datang. Tidak mungkin rezeki datang jika kita
bertengkar tiap hari. Sekali pun tidak banyak, namun cukup untuk
anak-anak.
Lantas apa harapan Anda
untuk Drama Gong?
Saya berharap Drama Gong tetap ada di Bali. Sebab Drama Gong
media mendidik orang berbahasa Bali dengan baik. Selain itu saya
akan mempertahankan Drama Gong hingga akhir hayat. Walaupun saya
tidak main, saya bisa membuat naskah atau melatih anak-anak.
Saya ingin terus menuangkan ide-ide saya untuk Drama Gong.
* Pewawancara:
Asti Musman
BIODATA
Nama : I Gde Yudana
Tempat/tgl. lahir : Denpasar, 14 Januari 1947
Nama istri : Made Sasih Arini
Ketut Suwarsiki
Kadek Yuhameni
Nama anak : Putu Yudiatmika, S.H.
Komang Yudiastawa
Ketut Yudiastuti
I Gde Yudi Armawan
Putu Gde Yudi Armawan, S.E.
Putu Nik Yudi Arsika
Gde Yudi Artana
Made Yudi Artawa
Pekerjaan : Purnawirawan
Polisi
Kepala Inkopol (Induk Koperasi Polisi) Nusa Tenggara
Pemilik Hotel Batukaru
Organisasi:
Sekretaris Umum IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Bali
Ketua DPC PNI Bung Karno Kabupaten Badung
|