kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Wage, 9 Maret 2003 tarukan valas
 

OPINI


Manunggaling Kawula-Gusti

The King can do no wrong! Raja tak mungkin melakukan kesalahan. Sebab, dalam tubuh raja mengalir darah Tuhan. Dalam otak raja mengalir pikiran Tuhan. Dalam perilaku raja terkandang tindakan Tuhan, sehingga kata-kata raja adalah firman Tuhan.
("Long live the King!" Hidup raja!) DALAM zaman pemerintahan monarkhi absolut ada anggapan bahwa raja sebagai kepala pemerintahan adalah wakil Tuhan di dunia. Malah untuk mendukung anggapan tersebut disebarkan mitos bahwa raja adalah keturunan Dewa Matahari, Dewa Angin, Dewa Air disertai dongeng tentang keajaiban yang pernah terjadi akibat kesaktian sang raja. Rakyat pun dibuat takjub atas kepiawaian para pembantu raja dalam menuturkan kisah, sehingga dongeng tersulap jadi kenyataan. Bahkan untuk membungkam pertanyaan-pertanyaan kritis atau sanggahan, para pembantu raja juga melengkapi diri mereka dengan tutur-pitutur mengenai pemali atau kutukan bagi pihak yang tidak percaya.

Dongeng atau mitologi sebenarnya mulai terkikis sejak anak-anak manusia bernama Copernicus (1473-1543), Gilileo Galilei (1564-1642) dan Isaac Newton (1641-1727) lahir ke bumi. Sejak itu kisah tentang kegaiban manusia mulai terkikis, karena kegaiban alam yang sebenarnya lebih banyak mengandung misteri mulai terkuak. Copernicus mengawali teori tentang tata surya, dimana dikatakannya bahwa matahari sebagai pusat pergerakan planet-planet di jagat raya ini. Kemudian teori dari pakar astronomi kelahiran Polandia ini diperkuat Galileo kelahiran Italia yang berhasil membuat teleskop astromik pertama dan juga berhasil menyusun rumus-rumus matematik untuk hukum-hukum fisika. Meski buku-buku kedua pakar tersebut baru terbit setelah keduanya meninggal akibat ketakutan akan inkuisisi gereja Katolik Roma, namun Newton yang lahir di Inggris kemudian berhasil pula melanjutkan kiprah kedua pendahulunya dengan hukum gravitasi dan hukum gerak.

''Dipisahkan kepala dan badan Louis XVI serta istrinya Marie Antoinette dengan guilotin tahun 1793 sebagai rentetan Revolusi Prancis merupakan bukti bahwa kesakralan raja akibat dukungan dongeng atau mitologi telah berakhir. Sejak itu pula popularitas kerajaan sebagai sistem pemerintahan mulai pudar. Bahkan Amerika yang mendahului 14 tahun revolusinya dari Prancis, memilih republik sebagai bentuk pemerintahannya, meski kebanyakan penduduk Amerika saat awal berdirinya negara itu berasal dari Inggris atau Anglo-Saxon,'' tutur Rubag.

''Dongeng bahwa raja keturunan dewa memang sudah berakhir. Di Amerika dan Prancis terjadi abad pada ke-18, tapi di negeri kita ini, pada pertengahan abad ke-20 yakni sejak kemerdekaan RI diproklamasikan. Raja memang tidak ada lagi, tapi orang-orang bermental raja serta para pendukungnya yang bermental kawula dan punakawan masih tetap ada. Maklum negara kita ini sejak sebelum zaman kolonialis memang terdiri dari kerajaan-kerajaan. Malah mentalitas feodal yang patrimonial justru diperkuat oleh kaum penjajah, sementara mereka bertindak sebagai dalang yang tentunya tidak berada di bawah sistem tersebut. Dengan sistem feodalisme monarkhis yang ketat, hubungan kawula dan gusti dibatasi benteng tebal berupa adat-istiadat serta tutur kata yang taat pada hirarkhis. Sisa-sisa kultur ini masih tetap melekat, meski kita telah memasuki abad ke-21. Cuma tata-caranya diatur agar kelihatan demokratis,'' sahut Sumadi.

''Benar! Feodalisme sekarang sudah berganti aktor. Kalau dulu pelakunya adalah aristokrat atau raja beserta para punggawanya yang menerima perlakuan istimewa dari rakyat sehingga berkesan kawula dan gusti. Sekarang, meskipun negara ini telah berbentuk republik yang ditebari lembaga-lembaga demokratis, namun hubungan antara kepala kantor dan stafnya berkesan kawula dan gusti masih tampak kental di beberapa instansi pemerintah maupun swasta.

Khususnya instansi yang memiliki kewenangan untuk mengatur kepentingan orang banyak, dimana duit menjadi lem pelekat yang menjaga hubungan kawula dan gusti-nya,'' kilah Suarnadi.

''Persis! Dulu, kalau ada yang berani menghina raja atau golongan bangsawan, pasti ada kawula yang akan pasang badan jadi bemper. Jangankan penyok, risiko mati pun akan dihadapinya, asal kehormatan gusti-nya terjaga. Analogi seperti ini praktiknya tetap berlangsung hingga sekarang. Ironisnya, orang yang melakoni posisi kawula seakan-akan tidak ingat pada status pendidikannya, apakah dia termasuk intelektual atau bukan. Pokoknya, bagi mereka, right or wrong is my boss. Padahal Abdurahman Wahid alias Gus Dur pernah menyatakan bahwa right or wrong is my country adalah ungkapan kuno, sedangkan yang baru dan berlaku adalah right or wrong is right or wrong. Benar adalah benar, salah adalah salah! Jangan karena seseorang adalah pemimpin atau kepala sebuah instansi, segala ucapan dan tindakannya dianggap benar,'' komentar Rubag.

''Jangan terlalu menyalahkan kesetiaan buta seperti itu! Sekarang zaman materialistis, semua ukuran, baik tindakan maupun ucapan, acuannya adalah doku dan kocek. Jadi yang ada cuma bayu serta sabda tanpa idep. Andaikata ada idep lebih tepat dibaca idep-idepan atau pura-pura. Segala pikiran disimpan dalam kantong dan dompet, sehingga tindakan dan ucapan semua ditujukan untuk kepentingan materialistik. Boss adalah pusat dari sirkulasi, distribusi termasuk income tambahan dari zaman KKN yang tetap berlanjut ini. Karena itu, segala hambatan, tantangan maupun halangan yang mengganggu kiprah pemimpin, harus dibela mati-matian! Jangankan masalah kecurangannya, yang kalau terbongkar akan membuat akar-akar tercerabut, soal 'simpanan' atau WIL yang menemani si boss ke mana pun dia pergi, harus disembunyikan para punakawan. Membongkar rahasia boss berarti pengkhianatan. Mengkhianat risikonya mutasi ke tempat yang kering! Nah, siapa berani berkhianat dengan risiko yang tidak mengenakkan juga bisa menyebabkan hidup bagai kerakap tumbuh di batu?'' sela Gus Eka.

''Itu benar-benar hubungan seperti Manunggaling Kawula Gusti seperti ditulis P.J.Zoetmulder. Meskipun dalam buku itu lebih banyak diulas hubungan Tuhan atau para manifestasiNya dengan manusia, namun hubungan kawula lan gusti juga dipakai pola oleh para raja dalam memperlakukan rakyatnya. Sekarang di zaman ultramodern ini, di mana sainstek dianggap berhala baru, pemimpin yang kadang-kadang bergelar profesor pun menuntut kesetiaan berparadigma para punakawan dan raja. Mungkin karena menganggap dirinya sebagai penguasa ilmu, yang seharusnya berumah di angin menurut WS Rendra, namun ketika memilih berumah di keraton sebagai berokrat, menuntut pada para anak buahnya agar dirinya diperlakukan sebagai raja. Dia memonopoli kebenaran dan menafsirkan segala peraturan sesuai visinya dan menolak pendapat orang lain yang bertentangan dengan tafsirannya. Dia adalah raja kecil namun berkuasa penuh atas orang-orang yang berkepentingan dengan instansi yang dipimpinnya,'' papar Cok Bagus.

''Raja kecil di zaman sekarang ini lebih cocok disebut clyptokrator. Sebab dia bermental maling, yang menganggap dirinya tuan dan seluruh bawahannya budak. Tuan selalu mendapat bagian berlipat kali lebih banyak dari para anak buah, demikian pula fasilitas. Rumah dinas, tunjangan jabatan serta hak untuk bepergian ke luar daerah maupun luar negeri adalah prioritas tuan. Kalau pun ada pembagian untuk bawahan, demi sebutan demokratis, itu cuma bagian-bagian kecil yang dianggap sisa-sisa yang tidak lagi diminati sang clyptokrator. Satu hal yang membuat kekuasaan tuan terlindungi, karena instansi yang dipimpinnya memiliki hak untuk mengeluarkan berbagai izin yang banyak dibutuhkan orang, agar usaha mereka legal. Ironisnya, izin-izin tersebut dianggap barang dagangan atau komoditas yang bisa diperjual-belikan. Aktivitas jual beli itu menjadi aneh, karena ada black market yang mempertebal kocek para penjualnya. Ini rahasia umum, tapi tak mungkin tercium karena disana terjadi keterkaitan antara kebutuhan dan kepentingan antara pembeli dan penjual. Khususnya hubungan para penjual dengan tuannya, yang bagaikan kawula dan gusti yang tidak saling mengkhianati,'' ujar Rubag.
* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com