|
Hanya
yang Pintar Masuk Sorga (1)
''Walaqad
dzara'naa lijahannama katsiira(n)m mina(al)jinni wa(a)l
insi lahum quluubu(n)l laayafqahuuna bihaa, walahum
a'yunu(n)l laayubshiruuna bihaa, walahum aadzanu(n)l
laayasma'uuna bihaa, ulaaika kal an'aami balhum adhallu,
ulaaika humu(a)l ghaafiluun,'' (Alquran,
s..Ala'raaf:7:179).
Artinya:
''Dan sungguh telah Kami jadikan banyak dari jin dan
manusia itu (menjadi penghuni) bagi neraka, mereka punya
hati tetapi tidak (untuk) memahami (Keesaan dan kekuasaan
Allah), mereka punya mata tidak untuk melihat (Tanda-tanda
Kebesaran Allah) dan mereka punya telinga tidak untuk
mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu bagai hewan bahkan
lebih sesat, mereka itulah orang-orang yang lalai(lengah).''
(QS.7:179).
SERING
disebut bahwa zaman sebelum kehadiran Nabi Muhammad SAW
sebagai zaman jahiliyah. Harfiah arti jahiliyah adalah
kebodohan. Bukan berarti kebodohan tidak tahu tulis
menulis, akan tetapi kebodohan seperti digambarkan oleh
ayat di atas.
Manusia
punya hati, perasaan, tetapi tidak untuk memahami Keesaan
dan Kekuasaan Allah SWT. Manusia punya akal pikiran tetapi
tidak untuk menimbang benar dan salah, hak dan batil.
Tidak untuk menimbang baik-buruk. manusia punya mata
tetapi tidak untuk melihat kasih sayang Allah. Bahwa Allah
SWT besar dalam kasih sayang-Nya. Manusia punya mata
tetapi tidak untuk menimbang kesengsaraan sesamanya.
manusia punya telinga tetapi tidak untuk mendenar
ayat-ayat Allah dan tidak dipergunakan mendengar rintihan
makhluk sesamanya.
Dengan
kata lain, manusia bisa menjadi jahil karena tidak
berpikir, berperasaan, bagai hewan. Kejahilan itu
disebabkan tidak berjalannya akal pikiran, terhentinya
perasaan dan hilangnya kepekaan.
Kejahilan
adalah kelemahan, tulis seorang ulama. Kejahilan adalah
nafsu yang berkuasa, sehingga diri menjadi lemah tiada
berdaya. kejahilan membawa orang ke neraka. Jadi hanya
orang alim atau pintar saja masuk sorga?
Kalau
dilihat dari perspektif seperti disebut di atas maka
jawabannya: Ya, hanya orang pintar (alim) yang masuk sorga.
Orang alim dalam makna orang yang menggunakan akal, hati,
mata dan telinganya untuk memahami ajaran agama dengan
baik. Merealisasikan hubungan yang benar dan baik terhadap
Allah dan hubungan benar dan baik terhadap sesama manusia.
Sering
pula dikatakan bahwa kejahilan (kebodohan) adalah
kegelapan dan karena gelap maka orang tidak tahu jalan
kebenaran dan akhirnya tersesat. Sedang kealiman (ilmu dan
pengetahuan) adalah cahaya dan dengannya manusia
mengetahui jalan kebenaran dan membawanya ke sorga.
Sekali
lagi alim yang membawa ke sorga bukan ilmu dalam arti
sains tetapi alim dalam arti kesalehan. Apa arti seorang
yang alim dalam ilmu agama (yang sempit) dan juga kita
yang berilmukan ilmu-ilmu yang disebut sains dan teknologi
kalau akan pikiran, perasaan dan mata serta telinga kita
dijajah dan dibelenggu oleh nafsu. Nafsu adalah perangkat
setan untuk membelenggu kita.
Dalam
kitab Al-Hikam, pasal 44 disebutkan:
''Dan sekiranya engkau berkawan dengan seorang yang bodoh
(dalam sains, pen) tidak menurutkan hawa nafsunya lebih
baik daripada berkawan dengan seorang alim yang selalu
menurutkan hawa nafsunya. maka ilmu yang mana yang dapat
digelarkan kepada seorang (yang disebut) alim itu yang
senantiasa memperturutkan nawa nafsunya. Sebaliknya
kebodohan mana yang dapat dilekatkan kepada seseorang yang
telah mampu megekang (menahan) hawa nafsu.'' (Kitab Al-Hikam
oleh Abu Fadhel Ahmad bin Muhammad Al Iskandary).
Idealnya
memang seseorang itu alim dalam makna menguasai ilmu-ilmu
keagamaan (dalam arti sempit) dan ilmu-ilmu sains dan
teknologi, kemudian dengan ilmunya itu dapat 'melihat'
Keesaan Allah SWT dan tidak menciptakan sekutu bagi Allah
SWT, dalam menyembah dan taat dalam cinta, dalam segan dan
takut, dalam bermohon dan bertawakal. Lalu, kesalehan
fertikalnya diwujudkan pula (sebagai konsekuensi kesalehan
fertikal). Dengan amal kebajikan bersama-sama makhluk
manusia lainnya.
Satu
kalimat makalah berbunyi: ''Seorang yang berilmu yang
tidak beramal sesuai ilmunya itu, maka ia akan disiksa
terdahulu sebelum penyembah berhala.'' Ya, kalau seseorang
telah merasa berilmu lalu tidak berimn, tidak pula beramal
sesuai ilmunya, maka paling tidak ia telah memberhalakan
rasionya sendiri. Atau mungkin ia telah diperbudak hawa
nafsunya, dan hawa nafsunya sendiri telah menjadi berhala
untuknya.
Jadi,
kealiman sebagai lawan kejahilan, bukan sekadar
kepemilikan ilmu dan sins, tetapi bagaimana kita konsisten
dan konsekuen dengan ilmu kita itu untuk lebih
mengenal-Nya dan berbuat kebajikan dengan sesama
makhluk-Nya.
|