kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Jumat Paing, 13 September 2002

 Fenomena


Bangli dan Gianyar tak Khawatirkan Krisis Pangan

Meski sejumlah kabupaten di Bali mulai merasakan dampak kemarau panjang, Bangli dan Gianyar tak begitu khawatir akan adanya krisis pangan. Sampai saat ini belum ada hamparan persawahan masyarakat di Bangli yang mengalami gagal panen sebagaimana terjadi di Jembrana. Gianyar juga tidak terlalu terpengaruh oleh adanya kemarau panjang. Hal ini disebabkan adanya penyesuaian pola tanam yang membuat hasil panen tak berubah.

Curah hujan di Bangli tidak menentu. Meski begitu, kekhawatiran di kalangan petani akan ancaman kekeringan ini tetap ada. Jika satu sampai dua bulan ini tidak turun hujan, tanaman di lahan kering terancam kekeringan. Baik tanaman musiman maupun tanaman tahunan seperti jeruk.

Kondisi debit air di Bangli untuk saat ini mengalami sedikit penurunan, sehingga areal tanam pun ikut menurun. Penurunan areal tanam selain karena musim kemarau, adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi tempat pemukiman, kantor dan perindustrian, merupakan ancaman serius yang harus segera ditangani Pemkab Bangli. Alih fungsi lahan di Bangli mencapai 50 ha. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Bangli I Ketut Sutrisna mengatakan, sejauh ini belum ada masyarakat petani yang mengadu terkait musim kemarau ini. Namun, pihaknya tetap mengimbau petani supaya memperhatikan waktu penanaman dan polanya. Di tengah keterbatasan air, dianjurkan kepada masyarakat untuk menanam padi lebih awal. ''Petani jangan menanam satu komoditi saja. Tetapi membuat suatu pola tanam dengan sistem tumpang sari,'' katanya.

Lantas bagaimana petani menyikapi merosotnya harga beras? Sutrisna menyatakan, dalam kondisi seperti saat ini, petani jangan berpikir untung rugi. Yang penting panen tak mengalami kendala karena kesulitan air. Sementara petani yang berkecimpung di lahan kering saat ini masih tetap menanam padi gogo, kopi dan jeruk. Jika dibandingkan, petani lahan kering lebih beruntung daripada lahan basah. Sutrisna mencontohkan, andaikata satu pohon menghasilkan 25 kg jeruk, per hektarnya petani bisa mengantongi Rp 50 juta.

Terkait dengan ancaman alih fungsi lahan pertanian menjadi tempat pemukiman, kantor, dan perindustrian di Bangli? Dia menyebut luas lahan basah yang masih tersisa saat ini mencapai 2.888 ha, sedangkan lahan kering 19.614 ha. Realisasi tanam padi dari Januari s.d. Agustus 2002 mencapai 4.063 ha, sedangkan panen sebesar 4.162 ha. Ini berarti terjadi alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman 50 ha. "Rentang waktu setahun terakhir, kami kehilangan sekitar 50 hektar lahan pertanian untuk kepentingan tersebut," ujarnya. Untuk "menambal" lahan pertanian yang hilang itu, kata Sutrisna, Pemkab Bangli telah merencanakan membuka kawasan persawahan baru di Kecamatan Kintamani tahun anggaran 2002 seluas 50 hektar. Selain itu, pihaknya juga akan mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan tidur. Karena kondisi air sangat kritis, warga cenderung menelantarkan lahan tersebut karena tidak menjanjikan untuk pembudidayaan komoditi pertanian. "Secara perlahan, kami akan mengembalikan kesuburan lahan tidur dengan menanam komoditi yang mampu bertahan dalam kondisi minus itu. Program itu dirintis di Dusun Pradi, Kintamani yang tanahnya terbentuk dari endapan larva yang dikeluarkan Gunung Batur," katanya.

Penyesuaian Pola Tanam

Lantas bagaimana dengan Gianyar, tampaknya Kadis Pertanian Tanaman Pangan Ir. Dewa Raka Jaya cukup sigap. Pada musim kemarau panjang ini dilakukan penyesuaian pola tanam. Dia khawatir, jika pemilihan waktu salah, pasti akan melahirkan musibah. Musim kemarau berkepanjangan sekarang misalnya, kesalahan dalam mengikuti pola tanam akan menyebabkan luas lahan tanam padi berkurang drastis. Hal ini berakibat penurunan hasil panen. Menurut Raka Jaya, kemarau berkepanjangan tidak menimbulkan pengaruh berarti bagi penghasilan petani. Penghasilan yang diperoleh petani masih tetap sebagaimana panen sebelumnya. Semua itu, katanya, karena ketepatan petani dalam menentukan pola tanam. Saat kemarau berkepanjangan memang debit air turun. Namun, bibit padi yang ditanam umurnya sudah tua, sehingga keperluan akan air tidak terlalu banyak dan bisa diatasi dengan air yang ada.

Setelah masa panen tiba, kata dia, petani tidak akan waswas. Sambil menunggu turunnya hujan, petani bisa memanfaatkan lahan yang kosong dengan menanam tanaman palawija. Hasil yang diperoleh dari menanam palawija itu, juga berimbang dengan hasil menanam padi. ''Seluruh persawahan di Gianyar menghijau meski kemarau berkepanjangan. Semua itu terjadi karena ketaatan masyarakat dalam mematuhi pola tanam,'' yakinnya.

Daerah Ketewel bisa dijadikan contoh. Selain mengupayakan menanam padi, para petani juga mengusahakan menanam tembakau. Di sela-sela tanaman tembakau, petani juga menerapkan tumpang sari cabai. Begitu pula di daerah lainnya, petani tidak terpaku hanya menanam padi.

Jubir Pemkab Gianyar Wayan Arthana, S.H. menyatakan, Gianyar belum pernah merasakan pengaruh buruk kemarau panjang. Hasil panen petani sama seperti musim sebelumnya. Sayangnya, Raka Jaya dan Arthana tak memberikan gambaran lengkap luas areal panen dan stok pangan di Gianyar. (sub/puj)

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)