Khidmat, ''Banyu Pinaruh''di Pantai Sanur
Sucikan
Pikiran dengan Air Ilmu Pengetahuan
Titik-titik bara api
terlihat jelas di tengah kegelapan. Sinarnya memantul di
permukaan air. Sementara desiran angin laut yang dingin
mampu menebar bau harum dupa. Samar-samar terlihat
bayangan orang duduk bersila dan bersimpuh. Dengan khidmat
kedua tangan dicakupkan di atas ubun-ubun, doa-doa pun
dipanjatkan. Kemudian, mereka menghempaskan tubuhnya ke
dalam air, mandi dan keramas. Ketika sinar merah tebersit
di ufuk timur pakaian mereka yang basah tampak jelas dan
orang-orang pun makin banyak yang datang lengkap dengan
sesajen. Demikian sekilas prosesi Banyu Pinaruh di Pantai
Sanur, Minggu (8/9) pagi hari kemarin.
UMAT
Hindu, tua-muda terkonsentrasi di sana guna melaksanakan
Banyu Pinaruh-- yang merupakan rangkaian perayaan
Saraswati. Pantai Sanur tampak sudah mulai didatangi umat
sejak Sabtu (7/9) malam hingga Minggu pagi hari kemarin.
''Anak-anak sudah berdatangan ke pantai sejak malam
kemarin (Sabtu 7/9-red). Tapi tidak sebanyak enam bulan
lalu,'' kata Bu Jro, pedagang jagung asal Gianyar, yang
mengaku begadang berjualan di pantai itu.
Setelah merayakan
piodalan Saraswati, pada Minggu Paing Sinta umat Hindu
melanjutkannya dengan malaksanakan prosesi Banyu Pinaruh.
Sarana pelaksanaan Banyu Pinaruh menggunakan air kembang (kumkuman).
Kumkuman itu dibawa ke tempat-tempat sumber air seperti
pancuran, segara, sungai, beji-- yang diyakini sebagai
tempat penyucian atau peleburan mala atau kotoran batin.
Di situ umat membersihkan diri, keramas dan mandi. Tetapi
jika tak sempat ke tempat-tempat seperti itu, umat bisa
melakukannya di rumah. ''Semua itu dibenarkan oleh ajaran
agama Hindu seperti yang tertuang dalam buku kesatuan
tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu I-XI,'' kata
agamawan yang pengurus PHDI Bali Drs. I Gusti Ngurah
Sudiana, M.Si.
Lalu, apa hakikat
Banyu Pinaruh? Menurut dosen STAH Negeri Denpasar itu,
berasal dari kata banyu (air) dan pinaruh atau pangewuruh
(pengetahuan). Secara real, umat memang membersihkan
badan--mandi keramas-- menggunakan kembang di laut atau
sumber-sumber air. Tetapi secara filosofis Banyu Pinaruh
bermakna menyucikan pikiran dengan menggunakan air ilmu
pengetahuan, sebagaimana diuraikan dalam pustaka
Bagavadgita sebagai berikut: ''Abhir gatrani sudyanti
manah satyena sudayanti.'' Artinya, badan dibersihkan
dengan air sedangkan pikiran dibersihkan dengan ilmu
pengetahuan.
Itu berarti, kata
Ketua Yayasan Hindu Nusantara, Banyu Pinaruh bukanlah
hanya datang berkeramas atau mandi ke pantai atau sumber
air. Tetapi, prosesi itu bermaksud membersihkan kekotoran
atau kegelapan pikiran (awidya) yang melekat dalam tubuh
umat dengan ilmu pengetahuan, atau mandi dengan air ilmu
pengetahuan. Hal itu sesuai dengan Bagavadgita IV.36 yang
berbunyi: ''Api ced asi papebhyah, sarwabheyah papa krt
tamah, sarwa jnana peavenaiva vrijinam santarisyasi.''
Artinya, walau engkau paling berdosa di antara manusia
yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan
dosa akan dapat engkau seberangi.'' Itu artinya Banyu
Pinaruh bukan hanya bermakna simbolis belaka, tetapi
sesuai dengan ajaran Hindu. ''Kita dijamin oleh kitab suci
bahwa melalui mandi dan keramas menggunakan air ilmu
pengetahuan, akan terbebas dari lautan kebodohan dan dosa,''
ujarnya.
Berangkat dari makna
itulah, kata Ngurah Sudiana, umat terutama generasi muda
harus memaknai Saraswati dan Banyu Pinaruh sesuai dengan
hakikatnya. Malam Saraswati mesti dimaknai dengan baik,
melalui pembacaan sastra dan diskusi (dharmatula) tentang
ajaran agama, baik di banjar-banjar, pura, sekolah, kampus
dan tempat yang memungkinkan untuk itu. Keesokan paginya
dilanjutkan dengan pelaksanaan Banyu Pinaruh. ''Jadi siswa
jangan hanya melaksanakan Saraswati atau Banyu Pinaruh
karena briuk siu atau ikut-ikutan tanpa memperhatikan
makna yang dikandung di dalamnya. Umat Hindu terutama
anak-anak muda datang ke segara agar betul-betul melakukan
Banyu Pinaruh, bukan sekadar mejeng atau tujuan lain.
Sementara Kakandep
Agama Kota Denpasar Drs. Nyoman Sujana mengatakan, saat
Banyu Pinaruh umat melaksanakan suci laksana, mandi dan
keramas menggunakan air kumkuman di segara. Kegiatan itu
bertujuan untuk ngelebur mala. ''Segara itu kan tempat
peleburan dasa mala. Dengan melakukan prosesi itu
diharapkan terjadi keseimbangan lahir dan batin,'' katanya.
* Made Subrata
|