kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Paing, 13 September 2002

 Opini


Hanya yang Pintar Masuk Sorga (1)

''Walaqad dzara'naa lijahannama katsiira(n)m mina(al)jinni wa(a)l insi lahum quluubu(n)l laayafqahuuna bihaa, walahum a'yunu(n)l laayubshiruuna bihaa, walahum aadzanu(n)l laayasma'uuna bihaa, ulaaika kal an'aami balhum adhallu, ulaaika humu(a)l ghaafiluun,'' (Alquran, s..Ala'raaf:7:179).

Artinya: ''Dan sungguh telah Kami jadikan banyak dari jin dan manusia itu (menjadi penghuni) bagi neraka, mereka punya hati tetapi tidak (untuk) memahami (Keesaan dan kekuasaan Allah), mereka punya mata tidak untuk melihat (Tanda-tanda Kebesaran Allah) dan mereka punya telinga tidak untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu bagai hewan bahkan lebih sesat, mereka itulah orang-orang yang lalai(lengah).'' (QS.7:179).

SERING disebut bahwa zaman sebelum kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai zaman jahiliyah. Harfiah arti jahiliyah adalah kebodohan. Bukan berarti kebodohan tidak tahu tulis menulis, akan tetapi kebodohan seperti digambarkan oleh ayat di atas.

Manusia punya hati, perasaan, tetapi tidak untuk memahami Keesaan dan Kekuasaan Allah SWT. Manusia punya akal pikiran tetapi tidak untuk menimbang benar dan salah, hak dan batil. Tidak untuk menimbang baik-buruk. manusia punya mata tetapi tidak untuk melihat kasih sayang Allah. Bahwa Allah SWT besar dalam kasih sayang-Nya. Manusia punya mata tetapi tidak untuk menimbang kesengsaraan sesamanya. manusia punya telinga tetapi tidak untuk mendenar ayat-ayat Allah dan tidak dipergunakan mendengar rintihan makhluk sesamanya.

Dengan kata lain, manusia bisa menjadi jahil karena tidak berpikir, berperasaan, bagai hewan. Kejahilan itu disebabkan tidak berjalannya akal pikiran, terhentinya perasaan dan hilangnya kepekaan.

Kejahilan adalah kelemahan, tulis seorang ulama. Kejahilan adalah nafsu yang berkuasa, sehingga diri menjadi lemah tiada berdaya. kejahilan membawa orang ke neraka. Jadi hanya orang alim atau pintar saja masuk sorga?

Kalau dilihat dari perspektif seperti disebut di atas maka jawabannya: Ya, hanya orang pintar (alim) yang masuk sorga. Orang alim dalam makna orang yang menggunakan akal, hati, mata dan telinganya untuk memahami ajaran agama dengan baik. Merealisasikan hubungan yang benar dan baik terhadap Allah dan hubungan benar dan baik terhadap sesama manusia.

Sering pula dikatakan bahwa kejahilan (kebodohan) adalah kegelapan dan karena gelap maka orang tidak tahu jalan kebenaran dan akhirnya tersesat. Sedang kealiman (ilmu dan pengetahuan) adalah cahaya dan dengannya manusia mengetahui jalan kebenaran dan membawanya ke sorga.

Sekali lagi alim yang membawa ke sorga bukan ilmu dalam arti sains tetapi alim dalam arti kesalehan. Apa arti seorang yang alim dalam ilmu agama (yang sempit) dan juga kita yang berilmukan ilmu-ilmu yang disebut sains dan teknologi kalau akan pikiran, perasaan dan mata serta telinga kita dijajah dan dibelenggu oleh nafsu. Nafsu adalah perangkat setan untuk membelenggu kita.

Dalam kitab Al-Hikam, pasal 44 disebutkan:
''Dan sekiranya engkau berkawan dengan seorang yang bodoh (dalam sains, pen) tidak menurutkan hawa nafsunya lebih baik daripada berkawan dengan seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. maka ilmu yang mana yang dapat digelarkan kepada seorang (yang disebut) alim itu yang senantiasa memperturutkan nawa nafsunya. Sebaliknya kebodohan mana yang dapat dilekatkan kepada seseorang yang telah mampu megekang (menahan) hawa nafsu.'' (Kitab Al-Hikam oleh Abu Fadhel Ahmad bin Muhammad Al Iskandary).

Idealnya memang seseorang itu alim dalam makna menguasai ilmu-ilmu keagamaan (dalam arti sempit) dan ilmu-ilmu sains dan teknologi, kemudian dengan ilmunya itu dapat 'melihat' Keesaan Allah SWT dan tidak menciptakan sekutu bagi Allah SWT, dalam menyembah dan taat dalam cinta, dalam segan dan takut, dalam bermohon dan bertawakal. Lalu, kesalehan fertikalnya diwujudkan pula (sebagai konsekuensi kesalehan fertikal). Dengan amal kebajikan bersama-sama makhluk manusia lainnya.

Satu kalimat makalah berbunyi: ''Seorang yang berilmu yang tidak beramal sesuai ilmunya itu, maka ia akan disiksa terdahulu sebelum penyembah berhala.'' Ya, kalau seseorang telah merasa berilmu lalu tidak berimn, tidak pula beramal sesuai ilmunya, maka paling tidak ia telah memberhalakan rasionya sendiri. Atau mungkin ia telah diperbudak hawa nafsunya, dan hawa nafsunya sendiri telah menjadi berhala untuknya.

Jadi, kealiman sebagai lawan kejahilan, bukan sekadar kepemilikan ilmu dan sins, tetapi bagaimana kita konsisten dan konsekuen dengan ilmu kita itu untuk lebih mengenal-Nya dan berbuat kebajikan dengan sesama makhluk-Nya.

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)