kembali ke halaman depan
bunga2.gif (1033 bytes)  Minggu Kliwon, 1 September 2002 tarukan valas
 

OPINI


Hanya Gumpalan Daging Berlendir

Dua anak manusia terbantai secara sadis, Senin 26 Agustus lalu. Seorang terpanggang bagai sate, yang lain ditumbuk seperti perkedel. Keduanya jadi korban amuk massa akibat diteriaki ''maling''. Padahal setelah jadi mayat dan dicek identitasnya, kedua korban adalah anggota Kepolisian Resor (Polres) Majalengka, yang kedatangannya ke desa Sindangpanji, Majalengka, Jabar, tempat dimana peristiwa terjadi, untuk memburu seorang oknum pelaku kejahatan.

KELANJUTAN dari tragedi tersebut, konon kini ribuan lelaki yang menjadi penghuni desa yang berpenduduk sekitar 3500 jiwa tersebut hengkang dari desa mereka, mengungsi ke gunung, kebun maupun kota-kota terdekat. Sebab, mereka takut diciduk ratusan aparat Polres Kuningan dan Majalengka yang diperkirakan akan balas dendam atas kematian dua rekan mereka.

''Mengacu pada pendapat psikolog kondang Lorenz, tindakan yang seperti dilakukan masyarakat Sindangpanji tersebut bisa dikatakan sebagai perilaku tandiri atau selfless yang lebih banyak dikendalikan insting. Mereka melupakan dirinya akibat hasrat melindungi kelompoknya, lalu melakukan tindakan agresif terhadap orang-orang yang tidak mereka kenal. Konon perilaku seperti ini tidak hanya dimiliki manusia, tetapi lebih banyak dilakukan binatang,'' kilah Rubag setelah membaca koran terbitan Jakarta, edisi 28 dan 29 Agustus.

''Kedengaran lebih wajar kalau binatang memiliki perilaku seperti itu. Sebab, mulut mereka hanya berfungsi sebagai gerbang makanan yang akan menuju perut, bukan untuk berbicara seperti manusia. Sayang anugerah Tuhan berupa bahasa yang menyebabkan hewan berkaki dua tersebut dinamakan manusia, akhir-akhir ini jarang digunakan sebagai alat komunikasi. Akibatnya, bukan hanya di desa Sindangpanji, nyaris di seluruh Tanah Air bahkan di dunia terjadi peristiwa berkesan barbar dan biadab dilakukan manusia. Mereka saling bunuh dan mencelakai, meskipun cuma disulut perkara sepele,'' sahut Cok Alit sembari menghela nafas.

''Kebebasan berbicara yang ditiup dan dibawa demokrasi saat ini, memang melahirkan orang-orang yang seakan-akan pandai berbicara. Namun ketika disimak lebih teliti, ternyata isi wacananya tanpa makna. Ibarat balon gas warna-warni yang meninggi ke awan mengikuti arah angin. Lalu, kebanyakan dari kita seperti anak-anak balita yang berjingkrak dan bersorak menyaksikan keindahan serta kemampuan terbang balon-balon tersebut. Kita tidak tahu, mungkin banyak di antaranya yang meletus ketika tergores ranting pohon, tanpa memperlihatkan apa pun di dalamnya, kecuali sobekan karet. Ada pula yang lembek sendiri dan jatuh ke bumi karena kehabisan gas. Wacana-wacana seperti keindahan balon itulah yang menggema sekarang. Keindahan tanpa makna!'' komentar Sutama.

''Ya, keindahan yang bersifat provokatif! Keindahan yang membuat anak-anak berteriak serentak, tanpa tahu jelas untuk apa mereka berteriak. Sebenarnya yang disebut kebebasan, punya batas. Bagai lukisan yang berbingkai. Malah kadang-kadang, berkat bingkai yang serasi, sebuah lukisan tampak lebih cantik dibanding tanpa bingkai. Memang kebebasan pun sudah diberi bingkai yang disebut undang-undang, peraturan serta produk hukum lain, yang pada awalnya disebut kontrak sosial. Ironisnya, semakin tua usia bumi ini, kian pesat kemajuan sains dan teknologi, justru pemahaman orang tentang hakikat hukum dan perundang-undangan semakin berkurang. Justru pelanggaran hukum serta disiplin banyak dilakukan mereka yang seharusnya menegakkan. Masyarakat jadi bingung,'' tambah Gung Suci seraya menyedot inhaler guna melegakan nafasnya.

''Bagaimana tidak bingung? Rasa keadilan saat ini seolah-olah tidak dikandung lagi oleh hukum, undang-undang dan peraturan. Dengan dalih legal formal, hukum positif serta kaidah-kaidah hukum yang bersifat esoterik, menyebabkan masyarakat yang tidak memahami hukum secara detil, jadi terperangah mendengar putusan-putusan pengadilan. Tersangka yang diperkirakan akan mendapat hukuman berat, ternyata divonis ringan bahkan ada yang bebas.

Sebaliknya, orang yang seharusnya bebas dari hukuman, namun karena miskin dan tanpa punya beking, akhirnya masuk penjara. Maraknya ungkapan yang mengatakan bahwa hukum beserta pasal-pasalnya sudah menjadi barang dagangan, agaknya bukan lagi guyonan. Lalu, apa gunanya mahasiswa belajar filsafat dan sosiologi hukum, kalau kedua materi kuliah tersebut tidak ikut menjadi pertimbangan dalam praktik hukum?'' tanya Alit Kencana menutup argumentasinya.

''Saya khawatir, kalau keputusan hukum yang jauh dari rasa keadilan masyarakat sampai melahirkan pengadilan jalanan atau street justice. Apalagi kalau penganiayaan tanpa mengenal ampun itu menimpa orang-orang tidak bersalah, seperti yang dialami dua anggota Kepolisian Resor Majalengka tersebut. Lebih menakutkan lagi, ekses yang muncul akibat peristiwa itu. Apa benar tidak akan bangkit semangat korporatisme di kalangan kolega kedua korban akibat rasa senasib sepenanggungan? Jangankan polisi yang ketika masih menjalani masa pendidikan sangat ketat dan keras disiplinnya, antara mahasiswa yang beda fakultas atau jurusan saja sering terjadi tawuran, meski mereka satu kampus. Ini mungkin sesuai teori Tandiri dari Lorenz yakni solidaritas antarsesama. Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar diliburkan hingga 2 September gara-gara tawuran antara mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa Ilmu-ilmu Sosial Perikanan dan Kelautan. Bayangkan, mereka calon pemimpin masa depan lho!'' papar Rubag yang beralih ke topik lain dari koran yang sama, namun masih berkisar masalah kekerasan.

''Nakae Chomin dalam 'Perbincangan Tiga Pemabuk Tentang Pemerintahan', menulis bahwa akibat spesifikasi dalam ilmu pengetahuan menyebabkan manusia menjadi segumpal daging berlendir seperti agar-agar. Mereka hanya menjadi ahli di bidangnya dan masa bodoh serta menjadi tolol untuk urusan lain. Gara-gara ingin dapat harta sebanyak-banyaknya, kata Chomin, lambat laun fungsi otak menyempit dan manusia sempurna kian berkurang dan pada akhirnya mereka jadi mahluk yang hanya berfungsi sebagai pencerna makanan. Jadi jangan heran, sekarang banyak orang yang mengaku intelek, setelah beberapa saat memangku jabatan, perutnya seperti gentong. Mirip seperti teori 'The Origin of Species'-nya Darwin, bahwa pada awalnya di dunia ini hanya ada mahluk satu sel. Ya, kira-kira semacam agar-agar tadilah! Rupanya kita akan mengalami re-evolusi'' sambut Cok Alit.

''Ya, saya juga sempat membaca buku Chomin yang terkenal dan menjadi acuan Jepang sejak Restorasi Meiji bergulir tahun 1868. Konon gumpalan-humpalan daging berlendir tersebut ada yang menjadi kuat, lalu menjajah yang lebih lemah. Yang pintar memperdaya yang bodoh, tanpa insyaf bahwa di alam kubur, baik yang kuat maupun lemah atau yang pintar maupun tolol, dagingnya yang busuk akan habis digerogoti cacing-cacing. Sayang, Chomin keburu meninggal sehingga tidak sempat menyaksikan gumpalan-gumpalan daging berlendir tersebut sempat jadi imperialis selama beberapa tahun di Asia,'' komentar Rubag.
* Aridus

 


 

ke atas

 
LIVE RADIO GLOBAL
Live Radio Global FM Kinijani

 

CUACA

www.bali-travelnews.com