Hanya
Gumpalan Daging Berlendir
Dua anak manusia terbantai
secara sadis, Senin 26 Agustus lalu. Seorang terpanggang bagai
sate, yang lain ditumbuk seperti perkedel. Keduanya jadi korban
amuk massa akibat diteriaki ''maling''. Padahal setelah jadi
mayat dan dicek identitasnya, kedua korban adalah anggota
Kepolisian Resor (Polres) Majalengka, yang kedatangannya ke desa
Sindangpanji, Majalengka, Jabar, tempat dimana peristiwa terjadi,
untuk memburu seorang oknum pelaku kejahatan.
KELANJUTAN
dari tragedi tersebut, konon kini ribuan lelaki yang menjadi
penghuni desa yang berpenduduk sekitar 3500 jiwa tersebut
hengkang dari desa mereka, mengungsi ke gunung, kebun maupun
kota-kota terdekat. Sebab, mereka takut diciduk ratusan aparat
Polres Kuningan dan Majalengka yang diperkirakan akan balas
dendam atas kematian dua rekan mereka.
''Mengacu pada pendapat
psikolog kondang Lorenz, tindakan yang seperti dilakukan
masyarakat Sindangpanji tersebut bisa dikatakan sebagai perilaku
tandiri atau selfless yang lebih banyak dikendalikan insting.
Mereka melupakan dirinya akibat hasrat melindungi kelompoknya,
lalu melakukan tindakan agresif terhadap orang-orang yang tidak
mereka kenal. Konon perilaku seperti ini tidak hanya dimiliki
manusia, tetapi lebih banyak dilakukan binatang,'' kilah Rubag
setelah membaca koran terbitan Jakarta, edisi 28 dan 29 Agustus.
''Kedengaran lebih wajar
kalau binatang memiliki perilaku seperti itu. Sebab, mulut
mereka hanya berfungsi sebagai gerbang makanan yang akan menuju
perut, bukan untuk berbicara seperti manusia. Sayang anugerah
Tuhan berupa bahasa yang menyebabkan hewan berkaki dua tersebut
dinamakan manusia, akhir-akhir ini jarang digunakan sebagai alat
komunikasi. Akibatnya, bukan hanya di desa Sindangpanji, nyaris
di seluruh Tanah Air bahkan di dunia terjadi peristiwa berkesan
barbar dan biadab dilakukan manusia. Mereka saling bunuh dan
mencelakai, meskipun cuma disulut perkara sepele,'' sahut Cok
Alit sembari menghela nafas.
''Kebebasan berbicara yang
ditiup dan dibawa demokrasi saat ini, memang melahirkan
orang-orang yang seakan-akan pandai berbicara. Namun ketika
disimak lebih teliti, ternyata isi wacananya tanpa makna. Ibarat
balon gas warna-warni yang meninggi ke awan mengikuti arah angin.
Lalu, kebanyakan dari kita seperti anak-anak balita yang
berjingkrak dan bersorak menyaksikan keindahan serta kemampuan
terbang balon-balon tersebut. Kita tidak tahu, mungkin banyak di
antaranya yang meletus ketika tergores ranting pohon, tanpa
memperlihatkan apa pun di dalamnya, kecuali sobekan karet. Ada
pula yang lembek sendiri dan jatuh ke bumi karena kehabisan gas.
Wacana-wacana seperti keindahan balon itulah yang menggema
sekarang. Keindahan tanpa makna!'' komentar Sutama.
''Ya, keindahan yang
bersifat provokatif! Keindahan yang membuat anak-anak berteriak
serentak, tanpa tahu jelas untuk apa mereka berteriak.
Sebenarnya yang disebut kebebasan, punya batas. Bagai lukisan
yang berbingkai. Malah kadang-kadang, berkat bingkai yang serasi,
sebuah lukisan tampak lebih cantik dibanding tanpa bingkai.
Memang kebebasan pun sudah diberi bingkai yang disebut
undang-undang, peraturan serta produk hukum lain, yang pada
awalnya disebut kontrak sosial. Ironisnya, semakin tua usia bumi
ini, kian pesat kemajuan sains dan teknologi, justru pemahaman
orang tentang hakikat hukum dan perundang-undangan semakin
berkurang. Justru pelanggaran hukum serta disiplin banyak
dilakukan mereka yang seharusnya menegakkan. Masyarakat jadi
bingung,'' tambah Gung Suci seraya menyedot inhaler guna
melegakan nafasnya.
''Bagaimana tidak bingung?
Rasa keadilan saat ini seolah-olah tidak dikandung lagi oleh
hukum, undang-undang dan peraturan. Dengan dalih legal formal,
hukum positif serta kaidah-kaidah hukum yang bersifat esoterik,
menyebabkan masyarakat yang tidak memahami hukum secara detil,
jadi terperangah mendengar putusan-putusan pengadilan. Tersangka
yang diperkirakan akan mendapat hukuman berat, ternyata divonis
ringan bahkan ada yang bebas.
Sebaliknya, orang yang
seharusnya bebas dari hukuman, namun karena miskin dan tanpa
punya beking, akhirnya masuk penjara. Maraknya ungkapan yang
mengatakan bahwa hukum beserta pasal-pasalnya sudah menjadi
barang dagangan, agaknya bukan lagi guyonan. Lalu, apa gunanya
mahasiswa belajar filsafat dan sosiologi hukum, kalau kedua
materi kuliah tersebut tidak ikut menjadi pertimbangan dalam
praktik hukum?'' tanya Alit Kencana menutup argumentasinya.
''Saya khawatir, kalau
keputusan hukum yang jauh dari rasa keadilan masyarakat sampai
melahirkan pengadilan jalanan atau street justice. Apalagi kalau
penganiayaan tanpa mengenal ampun itu menimpa orang-orang tidak
bersalah, seperti yang dialami dua anggota Kepolisian Resor
Majalengka tersebut. Lebih menakutkan lagi, ekses yang muncul
akibat peristiwa itu. Apa benar tidak akan bangkit semangat
korporatisme di kalangan kolega kedua korban akibat rasa senasib
sepenanggungan? Jangankan polisi yang ketika masih menjalani
masa pendidikan sangat ketat dan keras disiplinnya, antara
mahasiswa yang beda fakultas atau jurusan saja sering terjadi
tawuran, meski mereka satu kampus. Ini mungkin sesuai teori
Tandiri dari Lorenz yakni solidaritas antarsesama. Mahasiswa
Universitas Hasanuddin Makassar diliburkan hingga 2 September
gara-gara tawuran antara mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa
Ilmu-ilmu Sosial Perikanan dan Kelautan. Bayangkan, mereka calon
pemimpin masa depan lho!'' papar Rubag yang beralih ke topik
lain dari koran yang sama, namun masih berkisar masalah
kekerasan.
''Nakae Chomin dalam 'Perbincangan
Tiga Pemabuk Tentang Pemerintahan', menulis bahwa akibat
spesifikasi dalam ilmu pengetahuan menyebabkan manusia menjadi
segumpal daging berlendir seperti agar-agar. Mereka hanya
menjadi ahli di bidangnya dan masa bodoh serta menjadi tolol
untuk urusan lain. Gara-gara ingin dapat harta
sebanyak-banyaknya, kata Chomin, lambat laun fungsi otak
menyempit dan manusia sempurna kian berkurang dan pada akhirnya
mereka jadi mahluk yang hanya berfungsi sebagai pencerna makanan.
Jadi jangan heran, sekarang banyak orang yang mengaku intelek,
setelah beberapa saat memangku jabatan, perutnya seperti gentong.
Mirip seperti teori 'The Origin of Species'-nya Darwin, bahwa
pada awalnya di dunia ini hanya ada mahluk satu sel. Ya,
kira-kira semacam agar-agar tadilah! Rupanya kita akan mengalami
re-evolusi'' sambut Cok Alit.
''Ya, saya juga sempat
membaca buku Chomin yang terkenal dan menjadi acuan Jepang sejak
Restorasi Meiji bergulir tahun 1868. Konon gumpalan-humpalan
daging berlendir tersebut ada yang menjadi kuat, lalu menjajah
yang lebih lemah. Yang pintar memperdaya yang bodoh, tanpa
insyaf bahwa di alam kubur, baik yang kuat maupun lemah atau
yang pintar maupun tolol, dagingnya yang busuk akan habis
digerogoti cacing-cacing. Sayang, Chomin keburu meninggal
sehingga tidak sempat menyaksikan gumpalan-gumpalan daging
berlendir tersebut sempat jadi imperialis selama beberapa tahun
di Asia,'' komentar Rubag.
* Aridus
|