Manunggaling
Kawula-Gusti
The King can do no wrong!
Raja tak mungkin melakukan kesalahan. Sebab, dalam tubuh raja
mengalir darah Tuhan. Dalam otak raja mengalir pikiran Tuhan.
Dalam perilaku raja terkandang tindakan Tuhan, sehingga
kata-kata raja adalah firman Tuhan.
("Long live the King!" Hidup raja!) DALAM
zaman pemerintahan monarkhi absolut ada anggapan bahwa raja
sebagai kepala pemerintahan adalah wakil Tuhan di dunia. Malah
untuk mendukung anggapan tersebut disebarkan mitos bahwa raja
adalah keturunan Dewa Matahari, Dewa Angin, Dewa Air disertai
dongeng tentang keajaiban yang pernah terjadi akibat kesaktian
sang raja. Rakyat pun dibuat takjub atas kepiawaian para
pembantu raja dalam menuturkan kisah, sehingga dongeng tersulap
jadi kenyataan. Bahkan untuk membungkam pertanyaan-pertanyaan
kritis atau sanggahan, para pembantu raja juga melengkapi diri
mereka dengan tutur-pitutur mengenai pemali atau kutukan bagi
pihak yang tidak percaya.
Dongeng atau mitologi
sebenarnya mulai terkikis sejak anak-anak manusia bernama
Copernicus (1473-1543), Gilileo Galilei (1564-1642) dan Isaac
Newton (1641-1727) lahir ke bumi. Sejak itu kisah tentang
kegaiban manusia mulai terkikis, karena kegaiban alam yang
sebenarnya lebih banyak mengandung misteri mulai terkuak.
Copernicus mengawali teori tentang tata surya, dimana
dikatakannya bahwa matahari sebagai pusat pergerakan
planet-planet di jagat raya ini. Kemudian teori dari pakar
astronomi kelahiran Polandia ini diperkuat Galileo kelahiran
Italia yang berhasil membuat teleskop astromik pertama dan juga
berhasil menyusun rumus-rumus matematik untuk hukum-hukum
fisika. Meski buku-buku kedua pakar tersebut baru terbit setelah
keduanya meninggal akibat ketakutan akan inkuisisi gereja
Katolik Roma, namun Newton yang lahir di Inggris kemudian
berhasil pula melanjutkan kiprah kedua pendahulunya dengan hukum
gravitasi dan hukum gerak.
''Dipisahkan kepala dan
badan Louis XVI serta istrinya Marie Antoinette dengan guilotin
tahun 1793 sebagai rentetan Revolusi Prancis merupakan bukti
bahwa kesakralan raja akibat dukungan dongeng atau mitologi
telah berakhir. Sejak itu pula popularitas kerajaan sebagai
sistem pemerintahan mulai pudar. Bahkan Amerika yang mendahului
14 tahun revolusinya dari Prancis, memilih republik sebagai
bentuk pemerintahannya, meski kebanyakan penduduk Amerika saat
awal berdirinya negara itu berasal dari Inggris atau
Anglo-Saxon,'' tutur Rubag.
''Dongeng bahwa raja
keturunan dewa memang sudah berakhir. Di Amerika dan Prancis
terjadi abad pada ke-18, tapi di negeri kita ini, pada
pertengahan abad ke-20 yakni sejak kemerdekaan RI
diproklamasikan. Raja memang tidak ada lagi, tapi orang-orang
bermental raja serta para pendukungnya yang bermental kawula dan
punakawan masih tetap ada. Maklum negara kita ini sejak sebelum
zaman kolonialis memang terdiri dari kerajaan-kerajaan. Malah
mentalitas feodal yang patrimonial justru diperkuat oleh kaum
penjajah, sementara mereka bertindak sebagai dalang yang
tentunya tidak berada di bawah sistem tersebut. Dengan sistem
feodalisme monarkhis yang ketat, hubungan kawula dan gusti
dibatasi benteng tebal berupa adat-istiadat serta tutur kata
yang taat pada hirarkhis. Sisa-sisa kultur ini masih tetap
melekat, meski kita telah memasuki abad ke-21. Cuma tata-caranya
diatur agar kelihatan demokratis,'' sahut Sumadi.
''Benar! Feodalisme
sekarang sudah berganti aktor. Kalau dulu pelakunya adalah
aristokrat atau raja beserta para punggawanya yang menerima
perlakuan istimewa dari rakyat sehingga berkesan kawula dan
gusti. Sekarang, meskipun negara ini telah berbentuk republik
yang ditebari lembaga-lembaga demokratis, namun hubungan antara
kepala kantor dan stafnya berkesan kawula dan gusti masih tampak
kental di beberapa instansi pemerintah maupun swasta.
Khususnya instansi yang
memiliki kewenangan untuk mengatur kepentingan orang banyak,
dimana duit menjadi lem pelekat yang menjaga hubungan kawula dan
gusti-nya,'' kilah Suarnadi.
''Persis! Dulu, kalau ada
yang berani menghina raja atau golongan bangsawan, pasti ada
kawula yang akan pasang badan jadi bemper. Jangankan penyok,
risiko mati pun akan dihadapinya, asal kehormatan gusti-nya
terjaga. Analogi seperti ini praktiknya tetap berlangsung hingga
sekarang. Ironisnya, orang yang melakoni posisi kawula
seakan-akan tidak ingat pada status pendidikannya, apakah dia
termasuk intelektual atau bukan. Pokoknya, bagi mereka, right or
wrong is my boss. Padahal Abdurahman Wahid alias Gus Dur pernah
menyatakan bahwa right or wrong is my country adalah ungkapan
kuno, sedangkan yang baru dan berlaku adalah right or wrong is
right or wrong. Benar adalah benar, salah adalah salah! Jangan
karena seseorang adalah pemimpin atau kepala sebuah instansi,
segala ucapan dan tindakannya dianggap benar,'' komentar Rubag.
''Jangan terlalu
menyalahkan kesetiaan buta seperti itu! Sekarang zaman
materialistis, semua ukuran, baik tindakan maupun ucapan,
acuannya adalah doku dan kocek. Jadi yang ada cuma bayu serta
sabda tanpa idep. Andaikata ada idep lebih tepat dibaca
idep-idepan atau pura-pura. Segala pikiran disimpan dalam
kantong dan dompet, sehingga tindakan dan ucapan semua ditujukan
untuk kepentingan materialistik. Boss adalah pusat dari
sirkulasi, distribusi termasuk income tambahan dari zaman KKN
yang tetap berlanjut ini. Karena itu, segala hambatan, tantangan
maupun halangan yang mengganggu kiprah pemimpin, harus dibela
mati-matian! Jangankan masalah kecurangannya, yang kalau
terbongkar akan membuat akar-akar tercerabut, soal 'simpanan'
atau WIL yang menemani si boss ke mana pun dia pergi, harus
disembunyikan para punakawan. Membongkar rahasia boss berarti
pengkhianatan. Mengkhianat risikonya mutasi ke tempat yang
kering! Nah, siapa berani berkhianat dengan risiko yang tidak
mengenakkan juga bisa menyebabkan hidup bagai kerakap tumbuh di
batu?'' sela Gus Eka.
''Itu benar-benar
hubungan seperti Manunggaling Kawula Gusti seperti ditulis
P.J.Zoetmulder. Meskipun dalam buku itu lebih banyak diulas
hubungan Tuhan atau para manifestasiNya dengan manusia, namun
hubungan kawula lan gusti juga dipakai pola oleh para raja dalam
memperlakukan rakyatnya. Sekarang di zaman ultramodern ini, di
mana sainstek dianggap berhala baru, pemimpin yang kadang-kadang
bergelar profesor pun menuntut kesetiaan berparadigma para
punakawan dan raja. Mungkin karena menganggap dirinya sebagai
penguasa ilmu, yang seharusnya berumah di angin menurut WS
Rendra, namun ketika memilih berumah di keraton sebagai
berokrat, menuntut pada para anak buahnya agar dirinya
diperlakukan sebagai raja. Dia memonopoli kebenaran dan
menafsirkan segala peraturan sesuai visinya dan menolak pendapat
orang lain yang bertentangan dengan tafsirannya. Dia adalah raja
kecil namun berkuasa penuh atas orang-orang yang berkepentingan
dengan instansi yang dipimpinnya,'' papar Cok Bagus.
''Raja kecil di zaman
sekarang ini lebih cocok disebut clyptokrator. Sebab dia
bermental maling, yang menganggap dirinya tuan dan seluruh
bawahannya budak. Tuan selalu mendapat bagian berlipat kali
lebih banyak dari para anak buah, demikian pula fasilitas. Rumah
dinas, tunjangan jabatan serta hak untuk bepergian ke luar
daerah maupun luar negeri adalah prioritas tuan. Kalau pun ada
pembagian untuk bawahan, demi sebutan demokratis, itu cuma
bagian-bagian kecil yang dianggap sisa-sisa yang tidak lagi
diminati sang clyptokrator. Satu hal yang membuat kekuasaan tuan
terlindungi, karena instansi yang dipimpinnya memiliki hak untuk
mengeluarkan berbagai izin yang banyak dibutuhkan orang, agar
usaha mereka legal. Ironisnya, izin-izin tersebut dianggap
barang dagangan atau komoditas yang bisa diperjual-belikan.
Aktivitas jual beli itu menjadi aneh, karena ada black market
yang mempertebal kocek para penjualnya. Ini rahasia umum, tapi
tak mungkin tercium karena disana terjadi keterkaitan antara
kebutuhan dan kepentingan antara pembeli dan penjual. Khususnya
hubungan para penjual dengan tuannya, yang bagaikan kawula dan
gusti yang tidak saling mengkhianati,'' ujar Rubag.
* Aridus
|