Bangli
dan Gianyar tak Khawatirkan Krisis Pangan
Meski sejumlah
kabupaten di Bali mulai merasakan dampak kemarau panjang,
Bangli dan Gianyar tak begitu khawatir akan adanya krisis
pangan. Sampai saat ini belum ada hamparan persawahan
masyarakat di Bangli yang mengalami gagal panen
sebagaimana terjadi di Jembrana. Gianyar juga tidak
terlalu terpengaruh oleh adanya kemarau panjang. Hal ini
disebabkan adanya penyesuaian pola tanam yang membuat
hasil panen tak berubah.
Curah hujan di
Bangli tidak menentu. Meski begitu, kekhawatiran di
kalangan petani akan ancaman kekeringan ini tetap ada.
Jika satu sampai dua bulan ini tidak turun hujan, tanaman
di lahan kering terancam kekeringan. Baik tanaman musiman
maupun tanaman tahunan seperti jeruk.
Kondisi debit air di
Bangli untuk saat ini mengalami sedikit penurunan,
sehingga areal tanam pun ikut menurun. Penurunan areal
tanam selain karena musim kemarau, adanya alih fungsi
lahan pertanian menjadi tempat pemukiman, kantor dan
perindustrian, merupakan ancaman serius yang harus segera
ditangani Pemkab Bangli. Alih fungsi lahan di Bangli
mencapai 50 ha. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan
Bangli I Ketut Sutrisna mengatakan, sejauh ini belum ada
masyarakat petani yang mengadu terkait musim kemarau ini.
Namun, pihaknya tetap mengimbau petani supaya
memperhatikan waktu penanaman dan polanya. Di tengah
keterbatasan air, dianjurkan kepada masyarakat untuk
menanam padi lebih awal. ''Petani jangan menanam satu
komoditi saja. Tetapi membuat suatu pola tanam dengan
sistem tumpang sari,'' katanya.
Lantas bagaimana
petani menyikapi merosotnya harga beras? Sutrisna
menyatakan, dalam kondisi seperti saat ini, petani jangan
berpikir untung rugi. Yang penting panen tak mengalami
kendala karena kesulitan air. Sementara petani yang
berkecimpung di lahan kering saat ini masih tetap menanam
padi gogo, kopi dan jeruk. Jika dibandingkan, petani lahan
kering lebih beruntung daripada lahan basah. Sutrisna
mencontohkan, andaikata satu pohon menghasilkan 25 kg
jeruk, per hektarnya petani bisa mengantongi Rp 50 juta.
Terkait dengan
ancaman alih fungsi lahan pertanian menjadi tempat
pemukiman, kantor, dan perindustrian di Bangli? Dia
menyebut luas lahan basah yang masih tersisa saat ini
mencapai 2.888 ha, sedangkan lahan kering 19.614 ha.
Realisasi tanam padi dari Januari s.d. Agustus 2002
mencapai 4.063 ha, sedangkan panen sebesar 4.162 ha. Ini
berarti terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi
pemukiman 50 ha. "Rentang waktu setahun terakhir,
kami kehilangan sekitar 50 hektar lahan pertanian untuk
kepentingan tersebut," ujarnya. Untuk "menambal"
lahan pertanian yang hilang itu, kata Sutrisna, Pemkab
Bangli telah merencanakan membuka kawasan persawahan baru
di Kecamatan Kintamani tahun anggaran 2002 seluas 50
hektar. Selain itu, pihaknya juga akan mengoptimalkan
pemanfaatan lahan-lahan tidur. Karena kondisi air sangat
kritis, warga cenderung menelantarkan lahan tersebut
karena tidak menjanjikan untuk pembudidayaan komoditi
pertanian. "Secara perlahan, kami akan mengembalikan
kesuburan lahan tidur dengan menanam komoditi yang mampu
bertahan dalam kondisi minus itu. Program itu dirintis di
Dusun Pradi, Kintamani yang tanahnya terbentuk dari
endapan larva yang dikeluarkan Gunung Batur," katanya.
Penyesuaian
Pola Tanam
Lantas bagaimana
dengan Gianyar, tampaknya Kadis Pertanian Tanaman Pangan
Ir. Dewa Raka Jaya cukup sigap. Pada musim kemarau panjang
ini dilakukan penyesuaian pola tanam. Dia khawatir, jika
pemilihan waktu salah, pasti akan melahirkan musibah.
Musim kemarau berkepanjangan sekarang misalnya, kesalahan
dalam mengikuti pola tanam akan menyebabkan luas lahan
tanam padi berkurang drastis. Hal ini berakibat penurunan
hasil panen. Menurut Raka Jaya, kemarau berkepanjangan
tidak menimbulkan pengaruh berarti bagi penghasilan petani.
Penghasilan yang diperoleh petani masih tetap sebagaimana
panen sebelumnya. Semua itu, katanya, karena ketepatan
petani dalam menentukan pola tanam. Saat kemarau
berkepanjangan memang debit air turun. Namun, bibit padi
yang ditanam umurnya sudah tua, sehingga keperluan akan
air tidak terlalu banyak dan bisa diatasi dengan air yang
ada.
Setelah masa panen
tiba, kata dia, petani tidak akan waswas. Sambil menunggu
turunnya hujan, petani bisa memanfaatkan lahan yang kosong
dengan menanam tanaman palawija. Hasil yang diperoleh dari
menanam palawija itu, juga berimbang dengan hasil menanam
padi. ''Seluruh persawahan di Gianyar menghijau meski
kemarau berkepanjangan. Semua itu terjadi karena ketaatan
masyarakat dalam mematuhi pola tanam,'' yakinnya.
Daerah Ketewel bisa
dijadikan contoh. Selain mengupayakan menanam padi, para
petani juga mengusahakan menanam tembakau. Di sela-sela
tanaman tembakau, petani juga menerapkan tumpang sari
cabai. Begitu pula di daerah lainnya, petani tidak terpaku
hanya menanam padi.
Jubir Pemkab Gianyar
Wayan Arthana, S.H. menyatakan, Gianyar belum pernah
merasakan pengaruh buruk kemarau panjang. Hasil panen
petani sama seperti musim sebelumnya. Sayangnya, Raka Jaya
dan Arthana tak memberikan gambaran lengkap luas areal
panen dan stok pangan di Gianyar. (sub/puj)
|